Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 104


__ADS_3

Setelah terapi pengembalian memori yang dilakukan secara intensif selama lima sesi, akhirnya Jovan secara perlahan mulai mengingat Marissa dan detail kehidupannya. Tetapi sayangnya, ia juga mengingat perkataannya yang membuat Marissa menangis, sehingga di saat ia ingin bertemu dan mulai merindukannya, ia harus memutar otak untuk meminta maaf kepada istrinya itu.


Belum selesai dengan masalah pribadinya, Jovan juga mulai disibukkan kembali dengan tanggungjawabnya sebagai author terkenal, dimana jadwal panjang menanti dirinya untuk promosi on-line maupun off-line. Ditambah dengan jadwal perkuliahan S2-nya yang semakin dekat, membuat Jovan mengalami kelelahan psikis, dengan ditandai sakit kepala yang berulang dan juga disertai dengan pegal-pegal di sekujur tubuhnya.


"Bian, tolong semua jadwal film dan buku, kamu yang handle ya. 3 pekan lagi, aku sudah masuk kuliah, tapi badanku masih belum fit benar," pinta Jovan.


"Oke, seperti biasa. Eh Bang, kenapa nggak ke apartemen? Siapa tahu begitu ketemu mbak Risa, pegal-pegalnya hilang semua."


"Aku belum berani, apalagi terakhir ketemu, kayaknya aku ngomong sesuatu yang bikin Icha nangis. Aduh, gimana ini?! Aku harus nyiapin mental buat ketemu karena takutnya nanti begitu ketemu bukan sambutan yang kudapat, melaikan sambitan," jawab Jovan sambil mengacak-acak rambutnya.


Melihat Jovan dengan rambutnya yang berantakan ditambah wajah yang tidak segar, Bian pun segera mengusulkan solusi untuk Jovan.


"Bang, gimana kalau aku telpon mbak Risa dulu? nanti kalau dunia aman, kita langsung ke apartemen Pak Mario, gimana setuju nggak?"


Jovan pun menjawab dengan menganggukkan kepalanya dan berharap cemas akan reaksi dari Marissa.


Bian pun segera menghubungi nomor telepon seluler milik Marissa dan mengaktifkan speaker-nya.


"Assalamu'alaikum, Bi. Ada apa, tumben nelpon?"


"Wa'alaikumsalam. Ih mbak Risa, kok tumben? Kayak aku nggak pernah telpon atau WA aja."


"Tapi kan belakangan ini, kamu jarang banget WA aku, sombong! Kek bos kamu yang ngelupain aku!"


"Eh mbak, kan bukan maunya Bang Jovan untuk ngelupain Mbak Risa."


"Tetep aja! Udah ngelupain aku, pakai acara marah-marah lagi! Emang salahku kalau Bang Josie ketabrak, emang aku yang nabrak atau nyuruh orang nabrak?! Kan nggak!"

__ADS_1


"Dududu Mbak, istighfar. Jangan marah, kan bukan maunya bang Jovan kalau dia hilang ingatan. Memangnya Mbak Risa masih marah sama bang Jovan?"


"Marah sih enggak, tapi kesel. Eh btw, kamu di rumah bang Jovan, ya?"


"Iya Mbak, saya lagi di rumah bang Jovan," jawab Bian setengah berbisik.


"Hmm Bi, abang ngapain? Eh abang udah inget aku, belum?"


"Alhamdulillah sudah, tapi...."


"Kenapa ? Eh tunggu dulu, aku curiga, kalau abang sudah ingat, jangan-jangan kamu nelpon karena disuruh abang ya? Mana mukanya sini kalau berani !"


Jovan dan Bian pun segera menyembunyikan kepala mereka dari kamera HP-nya.


"Eee kok ngumpet?! Be a man dong! Masa' begitu doang sudah ngumpet?!"


"Hmm pria sejati banget!" sindir Marissa.


Tanpa disadari oleh Marissa, sang ayah yang memperhatikannya dari jauh hanya dapat berkata lirih, "Cha, kapan kamu kalem? Jovan sudah kembali, bukannya akur malah perang lagi. Maunya apa sih anak satu ini?"


Sementara itu, Jovan sedang berusaha untuk mengambil hati Marissa kembali dengan kenangan lama yang mereka miliki, yaitu brownies. Untuk itu, Jovan membongkar buku-buku lamanya yang tersimpan di dalam lemari. Ia pun mencari buku-buku resep dari ibu Marissa, yang masih ia simpan rapi dalam lemari bukunya.


"Alhamdulillah, ketemu juga nih buku. Cha, tunggu abang bawakan brownies yang seperti dulu ibu buat untuk kita," gumam Jovan dengan harapan indah untuk hubungannya dan Marissa dapat kembali harmonis seperti sedia kala.


Tanpa menunggu lagi, Jovan segera menuju dapur dan mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat brownies.


Suara kesibukan Jovan mencari bahan-bahan untuk membuat brownies terdengar hingga ruang keluarga, sehingga membuat Jovanka yang sedang menonton televisi pun mencari asal suara tersebut.

__ADS_1


"Van, kamu ngapain? Ya Allah, itu kenapa loyang di luar semua? Trus itu tepung, telur? Kamu mau bikin apa sih?" tanya Jovanka.


"Eh Bun, bantuin bikin brownies-nya tante Riska, dong!"


"Eh tante? bukannya ibu?" tegur Jovanka.


"Oiya ibu, bukan tante lagi. Bun, bantuin dong. Buat nyogok menantu kesayangan," ucap Jovan sambil menaik-turunkan alisnya.


"Alhamdulillah akhirnya kamu mulai gerak juga, rencananya kapan mau ke apartemen?"


"Kalau bisa malam ini, yaa malam ini aku langsung ke apartemen," jawab Jovan.


"Sudah bilang ke ayahnya Icha?"


"Belum, nanti kalau browniesnya sudah matang, biar kirim fotonya sekalian," jawab Jovan.


"Kamu mau ke sana sendiri atau ditemenin ayah-bunda?"


"Sendiri aja, biar Icha nggak nyari back-up ke Bunda."


"Heh, dasar bocah nggak sopan!"


"Sudah, buruan bikin browniesnya! Nanti bunda bantu nyicipin aja, semangat!" goda Jovanka sambil beranjak pergi meninggalkan Jovan di dapur.


"Yaa, Bun, Bunda! Aku kok ditinggal?"


"Baiklah, author juga bisa jadi baker, fighting!"

__ADS_1


Lalu, apakah yang akan terjadi ketika seorang pria yang tidak pernah membuat brownies, tiba-tiba memutuskan untuk membuatnya sendiri ?


__ADS_2