
Radit menjauhkan bibirnya, menghapus jejak bibir Arini yang basah karena ulah pagutannya.
"Aku merindukanmu....."
Arini balas tersenyum, suaminya yang dua hari hilang kini telah kembali. Matanya yang teduh, bisikannya yang mesra dan belaiannya yang manja kini telah kembali mendamaikan hatinya.
"Cepatlah sembuh, aku ingin segera menggigitmu." Menarik tangan Arini untuk menyentuh pipinya.
Arini tertawa kecil, Radit mengusap-usap tangan Arini dipipinya. Akhirnya ia bisa melihat lagi tawa yang tadi sempat ia takutkan tidak akan bisa dilihatnya lagi.
Pintu terbuka, Arini dan Radit menoleh.
"Arini...." Gea langsung berjalan mendekat penuh kekhawatiran.
"Gimana keadaan kamu sekarang, apa masih terasa sakit?"
"Sudah nggak..." Jawabnya masih sangat lemah.
Gea menatap laki-laki yang memegang tangan Arini," Apa ini Mas Radit suaminya Arini?"
Radit tersenyum ramah,"Iya betul... ini pasti Gea kan, Arini sudah banyak cerita, terima kasih sudah mau menengok kesini." Seraya berjabat tangan.
"Sama-sama...," Gea menelisik wajah Radit,".... Mas Radit kening sama tangannya kenapa, kok kayak habis jatuh gitu?"
Radit meraba tangannya yang terluka," Tadi waktu mau kesini terburu-buru jadi ketabrak mo..." Radit tidak meneruskan kata-katanya, lupa kalau ia sedang menutupi kejadian itu dari Arini.
Arini melihat Radit," Jadi Mas ketabrak, kenapa tadi nggak bilang?"
"Maaf....,"Radit mengelus kening Arini,"...tapi Aku nggak papa, cuma keserempet aja."
"Cepet obatin Mas."
"Ini cuma lecet aja sayang."
Arini beruntung banget punya suami tampan dan sebaik Mas Radit, aku kapaaaann.... ngenes banget jadi jomblo. Gumam Erika dalam hati.
"Aku panggilin Dokter ya Mas, diobatin dulu lukanya biar nggak infeksi." Ujar Gea.
Tiba-tiba Erika masuk, berjalan tergesa menghampiri mereka.
"Radit kamu kenapa, kok babak belur begini... aku obatin ya, aku minta antiseptik sama Suster disini, kebetulan ada yang aku kenal.
Belum Radit menjawab, Gea langsung menyela.
"Biar saya panggilkan Dokter aja ya Mas, biar sekalian diperiksa."
Erika menatap Gea,"Aku juga Dokter, jadi setidaknya aku juga tahu kalau harus mengobati luka seperti ini."
"Tapi kamu bukan Dokter yang berjaga disini kan?" Balas Gea.
"Biar David saja yang panggilkan Dokter untuk mengobati luka Radit." Sela Aditya yang baru berjalan masuk dan mendengar perdebatan kedua wanita ini.
Arini dan Radit saling berpandangan, sepertinya pertanyaan dipikiran mereka sama, ada apa dengan Erika dan Gea?
David yang baru menyusul masuk pun kembali berbalik," Sebentar saya panggilkan Dokter dulu." Ucap David.
"Pak David tidak usah, biar saya saja yang kesana...," Kemudian beralih melihat Arini,"...sayang, aku tinggal sebentar ya?"
"Iya Mas."
"Biar saya antar." Ucap David dengan membantu Radit yang seperti kesulitan untuk berdiri karena luka dikakinya mulai terasa kaku.
"Terima kasih Pak David."
"Sama-Sama."
"Aku ikut kamu..." Ujar Erika menyusul Radit dan David.
__ADS_1
Setelah mereka pergi, Aditya berjalan mendekat, memandangi Arini dengan lekat. Kekhawatiran yang tadi membuncah seketika sirna setelah melihat Arini tersenyum melihatnya.
Aditya duduk didepan Arini," Gimana keadaanmu sekarang?"
"Lebih baik..." Seraya melihat baju Aditya yang banyak noda darah.
"Dit, makasih sudah bawa aku kesini."
"Sama-sama."
"Maaf sudah buat baju kamu jadi kotor."
Aditya menurunkan wajahnya, tak sadar dengan baju yang ternyata banyak warna merah, ia pun tersenyum," Nggak masalah, ini masih bisa dicuci kan..."
Arini tersenyum kembali," Kalau udah sembuh, nanti aku ganti."
"Oke.... aku tunggu janjimu." Membulatkan jarinya hingga membentuk lingkaran.
"Jaga kandungan kamu, jangan sampai terjadi lagi."
"Iya..."
Gea yang memperhatikan interaksi mereka, tersenyum simpul. Walau mereka tidak bisa saling memiliki, namun pada akhirnya mereka masih bisa saling menyanyangi walau hanya sebatas teman biasa.
"Aduh aku cuma jadi nyamuk nih disini..." Sela Gea dengan menggeret sebuah kursi kosong untuk dia duduki.
"Kamu cepet sembuh ya, aku nggak bisa lama-lama... takut dijalannya kalau pulang kemaleman."
"Iya nggak papa.... sebelumnya makasih ya Ge." Jawab Arini.
"Kamu pulang naik apa?" Sela Aditya.
"Kayaknya aku naik taxi online aja." Mengeluarkan ponsel untuk memesan taxi.
"Kamu pulang sama David aja, dia kan bawa mobil."
"Biar aku telepon supir kantor buat jemput aku disini."
"Ah baiknya temanku ini...Makasih ya Dit."
Dengan ragu-ragu Aditya kembali bertanya kepada Arini," Rin... boleh aku bawa Nuno untuk tinggal bersamaku selama kamu di Rumah Sakit, setidaknya dia tidak akan kesepian selagi Radit merawat kamu nanti."
"Boleh... terima kasih sebelumnya Dit."
Aditya tersenyum lega," Nanti aku juga akan bilang ke Radit." Arini mengangguk.
Tak lama berselang, Radit kembali datang ke ruangan Arini dengan luka yang sudah diperban, tentunya dengan Erika dan juga David.
"Mas gimana lukanya?"
Radit berjalan menghampiri dan memegang tangan Arini lagi," Nggak papa,hanya luka biasa."
"Kaki Radit terkilir Rin, dia harus dipijat sama tukang urut." Tambah Erika.
Gea langsung melihat Radit," Mas Radit, kebetulan tetangga aku tukang urut, nanti aku suruh dia temui Mas ya?"
"Ah bagus kalau gitu... besok siang suruh ke Rumah Sakit Pelita Medika aja ya?" Ucap Radit.
"Siap Mas."
Erika berdecak, Sok baik.
"Radit.... aku ingin meminta izin membawa Nuno untuk tinggal dirumahku selama Arini di Rumah Sakit. Dan kalau kamu tidak keberatan saya akan bawa Nuno malam ini." Tutur Aditya.
"Kamu tidak perlu meminta izin kepada aku, kamu kan Papahnya."
Erika terperangah, fakta yang baru dia ketahui, ternyata Aditya bukan hanya teman biasa buat Arini.
__ADS_1
Tapi mereka kok bisa akur ya???
Kalau dia ada di posisi Radit, dia pasti tidak akan membiarkan pasangannya dekat-dekat dengan mantan, pasti berabe kalau CLBK pada akhirnya.
"Terima kasih."
Kemudian Aditya berbalik melihat David yang ada dibelakangnya," David tolong kamu antarkan Gea pulang."
David menatap Gea yang sedang tersenyum kepadanya, namun ia buru-buru kembali berpaling.
"Terus aku pulang sama siapa... mobilku kan ditinggal di Rumah Sakit?" Gerutu Erika.
"Kalian berdua akan diantar David."
"Apa?" Erika dan Gea menyaut berbarengan.
"Ya nggak mungkin bisa lah Dit, pasti rumah aku dan dia tidak searah." Sanggah Gea.
"Iya itu bener... jadi nggak mungkin kita pulang bareng." Tambah Erika.
"Mau searah atau tidak, David akan mengantarkan kalian berdua, kecuali kalau diantara kalian ada yang mau mengalah untuk naik kendaraan umum."
"Nggak mau." Erika dan Gea kembali menjawab bersama.
"Jadi....?" Tanya Aditya melihat mereka bergantian.
"Oke.... David anterin dia dulu baru aku." Ucap Erika kemudian.
"Mana bisa begitu.... Bang David anterin kamu dulu ke Rumah Sakit, bawa mobil sendiri. Setelah itu baru mengantar aku."
"Kamu nggak denger ya tadi, David itu ada janji makan malam dirumah aku." Jawab Erika dengan sengit.
Seketika Gea membungkam, beralih melihat David yang hanya diam mendengar perdebatan mereka.Padahal Gea berharap David akan menyangkal semua perkataan Erika.
Begitu juga dengan Erika, ia berharap David mengiyakan kata-katanya. Namun ternyata David malah berbalik keluar, meninggalkan ruangan dengan perasaan gamang dikedua hati mereka.
"Erika... Gea.... ayo cepat susul David, dia tidak suka dibuat menunggu."
Gea menyampirkan tas dipundaknya," Rin aku pulang dulu ya... cepet sembuh, nanti aku jengukin kamu lagi." Ucap Gea.
"Aku juga pulang ya Rin... besok kita ketemu lagi di Rumah Sakit." Ucap Erika.
"Iya Ge... Mbak... terima kasih."
Gea dan Erika sama-sama mengambil langkah seribu, hingga mereka bertubrukan didepan pintu.
"Aku dulu yang keluar." Ujar Erika.
"Nggak.... aku dulu yang keluar." Jawab Gea tak mau kalah.
"Yang pegang handle pintu duluan itu aku."
"Tapi yang sampai dipintu lebih dulu itu aku."
Aditya menggelengkan kepalanya, perdebatan wanita ternyata lebih rumit dari laki-laki.
"Kalian mau sampai kapan diam disana?"
Keduanya menoleh, baru sadar tiga pasang mata sedang memperhatikan mereka saat ini.
Erika dan Gea kembali saling bertatapan, kemudian keluar dengan saling bersibaku diambang pintu karena sesak menampung dua orang yang hendak keluar bersamaan.
............................................................
............................................................
......................................Bersambung.....
__ADS_1