Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 57 After First Night


__ADS_3

Waktu telah menunjukkan lewat pukul 9, Marissa dan Jovan belum juga keluar dari kamarnya. Setelah malam panjang yang penuh gelora, membuat wajah Jovan dan Marissa bersemu merah, sehingga Jovan memutuskan untuk bersembunyi di dalam kamarnya. Di waktu Subuh tadi, ia berjalan lebih cepat dari biasanya dan memakai syal rajutan yang dikalungkan di lehernya. Setelah selesai, ia pun segera kembali ke dalam kamarnya, sedangkan Marissa mau tak mau harus keluar dari kamarnya, untuk mengambil sarapan pagi.


Keluarnya Marissa dari kamarnya di waktu menjelang siang itu pun membuat Jorrian dan Jovanka saling berpandangan dan tersenyum.


Marissa pun tampak malu-malu tidak seperti biasanya dan satu hal lagi, ia masih merasakan nyeri di bagian intimnya sehingga membuatnya tidak leluasa berjalan.


Jovanka pun tersenyum melihat menantunya itu dan timbul niatannya untuk menggoda Marissa.


Ia pun menarik lengan Marissa menuju teras belakang.


"Semalam sudah berhasil dijebol gawangnya??" tanya Jovanka tanpa basa-basi yang membuat Marissa salah tingkah.


"Apa sih, Bundaaa??!!" jawab Marissa sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Alhamdulillah, akhirnya. Gimana??" tanya Jovanka penuh rasa penasaran.


"Bundaaaaa??!! Kok nanyain itu siiii, kan maluuuu," protes Marissa dengan wajahnya yang memerah.


"Hmmm, dikasih cap stempel ga??" tanya Jovanka lagi sambil memeriksa leher Marissa dengan menyingkap kain jilbabnya.


"Bundaaaaa!!" protes Marissa lagi sambil merapikan jilbabnya kembali.


"Eh tapi, kok Bunda tahu??" tanya Marissa.


"Tahulah, namanya juga orang tua. Ada stempelnya ga??" tanya Jovanka lagi.


"Ada!!! Dan sudah aku balas juga!! Makanya Abang ga turun," jawab Marissa sambil tertawa.


"Haadeee kalian berdua ini yaa, masih aja bercandanya aneh-aneh!!" ucap Jovanka gemas yang membuat tawa Marissa semakin menjadi.


"Memangnya stempelnya banyak?? Dimananya??" tanya Jovanka penasaran.


"Ga banyak lah, Bun, tapi ada laah, di bagian yang tak terlihat dan terlihat. Lagian Abang mulai duluan, yaa aku bales dong!!"


"Ga gitu konsepnya, Cha!!??" ucap Jovanka yang semakin gemas dengan menantunya ini.


Jovanka pun memandang gemas ke arah Marissa sembari berkata,


"Asal aman untuk acara besok."


"Aman Bun, kan bisa pakai BB cream," jawab Marissa santai.


Jovanka hanya dapat menggelengkan kepalanya mendengar jawaban santai Marissa yang berjalan melenggang kembali ke ruang keluarga.

__ADS_1


Kemudian Marissa menyiapkan sarapan untuk Jovan, dengan memanggang beberapa lembar roti tawar yang diolesi dengan aneka selai. Selain itu, Marissa juga menyiapkan jus apel dan lemon yang dibuatnya sendiri menggunakan juicer.


Setelah itu, ia segera membawanya ke dalam kamar, yang tentu saja wajah merengut Jovan menjadi pemandangan yang menggemaskan untuk Marissa.


"Aaaiiihh, cuamik cayang maci cembeyut ajaaaa, cenyum duyuuu dooong," goda Marissa yang membuahkan lirikan tajam dari Jovan.


"Aaaaaah takut, lirikan matamu menghunus tajam bagaikan pedang yang menusuk ke dalam relung sanubariku," tambah Marissa lagi yang membuat dirinya sendiri terpingkal.


Lirikan mata Jovan pun tidak berubah, sehingga lama kelamaan membuat Marissa menjadi salah tingkah.


Untuk itu, ia menutupi wajah Jovan dengan kedua telapak tangannya, sambil berbisik,


"Ganteng, jangan galak-galak dong, senyumnya mana??" goda Marissa.


"Gimana mau kelihatan senyum, kalau tangannya menutupi ketampananku," balas Jovan yang membuat Marissa mendorong badan Jovan hingga jatuh berbaring.


Dengan sigap tangan Jovan meraih tangan Marissa dan menahannya agar tidak beranjak dari sisinya.


"Eit, mau kemana?? Tanggung jawab dulu, baru boleh keluar," ucap Jovan.


"Kalau gini aja, gimana Bang?? Aku yang nanggung trus nanti Abang yang jawab, fair kan?? 50-50," jawab Marissa.


"Hmm 50-50 yaa?? Kalau call a friend bisa ga??" canda Jovan lagi.


"Yesss!! Anda diam berarti Anda telah kalah..hahaha!!" ucap Marissa dengan suara yang diberatkan seperti suara pria.


"Capek Yang, lagian lihat nih!! sadis amat nyaploknya!!" protes Jovan sambil menunjukkan cap bibir Marissa di sekitar leher, dada dan lengannya yang kembali membuat Marissa tertawa terbahak-bahak.


"Ish malah ketawa??!!" protes Jovan.


"Laaaa emangnya aku ga?? Niiiih, tuuuh, sama aja, Abang juga sadis. Alhamdulillah aku bisa tutupin pakai jilbab," jawab Marissa.


"Eh tapi Bang, tadi Bunda narik tanganku, trus nanyain 'njebol gawang', kok Bunda bisa tahu, apa semalam kita seheboh itu??" tanya Marissa.


"Kayaknya sih ga, lagian itu kan sudah menjelang tengah malam, pasti sudah pada tidur 'kan??"


"Harusnya sih, hmmm apa ada yang beda dari tampilan aku pagi ini??" tanya Marissa dengan menggunakan suara anak-anak sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya dan tangan diletakkan di kedua pipinya.


"Cha, habis nonton drakor yaa?? Geli tau'!!" protes Jovan.


"Ga tahu, mungkin tempe?? Ih aku jadi pingin makan tempe kemul!!" jawab Marissa.


"Yang, jangan random begini dong?? Lagian apa tuh tempe kemul??" tanya Jovan.

__ADS_1


"Tempe digoreng kering pakai adonan tepung, makanan khas Jawa Tengah. Speaking of Jawa Tengah, aku lupa belum nelfon pakde!!" ucap Marissa yang segera melompat dari tempat tidur untuk mengambil HPnya dan segera menghubungi nomor Aryo.


"Ampun deh, Yaaang!! loncat sana loncat sini, memangnya kanguru??!!" protes Jovan.


"Ssstt diam dulu, sudah ke sambung, nih!!" jawab Marissa sambil meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.


"Assalamu'alaikum, Cha," sapa Aryo.


"Wa'alaikumsalam, Pakde. Pakde, siang ini kita makan siang bareng yaa, di rumah Bang Jovan, nanti aku kirim supir untuk jemput," ucap Marissa tanpa basa-basi yang telah menjadi kebiasaannya.


"Walaaaaah, bocah!! mbok takon kabare pakdemu disik, wis sarapan hurung, malah ngajakin makan siang??"


(tanya kabar pakdemu dulu, sudah sarapan belum)


"Eh nunsewu Pakde, tapi nanti makan siang bareng yaa. Pakde, nanti aku minta supir untuk jemput, ba'da dzuhur yaa, jam 12," lanjut Marissa lagi.


"Ono opo tho, Nduk?? koe kangen karo Pakde?? mesti ora, mbel kui," ucap Aryo yang membuat Marissa tertawa.


(Ada apa sih, Nak?? kamu kangen sama Pakde?? pasti tidak, bohong itu)


"Ih Pakde, kan akting sedikit ga salah, kaan??" jawab Marissa membela diri.


"Cha, kamu bikin Pakdemu ini kangen kalau sudah mulai bercanda seperti itu," ucap Aryo.


"Yowes, nanti siang Pakde tunggu," lanjut Aryo.


Setelah mengakhiri percakapannya, Marissa pun mulai bersiap.


Sementara itu, Jovan memandangi badannya di cermin, matanya mengarah pada pantulan dirinya, terutama pada bagian leher yang terdapat cap bibir Marissa kemudian ia pun mengacak-acak rambutnya.


"Aduuuuh ini gimana??!!!" gumamnya putus asa.


Beberapa saat kemudian, setelah keduanya selesai membersihkan diri, wajah Jovan terlihat tak bersemangat. Marissa pun mengetahui alasannya, maka ia meminta Jovan untuk duduk di pinggiran tempat tidur, untuk memudahkannya mengoleskan krim BB pada leher Jovan, untuk menyamarkan 'cap bibirnya'.


"Taraaa, it's done!!" ucap Marissa yang telah berhasil menutup 'cap bibirnya'.


Jovan pun memeriksanya di cermin untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.


"Sudah, Bang, aman lah!! Alhamdulillah warna krimnya sesuai sama skin tone-nya Abang," ucap Marissa.


Jovan pun merasa lega, karena lehernya terlihat normal-normal saja.


"Dah yuk, kita turun," ajak Marissa.

__ADS_1


__ADS_2