Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
Kepingan ingatan masa lalu


__ADS_3

Bimo mengantar Alea ke pemakaman, terlihat Myli yang sudah terlelap dalam pangkuan Alea. Jadi Bimo berinisiatif untuk menggendong Myli. Karena tidak mungkin kan meninggalkan Myli sendirian di dalam mobil, sedang Bimo juga ingin ikut menghantarkan doa untuk mendiang Keyla.


Langkah Alea terhenti saat sudah berada di sebuah makam dengan batu nisan yang bertuliskan Keyla Subroto.


"Assalamu alaikum Key. Maaf aku baru sempat berkunjung. Aku datang bersama teman juga anakku. Kamu lihat peri kecilku yang dulu kamu lindungi masih berada dalam perutku. Sekarang sudah tumbuh dengan baik dan cantik. Dia sangat menggemaskan bukan. Sayang sekali, di dua tahun pertamanya aku tak bisa melihat pertumbuhannya, karena kecelakaan naas itu." Alea jadi murung.


"Aku koma juga terpisah dengan suamiku. Tapi ya sudahlah itu semua sudah berlalu. Oh iya aku sebenarnya punya kabar kembira. Tapi, biarlah Aril sendiri yang memberi tahu kamu." Alea kembali mengulas senyum manisnya. Kemudian dia memanjatkan doa untuk almarhum Keyla, begitupun juga dengan Bimo.


Setelah dari pemakaman, Bimo langsung mengantar Alea pulang.


Alea akan menggendong Myli masuk ke dalam rumah.


"Bim, tidak mampir dulu?" tawar Alea.


"Lain kali saja, aku ingin segera pulang." elak Bimo yang sebenarnya sangat ingin mampir, namun iya tahan.


"Baiklah, hati hati di jalan." ucap Alea setelahnya dia segera masuk ke dalam rumah.


Bimo mengangguk dan mulai menjalankan mobilnya.


Bimo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan terhenti ketika ada lampu merah didepan. Bimo mengedarkan pandangannya, tak sengaja matanya menangkap sosok yang baru saja di antar pulang sudah berada di mobil yang juga berhenti karena lampu merah berada di jalur sampingnya.


"Alea kemana dia mau pergi." gumam Bimo.


Setelah lampu hijau, Alea langsung menginjak pedal gasnya, membuat mobilnya langsung melesat. Bimo yang melihat itu jadi khawatir, karena Alea mengendarai mobilnya cepat seperti sedang buru buru.


Bimo mengikuti Alea dari belakang. Ikut meliak liuk di jalanan, menyalip mobil satu per satu. Untunglah kaki Bimo sudah sembuh total jadi bisa mengemudikan mobil dengan lincah.


Tak berapa lama, Alea menghentikan mobilnya. Alea tampak turun, penampilannya sudah berganti dari tadi yang pergi bersama Bimo menggunakan dress. Sekarang Alea memakai pakaian casual, dengan celana jins dan kaos juga sneakers.


Alea berjalan cepat, dengan kaki jenjangnya dia melangkah. Bimo juga ikut turun, karena bingung juga mau ngapain Alea mendatangi gedung tua seperti ini. Padahal tampak sekali kalau tidak ada tanda kehidupan disana.


Sampai di dalam, Bimo mendengar percakapan Alea entah dengan siapa tapi juga seorang wanita. Bimo berhenti di balik tembok agar tak terlihat. Bimo mengamati, disana ada seorang wanita sedang duduk di sebuah kursi dan sedang berbicara pada Alea.


"Selamat datang tuan putri." wanita itu bertepuk tangan. Alea hanya memandang dengan sinis.


"Bagaimana tidur panjangmu? Menyenangkan bukan. Eunggh harusnya kau mati saja dulu. Tapi tidak apalah, aku bisa membuatmu lebih menderita lagi sekarang. Bagaimana kejutanku? Kau bahagia kan suamimu bahkan tak mengenalimu. Ha ha ha." ucap wanita itu sambil tertawa keras.


"Kenapa kau lakukan semua ini Di? Lalu setelah hampir dua tahun ini untuk apa kau muncul kembali. Aku sangat ingin menghajarmu." ujar Alea dengan ketus.


Wanita itu kembali tertawa, Bimo mengingat wanita jahat yang tadi siang diceritakan oleh Alea apakah dia orangnya. Tebak Bimo dalam hati.


"Aku hanya ingin melihat apakah suamimu itu mampu untuk mengingatmu. Tapi aku rasa tidak akan pernah. Lalu kau ingin menghajarku, mari kita duel satu lawan satu." wanita itu beranjak dari duduknya, mulai mendekati Alea.


Alea masih tampak tenang dengan wajahnya yang dingin menatap Diana.


Sedetik kemudian terjadilah perkelahian antara Alea dan Diana. Bimo nampak takjub dengan Alea yang lincah, tak sekalipun terkena serangan dari musuhnya. Sedang lawannya sudah beberapa kali mendapat hantaman tangan Alea. Bibir Diana sudah nampak mengeluarkan cairan merah dari sudutnya.

__ADS_1


"Cuih, ternyata kau hebat juga ya." Diana berjalan mundur kemudian menepuk tangannya. Datanglah dari arah belakang Diana dua orang pria bertubuh kekar.


"Habisi dia!!" perintah Diana pada dua orang tersebut.


Kedua pria itu langsung menyerang Alea. Dengan keahlian bela diri Alea, yang termasuk lumayan tidak membuat Alea kesulitan walau dikeroyok dua orang sekaligus.


Bimo yang melihat itu, tentu tak tinggal diam. Dia segera menghampiri Alea dan membantunya melawan dua pria itu.


Alea nampak terkejut dengan kedatangan Bimo. Terdengar tepukan tangan Diana, menghentikan dua pria itu menyerang Bimo dan Alea.


"Wah wah, ternyata dia datang menyelamatkanmu. Walau tak ingat apapun tetap saja ya dia peduli padamu." Diana berbicara pada Alea.


"Oh iya kau belum mengatakan yang sebenarnya kan. Biar aku saja ya yang menceritakannya." Diana tersenyum licik.


Alea menjadi gugup, kalau Diana menceritakan semua apa tidak akan masalah dengan Deni. Alea sangat takut akan kesehatan suaminya itu.


"Please Di, jangan." sisi Alea yang lemah muncul.


Diana memberi kode pada dua pria itu untuk membuat Alea diam. Dengan cepat dua pria itu langsung menangkap Alea, mengunci gerakannya juga menyekap mulutnya.


Bimo ingin menolong Alea namun Diana menghentikannya.


"Tenanglah, mereka tidak akan menyakiti Alea. Aku hanya tidak ingin ada yang menyelaku." ucap Diana. Bimo menatap tajam pada Diana. Sungguh dia sangat tak paham, kenapa tadi Alea seperti memohon pada wanita jahat di depannya ini.


Diana mulai berbicara.


"Tampan, kau ingat aku? Ah tentu saja kau juga melupakan aku. Bahkan dia saja tidak kamu ingat. Tapi tenang aku akan bantu mengingatkanmu."


"Kau adalah Deni, Deni Angga Sanjaya. Suami dari Alea Putri Wijaya. Pewaris tunggal dari keluarga Sanjaya juga. Apa kau sudah sedikit mengingatnya?" ucap Diana. penuh penekanan. Bimo nampak masih tenang mencerna setiap perkataan Diana. Namun sakit di kepalanya tiba tiba menyerang.


Terlintas di pikirannya, bayangan bayangan dia sedang bercanda juga tertawa bersama seorang wanita, namun tidak jelas wajahnya. Bimo jatuh berlutut, sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit berdenyut. Dia berupaya berpikir keras siapa wanita yang bersamanya itu.


"Apakah itu Alea. Apa benar jika aku adalah Deni, dan Alea adalah istriku." gumam Deni yang hanya dalam hati.


"Bagaimana kau sudah mengingatnya? Ck, sepertinya belum. Baiklah aku tambah lagi informasi untukmu. Kau sudah mencintainya sejak SMA, dan sudah menikah dengan Alea hampir empat tahun. Gadis kecil usia dua tahun itu adalah anak kandungmu. Siapa namanya,? Ah iya Myli..kalian panggil dia Myli." lanjut Diana.


Bimo nampak tambah kesakitan, mencoba memikirkan semua yang di ucapkan wanita jahat di depannya.


"Kenapa? kenapa aku tak mengingat apapun jika mereka adalah keluargaku. Orang yang aku cintai kenapa aku sama sekali tak mengingatnya. Ahh." gumam Bimo pelan, meringis kesakitan pada kepalanya.


Alea semakin terisak dalam bekapan orang suruhan Diana. Alea ikut merasakan sakit melihat orang yang dicintai. sedang mengerang kesakitan didepan matanya. Dan dia tak mampu melakukan apapun.


"Hahaha, ini bahkan lebih menyenangkan dari pada harus membunuh kalian dulu. Sudah biarkan mereka." Diana melengang begitu saja meninggalkan tempat itu. Dua orang yang memegangi Alea pun melepaskan cengkramannya. Dan mengikuti Diana pergi.


Alea langsung menghambur ke Bimo yang telah tersungkur, terus memegangi kepalanya. Alea memangku kepala Bimo, melihat Bimo terus kesakitan. Hati Alea seperti teriris.


"Aku mohon bertahanlah, hiks hiks. Aku mohon." Alea semakin keras tangisannya.

__ADS_1


Alea mencoba berfikir cepat, untuk segera memanggil bantuan. Alea mencari ponsel yang ada di sakunya.


Tangan Alea bergerak cepat, mencari kontak ayah mertuanya. Setelah ketemu Alea seger menelfon tuan Malik.


Tak butuh waktu lama, tuan Malik memang selalu cepat kalau masalah ponsel, karena tidak pernah di mode silent mengantisipasi kondisi darurat sewaktu waktu.


"Pa, aku akan share loc, cepat kirim bantuan medis kesini. Darurat." ucap Alea cepat.


"Baiklah, tunggu sebentar." jawab tuan Malik mengerti tak menuntut penjelasan dahulu. Apalagi menantunya itu sudah bilang kalau sedang darurat, itu haruslah cepat. Alea bahkan langsung memutuskan panggilan setelah ada jawaban dari mertuanya itu.


Sedang tuan Malik segera bertindak dia menghubungi orang suruhannya untuk menyiapkan bantuan medis yang lengkap. Untuk segera berangkat, lokasi akan dikirimkan oleh tuan Malik sendiri.


Tuan Malik juga tak hanya diam di tempat, dia langsung meninggalkan kantornya ingin menyusul Alea. Ingin tahu apa yang darurat.


Baru saja tuan Malik mau masuk ke dalam lift, dia sudah mendapat kiriman lokasi terkini Alea. Tuan Malik segera mengirim lokasi itu juga ke bawahannya. Dan segera menuju tempat Alea.


Kembali ke tampat Alea berada.


Alea berhenti menangis,mencoba menenangkan Bimo.


"Bee, buka matamu. Kau dengar aku." Alea menangkup kedua pipi Bimo agar menatapnya. Alea juga memanggil dengan panggilan kesayangannya dulu.


Bimo berhenti mengerang, lalu menatap manik mata Alea. Mata sayunya mencoba untuk terus menatap Alea.


"Siapapun kamu sekarang, aku tidak peduli. Sekarang yang penting bagiku adalah kau tetap sehat. Terus bersamaku, berada disampingku. Aku sangat mencintaimu. Kau dengar!!" Alea berbicara sedikit lantang.


Bimo mengangguk pelan, Alea kemudian meraih tubuh lunglai Bimo dan memeluknya.


"Jangan pikirkan apapun, aku mohon. Jangan paksa otakmu untuk berfikir. Cukup ingat kalau aku mencintaimu. Sungguh aku mencintaimu, mas." Alea meneteskan kembali air matanya Namun segera di hapusnya.


Bimo sudah sedikit lebih tenang dalam dekapan Alea. Setelah menunggu puluhan menit, akhirnya bantuan datang. Juga dengan tuan Malik yang ikut tergopoh gopoh masuk mencari keberadaan menantunya.


Sungguh tuan Malik sangat terkejut, melihat pemandangan yang terpampang di depannya. Anaknya yang baru saja dia temukan yang bahkan tak mengingat akan dirinya sedang terkulai lemas dalam dekapan menantunya, Alea.


"Mas, ayo. Bantuan sudah datang." ucap Alea sembari mengusap rambut Bimo. Namun tak ada respon dari Bimo, Alea jadi khawatir takut kalau terjadi hal buruk. Melihat wajah panik Alea, seorang dokter yang juga ikut datang langsung memeriksa kondisi Bimo.


"Nona, sepertinya tuan ini kelelahan hingga tertidur. Tenanglah, semua akan baik baik saja." jelas dokter tersebut.


Alea yang mendapat penjelasan seperti itu langsung bernafas lega. Kemudian beberapa orang membantu mengangkat tubuh Bimo untuk dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulans. Alea ikut masuk ke dalam ambulans tersebut. Mobil Alea dan Bimo dibawa oleh orang tuan Malik.


Alea terus mendampingi Bimo di rumah sakit. Tak sekalipun beranjak meninggalkan Bimo, tetap duduk di kursi di samping ranjang Bimo. Menunggu Bimo bangun.


"Mas, aku sangat ingin memeluk dirimu. Tapi aku takut." mata Alea kembali berkaca kaca.


☘️☘️☘️☘️☘️


mohon maaf ya slow up bgt nih authornya..lgi sibuk kejar target. Kerjaan numpuk banget jadi nggak bisa fokus nulis. Harus curi waktu istirahat malam. Kalau siang sama sekali tak bisa.

__ADS_1


terima kasih ya yang sudah selalu menunggu up aku.. love you readers setiaku.💕💕💕😘😘😘😘😘


aku tunggu jejak kalian like komen vote juga tips nya ya...👋👋👋


__ADS_2