
"Al kamu istirahatlah. Aku akan kembali besok." ucap Aril setelah mengantar Alea kembali ke kamar.
"Iya, terima kasih Ril sudah mau menemaniku."
Aril tersenyum dan pergi meninggalkan Alea.
"Apa mungkin yang dikatakan Alea tentang Deni itu benar. Tidak ada salahnya jika aku menyelidikinya dulu." bathin Aril sembari mulai melajukan mobilnya di jalanan.
....
"Mommy..." teriakan Myli begitu kencang hingga membuat Alea terlonjak kaget.
"Iya sayang, ada apa?"
"Ayo makan mom." ajak Myli dengan wajah imutnya.
"Baiklah, ayo ke ruang makan." Alea menyambut uluran tangan putri kecilnya itu.
Myli tertawa riang bisa berjalan dan menggandeng tangan ibunya. Karena sebelumnya hanya bisa melihat ibunya yang selalu tertidur.
"Pa Ma.." sapa Alea pada kedua orang tuanya yang sudah duduk disana.
"Iya sayang, ayo makan." ucap Papanya.
Alea menikmati makanan yang selalu terasa pas di lidahnya, pasti itu masakan Mamanya. Alea makan dengan sangat lahap.
Sejenak melupakan pikirannya yang sedang kalut. Alea sudah bisa mengontrol emosinya, kesehatannya juga sudah pulih total. Semangat baru yang dimilikinya untuk mencari kebenaran tentang suaminya.
"Pa, setelah makan aku ingin bicarakan hal yang penting sama Papa." ucap Alea disela makannya.
"Tentang apa sayang?"
"Nanti saja Pa."
Setelah makan, sesuai permintaan putrinya. Kini keduanya sedang duduk berdua di ruang kerja Tuan Aran.
"Hal penting apa sayang?" tanya Tuan Aran pada intinya.
"Pa, ini perihal kematian suamiku. Apa papa yakin yang dikuburkan itu benar suamiku?"
"Papa yakin karena melihat pakaian yang masih tersisa akibat kebakaran itu, dan juga cincin pernikahan yang melingkar di jarinya. Papa yakin itu adalah Deni."
__ADS_1
"Memang jenazah suamiku ditemukan dimana pa?"
"Ya dia ditemukan di dalam mobil naas itu. Memang kenapa kamu menanyakan detailnya sayang?"
"Pa, aku mencurigai kalau sebenarnya yang dikubur itu bukanlah suamiku pa. Tapi entah dia sekarang masih hidup atau tidak, yang jelas aku melihat kalau suamiku berhasil keluar dari mobil itu. Jadi tidak mungkinkan kalau suamiku ikut terbakar." jelas Alea dengan tenang.
Tuan Aran terkejut mendengar penjelasan putrinya. Memang saat itu yang memastikan jenazah itu adalah dirinya. Tidak terbersit dalam pikirannya untuk melakukan pemeriksaan yang terperinci. Jadi keluarga langsung memakamkannya saja.
"Apa kamu yakin nak?" tanya Tuan Aran untuk memastikan.
"Aku yakin Pa. Aku sudah menceritakan kejadian sebenarnya kepada Aril beberapa hari yang lalu. Dia bilang akan membantu ku mencari suamiku. Pa aku sempat berfikir untuk tes DNA pada jenazah yang dikuburkan atas nama suamiku itu, apa bisa?"
"Ya itu bisa dilakukan atas persetujuan semua keluarga. Kita harus bicarakan ini dengan mertuamu lebih dulu."
"Biarkan aku saja yang bicara Pa, sekalian aku berkunjung kesana bersama Myli."
"Kapan akan kesana?"
"Bagaimana kalau sore ini Pa?"
"Ya lebih cepat lebih baik kan. Tapi ingat pesan Papa. Jika hasilnya tidak sesuai harapanmu, kamu jangan bersedih lagi. Kamu haus menjalankan hidupmu dengan tenang. dan bahagia bersama Myli."
"Iya Pa." Alea menyunggingkan senyumnya.
...
"Sore pa." sapa Alea yang sudah masuk ke dalam kediaman Tuan Malik. Didapatinya papa mertuanya itu sedang duduk bersama seorang tamu yang posisinya membelakangi Alea.
"Kakeek.." Myli turun dari gendongan Alea dan berhambur ke pelukan Tuan Malik.
"Cucuku, kau bertambah cantik dan menggemaskan." ucap Tuan Malik dengan memeluk erat cucu kesayangannya itu.
"Al, kamu benar sudah sehat? Kenapa kamu datang kesini, papa dan mama kan bisa yang kesana." Tuan Malik mengkhawatirkan menantunya itu.
"Pa, Alea sudah sehat kok. Papa tidak perlu khawatir." jawab Alea.
Myli melepaskan diri dari pelukan kakeknya. Melihat ke sekeliling didapati orang yang sangat dirindukannya. Myli segera berlari memeluknya.
"Ayaahh.. Ili lindu."
Ternyata tamu Tuan Malik adalah Aril. Memang setelah Aril berhasil membujuk Alea waktu itu, dia tidak lagi ke rumah Alea untuk menghindari pertemuan ketiganya bersamaan.
__ADS_1
Terlihat jelas sekali kalau sekarang Alea jadi menatap Aril dengan tatapan menuntut penjelasan. Alea pasti jadi teringat saat pertama kali sadar, Myli yang memanggilnya dengan sebutan Ayah. Dan sekarang dia mendengarnya lagi.
"Nanti akan aku jelaskan, sekarang yang lebih penting adalah masalah yang kau ceritakan padaku waktu itu. Aku sudah berbicara dengan Tuan Malik." ucap Aril menjawab tatapan Alea padanya.
"Iya Pa. Aku ingin melakukan tes DNA pada jenazah yang dikuburkan atas nama suamiku itu. Bagaimana menurut Papa?"
"Al, sebelumnya Papa minta maaf, bukannya Papa tidak percaya padamu. Tapi..kalau memang Deni selamat waktu itu, kenapa dirinya tidak pulang? Ini sudah dua tahun nak."
"Pa, aku yakin dengan penglihatanku waktu itu. Tidak mungkin suamiku kembali ke mobilkan setelah susah payah dia berhasil keluar. Aku juga tidak tahu dimana dia, tapi aku yakin sekali dia masih hidup Pa." Alea menatap mertuanya dengan tatapan memohon.
"Hm, baiklah. Papa akan melakukannya. Kita akan buka kasus kecelakaan itu kembali. Aril cari informasi apa saja tentang kejadian dua tahun lalu itu. Dan juga minta bantuan kepolisian untuk uji tes DNA."
"Baik Tuan." jawab Aril dengan tegas.
"Pa, sekarang aku ingin bicara berdua dengan Aril." ucap Alea dengan menatap intens Aril.
"Baiklah, Myli ayo ikut kakek. Kita cari nenek kamu." ajak Tuan Malik. Myli dengan semangat mengikuti ajakan kakeknya.
Setelah Tuan Malik dan Myli hilang dari pandangan. Alea memulai bicaranya.
"Ril, bisa kau jelaskan kenapa putriku memanggilmu ayah? Sepertinya kalian akrab sekali." Alea menuntut penjelasan.
Aril nampak menghela nafasnya pelan. Aril merogoh saku celananya. Alea mengamati apa yang dilakukan Aril. Aril mengambil sebuah kertas yang terlihat sudah usang dari dompetnya. Lalu menyerahkan kertas itu pada Alea.
"Apa ini?" tanya Alea tak mengerti namun diterimanya juga surat itu.
"Bacalah dulu isinya. Setelahnya aku akan jelaskan semua."
Alea mulai membuka lipatan kertas itu hati hati, dan mulai membaca isinya.
Air mata Alea keluar begitu saja setelah membaca tulisan itu yang ternyata adalah surat yang ditinggalkan Deni untuk Aril. Amanatnya tentang menjaga Alea setelah Deni tiada.
Alea meletakan surat itu dimeja.
"Seminggu setelah kecelakaan itu, seluruh keluargamu diminta berkumpul oleh pengacara Deni. Waktu itu dijelaskan kalau aku menerima semua harta milik Deni, dan diminta untuk menikah denganmu dan menjadi ayah untuk anakmu." Aril menatap Alea.
"Jadi kamu setuju dan menjadi ayah Myli?" sela Alea sambil menyeka air matanya.
"Tidak. Aku menolak semuanya kecuali satu." Aril menggantung kalimatnya.
"Aku menjadi ayah Myli, tanpa nenerima harta Deni ataupun menikah denganmu. Sejak itu aku selalu menyempatkan waktu setiap hari untuk mengurus Myli. Itulah kenapa Myli busa dekat denganku. Aku hanya ingin Myli tidak kehilangan kasih sayang dari orang tuanya walau kau dan Deni tidak ada disampingnya."
__ADS_1
Alea menatap Aril dengan mata yang berkaca kaca kembali.