Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Perubahan Sikap Radit (BonChapt)


__ADS_3

Radit memperhatikan Arini yang masih memberikan beberapa polesan di beberapa bagian wajahnya. Sedikit membentuk alis agar lebih rapi, kemudian memakai eye shadow, blush on dan terakhir lipstik berwarna nute, make-up bertema natural.


Semenjak menikah Arini memutuskan sedikit demi sedikit belajar tutorial merias wajah, tetapi bukan dengan mengikuti kelas make-up melainkan belajar otodidak bersama Anggun, yang sudah jago soal mempersolek diri.


Arini melihat Radit dari pantulan cerminnya," Mas kenapa, kok mukanya ditekuk gitu.... aku jelek ya, pakenya ketebelan atau nggak cocok?"


Bukannya menjawab Radit malah menyandarkan punggungnya di ranjang, tidak merespon apa-apa.


Arini memutar badannya," Kok diem... Mas sakit?"


Radit menggelengkan kepala, lalu merentangkan kedua tangan agar Arini mau menghampirinya.


Arini pun berdiri menyimpan lipstik yang sedari tadi dia pegang. Kemudian berjalan menghampiri Radit yang sudah siap-siap memeluknya.


Radit melingkarkan tangan dipinggang begitu Arini sampai didepannya.


"Aku nggak mau kamu terlihat cantik." Ucapnya pelan sambil mencium perut Arini.


Arini mengerutkan keningnya," Maksudnya?"


Radit melepaskan pelukannya, dan menarik Arini untuk duduk didepannya.


"Malam ini kamu cantik banget.... aku nggak suka kalau nanti di pesta, semua pria liatin kamu." Mengelus dagu Arini dengan ibu jarinya.


"Ceritanya lagi ngegombal nih."


"Kok gombal, aku serius sayang. Kamu pake ini, ini, ini dan ini...," Menunjuk alis, mata, pipi dan bibir,".... tambah keliatan cantiknya." Lanjutnya lagi.


Arini tertawa kecil," Kan bukan sekarang aja aku pake make-up, kemarin-kemarin juga udah pake kalau mau kemana-mana."


"Iya aku tahu, tapi sekarang keliatan beda aja." Jawab Radit dengan wajah memelas.


Arini menghela nafasnya, entah kenapa akhir-akhir ini Radit selalu bersikap manja, selalu ingin lebih diperhatikan, lebih sering merajuk dan satu lagi, keinginannya tidak bisa ditebak, sering berubah-ubah.


"Ya udah aku hapus lagi aja make-upnya."


"Kok dihapus."


Arini mengerutkan kening," Kan Mas yang bilang nggak suka aku diliatin orang, ya itu tandanya aku harus ngehapus make-upnya dong."


Radit langsung mencium dan ******* bibir Arini. Hingga wajah Arini sedikit mundur karena belum siap dengan serangan Radit yang tiba-tiba.


Setelah cukup lama, Radit melepaskan pagutannya," Udah aku hapus."


Arini tersenyum jail," Yang ini dan ini belum." Menunjuk mata dan pipinya.


"Kalau itu nggak usah, perlu banyak waktu... segini aja udah cukup, yang penting bibir kamu jangan terlalu menggoda." Jawabnya dengan tersenyum.


"Yakin?"


"Yakin." Seraya berjongkok dengan mengambil sepasang sepatu yang tak jauh dari jangkauannya.


"Biar aku pake sendiri Mas."Ucap Arini dengan menjauhkan kaki dari tangan Radit yang sudah memegang kaki kanannya.


"Jangan nolak, aku pengen lakuin ini buat kamu."


Arini tersenyum, ini lah salah satu bukti kalau keinginan Radit itu sama sekali tidak bisa ditebak, kadang selalu ingin dimanja, dan kadang terlalu memanjakannya.


Setelah siap dengan semuanya, Arini dan Radit berpamitan kepada Simbok untuk menjaga Nuno selama mereka pergi.


Radit mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, bahkan seperti sengaja dilajukan sangat lambat. Dan satu lagi, Radit tak pernah melepaskan pegangan tangannya.


"Mas sakit ya?" Tanya Arini, membuka percakapan karena terasa sepi karena Radit tak juga membuka suaranya.


"Nggak."


"Trus kenapa dari tadi diem aja?"


Radit tidak menjawab, malah fokus dengan jalan didepannya seraya mengelus tangan Arini berulang kali, seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Apa kita pulang lagi aja ya, nggak usah dateng."


Arini menautkan kedua aslinya,"Loh kenapa?"


"Tiba-tiba aku males aja."


" Loh kok bisa, bukannya tadi Mas yang semangat banget buat hadir di pesta pertunangannya Dokter Ema?"


Lagi-lagi Radit tidak menjawab, membuat Arini semakin bertambah bingung.


"Mas nggak enak badan?"


"Aku nggak kenapa-kenapa kok sayang."


"Kalau sekiranya Mas sakit, kita balik aja lagi jangan dipaksain." Ucap Arini dengan nada khawatir.


"Tadi kan aku udah bilang kalau aku nggak sakit.... lagian aku udah janji juga bakalan hadir, kalau ingkar janji nggak enak."


Arini menghela nafasnya, mencoba mengerti dengan apa yang Radit katakan, walau nanti pasti akan berubah lagi, sungguh aneh.


Radit memarkirkan mobilnya disebuah Wisma mewah, dimana acara pertunangan Dokter Ema akan dilangsungkan.


"Sayang."


"Hemmm...?"


"Nanti di dalem jangan jauh-jauh sama aku ya."


Arini tersenyum," Ya nggak bakalan dong, lagian didalam kan aku nggak kenal sama siapa-siapa."


Radit membalas tersenyum, lalu menarik tengkuk Arini untuk mencium bibirnya.


Arini memukul pundak Radit," Ummm..."


Radit melepaskan ciumannya," Kenapa?"


"Nanti ada yang liat."


Radit terkekeh," Maaf.... tadi cuma hapus sedikit lisptik yang masih menempel di bibir kamu."


Arini mencebik," Alesan.... kan ada tisu, nanti ada yang liat disangkanya lagi ngapa-ngapain lagi, kan malu."


"Nggak asik kalau pake tisu."


"Emang maen game, pake nggak asyik segala."

__ADS_1


Radit mengelus pipi Arini," Kita nggak usah lama-lama ya didalemnya udah acara beres kita langsung pulang aja."


"Emangnya kenapa?"


"Biar cepet berduaan sama kamu."


"Iya-iya, aku nurut gimana Mas aja."


Radit dan Arini berjalan menuju pintu utama masuk Wisma, Radit terus memegang tangan Arini dengan erat, seperti seorang Ibu memegang tangan anaknya yang takut hilang saat dibawa berbelanja dipasar.


"Mas megangnya jangan kekencengan dong." Bisik Arini.


Radit menoleh," Ini nggak kenceng."


"Ini kenceng banget Mas."


"Diem... biar semua orang tahu kalau kamu itu istri aku."


"Tanpa nggak dipegang juga orang bakalan tahu.... baju kita kan couplean."


"Aku takut kamu ilang, disini rame banget banyak orang." Kilah Radit.


Arini berdecak dalam hati, kesal juga dengan sikap Radit yang terlalu berlebihan.


"Selamat malam Dokter Radit." Sapa seseorang yang berjaga dipintu bagian dalam.


"Selamat malam, maaf saya terlambat." Jawab Radit dengan menjabat tangan orang itu.


Kemudian orang itu melihat ke arah Arini dan mengulurkan tangannya hendak bersalaman.


Namun apa yang Radit lakukan, dia enggan sekali melepaskan tangan Arini walau hanya untuk menjabat tangan laki-laki itu.


Arini langsung menarik paksa tangannya dan menerima uluran tangan pria itu.


"Silahkan Dokter, kami sudah siapkan kursi disebelah sana, mari saya antarkan."


"Oh iya terima kasih."


Dengan kembali meraih tangan Arini, Radit berjalan mengikuti pria itu menuju kursi yang sudah disiapkan untuknya.


"Mas." Bisik Arini yang seketika membuat Radit menoleh.


"Kalau ada yang pengen salaman sama aku, lepasin dong tangannya, aku kan malu nanti disangkanya sombong."


"Aku nggak suka tangan kamu dipegang laki-laki." Jawab Radit dengan berbisik pula.


"Itu kan cuma salaman." Dengus Arini.


"Tapi itu sama aja pegang tangan kamu."


Arini menggeram dalam hati, Ya Tuhan ada apa dengan Mas Radit....


"Silahkan Dokter dan juga Ibu." Ucap pria itu saat sampai di sebuah kursi.


"Terima kasih." Jawab Radit.


Radit dan Arini duduk berdampingan dengan mengikuti serangkaian acara yang sudah setengah berjalan.


"Mas lepasin dong tangannya, kita kan udah duduk." Bisik Arini ditelinga Radit.


"Nggak."


"Nggak."


"Aku nggak bakalan ilang Mas." Bisi Arini dengan nada kesal.


"Nggak." Jawab Radit dengan penuh penekanan.


"Ish..."


Dokter Ema dan tunangannya saling memakaikan cincin dijari manis mereka secara bergantian, keduanya saling bertukar pandang dan tersenyum malu-malu.


"Romantis banget ya Mas mereka." Ucap Arini.


"Heem."


"Lucu ya pake curi-curi pandang segala." Ucap Arini dengan tersenyum geli.


"Masa?"


"Iya.... tuh liat, iya kan?"


"Heem."


"Ih mereka mau foto berdua."


"Masa?"


"Duh mesranya."


"Heem."


Arini menarik paksa matanya untuk melihat Radit karena merasa ada sesuatu yang janggal dengan jawaban Radit yang hanya satu kata saja, heem dan masa.


Kening Arini berkerut setelah mendapati Radit yang hanya melihat kearahnya saja.


"Dari tadi Mas nggak liatin acara didepan sana?"


"Nggak."


"Trus ngapain aja dari tadi?"


"Liatin kamu."


Arini memijit pelipisnya," Ngapain liatin aku, acaranya kan ada didepan sana."


"Aku lebih suka liatin kamu." Jawab Radit dengana entengnya.


Astaga.....


Setelah semua susunan acara dilakukan, semua tamu undangan memberikan ucapan selamat kepada Dokter Ema, termasuk dengan Radit dan juga Arini. Yang kemudian dilanjutkan dengan jamuan makan malam dengan berbagai macam menu makanan khas Jawa.


"Sayang kamu mau makan apa?" Tanya Radit dengan mencium punggung tangan Arini yang masih setia dia genggam.


"Aku nggak laper Mas, aku minum aja." Jawab Arini.

__ADS_1


"Oh ya udah, kita kesana aja." Menunjuk sebuah stan minuman yang bertuliskan es dawet.


"Mau gula merah atau gula putih?" Tanya Radit dengan mencium punggung tangan Arini untuk kesekian kalinya.


"Gula merah aja."


Tiba-tiba Dokter Wahyu datang menghampiri mereka yang sedang menunggu pesanan es dawet yang masih dibuatkan oleh penjaganya.


"Dokter Radit."


"Eh Dokter Wahyu."


"Saya kira Dokter tidak datang, saya tunggu anda dari tadi dipintu utama." Ucap Dokter Wahyu.


"Maaf tadi saya datang terlambat."


"Apa ini istri Dokter?" Mengalihkan pandangannya kepada Arini.


"Ah iya.... ini istri saya Arini." Jawab Radit dengan lagi-lagi mencium tangan Arini, yang seketika pipi Arini berubah merah menahan malu dengan sikap Radit yang terlalu berlebihan didepan orang lain.


"Istri Dokter cantik sekali. Maaf waktu acara pernikahan, saya tidak bisa hadir karena harus pergi ke singapura waktu itu."


"Ah tidak apa-apa Dok, saya paham dengan kesibukan Dokter." Jawab Radit lagi.


"Kalau begitu silahkan menikmati hidangannya, semoga Dokter dan istri menyukainya.... saya permisi dulu."


"Iya silahkan Dokter, terima kasih."


Setelah Dokter Wahyu melenggang pergi, Arini menarik tangannya dengan paksa.


"Mas ini apa-apaan sih, kan malu." Gerutu Arini dengan setengah berbisik.


"Malu kenapa?"


"Kenapa cium-cium tangan aku didepan orang lain kayak gitu."


Radit langsung menarik tangan Arini kembali dalam genggamannya.


"Karena aku terlalu sayang sama kamu."


"Tapi kan nggak gitu juga."


"Tapi aku maunya gitu."


"Ish...." Arini menepak keningnya sendiri.


"Nih es dawetnya." Menyodorkan sedotan langsung kemulut Arini.


Namun Radit langsung menjauhkan es dawet saat tangan Arini hendak meraihnya.


"Nggak usah dipegang, biar aku aja." Menyodorkan lagi kemulut Arini


Ya ampun..... Gumam Arini dalam hati.


Arini langsung menyedot es dawet dengan sedikit kesal.


"Emang enak ya es dawetnya, kok kenceng banget nyedotnya."


"Heem."


"Pelan-pelan sayang nanti keselek."


"Uhuk-uhuk." Tiba-tiba Arini tersedak.


"Tuh kan apa aku bilang." Ucap Radit dengan memberikan segelas air mineral kepada Arini.


Arini meminum air mineral yang Radit berikan," Mas nggak laper, kan belum makan."


"Sama kayak kamu, aku juga nggak laper."


"Trus Mas mau makan apa dong, nanti masuk angin loh."


Radit mengedarkan pandangannya, mencari-cari sesuatu yang ingin sekali dia makan saat ini.


"Kita ke stan buah-buahan yuk." Sambil menunjukan jarinya.


"Yuk."


Mereka berdua berjalan menuju stan buah-buahan yang ada dibagian pojok ruangan. Radit mengambil beberapa potong buah nanas yang tersimpan dalam wadah balok es dan memakannya.


"Beneran kamu nggak mau?" Tanya Radit saat mengambil potongan nanas untuk yang ketiga kalinya.


"Nggak ah itu kan asem." Jawab Arini.


"Ini nggak asem, malahan manis banget, cobain deh." Sambil mengarahkan potongan nanas kearah Arini.


"Nggak ah, aku nggak suka."


Arini memperhatikan Radit yang sepertinya menikmati buah nanas itu," Kenapa nggak dicampur sama buah yang lain Mas?"


"Aku pengennya nanas doang."


"Emang Mas suka banget ya sama buah nanas?"


"Nggak, malahan baru sekarang lagi aku makan nanas. Dulu kalau dikasih Ibu aku nggak mau, soalnya suka nggak enak dilidah."


Arini mengerutkan keningnya," Kok sekarang kayak yang suka?"


"Aku juga nggak tahu, tiba-tiba pengen aja makan nanas." Jawabnya dengan memakan potongan nanas yang terakhir.


Kembali lagi Radit mencium tangan Arini," Kita pulang yuk?"


"Ayuk."


"Tapi kita mampir dulu ke toko buah."


"Mau ngapain?"


"Beli nanas."


Haaahh....????


.............................................................


.............................................................

__ADS_1


......................................Bersambung.....


__ADS_2