Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Malam Terakhir di Bora-bora (Ending)


__ADS_3

Rendaman air hangat beraroma terapi, terasa merilekskan badan dan pikirannya dari kegiatan hebat yang terus dilakukannya tiga hari berturut-turut bersama Radit.


Arini menarik bibirnya ke atas, melihat lingirie merah yang masih teronggok tak jauh dari tempatnya sekarang. Hal gila yang tak pernah bisa dia bayangkan sebelumnya. Permainan cinta luar biasa yang mereka lakukan didalam air kolam renang.


Gila segila-gilanya.... ia tidak percaya, Radit yang mempunyai pribadi kalem, tidak pernah mau bercumbu dengan wanita, dan bahkan imannya begitu kuat saat dirinya terpengaruh obat perangsang waktu itu.


Tapi sekarang.... Arini menggelengkan kepalanya dan tersenyum, pria yang pintar bermain cinta, pria yang sangat kuat, lihai memuaskan pasangannya dan pria yang bringas hingga merobek lingirienya didalam kolam.


Mas Radit.... suamiku....


Satu jam telah berlalu, badannya sudah terasa segar dan nyaman kembali. Arini beranjak dari dalam bathtube, membelitkan handuk putih yang sekilas ia dapat melihat banyak tanda merah di leher dan bagian sintal lainnya. Kiss mark sebagai tanda cinta Radit untuknya.


Arini berderap keluar, tidak ada siapa-siapa disana. Ia pun memilih duduk didepan meja rias, mengambil skin food dan mengoleskan ke bagian tangan dan kakinya.


Ceklek....


Pintu kamar terbuka, pesona ketampanan Radit yang terpantul di cermin membuat Arini terdiam sesaat. Pakaian formal serba hitam yang ia pakai sangat pas dibadannya, menambah wibawa dan kharismatik dalam pembawaan kepribadiannya.



Arini buru-buru menundukan pandangan saat matanya berbenturan dengan mata Radit. Mungkin ini yang disebut cinta gila, selalu berdetak hebat bila sedang berdua.


"Sayang...." Seraya menyimpan paper bag didepan Arini. Lalu membungkukan badan, dengan melingkarkan tangannya di dada Arini.


"Mas mau kemana?" Tanya Arini.


"Kita diundang makan sama Anggun, Dito ulang tahun. Jadi dia bikin dinner party untuk kita berempat."


"Jadi Mas Dito ulang tahun, kok Mbak Anggun nggak kasih tahu sebelumnya. Kita kan belum nyiapin kado Mas."


Radit menuntun Arini untuk berdiri, mengambil skin food ditangannya. Kemudian membawa Arini untuk duduk di atas tempat tidur.


"Tenang aja aku udah siapin hadiah buat Dito dari jauh-jauh hari. Trus katanya Anggun nggak mau ganggu kita. Dia juga kan pernah ngerasain gimana rasanya pengantin baru, pengennya dikamar terus."


Arini tersenyum seraya menutup mulut dengan tangannya, membenarkan perkataan Radit.


"Ayo berbalik." Suruh Radit.


"Mas mau ngapain?"


Radit mengacungkan skin food ditangannya,"Olesi ini ke punggung kamu."


Arini mengambil skin food itu," Nggak usah, aku bisa sendiri kok."


"Kenapa... malu?"


Radit mengambil balik skin food itu, membalikan badan Arini dengan memegang kedua bahunya.


"Kenapa harus malu, aku kan udah lihat semuanya, bahkan merasakannya." Bisik Radit tepat dibagian belakang telinga Arini.


Pipi Arini memanas, Radit selalu berhasil membuatnya merasakan getaran-getaran yang tidak bisa dia jabarkan.


Radit menarik lipatan handuk di dada Arini hingga turun sampai dipinggangnya.


Walau bukan pertama kali Radit melihat itu, punggung mulus Arini langsung membuatnya tergiur, tidak bisa mengabaikannya begitu saja.


Radit mengoleskan skin food dibagian bawah tengkuk Arini, menyebarkannya dengan rata keseluruh bagian punggungnya.


Radit memajukan tubuhnya lebih dekat, mengoleskan skin food itu kebagian pinggang, kemudian maju ke bagian perut dan mengusapnya perlahan disana.


"Sayang...," Seraya mencium cuping Arini dan meremas satu gundukan kenyal di atas sana,"... aku ingin lagi." Membalikan badan Arini, melempar handuk putih hingga terjun di atas lantai.


Radit mengangkat tubuh Arini untuk duduk dikedua pahanya. Dan dia sendiri bersandar di tiang penyangga tempat tidur. Menjadikan Arini sebagai pengendali dalam permainan kali ini.


Tidak bosannya mereka kembali bercinta, melupakan undangan Anggun yang kini sudah menunggunya di sebuah Restoran.


Dengan berpegangan tangan, keduanya terkulai lemas dengan keringat yang kembali bersimbah disekujur tubuh mereka. Kemeja yang Radit pakaipun ikut basah dan kusut karena gerakan lincah yang Arini lakukan.


Radit tidur menyamping, menyangga badan dengan tangannya," Makasih sayang." Mendaratkan ciuman di kening Arini.


Arini langsung menyusupkan wajahnya dileher Radit, selalu saja merasa malu kalau sudah seperti ini.


"Kita mandi bareng?"


Arini langsung bangun dan meraih handuknya," Aku duluan aja."


"Loh kenapa?"


"Takut lama."


"Kan biasanya juga gitu." Seraya bangun dan menarik pinggang Arini.


"Kasian Mbak Anggun Mas, pasti udah nungguin kita."


Radit tertawa dengan membenamkan kepalanya diperut Arini," Aku lupa sayang."


"Ya udah aku mandi duluan ya."

__ADS_1


"Iya, biar aku yang beresin ini." Jawab Radit.


Saat Radit membereskan tempat tidur yang acak-acakan karena pertempuran mereka, suara ponsel Radit berdering.


"Ya Ngun..."


"Kamu masih dimana, kok belum kesini juga.... jangan bilang kalau kalian masih sibuk tempur."


Radit tertawa, dugaan Anggun sangat tepat," Sori-sori... setengah jam lagi kita nyampe sana, oke."


"Awas loh ya, cepetan.... jangan diterusin di kamar mandi, lama kelarnya."


Radit kembali tertawa, Anggun sama Dito memang sama-sama jago nebak kalau soal yang begituan.


"Siapa yang nelepon Mas?"


"Anggun."


"Mbak Anggun nungguin kita ya?" Tebak Arini.


Radit berjalan menghampiri Arini yang sedang mencari baju dalam lemari.


Radit melingkarkan tangannya," Aku udah bawain baju buat kamu, tuh..." Menunjukan paper bag yang tadi dia bawa.


"Mas beli?"


Radit menganggukan kepalanya," Iya."


"Beli dimana, kok bisa."


"Apa sih yang nggak bisa buat istri cantikku." Sambil mencuri ciuman dibibir Arini.


"Emang Mas bisa cariin baju buat aku, kalau kegedean atau kekecilan gimana, kan sayang kalau nggak kepake."


"Lupa ya.... aku tuh udah tahu semua ukuran tubuh kamu." Mengedipkan sebelah matanya dan langsung bersiul masuk kedalam kamar mandi.


Arini tersenyum, kemudian meraih baju dalam paper bag itu. Ternyata sebuah gaun panjang berwarna soft pink, terlihat sangat manis.


Setengah jam lebih sepuluh menit, mereka sudah sampai ditempat yang sudah Anggun siapkan. Sebuah Restoran berkelas namun tetap terlihat santai. Anggun memilih meja diluar ruangan hingga mereka bisa melihat suasana pantai saat sunset tiba nanti, romantis.



"Ya ampun ini pengantin, baru nongol aja.... dipingit trus ya." Candanya kepada Arini dengan mencium pipi kiri dan kanan...," Kamu cantik pake gaun ini, pas banget. Jago kamu pilihnya."


"Mas Radit yang pilihin Mbak."


"Wah ternyata Pak Dokter udah tahu ukuran Arini sekarang." Anggun menyikut tangan Dito.


"Kereeen...." Tambah Dito dengan memgacungkan dua jempolnya ke arah Radit.


"Ya tahu lah.... Arini kan istri aku."


" Ciyeee... yang udah jadi suami."


Tak lama seorang pelayan membawakan kue berukuran sedang dengan angka tiga puluh diatasnya.


Dito terperangah, dia sendiri tidak tahu kalau acara dinner party ini sekaligus merayakan ulang tahunnya yang bertepatan hari ini.


"Sayang jadi diner ini buat aku?" Tanya Dito.


"Iya... selamat ya sayang, semoga kamu selalu bahagia. Maaf kalau selama ini aku belum bisa menjadi istri yang baik buat kamu."


Dito meremas tangan Anggun," Kamu sudah menjadi istri terbaik buat aku, terima kasih ya."


Radit mengeluarkan sebuah kotak yang terbungkus rapi dengan tali berbentuk pita diatasnya.


"Eheem... tar dilanjut dikamar aja romantis-romantisannya."


Kata-kata Radit membuat mereka menoleh dan tersenyum malu.


"Selamat ulang tahun ya bro... semoga kamu selalu bahagia sama Anggun." sambil mengulurkan kotak hadiah itu.


"Selamat ulang tahun ya Mas Dito." Tambah Arini.


"Makasih ya." Jawab Dito dengan mata berbinar setelah kotak hadiah itu sudah beralih ke tangannya.


"Buka dong."


Dito membuka kotak itu, matanya langsung terbelalak. Sebuah jam merek ternama, yang harganya sangatlah mahal.


"Wah makasih ya bro.... kamu emang jago kalau ngasih kejutan. Ini tuh jam tangan yang pengen aku beli."


Radit menepuk pundak Dito," Sukurlah kalau kamu suka."


Dito pun meniup lilin yang sudah dinyalakan Anggun, dengan make awish yang tiada lain berharap Anggun akan segera mengandung setelah kepulangan mereka dari Bora-bora nanti, amin.


Dinner party yang penuh canda tawa, penuh kebahagaian dan penuh keceriaan.

__ADS_1


Setelah puas menikmati makan malam, Arini dan Anggun memilih menikmati pemandangan laut dengan mengabaikan Radit dan Dito yang lebih serius membicarakan urusan lelaki, yang mereka pun tidak mengerti.


"Rin gimana sama Radit, kamu bahagia kan sama dia?" Tanya Anggun membuka pembicaraan mereka.


Arini menoleh," Bukan cuma bahagia Mbak, aku juga sangat bersyukur bisa menjadi istrinya Mas Radit."


"Aku ikut seneng dengernya, semoga kamu selalu bahagia sama Radit. Aku yakin Radit akan jadi imam yang baik buat kamu dan Nuno."


Arini menyentuh tangan Anggun," Mbak udah membuka mata hatiku, bahwasanya kehidupan itu akan terus berlanjut. Perjalanan hidup membuat aku mengerti, bahwa cinta yang hilang tidak akan bisa kembali menjadi yang baru, namun cinta yang baru bisa menggantikan cinta yang hilang.Dan aku bisa menemukan cinta yang baru itu dari Mas Radit. Pria yang bisa menjaga, melindungi dan menerima semua masa kelamku."


Anggun ikut menyentuh tangan Arini," Sudah waktunya kamu bahagia. Jangan pernah melihat kebelakang, kalau kamu tidak ingin jatuh dan terluka. Tapi lihatlah kedepan, maka resiko terjatuh itu bisa kita hadang dengan seiring kaki kita berjalan."


"Iya Mbak."


"Tuh lihat suamimu, kayaknya nggak bisa deh jauh-jauh dari kamu." Seraya menunjuk Radit yang berjalan menghampiri mereka.


Arini mengalihkan pandangannya, melihat Radit yang sedang tersenyum kepadanya.


"Boleh aku culik puteri cantik yang bersamamu ini, Nona Anggun?"


Anggun berdiri, seraya membungkukan badan dan melebarkan tangannya.


"Silahkan pangeran, karena sepertinya tuan puteri pun bersedia diculik olehmu."


"Dan aku akan menculikmu setelah putri dan pangeran itu pergi dari sini." Ucap Dito dengan memeluk Anggun dari belakang


Gurauan mereka membuat Arini bisa tertawa lepas. Tidak ada lagi gurat kesedihan diwajahnya, mata kelabu itu pun tidak pernah lagi muncul. Dan itu membuat Radit begitu bahagia.


Radit mengulurkan tangannya," Mau diculik sekarang?"


Arini menyambut uluran tangan Radit,"Boleh."


Arini dan Radit menyusuri bibir pantai, terpaan anggin dan gulungan ombak menerpa kaki telanjang mereka. Radit menghentikan langkahnya, melepaskan jas dan menyampirkannya dibahu Arini.


Pandangan mereka beradu, senyuman merekah langsung tersungging dari kedua bibir mereka. Radit mengelus lembut pipi Arini.


"Kamu adalah cinta terakhir dalam hidupku." Ucap Radit dengan mesra.


"Kamu pun cinta terakhir dalam hidupku." Jawab Arini.


"Aku akan selalu mencintaimu."


"Aku akan selalu menyanyangimu."


"Hingga akhir hayat."


"Sehidup semati."


"Sampai maut memisahkan."


"Sampai di akhirat kelak."


"Aku dan kamu selamanya," Ucap mereka bersamaan.


Keduanya saling mendekatkan wajah, mempertemukan kedua bibir mereka, bersentuhan dan saling menyatu. Menyalurkan segenap rasa cinta dan sayang yang menyeruak dalam relung hati yang paling dalam.


Sedalam samudera tlah ku selami


Setinggi langit di angkasa tlah ku arungi


Sepanjang kehidupan aku mencari


Sebentuk kelembutan hati cinta sejati


Kini...usai sudah sgala penantian panjangku


Setelah temukan dirimu duhai kekasihku


Hanya...dihatimu akan kulabuhkan hidupku


Karena kau lah cinta terakhirku....


(Cinta Terakhir, Ari Lasso)


Malam terakhir di Bora-bora akan menjadi saksi kunci penyatuan cinta mereka. Pulau dengan sejuta kenangan, pengikat janji suci yang terucap dari pasangan insan yang saling mencinta.


TAMAT 💏💏💏


............................................................


............................................................


Mau bonus chapter nggak sih....😙😙😍😍


mana suaranya????😃😃😃😃


Ditunggu comentnya....👌👌

__ADS_1


__ADS_2