Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 67 Perkenalan


__ADS_3

Keluarga Sofyan dan Chen kembali duduk bersama, untuk menikmati sarapan.


Terdapat layar besar di salah satu sisi restoran yang menayangkan berita tentang pernikahan Jovan dan Marissa semalam.


Mata para tamu pun seakan terbius untuk menyaksikannya, terlebih dengan adanya drama penembakan Jovan yang membuat para tamu terkejut.


Jovan dan Marissa pun ikut menyaksikan tayangannya, mereka berdua pun tertawa mengingat acara semalam, sedangkan Jovanka hanya menggelengkan kepalanya mengingat aksi putra dan menantunya.


Marendra dan Mariska pun berpandangan, seolah bertanya siapakah Jovan, sang kakak ipar. Mengapa pernikahannya sampai diliput oleh berbagai media.


Mariska kemudian memperhatikan paras Jovan dan Jordan, ia pun mengira jika keduanya adalah aktor terkenal atau model.


"Bang, Abang berdua itu, model atau aktor?" tanya Mariska.


Keduanya pun tertawa mendengar pertanyaan Mariska.


"Yang, jawab," pinta Jovan.


"Laah, aku jadi jubir?!" protes Marissa sambil melirik tajam ke arah Jovan. Tetapi Jovan hanya membalasnya dengan senyum terbaiknya yang dapat menghipnotis siapapun yang melihatnya.


"Curang!" protes Marissa lagi, tetapi ia tetap menuruti permintaan Jovan.


"Baiklah, untuk menghilangkan rasa penasaran adikku yang baru ku kenal selama 8 jam ini, aku akan menjawabnya. So, Bang Jordan dan Bang Jovan atau yang lebih dikenal dengan Jo bersaudara, adalah pria keturunan Belanda-Betawi dari sang bunda, lalu Melayu-Chinese Singapore dari sang ayah. Mereka berdua bukan model ataupun aktor. Bang Jordan adalah kapten pilot maskapai penerbangan nasional Singapore, sedangkan Bang Jovan adalah novelis terkenal dengan buku yang meledak di pasaran, alhamdulillah tidak ada korban jiwa," jelas Marissa.


"Kok korban jiwa?" tanya Marendra dan Mariska bersamaan.


Marissa, Jovan dan Jordan pun menjawab dengan kompak, "Kan meledak."


Marendra dan Mariska pun membuang nafasnya dengan kasar, sambil memberikan lirikan tajam ke arah Marissa dan 2 abang tampan di depan mereka yang asyik tertawa cekikikan.


Mariska masih asyik memandangi Jovan dan Jordan, lalu ia pun bertanya kembali.


"Bang Jovan cuma 2 bersaudara? ga ada lagi yang model gitu, satu aja??"


"Sebenarnya ada 3, namanya Bang Josie, tapi sudah meninggal sekitar 2 hampir 3 tahun yang lalu," jawab Jovan.


Marissa yang tanggap akan arah pertanyaan yang Mariska lontarkan pun segera menambahkan jawaban.


"Kalaupun sekarang masih lengkap bertiga, kamu ga bakalan dilirik sama Jo's Brothers."


Perkataan Marissa pun berhasil membuat Mariska kesal, sedangkan Jovan mengajak Marissa bersalaman, sambil berucap, "nice shot!!"

__ADS_1


"Nah, lanjut tentang Bang Jovan, yaa. Novel Bang Jovan sudah difilmkan, yang katanya sebentar lagi akan tayang. Kita tunggu saja undangan premiernya," lanjut Marissa tanpa mempedulikan reaksi adik kembarnya.


"Waaaa, novelnya apa Bang?" tanya Mariska.


"Bukan novel anak-anak," jawab Jovan santai.


"Ish, aku kan bukan anak-anak lagi, Bang! Aku sudah remaja, boleh dong!" protes Mariska.


"Nanti aku kasih bukunya, sekarang selesaikan makannya," jawab Marissa.


"Makasih, Mbak," jawab Mariska dengan mata berbinar.


"Eh, ceritanya tentang apa?" tanya Mariska lagi.


"Tentang aku," jawab Marissa singkat yang membuat Jovan dan Jordan kembali tertawa.


"Eh serius nanya !! Ceritanya tentang apa?" tanya Mariska lagi.


"Tentang Mbak Icha, dia jujur kok," jawab Jovan.


"Kok bisa, apa spesialnya Mbak Icha, sampai bisa dibuat novelnya?" tanya Mariska lagi.


"Iya, awalnya film pendek, trus laku dan diputar dimana-mana. Dari sana ketemu sama produser film, dia mau buat film berdasarkan film pendek Abang, tapi dia minta Abang tulis ceritanya sebelum dirubah menjadi skenario. Eh ternyata sama dia malah dibuat novel, eee laku tuh novelnya. Yowes promo novel kemana-mana, eeee ketemu sama Mbak Icha di bandara, trus kenalan, eeee ga taunya Mbak Icha ini orang yang Abang cari-cari, yang bikin Abang nulis novelnya. Nanti setelah kamu baca, juga akan tahu," jelas Jovan yang membuat para orang tua kembali menggelengkan kepalanya.


"Ayo segera selesaikan sarapannya, jam 10 nanti, kita akan belanja pakaian untuk Endra dan Ika. Jovan dan Icha mendapatkan kehormatan untuk memilihkan pakaian yang pantas untuk mereka berdua," ujar Mario yang membuat Jovan dan Marissa mengeluarkan smirk andalannya yang membuat si kembar pasrah.


Marendra yang sedari awal hanya diam saja, akhirnya bertanya kepada Mario akan ibunya.


"Yah, kapan kita bisa jenguk Mama?" tanya Marendra.


"Belum tahu, pengacara ayah sedang mengurus masalah ini, kita tunggu saja," jawab Mario.


"Mama akan dipenjara berapa lama?" tanya Mariska.


"Ayah belum tahu, tapi jika mengingat kejahatannya, ia bisa dipenjara dengan jangka waktu yang cukup lama mungkin sekitar 25 tahun," jawab Mario.


"25 tahun??!!! Aku sekarang 16 tahun, berarti nanti umurku 41 baru bisa lihat mama bebas?!" ucap Mariska seakan tidak percaya.


"Iya Ka, kejahatan yang telah dilakukan mamamu terlalu berat, tidak mungkin ia bisa bebas dengan cepat," jawab Mario.


Sebenarnya Marendra dan Mariska masih ingin bertanya seputar Winda, tetapi mereka tidak ingin merusak sarapan pagi itu dengan pertanyaan yang akan mengganggu kenyamanan ayah mereka, sehingga mereka memilih untuk menyimpannya dalam hati.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan, Mario segera ke kantor polisi bersama Raka guna melengkapi laporan atas kasus percobaan pembunuhan terhadap dirinya.


"Yah, aku ajak mereka shopping, bebas kan terserah aku?" tanya Marissa sebelum Mario pergi.


"Iya, terserah kalian berdua saja, Ayah percayakan mereka untuk kamu vermak," jawab Mario.


"Aaahh siaaap laksanakan!!" sahut Marissa semangat.


Mendengar kata shopping, kedua mata Marendra dan Mariska pun berbinar, tetapi meredup kembali setelah melihat ekspresi wajah Jovan dan Marissa yang seakan berkata, 'your life is in our hand'.


Jovanka yang sedari tadi hanya memperhatikan akhirnya berbicara.


"Hey, new husband and wife!! Bunda dan ayah akan ikut, kalian berdua harus diawasi!!"


Seketika itu, Jovan dan Marissa memasang ekspresi memohon agar sang bunda membatalkan niatnya, tentu saja hal ini menjadi hiburan untuk sang abang, Jordan.


"It's getting interesting," gumam Jordan.


"Eh Abang ikut juga, kan?" tanya Jovan kepada Jordan.


"Abang harus kembali ke Singapura, malam nanti sudah harus back to fly to Korea," jawab Jocelyn mewakilkan suaminya.


"Kakak ikut pulang juga?" tanya Marissa.


"Iya, honestly I still wanna spend my time in Jakarta, but my husband is my priority," jawab Jocelyn.


"Thankyou, my dear," ucap Jordan dengan senyum terbaiknya ke arah sang istri sambil mengecup punggung tangannya.


Sontak Jovan pun melayangkan protesnya, "dilarang menunjukkan kemesraan di muka umum!!"


Lalu dengan santainya Jordan menjawabnya, "it's not muka umum, tapi muka cino, lagian dari kemarin kan kamu yang sok-sokan mesra ke Icha, emangnya Abang ga boleh? ya boleh dong, right Hon?"


"Absolutely!" sahut Jocelyn setuju.


"Kalian ga malu sama apa, sama Endra dan Ika?" tanya Jorrian.


Jordan, Jessie, Jovan dan Marissa pun kompak menjawab, "Enggak!"



__ADS_1


__ADS_2