
Sesudah makan siang, Jovan dan Marissa dengan dikawal para bodyguards, menuju kamar mereka yang terletak di lantai paling atas Harry's Resorts.
Marissa segera berlari menuju balkon setelah pintu kamarnya dibuka.
Dengan wajah berseri, ia pun melompat-lompat kegirangan, melihat keindahan pemandangan pantai dan laut dari kamarnya.
Jilbabnya pun berkibar terkena hembusan angin yang cukup kencang.
"I'm freeee.....," teriak Marissa sambil membentangkan tangannya.
Jovan pun menghampiri Marissa dan memeluknya dari belakang.
"Are you happy, Hon?" tanya Jovan ditelinga Marissa.
"So happy!! I'm triple happy, I'm excited, I'm thrilled!!" pekik Marissa.
"Bang, jazakallah khair, you're really make my day," ucap Marissa sambil membalikkan badannya, kemudian mengecup bibir Jovan dengan lembut.
"Lagi..," pinta Jovan dengan manja yang tentunya segera disetujui oleh Marissa.
Momen dunia serasa milik mereka berdua pun kembali terjadi dan Jovan tidak membuang kesempatan itu, untuk melayangkan jurusnya.
"Bang, wudhu dulu," ucap Marissa dengan wajah yang memerah.
"Oiya, I'll be back. Hon, put on your sexy lingerie!" ucap Jovan sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi, tak lupa dengan kedipan satu matanya.
Jurus lemparan bantal andalan Marissa pun dilayangkannya, mengantarkan Jovan ke dalam kamar mandi yang membuat Jovan tergelak.
"Pahalanya dobel lho, Yang!" teriak Jovan dari dalam kamar mandi.
Marissa pun membongkar kopernya, lalu ia mengambil lingerie berbahan sifon tumpuk berwarna biru laut, dengan renda putih pada bagian dadanya. Ia juga mengambil parfum pemberian Jovanka yang beraroma buah-buahan segar.
Beberapa saat kemudian pertempuran pun terjadi hingga terdengar adzan Ashar bersahutan.
"Abang mandi duluan," ucap Jovan yang secepat kilat menuju kamar mandi agar tidak ketinggalan shalat ashar berjama'ah di masjid.
Marissa pun memakai lingerienya kembali, "Alhamdulillah nggak sampai robek," gumam Marissa mengingat permainan Jovan barusan.
Selepas Ashar, Jovan mengajak Marissa untuk menikmati keindahan pantai di sore hari.
"Hon, kita jalan-jalan di pinggir pantai yuk, sambil nungguin sunset."
__ADS_1
"Rambutku masih basah, Bang," jawab Marissa.
"Sini, Abang keringin," ucap Jovan yang dengan sigap berperan sebagai hairdresser.
Setelah mengeringkannya dengan handuk, Jovan kemudian beralih pada hairdryer yang tergantung di kamar mandi. Lalu ia mulai mengeringkan rambut Marissa menggunakan hairdryer.
"Bang," panggil Marissa.
"Iya, ada apa?" jawab Jovan lembut.
"Abang jangan pernah ninggalin Icha sendiri, yaa...."
"Eh, kok ngomong gitu?" tanya Jovan yang segera mematikan hairdryernya.
Jovan pun menatap lekat wajah Marissa.
"Ada apa, Yang? Why did you say something like that?"
Marissa pun menundukkan wajahnya dan menggelengkan kepalanya.
"Hon, look at me," pinta Jovan lembut sambil mengangkat dagu Marissa.
"Hon, I love you, I love you so much. You are the only woman that I love so much beside my mom, there's nothing will separating us beside death. Till death do us part, okay Hon?"
Marissa pun menganggukkan kepalanya lalu ia menyembunyikan kepalanya di dada Jovan yang bidang.
Entah mengapa, Marissa merasa ada sesuatu yang mengganjal, yang membuat dirinya tidak nyaman dan cemas. Untuk itu ia menjadi sangat manja dengan Jovan, sehingga membuat Jovan merasa sedikit aneh, karena Marissa bukanlah tipe wanita manja ataupun romantis. Walaupun hal itu membuatnya bahagia, karena akhirnya ia bisa memanjakan Marissa tanpa terganggu dengan celutukan ajaibnya.
Malam harinya, Jovan dan Marissa menikmati makan malam berdua di temani oleh cahaya bintang-bintang di langit, dengan suara deburan ombak di pinggir pantai dan angin laut yang mulai dingin.
Lampu-lampu kecil yang dipasang diatas mengelilingi kolam renang, menambah keromantisan suasana.
"Besok mau main air? hmm atau paintball? atauuuuu kita di kamar aja seharian," usul Jovan dengan wajah yang menyiratkan sesuatu sambil menaik-turunkan alisnya.
Marissa pun melayangkan cubitan ke pinggang Jovan, yang membuat Jovan melompat dari kursinya.
"Ya Allah Yaaang, nyubitnya kurang kenceng! pedes amat. Awas yaa, kalau sampai biru-biru, KDRT itu namanya," canda Jovan yang berpura-pura marah.
"KDRaul, karena dia bukan ketua RT," sahut Marissa santai, yang membuat Jovan mencium pipinya berulang-ulang.
"Udah, Bang! Uudaaaah!!" protes Marissa sambil mendorong badan Jovan dan kemudian mengelap pipinya dengan telapak tangannya.
__ADS_1
"Ih dilap?!" protes Jovan.
"Basah ih!"
"Kalau dileb mau nggak?" canda Jovan sambil berlari menjauh dari Marissa, berjaga-jaga dari amukan Marissa.
Tetapi, kali ini Marissa tidak mengejar Jovan.
"Lho kok nggak dikejar? tumben nggak marah?" batin Jovan yang segera berjalan kembali ke mejanya.
Sesampainya di mejanya, dilihatnya Marissa sudah tidak ada, Jovan pun melihat ke sekelilingnya, tetapi Marissa tidak terlihat. Jovan pun bertanya kepada salah satu pelayan restoran.
"Maaf Bang, tadi lihat wanita mungil pakai jilbab dan gamis dongker, yang tadi duduk di sana?"
"Ooo yang putih mungil itu, tadi setelah membayar, Kakak tadi berjalan ke arah pantai."
"Makasih, Bang !"
Jovan pun segera berlari menuju bibir pantai dan benar saja, Marissa sedang berjalan di pinggir pantai, dengan bertelanjang kaki dan menyengaja agar kakinya terkena ombak.
Jovan pun melepaskan alas kakinya dan mengikuti arah Marissa berjalan.
"Ngapain, kok sendirian? bikin Abang takut aja," ucap Jovan lembut sambil merangkul Marissa.
Marissa pun membalasnya dengan memeluk erat Jovan. Jovan pun membalas pelukan Marissa. Keduanya pun berpelukan cukup lama.
"Bang, aku pingin menghentikan waktu, biar kita bisa berduaan terus seperti ini," ucap manja Marissa.
"Kita awet muda terus dong," canda Jovan.
"Ho oh. Gagal romantis kan," gerutu Marissa.
"Eeee maaf, maaf, nggak gitu maksudnya, kan biasanya Sayang yang ngelawak," ucap Jovan.
"Nggak mau ngelawak terus, sesekali kepingin kayak orang-orang yang bisa reromantisan sama pasangannya, tapi kenapa kita gagal muluk ya, Bang?"
"Karena kita adalah pasangan yang ditakdirkan lucu sejak lahir," jawab Jovan santai.
"Iiiiiish Abaaaaang!! romantis dong. Coba yaa, semua fans Abang tuh, selalu beranggapan kalau yang namanya Jovan Chen itu adalah sosok yang romantis melankolis, tapi pada kenyataannya, bahwa sesungguhnya seorang pria yang mempunyai ketampanan di atas rata-rata ini sejatinya adalah seorang komedian," ucap Marissa berapi-api.
"MERDEKA!!" sahut Jovan dengan semangat '45.
__ADS_1