
Ika sudah kembali sehat, Myli masih sesekali menginap di sana. Tapi tak di temani oleh mommy dan daddynya juga sang adik. Perlahan Ika dapat melupakan kesedihan atas kehilangan bayinya. Aril juga selalu berada di sampingnya.
"Sayang, duduklah disini." Aril menepuk sofa disampingnya. Ika yang baru saja selesai melakukan perawatan pada tubuhnya yang rutin ia lakukan sebelum tidur, segera menghampiri suaminya saat dipanggil.
Aril meraih kepala Ika untuk disandarkan dibahunya.
"Aku punya rencana untuk kita pergi liburan. Tak perlu jauh jauh. Kita ke Bali saja beberapa hari. Kamu setuju?" Tanya Aril sembari mengusap llembut rambut Ika.
"Berdua saja?" Ika balik bertanya.
"Iya dong. Aku ingin quality time sama kamu." Jawab Aril.
"Emm, boleh juga. Aku setuju, kapan kita berangkat?"
"Akhir minggu ini ya, seminggu kita disana? Cukup tidak?"
"Heemm.."
Aril terus menghujani puncak kepala Ika dengan kecupan. Sungguh Aril sudah merindukan kehangatan bersama istrinya. Sudah hampir 2 bulan mereka tak menghabiskan malam bersama.
....
Hari yang ditunggu tiba, Aril dan Ika berangkat berlibur ke pulau Bali yang eksotis. Rencana Aril untuk berlibur berjalan sesuai rencananya. Dia dan istrinya kembali menyatu di bawah sinar bulan purnama. Di balkon resort private Ubud. Aril sengaja menyewa resort yang private agar tak ada yang mengganggu kebersamaannya dengan sang istri.
Selama satu minggu penuh mereka disana. Dan keduanya pulang dengan hati yang gembira. Impian untuk segera memiliki momongan kembali tertananam di hati keduanya. Tak ada lagi kesedihan.
Beragam oleh oleh dibagikan ke seluruh keluarga. Termasuk keluarga Sanjaya dan Wijaya pun tak ketinggalan mendapatkan oleh oleh.
....
Bulan demi bulan dilalui menjadi tahun. Sudah satu tahun lebih sejak kegugurannya. Ika masih belum hamil juga.
Tanpa sepengetahuan keluarga termasuk suaminya, Ika memeriksakan dirinya ke rumah sakit. Ika takut ada masalah dengan kandungannya setelah waktu itu keguguran. Makanya hingga saat ini dia tak kunjung hamil lagi. Padahal seluruh keluarga sudah menantikannya.
"Nona, saya turut prihatin." Ucap dokter wanita di depannya.
"Maksudnya dok?"
"Kandungan anda memang bermasalah, tuba falopi yang tersumbat menyebabkan ****** tidak dapat bertemu dengan sel telur di dalam rahim, sehingga proses pembuahan tidak dapat terjadi. Hal ini juga menjadi penyebab infertilitas wanita.
Kerusakan atau penyumbatan pada tuba falopi dapat disebabkan oleh beberapa kondisi, dan kemungkinan ini karena anda pernah mengalami keguguran." Jelas dokter.
"Lalu apakah masih ada kemungkinan untuk hamil?" Tanya Ika lirih. Dadanya serasa sesak mendapati kenyataan bahwa kandungannya bermasalah.
"Selalu ada harapan nona. Masih ada kemungkinan 25% anda bisa hamil." Dokter menjeda penjelasannya.
"Untuk menangani ini, anda tidak boleh stres, anda juga harus menerapkan pola hidup yang sehat. Perbanyak konsumsi buah dan sayuran yang kaya akan vitamin C juga anti oksidan. Karena penyumbatan ini hanya pada satu jalan tuba falopi saja. Jadi tak perlu untuk melakukan penindakan operasi."
"Dan satu lagi, perhatikan masa subur nona. Lakukan hubungan intim ketika benar tepat di masa subur, agar kemungkinan untuk hamil jadi lebih besar."
"Baik dok, akan saya ingat. Terima kasih, kalau begitu saya permisi." Ika setelah itu langsung pulang ke rumah.
Sejak pulang dari rumah sakit, Ika masih setia menyendiri di kamar. Dia hanya keluar untuk makan, agar mamanya tak curiga akan keadaannya. Dia masih ragu, apakah harus menceritakan semuanya pada suaminya atau tidak. Kemungkinan hamil yang hanya 25% sungguh membuat impian untuk segera memiliki anak kembali jadi sirna.
Ika tahu dokter tadi mencoba untuk menyemangatinya, bahwa dia masih bisa hamil lagi. Tapi ini saja sudah berjalan satu tahun lebih, sampai kapan lagi dia akan menunggu kehamilannya.
Hari demi hari dilalui Ika, dengan wajah yang selalu tersenyum padahal hatimya sedang sakit karena.menyembunyikan keadaan tentang dirinya yang sulit hamil. Hubungannya denan Aril juga berjalan seperti biasa. Tetapi terkadang Ika merasa tidak bergairah.
"Sayang, aku merindukanmu." Aril yang baru saja selesai membersihkan diri sepulang dari kantor langsung memeluk Ika dari belakang. Aril mendapati istrinya yang akhir akhir ini sering melamun di balkon.
"Maaf mas, aku lagi tanggal merah." Ucap Ika dengan penuh sesal. Pasalnya sudah tiga hari Aril tak menyentuhnya karena selalu pulang larut malam dan mendapati Ika sudah tertidur pulas.
"Ah benarkah.." Aril sungguh kecewa, bukan karena tak bisa menyatu dengan istrinya malam ini namun lebih ke gagalnya dia membuahi sel telur istrinya.
"Satu minggu ya, bersabarlah." Ika mengusap rahang Aril yang menempel pada bahunya.
"Baiklah, ayo sekarang tidur. Disini sangat dingin, tak baik untuk kesehatanmu jika terlalu lama berdiri disini." Aril menuntun Ika untuk masuk ke dalam kamar.
....
4 tahun berlalu, sekarang semua sedang berada di rumah Tuan Aran. Merayakan ulang tahun Myli yang ke 8.
Tak sengaja salah seorang tamu wanita yang mengenal tuan Zian menegur Ika.
"Nona Ika ya.?" Tanya wanita itu.
__ADS_1
"Iya, nyonya." Jawab Ika dengan sopan.
"Anaknya mana? Saya lihat tidak bersama dengan ayah atau kakek neneknya." Tanya wanita itu sambil.celingukan kesana kemari.
"Saya belum punya anak." Jawab Ika dengan senyim getirnya. Ditanya perihal anak dia masih ingat jika dirinya masih belum jujur akan keadaannya.
"Eh, seingat saya 4 tahun yang lalu, sebelum saya pergi keluar negri. Saya sempat dapat kabar jika tuan Zian akan mempunyai cucu dari anda nona." Ucap wanita itu tak percaya.
"Saya keguguran waktu itu." Jawab Ika singkat mencoba menekan sakit dihatinya.
"Maafkan saya, saya tak bermaksud mengingatkan anda akan kejadian buruk itu. Saya sungguh tidak tahu." Ucap wanita itu dengan sangat menyesal, apalagi melihat Ika yang matanya mulai berkaca kaca.
"Tidak apa nyonya, memang itu kenyataannya."
"Saya minta maaf sekali lagi. Permisi nona." Wanita itu lalu pergi menjauh.
Ika tak dapat menahan air matanya lagi. Dia berjalan cepat keluar dari rumah Alea, dan terduduk di kursi taman samping rumah Alea. Rasanya sungguh sudah tak tertahan, dia tak bisa lagi menyembunyikan keadaannya pada Aril. Dia harus segera menceritakannya.
Ika sudah lelah, selama 4 tahun dia mencoba tetap saja tak bisa memberi keturunan bagi suaminya. Ika sudah pasrah, jika nanti dia jujur dan Aril tak bisa menerima keadaannya maka Ika akan menerimanya.
Ika menghapus air matanya. Akan beranjak dari kursi itu namun siapa sangka ada seseorang yang berdiri di hadapannya beberapa meter darinya.
Deg. "Apa aku siap?" Bathin Ika. Kini dia melihat suaminya yang berdiri di depannya itu mulai mendekatinya.
"Sudah selesai menangisnya?" Aril tersenyum membenahi beberapa helai rambut Ika ke belakang telinganya.
Ika terpaku akan tatapan mata Aril, dia belum mampu mengucapkan kejujurannya. Ika lalu memeluk tubuh Aril dengan erat begitupun Aril.
Tanpa suara, Aril tahu jika Ika menangis lagi. Bahunya sudah basah oleh air mata.
"Apa yang kamu tangisi?" Tanya Aril sembari mengusap punggung istrinya.
"Maaf mas, aku bohong. Aku nggak bisa hamil." Ucap Ika, tangisnya pun semakin menjadi.
"Kapan kamu bohong?" Tanya Aril.
"Sejak 4 tahun lalu, maaf mas."
Aril mengurai pelukannya. Ika pasrah dia tak berani menatap suaminya. Aril menghela mafasnya pelan lalu memegang kedua pipi Ika agar bisa menatapnya.
"Mas Aril sudah tahu? Sejak kapan?"
"Di hari yang sama kamu mengetahui keadaan kamu. Aku datang untuk menjenguk seorang klien yang sakit. Tapi tak disangka aku melihat kamu keluar dari ruangan dokter kandungan dengan wajah murung. Akupun langsung masuk ke ruangan dokter itu, dan menanyakan penyebab wajahmu jadi murung. Awalnya dia urung mengatakan keadaanmu, namun saat aku katakan aku suamimu dan menunjukan foto pernikahan kita. Dokter itu percaya lalu menceritakan semua keadaanmu."
Ika tak mampu berkata kata lagi, 4 tahun dia berusaha menutupi. Ternyata suaminya sudah tahu kondisinya.
"Apapun keadaan kamu, aku akan tetap berada di sisimu." Ucap Aril yang mengetahui kegundahan hati istrinya.
"Tapi mas, aku nggak bisa hamil." Ucap Ika lirih.
"Masih ada kemungkinan 25%, bukan tidak bisa. Ayo kita pulang, dan berusaha agar peluang 25% itu bisa terwujud. Aku hitung hari ini juga masa suburmu. Aku sudah rindu suara desahanmu." Aril mencolek dagu Ika.
Ika merona malu, hilang sudah keraguannya. Bebannya seperti sudah terangkat dari pundaknya.
"Maas." Ika mulai merengek malu.
"Kenapa harus malu, suaramu kalau malam malam itu begitu seksi. Aku suka. Apalagi kalau kamu yang memimpin permainan. Itu sungguh nikmat. Aww..." Aril meringis kesakitan merasakan panas diperutnya akibat cubitan tangan Ika.
"Rasain, ngomongin begituan disini." Gerutu Ika.
"Ya sudah ayo pulang. Kita bicarakan dikamar kita. Kita lakukan tanpa beban, agar 25% kemungkinan itu bisa terwujud." Aril merengkuh pinggang Ika lalu keduanya berjalan bersama ke mobil mereka. Keduanya tersenyum bahagia. Dalam hati Aril berjanji, ada tidaknya seorang anak, dia akan tetap mendampingi Ika.
....
Satu tahun berlalu Ika tak kunjung hamil juga. Seluruh keluarga tidak ada yang mempermasalahkan itu, walaupun sudah tahu kenyataan tentang keadaan yang sebenarnya.
"Tante, mainan yang dibelikan tante waktu kita liburan ke pantai bulan lalu sudah rusak." Oceh Bima saat berkunjung ke rumah Ika.
"Eh, kok bisa? Biasanya Bima selalu menyimpan mainan Bima dengan baik." Tanya Ika.
"Itu bun, kemarin temen temennya main ke rumah. Pada main pakai mainan Bima, eh pada lari larian. Nggak sengaja keinjak. Rusak deh." Myli menyela untuk menjelaskan.
"Benar begitu?" Tanya Ika memastikan pada Bima.
"Iya Tan, maaf iya. Aku nggak bisa jaga pemberian tante dengan baik." Sesal Bima.
__ADS_1
"Ehh, kok jadi sedih gitu mukanya. Nggak papa kok sayang. Nanti kita kalau pergi bersama lagi kan bisa beli mainan lagi. Lagian, Bima nggak sengaja ngrusakinnya. Jadi jangan sedih ya. Tante nggak marah kok."
"Terima kasih tante." Bima langsung memeluk Ika. Ika pun membalas memeluknya dengan erat.
"Bun,." Myli menarik narik ujung baju Ika.
"Hem." Ika menoleh ke Myli.
"Aku mau peluk juga."
"Ih gemes deh sama kalian. Sini sini bunda peluk." Ika meraih tubuh Myli lalu dipeluknya. Ketiganya tersenyum bahagia.
"Ngapain pelukan?" Aril mengejutkan mereka.
"Mas, ngagetin aja." Ika terkejut karena Aril berdiri di belakangnya.
"Ayah makan apa sih?" Tanya Myli, karena yang dipegang Aril toplesnya berwarna jadi tak terlihat apa isinya.
"Kacang." jawab Aril singkat dengan terus mengunyah cemilannya.
"Mas tumben sih ngemil kacang? Biasanya tuh kacang yang makan cuma aku." tanya Ika heran.
"Nggak tahu juga, lagi pengen." Aril bersantai duduk di sofa yang lain.
"Kalian sama siapa tadi kesini?" tanya Aril pada Myli.
"Sama Mommy yah."
"Terus kemana sekarang mommy kalian?"
"Ada apa nyariin aku?" tanya Alea yang sudah berdiri di dekatnya.
"Nggak...huek." Aril segera menutup hidungnya.
"Kamu bau apaan sih Al, bau banget. Mual aku..huek huek.." Aril menutup hidungnya dan segera berlari ke kamar mandi.
Alea spontan langsung mencium baju, ketiaknya.
"Perasaan aku wangi kayak biasanya. Ka emang aku bau apa?" tanya Alea kemudian mendekatkan diri ke Ika.
"Wangi kok, tapi kok gitu ya mas Aril, beberapa hari ini aku juga dilarang pakai parfum. Dia selalu mual kalau nyium parfum wanita." jelas Ika.
Alea nampak berfikir, Alea juga melihat toples makanan yang ditinggalkan Aril tadi. Isinya kacang, Alea tahu sekali kalau Aril tidak begitu menyukai kacang. Ini aneh, Aril malah ngemil sampai bawa toples itu kemana mana.
Alea duduk di sofa lain. Lalu memanggil Ika untuk duduk disampingnya. Alea membisikan sesuatu. Ika jadi tersenyum sumringah.
.....
"Selamat, istri anda tengah hamil. Ini baru minggu ke 5. Dan sepertinya, yang mengidam anda malahan." Dokter kandungan itu terkekeh karena sempat tadi Aril bertanya tentang keanehannya beberapa hari ini.
Aril dan Ika bersorak bahagia. Hal yang sangat dinantikan setelah 4 tahun lebih akhirnya terwujud.
"Memang ada dok yang seperti itu?" tanya Ika memastikan.
"Iya, Tuan Ari mengalami kehamilan simpatik. Dikondisi seperti ini ibu hamil tak akan merasakan ngidam apapun, tapi sang suami lah yang akan mengalaminya. Ini terjadi biasanya hingga trimester pertama berakhir, tapi bisa juga berlanjut."
"Saya akan resepkan obat anti mual untuk tuan Aril. Konsumsi disaat dibutuhkan saja. Dan ini resep vitamin untuk nyonya."
Dokter juga menasehati dan menyarankan bagaimana harus memperlakukan Ika selama hamil. Dikarenakan Ika pernah mengalami keguguran dan resiko untuk keguguran juga sangat besar jika salah tindakan.
"Terima kasih dok." ujar keduanya lalu beranjak keluar dari ruangan dokter itu.
Aril sangat menjaga Ika. Tak dia biarkan istrinya lepas dari pelukannya.
....
"Sayang terima kasih. Kamu sudah mau mengandung anakku." ucap Aril sembari mengelus lembut perut Ika yang masih rata.
"Aku juga berterima kasih mas. Mas bahkan sudah mau menunggu selama ini. Menerima keadaanku yang tidak sempurna." jawab Ika lirih.
"Jangan bicara seperti itu lagi. Kamu adalah wanita paling sempurna yang ada dihidupku."
"Nak, papa akan menjaga kamu dan juga mamamu sampai kamu tumbuh besar di dalam perut mamamu. Sehat sehat ya di dalam sana." Aril mengecup perut Ika.
Aril memeluk Ika dengan erat, sungguh kebahagiaannya tak bisa diucapkan hanya dengan kata kata. 25% kemungkinan kini telah dapat terwujud. Keduanya sama sama berjanji dalam hati akan sangat menjaga calon anak mereka ini, sampai nanti waktunya dia akan dilahirkan.
__ADS_1
...☘️☘️☘️☘️☘️THE END☘️☘️☘️☘️☘️...