
Suara gemericik air membuat Arini menggeliat bangun dari tidurnya, seketika ia langsung terduduk. Memulihkan kembali kesadaran yang masih berterbangan kemana-mana.
Mas Radit....
Ia melihat sekeliling ruangan, ternyata dia ada dikamar, di atas tempat tidurnya sendiri. Tanpa sadar ia sudap dibopong Radit pindah kedalam kamarnya tadi malam.
Arini melihat kamar mandi yang tertutup rapat, mengucap syukur karena Radit pulang dengan keadaan selamat.
Arini menyugar rambutnya, mengambil ikatan diatas meja dan memilin-milin rambut lalu mengikatnya.
Ia menyeret kakinya turun ke lantai, membereskan tempat tidur dan berderap menuju lemari pakaian, menyiapkan pakaian yang akan Radit pakai hari ini, sama seperti biasanya.
Tak lama Radit keluar dari dalam kamar mandi, sekilas tersenyum melihat Arini yang sedang memegang pakaian untuknya.
Arini berjalan mendekati Radit," Maaf Mas aku bangun kesiangan."
"Nggak papa."
"Semalam Mas pulang jam berapa, semalam Mas nggak bawa ponsel, aku khawatir sekali."
Radit mengambil pakaian dari tangan Arini,"Maaf membuatmu menunggu."
Dengan cepat Radit memakai pakaiannya. Arini memperhatikan semua gerakan Radit dengan seksama. Tidak seperti biasanya, ada yang berubah dari sikap Radit, tidak ada panggilan sayang, tidak ada kecupan, bahkan tidak ada pelukan selamat pagi.
Radit menghadapkan dirinya ke cermin, menyisir rambut hingga tertata rapi. Arini berdiri dan memeluk Radit dari belakang, melingkarkan tangannya penuh di pinggang Radit.
"Mas kenapa.... Mas marah sama aku?" Arini menyandarkan kepalanya di punggung Radit.
"Kalau aku salah, aku minta maaf.... kemarin di cafe aku tidak sengaja bertemu...."
"Aku nggak marah...," Potong Radit dengan mengelus tangan Arini yang ada diperutnya, lalu dengan perlahan melepaskannya,"... aku berangkat sekarang ya." Membalikan badan melihat Arini.
Arini melihat jam yang menempel di dinding,"Tapi ini masih pagi Mas?"
"Ada jadwal operasi pagi sekali, jadi aku harus sudah ada disana untuk mempersiapkan segala sesuatunya." Seraya mengambil tas jinjing hitamnya.
"Sebentar aku siapin sarapan dulu." Berjalan meninggalkan Radit.
Radit menarik tangan Arini," Nggak usah, aku sarapan di Rumah Sakit aja."
"Kalau gitu aku bawain bekal sarapan aja, biar sampai di Rumah Sakit Mas bisa sarapan dulu." Tatap Arini dengan penuh harap Radit akan mau menunggunya sebentar saja."
"Nggak usah, aku takut terlambat...,"mengelus pundak Arini,".... aku berangkat sekarang."
"Tapi Mas..."
Radit sudah pergi sebelum Arini menyelesaikan ucapannya. Arini pun menyusul Radit sedikit berlari menuruni tangga, karena langkah Radit yang terasa sangat cepat sudah hampir sampai diambang pintu keluar.
"Mas...." Panggil Arini saat Radit sudah hendak membuka pintu mobilnya.
Radit menoleh, dengan tergesa Arini menghampiri Radit, meraih tangan dan mencium punggung tangannya.
"Hati-hati dijalan.... nanti siang aku bawakan makan siang ya."
__ADS_1
"Nggak usah, nanti siang aku ada rapat dengan semua instansi kesehatan di Hotel. Mungkin aku pulang sedikit larut. Jadi jangan tunggu aku buat makan malam.... jaga bayi kita." Lalu Radit masuk kedalam mobilnya.
Arini tidak menjawab, ia hanya melihat mobil Radit yang semakin menjauh dari pintu gerbang, hilang dari jangkauan matanya.
Radit benar-benar meninggalkannya tanpa sebuah kecupan sekalipun, tanpa membelai perutnya sedikitpun.
Terasa sesak dadanya kini, tenggorokannya semakin tercekat, tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.
Air mata Arini langsung luruh, beruntai jatuh membasahi pipinya. Ia lebih memilih dicaci dan dimaki daripada harus menghadapi sikap dingin Radit seperti ini.
Arini sadar, diamnya Radit karena ia marah karena tahu Aditya lah yang sudah mengantarnya pulang. Kalaupun ia ada diposisi Radit sekarang, ia pasti akan merasakan hal yang sama, terlebih itu adalah orang yang begitu berarti di kehidupannya di masa lalu.
Maafkan aku Mas...
"Bundaaaa...."
Arini menghapus air matanya saat terdengar Nuno memanggil dirinya.
Arini membalikan badan," Iya sayang?" Dilihatnya Nuno sudah rapi dengan pakaian seragamnya.
"Ayah udah berangkat, kok nggak tungguin Nuno?"
Arini berjalan mendekati Nuno," Ayah ada jadwal operasi pagi sekali, jadi Nuno berangkatnya sama Bunda aja ya, dianter sama Pak Sopir."
"Oh gitu... ya udah."
"Sekarang Nuno sarapan, dan Bunda mandi dulu, oke?"
Tiba di kamar Arini menutup pintu dengan perlahan, dengan langkah gontai ia menyambar jaket yang semalam Radit pakai. Dengan terisak ia memeluk jaket itu.
Kenapa kamu tidak tampar saja aku???
Kenapa kamu tidak bentak saja aku???
Kenapa kamu tidak marah dan teriak saja kepadaku...???
Hukum saja raga ku, tapi tolong jangan hatiku... aku tidak sanggup Mas...!!!
Arini menangis tergugu, terduduk diatas lantai dengan tangisan yang begitu menyayat.
Seketika tangisannya mereda, Arini mengaduh saat ia merasakan keram dibagian perutnya. Meraba perut yang semakin melilit sakit. Lalu ia mencoba menghembuskan nafasnya dengan perlahan dan teratur, hingga diulangnya beberapa kali.
Suara ketukan terdengar dari luar.
"Bun.... Bunda sudah selesai mandinya?"
Perlahan Arini berdiri dan menghapus air matanya. Lalu berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Bunda belum mandi?" Tanya Nuno yang mendapati Arini masih memakai baju yang sama.
"Bunda nangis ya?" Tanya Nuno lagi karena melihat mata Arini yang sedikit sembab.
"Bunda nggak nangis...," Arini duduk bersideku,".... Nuno sayang, nggak papa ya hari ini dianter sama Pak Sopir aja, Bunda sedikit nggak enak badan."
__ADS_1
"Bunda sakit?" Menyentuh kening Arini.
"Bunda nggak sakit, cuma pegel-pegel aja.... istirahat sebentar juga pasti sembuh kok."
"Mau Nuno temenin Bun... biar Nuno izin aja."
"Ngga usah, lagian Bunda cuma pengen tiduran aja. Mungkin dede bayinya lagi rewel." Canda Arini berusaha menahan sakit diperutnya.
"Tapi kalau ada apa-apa sama Bunda gimana... Nuno teleponin Ayah aja ya?"
"Ayah kan lagi kerja, jangan diganggu. Kan masih ada Simbok yang jagain Bunda... iya kan?"
Nuno menatap Arini dengan wajah Khawatir.
"Sekarang Nuno berangkat sekolah ya, nanti kesiangan.... Bunda anterin sampai depan."
Nuno mengangguk patuh. Perlahan Arini berdiri kembali, menahan sakit yang masih tetap bersarang diperutnya. Kemudian ia berjalan sebiasa mungkin dengan tangan menuntun Nuno.
Setelah menitipkan Nuno kepada Pak sopir, Nuno pun berangkat ke sekolahnya.
Arini menghembuskan nafasnya berulang kali, terasa semakin sakit. Arini menahan perutnya, mudah-mudahan saja tidak terjadi sesuatu dengan kandungannya.
Mungkin ini pengaruh karena dia terlalu stress dan melewatkan obat yang seharusnya kemarin sore dia minum.
Arini berjalan menuju meja makan. Ada segelas susu utuh diatas sana.
"Non..." Sapa Simbok yang menghampirinya.
"Itu susu buat Non... Tuan buatkan sejak tadi pagi sebelum Non bangun."
Arini menatap susu itu, ternyata Radit masih memperhatikan kesehatan kandungannya.
"Semalam Tuan pulang jam berapa Mbok?"
"Kira-kira jam sebelasan Non."
Arini memanggut-manggutkan kepalanya.
"Simbok tinggal dulu kedapur."
"Iya Mbok."
Arini meraih gelas susu itu, mengusap dengan ibu jarinya, tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
Walau Ayah marah sama Bunda.... tapi Ayah tetap sayang sama kamu, gumam Arini dalam hati sembari mengelus perutnya.
Dengan air mata menetes, Arini menghabiskan susu dingin itu sekaligus, tanpa menjedanya sekalipun, hingga tandas tak bersisa.
............................................................
............................................................
.....................................Bersambung......
__ADS_1