
'sialan kamu Di,,!! Lagi-lagi buat 'milikku' bangun hanya dengan mencium bahumu. Please go to sleep..
Daddy gak mau mandi lagi!" ucap Tomy pada 'miliknya' lalu memaksakan diri menutup mata menyusul Dian yang sudah lebih dulu ke alam mimpi.
Paginya Dian bangun terlebih dahulu dan merasakan napas teratur di tengkuknya.
Dian melihat perutnya di peluk erat oleh pemuda itu.
Tomy Rafael
Si pemuda pertama yang 'memasukinya'..
Si pemuda yang sudah menjadi cinta pertamanya dari SMP karena Dian ternyata adalah adik kelas Tomy di SMP yang sama.
Dian bersekolah di sekolah SMA Tomy karena mengikuti pria itu. Katakan Dian gila.
Dan
Buta!
Buta karena dengan beraninya memberikan 'mahkota' berharganya.
Tapi entah mengapa Dian tidak merasa menyesal karena ini adalah hari terakhirnya melihat Tomy.
Dian berani mengambil resiko ini karena Ayahnya dipindah tugaskan ke luar kota dalam waktu lama yang membuat Dian terpukul karena tidak akan melihat wajah Tomy kembali. Makanya Dian nekat menorehkan kenangan yang tidak akan dapat dilupakannya tanpa tahu yang terjadi setelahnya.
Dian perlahan menyingkirkan lengan Tomy yang memeluk pinggangnya erat untuk bangun tanpa berniat membangunkan Tomy.
Ternyata Tomy adalah orang yang sulit terbangun jika sudah tidur dengan lelap.
Pelan-pelan Dian memunguti pakaiannya dengan berjalan tertatih karena merasakan perih di pangkal pahanya dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah beberapa lama di dalam kamar mandi dan sudah berpakaian rapi , Dian keluar dari kamar mandi dan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul lima pagi.
Dian beranjak menuju Tomy yang sedang tertidur pulas lalu mengusap sayang rambut tebal pria itu.
"selamat tinggal kak.. Aku senang kakak jadi yang pertama menyentuhku. Aku berharap kebahagiaan buat kakak. Apapun itu.." ucap Dian parau sambil menitikkan air mata pedih.
Setelah mengucapkan salam perpisahan, Dian berbalik untuk pergi tanpa sanggup menatap kearah Tomy lagi. Dian pergi, membawa benih yang tanpa sengaja berkembang di rahimnya.
Ricky Olivia Rafael...
Flashback Off
__ADS_1
"mama!!"
"eh.. Apa sayang?" tanyaku pada Ricky yang ternyata sudah berada di depanku ini.
"mama dipandil oma. dali tadi Liki pandil-pandil mama, tapi mamanya nggak dengel"
Aku melihat Ricky memanyunkan bibirnya lucu yang membuatku gemas berkali-kali.
Ricky Olivia Rafael..
Adalah kesalahanku dimasa remaja .
Namun anehnya aku tidak menyesal sama sekali atas kehadirannya, malah aku sangat menyayangi dan mencintainya.
Mungkin yang aku sesalkan sekarang, karena caranya hadir di dunia ini karena aku tidak berfikir panjang semasa remaja.
Ricky...
Anakku sempat ditolak Ayahku dan menganggap kalau dirinya adalah aib.
Namun karena perjuangan Ibuku untuk meyakinkan Ayah, akhirnya ayah menerima cucunya. Bahkan Ayah sangat menyayangi Ricky, begitupun kakak dan adikku.
Anaknya yang dia bilang paling penurut malah membuat aib dalam keluarga.
Namun, karena kasih sayang Ibu padaku Ayah bisa luluh dan menerimaku kembali ke dalam keluarga ini. Ayah sudah tidak mendesakku lagi untuk mengatakan siapa ayah dari anakku.
"Bu, ibu manggil Dian..??"
"itu ada kurir yang mau ambil barang katanya"
"oh.. Iya sebentar bu, Dian ambil di kamar"
Aku melangkahkan kaki menuju kamarku untuk mengambil beberapa paket yang sudah aku packing dan sudah aku masukkan
kedalam plastik besar.
Alhamdulillah usahaku berjualan online yang sudah berjalan selama dua tahun ini semakin pesat. Sehingga aku tidak lagi merepotkan kedua orangtua ku untuk biaya kuliah dan biaya Ricky. Walaupun kini aku masih tinggal dengan orangtuaku. Sebenarnya aku bisa menyewa rumah, namun dengan keras Ayah menolak karena tidak ingin kecolongan lagi.
Ayah takut aku akan kembali melakukan kesalahan yang sama. Dan akupun pasrah dan memakluminya karena aku pernah mengecewakannya sekali. Dan aku tidak ingin membantah yang akan semakin membuat Ayah kecewa.
"ini bang, coba dihitung. Kalau gak salah ada 15 paket" ucapku sambil menyerahkan dua plastik besar yang berisi pesanan para customer ku itu.
__ADS_1
Sementara kurir ekspedisi langgananku ini terbengong melihat bagian dadaku yang setengah terekspos.
Lelaki sama saja dan aku sudah biasa dengan tatapan seperti ini.
Aku sengaja memakai baju seksi kurang bahan.
Aku memakainya bukan untuk menarik perhatian para pria, tapi aku memakainya agar tidak ada lelaki yang mendekatiku karena pasti mereka menganggap aku wanita murahan. Apalagi sebagian besar masyarakat kita masih sering menilai orang dari penampilan mereka. Dan.. Ya.. Aku memanfaatkan itu. Aku memakainya untuk tameng agar mereka semua mengira kalau aku adalah simpanan pengusaha tua bau tanah. Sehingga setiap kali mereka ingin mengajakku jalan, aku bisa menolak dengan mudah karena mereka mengira aku sudah ada janji dengan om-om dan semacamnya.
Aku menikmati itu, walaupun Ibu ku kurang setuju dengan apa yang dilakukan anaknya. Tapi aku bersikeras dan akhirnya Ibu hanya geleng-geleng kepala tanpa tahu harus bagaimana lagi memberitahu ku. Sedangkan Ayah? Ayahku sepertinya tidak peduli, yang penting aku tidak melakukan kesalahan yang sama dan pulang selalu tepat waktu.
"bang.. Udah puas liatinnya? Sekarang hitung paket saya. Awas ya jangan sampai telat!" ucapku jutek menyadarkan si kurir mesum itu.
"e.. Eh.. Maaf Mbak Dian.. Ini saya mau hitung" ku lihat kurir itu menggaruk tengkuknya gugup dan setelahnya melaksanakan tugasnya.
Setelah semua selesai aku kembali masuk rumah sambil menggerutu.
"dasar mata keranjang. Mata jelalatan kemana-mana, seenaknya mandang-mandang tubuh gw! "
"itu kan salah kamu yang pakai baju anak TK. Jangan salahkan mata lelaki yang melihat, tapi salahkan cara berpakaian mu yang mengundang" ceramah ibuku menimpali gerutuanku yang hanya aku anggap angin lalu.
"Ricky,,!!" panggilku pada anak laki-laki tampanku yang sedang asyik bermain robot-robotannya.
"apa mama??" balas Ricky menengadahkan wajahnya lucu.
Selalu seperti ini, Aku tak perlu harus memanggil Ricky berkali-kali dia akan langsung menjawab panggilanku.
How sweet my boy..
"kita nonton spongebob yuk.."
"ayo!!!ayo!!!"ucap Ricky yang langsung berlari kearahku yang hanya menggunakan tank top tali spaghetti serta celana pendek jauh diatas lutut.
Aku menggandeng tangan Ricky yang semangat menuju kamar kami.
Sementara dari sudut mata kulihat Ibu menghela napas pasrah karena aku kembali mengabaikan nasehatnya.
Maafkan anakmu ini Ibu..
Ini hanya bentuk pertahanan diriku dari pria-pria hidung belang itu walaupun menurut Ibu caranya salah, tapi inilah pilihan ku ibu.
Maafkan aku Bu
__ADS_1