
...........................................................
...........................................................
"Mbak... ayo diminum, kok malah bengong, aku nggak bohong kok, ini masih baru." Perempuan itu mengoyang-goyangkan botol didepan Arini.
Arini tersentak,"Oh iya...."
Baru saja Arini hendak mengambilnya, perempuan itu kembali menarik botol minuman itu.
"Lupa.... sebentar aku buka dulu kemasannya, Mbak kan lagi sakit, pasti susah kalau harus buka botol yang masih baru, bawaannya suka males, nggak ada tenaga, iya kan?"
Arini tersenyum mendengar colotehannya. Rupanya wanita ini sama sekali tidak mengenalinya, gumamnya dalam hati.
"Nih Mbak..."
Arini mengambil botol itu dan meminumnya,"Makasih ya.."
"Sama-sama..."
Perempuan itu menyimpan tangannya di sandaran kursi," Mbak beneran lagi sakit ya, mukanya pucet banget... Mbak mau pulang atau mau kemana... Mbak sendiri atau sama siapa.... kalau sendiri, biar aku anterin... pulangnya kemana, jauh nggak dari sini, aku anterin mau ya.... nggak usah bayar aku bukan tukang ojek kok."
Arini tersenyum dengan sederet pertanyaan yang membuatnya pusing harus menjawab mulai dari mana.
"Kok malah senyum?"
"Pertanyaannya kebanyakan, bingung harus jawab yang mana dulu."
Seketika dia tertawa," Maaf Mbak, kebiasaan kalau ngomong suka nyerocos, bawaan dari orok."
Arini tersenyum geli, perempuan yang lucu dan juga sangat humble. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan saat pertama kali ia melihatnya.
"Oh iya... nama Mbak siapa.... nama saya Adila, biar nggak kepanjangan panggil aja Dila... temen-temen aku panggilnya kayak gitu." Seraya mengulurkan tangannya.
Arini menyambut uluran tangan Adila," Arini."
"Wah nama kita samaan ya hurufnya dari A..." Sambil terkikik dan Arini balas tersenyum simpul.
"Trus Mbak suka dipanggil apa, Arini... Arin... atau Rini?"
"Arini aja, nggak ada panggilan khusus seperti Dila." Ujar Arini.
Adila manggut-manggut, kemudian melihat Arini yang kembali minum air mineral yang diberikannya.
"Gimana sekarang sakitnya Mbak, sudah mendingan belum... kita periksa aja yuk mumpung di Rumah Sakit, kalau udah di rumah kan repot harus balik lagi kesini. Mending kalau jalannya kosong, kalau macet kan bikin tambah mumet... males banget kan jadinya."
Arini tersenyum lagi, ternyata Adila sangat banyak bicara dan juga ceria, tapi itu membuatnya terhibur, sedikit menghilangkan rasa nyeri diperutnya.
"Mbak udah nggak papa, sedikit mendingan, mungkin ini pengaruh dari bayi juga."
"Jadi Mbak lagi hamil?"
__ADS_1
Arini langsung mengangguk dan tersenyum lagi melihat ekspresi Adila yang seperti mendapat doorprize undian belanja.
"Kok perutnya rata, nggak keliatan lagi hamil."
"Ini baru mau dua bulan, jadi belum keliatan buncit."
"Oh pantesan... selamat ya Mbak, pasti seneng banget ya bakal punya debay pertama kalinya... pasti seru ya punya keluarga kecil.... mudah-mudahan anak Mbak perempuan biar cantik kayak mamanya."
Arini mengulas senyum," Ini hamil yang kedua, anak yang pertama sudah besar, mau lima tahun, laki-laki."
Mulut Adila menganga lebar, seperti tak percaya dengan apa yang Arini katakan.
"Masa sih... kok nggak keliatan ya, apa rahasianya sih Mbak masih bisa langsing kek gini, kayak gadis gitu.... Eh tahu nggak Mbak, aku juga pengen banget menikah muda, biar nanti pas punya anak itu kayak ade kakak... lucu banget kan jadinya." Tutur Adila yang begitu sangat bersemangat.
"Apa sih Mbak rahasianya?" Tanyanya lagi.
"Mbak nggak punya rahasia apa-apa."
Adila berdecak," Ah Mbak ini.... pasti suami Mbak juga klepek-klepek ya punya istri secantik Mbak, imut-imut gemesin gimana gitu..hehe..."
Arini hanya menjawab dengan senyuman, kalau saja Adila tahu kalau ia ini istrinya Radit, mungkin dia akan sedikit jaga image. Tapi untuk sementara biarlah ia menyembunyikan statusnya ini, karena ia merasa tertarik dengan sosok seperti apa Adila sebenarnya.
"Mbak mau pulang kan, biar aku anterin... kebetulan aku bawa mobil... kasian sama debaynya."
"Nggak usah, Mbak udah pesen taxi online, mungkin sebentar lagi juga datang."
"Oh... ya udah aku tungguin ampe taxi Mbak datang kalau gitu." Seraya menyilangkan kakinya.
"Dila kuliah atau kerja?"
"Kuliah nyambi kerja Mbak...tapi kuliahnya nggak kelar-kelar, habisnya dosennya pada kiler semua, bikin BT jadinya kan... jadi sekarang lebih fokus dulu sama dunia model, bisa bikin aku bebas nggak terbebani sama tugas yang terus menerus menggunung." Seraya mengerucutkan bibirnya hingga maju beberapa senti, tapi terlihat sangat lucu.
Arini mengelus pundak Adila," Dosen itu nggak ada yang galak, kitanya aja yang harus pintar menyiasati. Buat orang tua mu bangga kalau kamu bisa menjadi apa yang mereka harapkan."
Adila terhenyak, wejangan Arini membuat bulu kuduknya berdiri, apalagi sampai membawa nama orang tua segala.
"Eh itu taxi Mbak udah dateng... Mbak duluan ya, mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi. Ingat pesan Mbak ya."
Arini memegang perutnya yang masih terasa nyeri bila dibawa berdiri.
"Saya bantu Mbak."
Adila membantu Arini berjalan hingga masuk kedalam taxi.
"Makasih ya Dila."
"Sama-sama Mbak.... hati-hati dijalannya... Mas jangan ngebut-ngebut ya." ujarnya pada sopir taxi online.
Arini dan Adila pun saling melambaikan tangan, hingga taxi yang membawa Arini hilang bersama dengan mobil lainnya.
*****
__ADS_1
Sampai dirumah, dengan tangan bertumpu pada besi peyangga, Arini mencoba menaiki tangga satu persatu. Perut yang semakin nyeri membuatnya kesulitan untuk mengangkat sedikit saja kakinya. Dan sekarang masih ada setengahnya lagi agar ia bisa sampai diatas sana, dan itu terasa sangat berat.
"Bun..."
Nuno muncul dari arah balkon yang berada disamping rumah.
Arini menoleh, seolah tidak terjadi apa-apa dengan dirinya, ia tersenyum dengan membalikan badan kearah Nuno.
"Sayang..."
"Bunda baru pulang ya?"
"Iya..."
Nuno ikut menaiki tangga mendekati Arini. Kemudian memegangi tangan Arini.
"Tangan Bunda dingin banget, bunda masih sakit ya?"
"Bunda nggak papa.... anterin Bunda ke kamar yuk?"
"Iya..."
Arini melingkarkan tangan dipundak Nuno, dan Nuno melingkarkan tangannya dipinggang Arini.
Nuno membantu Arini duduk diatas tempat tidur, kemudian menyelimutinya.
"Bunda tadi ke Rumah Sakit nemuin Ayah yah... terus Ayahnya mana, kok Bunda pulang sendiri?"
"Ayah lagi rapat, jadi Bunda nggak bisa ketemu Ayah, jadi Bunda pulang lagi deh."
"Bunda sakit apa sih?" Tanya Nuno dengan wajah yang kelihatan murung.
Arini meraih dagu Nuno," Hei jangan sedih gitu dong, Bunda nggak kenapa-napa... ditidurin juga nanti sembuh sendiri."
"Ya udah kalau gitu... Bunda istirahat aja, Nuno tinggal keluar. Kalau butuh apa-apa panggil Nuno aja ya?"
"Iya sayang."
Nuno mencium pipi Arini, kemudian keluar meninggalkannya.
Dirasa Nuno sudah keluar dan jauh dari kamarnya, Arini kembali meringis, menekuk perutnya yang semakin nyeri. Keringat dingin terus mengucur disekujur tubuhnya, Arini pun memilih duduk dengan kedua tangan berada dibagian perut.
Dengan mata terpejam seraya mengigit bibir bawahnya, Arini berjalan menuju pintu kamar mandi. Tak sadar dengan rembesan darah yang mengucur dikedua kakinya.
Tangan yang sudah berhasil meraih handle pintu kamar mandi, Arini menumpukan badannya disana.
Ia merasa sangat lemah, mata menjadi berkunang-kunang, penglihatannya pun menjadi kabur. Arini memijit pelipisnya, penglihatannya semakin buram, gelap, semakin gelap, dan hilang.
...........................................................
...........................................................
__ADS_1
......................................Bersambung.....