
Sementara itu di sebuah kamar kost di kawasan Benhil, Marissa sedang bermalas-malasan di atas tempat tidurnya.
" Ga ada angin ga ada hujan, kenapa Bang Jovan kirimin aku makanan?? mana banyak lagi?? ini cukup sampai makan malam!! "
" Alhamdulillah, jadi ga perlu masak atau jajan sih. "
" Hmmm Abang lagi ngapain yaaa?? aku WA atau misscall?? "
" Hmmm WA aja deh. "
Marissa pun mengirimkan WA kepada Jovan.
" Assalamu'alaikum. Bang, lagi ngapain?? sibuk ga?? makasih kiriman makanannya itu banyak banget. Alhamdulillah cukup untuk sampai makan malam. "
Selama acara meet and greet berlangsung, Jovan menyerahkan HPnya kepada Bian agar tidak mengganggu acaranya.
Bian pun segera membuka dan membalas pesan dari Marissa.
" Wa'alaikumsalam. Maaf Mbak, Bang Jovan lagi ada acara meet and greet sekalian tanda tangan novelnya di GrandIn, baru selesai nanti sekitar jam 2an. Tadi pagi Bang Jovan suruh aku pesenin makan siang untuk mbak Risa. Alhamdulillah kalau cukup untuk sampai makan malam."
" Ooo lagi jumpa fans, baiklah kalau gitu. Makasih yaa Bi. "
" Sama-sama, Mbak. "
Setelah mengirimkan WA,
" Ish lagi jumpa fans kok aku ga dikasih tahu, aku kan pingin ikut. Eh sekarang masih jam 12, masih ada 2 jam lagi. Aku kesana ah "
Marissa pun bergegas menuju Grand Indonesia, yang tak terlalu jauh dari tempat kostnya.
Sesampainya di sana, Marissa menghubungi Bian di HP Jovan.
" Bi, aku di GI nih, rame banget!! "
" Eh, Mbak Risa disini?? Mbak ke back stage aja, nanti aku keluar "
Marissa pun berjalan menuju belakang panggung untuk menemui Bian.
" Aduh Mbak, kok kesini ga bilang-bilang??"
" Penasaran pingin lihat aja. Ih rame banget yaa!! "
" Iya Mbak, alhamdulillah. "
" Duduk sini Mbak, kita dengerin obrolannya dari sini aja, " ajak Bian.
" Ok, makasih."
Acara interview Jovan pun masih berlangsung.
" Bang, kita berandai-andai lagi deh. Kalau Mischa ternyata ada disini, dia hadir melihat dan mendengarkan acara ini, bagaimana?? ada pesan untuk Mischa??"
Jovan pun tersenyum dan tertawa kecil.
" Jujur saja, saya tidak tahu mau ngomong apa ke Mischa. Paling kalimat standar, apa kabar??selama ini dimana ?? sekarang tinggal dimana?? kerja apa dimana?? yaa pertanyaan standar gitu deh."
" Masih single atau ga?? itu penting ditanyakan juga lho, Bang " canda MC yang mengundang gelak tawa.
" Oiya ya, masih single atau sudah doble yaa, " balas Jovan.
Jovan kemudian melihat ke arah jam tangannya, ternyata sudah memasuki waktu shalat dzuhur.
Ia pun meminta MC untuk menghentikan acaranya sesaat.
" Saya permisi sebentar yaa, sudah dzuhur, saya shalat dulu. Nanti kita lanjutkan lagi, langsung ke acara tanda tangan aja, " bisik Jovan.
" Ok, Bang. "
" Oiya sepertinya sudah masuk waktu shalat dzuhur, acara ini kita hentikan untuk shalat dzuhur dulu, nanti kita akan sambung lagi ke acara selanjutnya, yaitu penandatanganan novel."
Setelah itu, Jovan menuju belakang panggung.
" Bi, kita shalat dzuhur dulu!! " ucap Jovan sedikit terburu-buru sehingga tidak memperhatikan kehadiran Marissa.
" Iya Bang. Mbak, ayo kita ke musholla!!"
" Let's go!! " jawab Marissa semangat.
Mendengar suara Marissa, Jovan pun membalikkan badannya.
" Lho, kamu disini?? ngapain?? bukannya istirahat di kostan?? "
" Ih Bian, lihat tuh Bos kamu, ga seneng banget aku datang. Pingin ngemall kok, ga boleh?? ih kasian amat yaa??!! "
" Bukan ga boleh, tapi kok kesini tiba-tiba?? "
" Ih Abang!! aku kan fans novelnya, Bang!! ga boleh datang?? nanti aku ga beli novel yang keduanya lho!! "
" Jangan beli, nanti Abang langsung kirim ke kamu lengkap dengan tanda tangan dan foto bareng!! "
" Iidiiiii siapa juga yang mau tanda tangan sama foto bareng!! "
" Bian, bos kamu keGRran banget yaa, " ucap Marissa sambil berjalan mendahului Jovan untuk menuju musholla.
Bian pun tertawa mendengar Marissa.
Jovan pun berjalan cepat untuk mendahului Marissa, Bian pun mengikuti berjalan disamping Jovan.
Setelah berjalan di depan Marissa, Jovan memperlambat langkahnya, agar Marissa tak tertinggal jauh di belakang.
" Bang, panjang kakinya berapa centi sih!! eh sekalian tingginya berapa?? ga takut kepentok apa gitu kepalanya?? atau malah sudah sering?? "
" Kamu ini nanya, nyinyir atau apa?? "
" All in 1 " jawab Marissa singkat.
Bian pun kembali tertawa.
" Hiburan yaa?? " sindir Jovan.
Bian pun berdehem, membersihkan tenggorokannya.
__ADS_1
" Iya Bang, jangan marah. Abang horor banget deh kalau marah. Lihat tuh alisnya sampe naik gitu, trus ngumpul di tengah lagi "
Marissa pun tertawa terbahak-bahak.
" Yeee ini bocah!! berani ngetawain?? " protes Jovan.
" Coba bayangin aja, alisnya Abang tiba-tiba ngumpul semua di tengah " jawab Marissa.
Bian dan Marissa pun tertawa geli membayangkannya, sedangkan Jovan hanya tersenyum kecut.
" Mau shalat, malah ngejek dulu," sindir Jovan.
" Yaa maaf Bang, sengaja!! " jawab Marissa yang segera berbelok ke arah pintu masuk musholla akhwat.
" Hmmm selamat tuh bocah!! "
" Ternyata Mbak Marissa lucu juga, " ucap Bian.
Jovan pun menarik nafasnya dengan berat.
" Kita shalat dulu " ucapnya sebelum memasuki musholla.
Setelah selesai shalat berjama'ah, Jovan tidak segera keluar musholla.
" Bi, kamu duluan aja. Tunggu saya di luar, saya mau sendirian dulu. "
" Hmmm, baik Bang. "
Sebetulnya Bian ingin bertanya, ada apa, tetapi ia mengurungkan niatnya, ia memilih diam dan mengikuti perintah Jovan.
Bian pun menunggu di bangku dekat musholla, Marissa yang baru saja selesai segera menghampiri.
" Lho, abang mana?? "
" Masih di dalam, Mbak. Katanya lagi mau sendirian."
" Ooo, eh kenapa?? "
" Ga tahu juga Mbak, tapi feeling ku sih, sepertinya karena pertanyaan-pertanyaan selama acara tadi. "
" Memangnya pertanyaannya apa aja?? "
" Banyaklah, Mbak. Tapi ada beberapa yang membuat Bang Jovan terdiam dan berfikir sebelum menjawabnya, suaranya juga sedikit berat seperti ada beban. "
" Ooouuch, segitu dalam cinta Bang Jovan ke Mischa!! "
" Sepertinya begitu, Mbak. "
" Ah, penasaran aku deh. "
" Penasaran apa, Mbak?? "
" Mischa seperti apa?? sampai-sampai bisa membuat Bang Jovan jatuh cinta, padahal sudah tidak bertemu belasan tahun. "
" Wah, aku juga ga tahu, Mbak " menanggapi pertanyaan Marissa.
" Oiya, nanti aku kirimin video acaranya ya, Mbak "
" Ada videonya?? "
" Waaah, nanti kirim ke e-mail ku aja yaa "
Marissa pun mengirimkan alamat e-mailnya kepada Bian.
Tak lama kemudian, Jovan terlihat berjalan ke arah Marissa dan Bian.
" Maaf nunggu "
" Ga papa kok, Bang. Take your time " jawab Marissa.
" Kita langsung ke tempat tadi atau ada yang mau dibeli?? " tanya Jovan kepada Marissa.
" Langsung aja, Bang. Kasian fansnya sudah nungguin untuk tanda tangan "
" Yuk "
Seperti biasa, Jovan dan Bian akan berjalan di depan Marissa.
Kali ini, Jovan hanya diam tak berbicara sama sekali, membuat Bian dan Marissa juga ikut diam.
Sampai di belakang panggung,
" Bang, silahkan makan dan minum dulu. Acaranya akan di mulai 15 menit lagi "
" Terima kasih, bisa minta 1 lagi buat adik saya?? " ucap Jovan.
" Adik Bang?? " tanya panitia.
" Iya, kenalin ini Risa adik saya."
Bian dan Marissa pun berpandangan.
" Eh iya, saya Risa adiknya Bang Jovan. Iya, beda, dia bule, saya lokal. Soalnya, saya bukan adik kandung Bang Jovan, saya sepupu jauhnya, " ucap Marissa tanggap, karena melihat reaksi dari panitia yang kebingungan.
" Oooo gitu, baik. Saya ambilkan makanan dan minumannya dulu. "
Jovan mengenalkan Marissa sebagai adiknya sebetulnya itu untuk dirinya sendiri, karena ia takut untuk menyukai Marissa melebihi dari hubungan persahabatan karena masih ada Icha di hatinya.
Jovan dan Marissa tak saling berbicara sepanjang makan siang, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, setelah perkenalan tadi.
Bian pun mau tidak mau ikut diam tetapi di dalam hatinya, ia tidak diam.
" Haduuu Bang, belum ketemu sama Icha tapi malah mulai kepincut Risa, mana namanya mirip lagi nih!! Jaga hati, jaga pandangan Bang!! tentukan arah hati kemana!! jangan dua-duanya. Kasian dikit sama aku lah Bang, jomblo akut tanpa ada orang yang disukai sampai saat ini. "
Kemudian Jovan melihat ke arah Marissa, yang tidak memakan makan siangnya.
" Kok ga dimakan?? ga suka menunya?? Abang pesenin lagi yaa?? "
" Eee jangan Bang, tadi kan Abang sudah pesenin makan siang buat aku, tadi sebelum kesini aku sudah makan. Jadi masih kenyang. "
"'Ooo ya kamu simpan untuk makan malam nanti."
__ADS_1
"'Yang kiriman tadi aja masih ada, ga habis, bisa untuk makan malam. "
" Buat aku aja, Mbak. "
" Eh beneran nih?? ambil deh, aku masih kenyang. "
Setelah istirahat makan siang, acara meet and greet pun dimulai kembali.
Setelah MC membuka acara kembali, Jovan pun kembali duduk di atas panggung.
" Acara kita lanjutkan kembali, saya akan membuka sesi tanya jawab, ga banyak-banyak yaa, mungkin 5 pertanyaan saja setelah itu kita lanjutkan dengan sesi penandatanganan buku "
" Tadi panitia sudah mengumpulkan pertanyaannya yaa, jadi saya akan ambil acak saja " ucap MC sambil mengambil kertas pertanyaannya.
" Pertanyaan pertama dari Leticia, mana yang bernama Leticia "
Seorang wanita muda pun mengangkat tangannya, panitia pun memberikan mikrofon.
" Silahkan, pertanyaannya apa?? "
" Mas, saya lupa pertanyaan yang saya tulis apa" ucap Leticia yang membuat Jovan dan pengunjung lainnya tertawa.
" Ada lagi nih kasus baru. Ok deh, saya bacakan pertanyaan kamu yaa. Bang Jovan, kalau ternyata Mischa sudah punya pasangan, kira-kira kriteria pasangan Bang Jovan seperti apa, untuk menggantikan Mischa ?? " ucap MC membacakan pertanyaan.
" Oiya, itu pertanyaannya. Iya Bang, banyak jomblowati berharap nih!! "
Jovan pun tertawa mendengarkan pertanyaan pertama dari pengunjung.
"'Gimana Bang?? " tanya MC.
" Hmmm gimana yaa?? "
Jovan pun terdiam sesaat memikirkan jawaban yang tepat.
" Sebelumnya saya tidak pernah terpikirkan akan kriteria calon pasangan saya, tetapi yang jelas harus seiman, berhijab sempurna dan cerdas. "
" Berarti yang tidak berhijab harus dicoret ya, Bang ??? " tanya MC.
" Iya, salah satu bentuk ketaatan kepada yang menciptakannya terlihat dari penampilannya. "
Bian di belakang panggung pun melirik ke arah Marissa.
" Apa Bi, lirik-lirik?? "
" Ga, tuh katanya barusan, berhijab sempurna. "
" Yaa, terus, baguslah. Laki jaman now harus pintar milih perempuan yang nantinya akan membawanya ke surga. "
" Ouugh, dalem banget Mbak Marissa inih!! "
" Ssst diam, ga dengar nih. "
Keduanya pun kembali menyimak acara dari belakang panggung.
MC pun membacakan pertanyaan kedua.
" Pertanyaan kedua dari Ambar, mana yang bernama Ambar?? "
Terlihat tangan keatas dari tempat pengunjung.
Panitia pun kembali memberikan mikrofon.
" Assalamu'alaikum, Bang "
" Wa'alaikumsalam "
" Saya Ambar dari Bekasi, mau tanya. Kan, Mischa hilang tanpa jejak, tetapi jika ternyata Mischa ada disini tapi dia ga ingat tentang Abang, padahal mungkin dia sudah membaca novelnya, mungkin juga ikut duduk bersama kami disini, tapi dia ga merasa jika dirinya adalah Mischa yang Abang cari, gimana caranya biar dia ngeh kalau dia adalah Mischa "
" Waaa, ini pertanyaannya bagus sekali dan rumit nih. Silahkan dijawab Bang "
" Jadi maksudnya jika Mischa yang saya cari ada disini tetapi dia tidak sadar bahwa ia adalah orang yang saya cari, bagaimana cara saya membuat ia menyadari bahwa dirinya adalah Mischa yang saya cari, tanpa saya juga mengetahui bahwa ia berada disini?? "
" Nah, iya begitu Bang maksudnya. "
" Hmmm ribet yaa ?? " ucap MC.
Jovan kembali terdiam sebelum menjawab pertanyaannya.
" Ih, kok Abang lama mikirnya?? " ucap Marissa.
" Menurut Mbak Risa, gimana?? "
" Yaa ceritakan saja momen tak terlupakan yang hanya mereka berdua yang tahu. "
" Eh iya, bener juga Mbak. "
Sementara itu Jovan masih memikirkan jawaban atas pertanyaan dari pengunjung.
" Hmmmm sepertinya semua kenangan bersama Mischa telah saya ceritakan di dalam novel. "
" Tapi...... " Jovan kembali terdiam memikirkan kenangan yang terlintas.
Tiba-tiba HP Marissa berbunyi.
" Bi, aku keluar dulu yaa, ga kedengeran, pakde ku nelfon. "
" Iya, Mbak."
Marissa pun berjalan menjauhi keramaian menuju pintu utama.
" Assalamu'alaikum, Pakde. Nunsewu, aku lagi di Mall jadi maaf, tadi rame banget "
" Wa'alaikumsalam. Gapapa. Piye Ris, sehat?? "
" Alhamdulillah sehat, Pakde. "
Marissa pun berbincang dengan pakdenya di teras Mall, sementara itu Jovan telah menjawab pertanyaannya.
" Pernah suatu ketika Mischa baru bisa naik sepeda, dia menangis ketika pulang bermain karena terjatuh dari sepeda. Tante Riska sedang pergi ke warung yang berada di depan pintu masuk komplek. Hanya ada saya yang melihatnya saat itu. Saya berlari untuk menolongnya, siku dan lututnya terluka dan berdarah. Saya berlari menghampiri Mischa yang menangis dan menggendongnya ke teras rumahnya. Lalu saya bersihkan lukanya dengan air, Micha menjerit karena perih. Setelah itu, saya menemani Mischa di teras menunggu ibunya pulang. Dia mengucapkan terima kasih sambil menangis "
Jovan terdiam sesaat.
__ADS_1
" Hmmm hanya itu yang saya bisa ingat. Sebenarnya banyak momen dimana hanya saya dan Mischa berdua saja, seperti ketika berangkat sekolah dan selama di sekolah. Tapi saya juga sudah banyak lupa akan detailnya yaitu yang tidak tertangkap kamera pada saat itu "
" Wajarlah Bang, kita juga tidak semua bisa ingat peristiwa ketika masih kecil, apalagi masih SD, pasti sudah banyak yang lupa " ucap MC.