Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
Calon


__ADS_3

"Dek, seingat kamu. Kakak dulu pernah dekat tidak dengan seorang wanita?" tanya Bimo penasaran.


"Memang kenapa?" Ika penasaran.


"Ditanya malah balik tanya. Seriusan ini dek kakak pangen tahu." Bimo jengkel dengan tingkah adiknya yang selalu menutupi masa lalunya.


"Nggak pernah kak, memang kenapa? Kakak mengingat seseorang?"


"Aku nggak ingat apapun. Tapi beberapa hari terakhir ini, aku selalu memimpikan seorang wanita. Dia begitu cantik, tatapannya yang teduh juga senyumnya yang manis. Di dalam mimpiku dia terus memanggilku Bi..Bi..Bi.." kata Bimo sambil membayangkan mimpinya.


"Itu artinya dia mengenalku kan." lanjut Bimo.


"Eemm, aku tidak tahu kak." Ika menjawabnya pelan.


"selamanya kita akan bersama,


takkan ada keraguan,


kini dan nanti,


percayalah."


Bunyi dering ponsel, menyadarkan lamunan Bimo.


"Awas dek, kakak mau ambil ponsel nih di saku celana." menyuruh Ika untuk minggir dari pangkuannya.


"Ponsel aku kak yang bunyi." Ika menunjukan ponselnya yang ada panggilan masuk.


"Ih kamu, pake nada deringnya kenapa sama kayak kakak?" kesal Bimo protes pada adiknya itu.


"Ssttt, nanti aja protesnya. Aku mau angkat telfon dulu." Ika mau beranjak dari tidurnya. Namun Bimo menariknya kembali tertidur di pangkuannya.


"Apa sih kak.?" Ika ingin protes.


"Udah angkat disini, speaker!! Aku ingin dengar suara lelaki yang disukai adikku yang nakal ini." Bimo mencubit hidung Ika. Karena waktu Ika menunjukan ponselnya tadi terlihat nama yang sedang menelfon adalah Aril.


"Nggak mau," Ika mau beranjak lagi namun dengan sigap Bimo langsung menyambar ponsel Ika dan menggeser ikon hijau pada layar ponselnya dan menspeaker panggilannya. Lalu Bimo menunjukan layar ponsel itu ke arah Ika. Ika melotot tak percaya, harus mengobrol dengan Aril dan didengarkan oleh kakaknya.


"Halo mas Aril." jawab Ika dengan pelan.


"Halo Ika, sedang apa?"


"Sedang santai saja. Memang kenapa mas Aril?"


"Sebenarnya kalau sedang tidak sibuk aku ingin mengajakmu pergi."


"Pergi kemana?"


"Aku ingin mengajakmu makan malam di cafe. Bisa?"


Ika menatap Bimo, meminta pendapat. Bimo yang mengerti adiknya, mengangguk saja. Mengijinkan adiknya pergi.


"Iya mas."


"Yes, baiklah aku siap siap dulu. Aku menjemputmu di kosan satu jam lagi."

__ADS_1


Ika menepuk jidatnya sendiri. Lupa kalau dirinya saat ini sedang dirumah. Tidak mungkin kan kalau menyuruhnya jemput dirumah. Bisa ketahuan donk kalau dia anak dari bos Zian kliennya.


"Mas, aku sedang tidak dikosan. Aku sedang dirumah."


"Ya ku akan menjemputmu ke rumah. Mana alamat rumahmu?"


Ika meminta pendapat kakaknya lagi. Dengan isyarat menyuruh Ika untuk shareloc saja.


"Nanti aku shareloc aja mas."


"Baiklah, sampai jumpa nanti."


"Iya mas."


Panggilan terputus.


"Bagaimana ini kak? Masak mas Aril menjemputku dirumah ini. Bisa ketahuan donk." Ika frustasi tidak bisa berfikir.


"Tenang dek, cepet kamu siap siap. Nanti kakak anterin ke jalan besar." ucap Bimo, Ika dengan pasrah segera ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.


Sepuluh menit kemudian Ika sudah keluar menemui kakaknya lagi.


"Kak aku smsin dulu deh daerah sini, kalau kita keluar dulu takutnya kelamaan dia datangnya. Gimana?"


"Iya gitu aja." Bimo sependapat dengan adiknya.


"Sebentar, aku mau pamit papa mama dulu." Ika beranjak ke dapur, karena masih mendengar kegaduhan alat masak dari dapur.


"Ma, aku ijin pergi ya. Mau pergi sama temen." kata Ika yang sudah berada di dekat mamanya.


"Ka, mama sudah masakin makanan kesukaan kamu nih. Masak mau pergi??" keluh mamanya.


"Iya iya baiklah. Pergilah.." jawab mamanya pasrah.


"Makasih mamaku sayang." Ika melebarkan senyumnya setelah mendapat ijin dari mamanya.


Ika menuju kamar orang tuanya, guna meminta ijin pada papanya juga.


Tokk tokk, Ika mengetuk pintu kamar orang tuanya.


"Masuk." jawab papanya dari dalam.


"Pa, aku ijin pergi ya?" ucap Ika sambil mendekat ke papanya yang duduk di sofa sambil memegang laptopnya.


"Sama siapa?" tanya papanya tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop didepannya.


"Sama mas Aril pa, katanya mau mengajak makan malam. Boleh??" Ika sedikit takut menunggu jawaban dari papanya.


"Tentu saja boleh, kalau perginya sama Aril. Calon mantu idaman." papanya terkekeh mendengar ucapannya sendiri.


"Apaan sih pa. Orang masih berteman juga. Dianggap calon mantu." gerutu Ika. Ika mengerucutkan bibirnya kemudian keluar dari kamar papanya.


Terdengar gelak tawa papanya, karena Ika belum menutup pintunya dengan rapat. Ada terselip rasa bahagia yang menjalar dihatinya. Melihat papanya yang setuju bila dia menjalin hubungan dengan mas Arilnya.


Ika malah jadi senyum senyim sendiri di depan kamar papanya. Hingga sebuah panggilan keras membuyarkan lamunannya.

__ADS_1


"Ikaa." teriak Bimo dari lantai bawah. Ika yang mendengar bergegas menuruni tangga, guna menghampiri sang kakak.


"Ada apa kak.?" tanya Ika saat sudah duduk di samping kakaknya.


"Ini ada pesan dari Aril, katanya sebentar lagi sampai karena ternyata rumahnya tidak jauh dari sini."


"Apa?? ya sudah kak. Ayo cepat berangkat." ucap Ika menarik kakaknya agar cepat beranjak dari duduknya.


"Iya, iya, nggak sabaran banget sih. Mau ketemu calon pacar." goda Bimo.


"Ihhh apaan sih kak. Buruan." Ika sudah merona pipinya karena digoda kakaknya.


Bimo masuk ke mobilnya, dengan perlahan dia mulai melajukan mobilnya.


"Kak, kakimu sudah tidak apa apa. Kalau dipakai untuk mengendarai mobil." Ika terlihat khawatir.


"Tidak apa apa. Sudah tidak sakit kok. Lagian mobil kakak kan juga matic, kemarin kakak sudah belajar cuma pakai satu kaki. Bisa kok, kamu tenang saja." Bimo meyakinkan Ika.


"Nah sudah sampai, turun gih. Tunggu aja di halte depan itu. Kakak tunggu disini, sampai Aril datang."


"Hemm baiklah. Kakak pelan pelan saja ya, bawa mobilnya. Hati hati. Aku pergi dulu." ucap Ika setelah turun dari mobil kakaknya.


"Iya adikku yang bawel."


Ika duduk di bangku halte, kemudian mengirim shareloc kepada Aril. Tak lama hanya sekitar sepuluh menit, Aril sudah berhenti di depan halte tempat Ika menunggunya.


"Sudah lama?" tanya Aril sesudah keluar dari mobilnya.


"Belum kok mas." jawab Ika dengan senyum manisnya.


"Ayo, berangkat sekarang." Aril membukakan pintu mobilnya untuk Ika.


"Makasih mas." Ika langsung duduk di mobil Aril.


Aril punsegera ikut masuk ke dalam mobil. Dan mulai menjalankan mobilnya.


"Kenapa tadi tidak menunggu di rumah kamu saja?" tanya Aril.


"Emm, jalan ke rumah aku nggak cukup buat masuk mobil kak. Maklum gang sempit." Ika menjelaskannya agak gugup.


"Owh gitu. Tapi kamu minta ijin sama keluarga kamu kan?" tatapan Aril penuh selidik.


"Ehh memang kenapa?"


"Ya aku nggak mau aja nanti dituduh bawa kabur anak gadis orang." canda Aril.


"Haha bisa aja mas Aril. Ya iyalah aku ijin tadi."


"Malahan tadi pada semangat banget ngijinin aku pergi sama kamu mas." tambah Ika dalam hati.


☘️☘️☘️☘️☘️


Besok lanjut lagi ya..authornya lagi sibuk dulu dengan kerjaan di dunia nyatanya..


👌👌👌jangan lupa, tinggalkan jejak kalian..

__ADS_1


yang mau komen jangan takut, sebisa mungkin kanaku balas. kalau ada yang perlu balasan..😁😁😁


Bye bye semua..lannjuuut👋👋👋


__ADS_2