
Mobil Aril sudah sampai di depan rumah Alea. Dengan hati hati, Aril mengangkat tubuh mungil Myli ke dalam gendongannya.
"Myli sampai ketiduran, apa kamu tidak kerepotan tadi Ril?" tanya Mama Alea yang memang menunggu kepulangan cucu kesayangannya itu.
"Tidak sama sekali nyonya, sangat menyenangkan bisa menghabiskan waktu berdua saja dengan Myli. Kalau boleh saya ingin sering pergi berdua dengan Myli Nyonya." ucap Aril setelah meletakan Myli di box bayinya.
"Tentu saja boleh." jawab Mama Alea dengan senang.
"Saya ijin mau melihat Alea sebentar."
"Silahkan saja Ril."
Aril membawa kado yang dipilihkan Myli tadi ke kamar Alea.
"Sore Al, ini aku bawakan hadiah dari Myli, dia yang pilih sendiri lho. Aku simpan disini ya, kelak kalau kamu bangun pakailah ini." Aril menyimpan kado itu di laci nakas samping tempat tidur Alea.
Aril mengusap puncak kepala Alea. Kemudian terkekeh sendiri.
"Kau ingat, waktu keyla menginginkan aku untuk mengelus perutmu yang mulai buncit waktu itu. Aku bahkan belum menjawab mau atau tidak, tapi kau langsung melarang. Aku jadi tahu seberapa posesifnya suamimu itu. Bahkan ketika dirumah sakit, saat aku mengantarmu periksa kandungan. Kau menganggap aku jijik dengan kehamilanmu karena menyuentuh hanya dengan satu jari. Padahal aku sudah ketakutan jika ketahuan oleh suami mu karena sudah menyentuhmu. Apalagi saat memeluk dan menciummu. Haissh..Kau tahu aku begitu ketakutan setengah mati. Aku takut dibunuh oleh suamimu yang posesif itu."
Alea sedikit melengkungkan bibirnya, sebuah senyuman kecil yang tidak begitu disadari oleh Aril.
"Sudah ya, aku pulang. Besok aku akan datang lagi." Aril mengusap puncak kepala Alea lagi. Kemudian lekas pulang.
Aril singgah dulu ke kamar Myli. Dilihatnya Myli masih tidur dengan nyenyak.
"Myli sayang, ayah pulang dulu ya. Besok ayah akan datang lagi." Aril mengecup kening Myli dan mengusap rambutnya dengan penuh sayang.
....
"Ril, bagaimana keadaan Alea?" tanya bundanya saat makan malam.
"Belum ada perkembangan yang bagus bun. Setiap di ajak bicara masih belum merespon apapun."
"Ril, Aril. Kamu itu bodoh. Di kasih harta tidak mau, tapi kamu malah mau ngurus orang sakit. Ngurus bayi juga." protes ayahnya.
"Ayah nggak akan pernah mengerti apapun yang aku lakukan. Aku bukan orang yang gila harta seperti ayah." ketus Aril kemudian beranjak dari kursi.
"Aril sudah selesai bun, mau ke kamar dulu." ucap Aril pada bundanya.
"Dasar anak tidak tahu diri. Sudah diurus dan dibesarkan sampai bisa seperti ini, tidak ada balas budimu. Sekarang kau malah berani mengataiku!!" bentak ayah Aril tersulut emosi.
"Ayah sudah, jangan emosi." rayu bundanya sambil mengusap punggung sang suami.
"Kamu selalu membelanya." keluh ayah sambil berdiri dan meninggalkan meja makan.
__ADS_1
"Sampai kapan hubungan ayah dan anak renggang seperti ini." gumam bunda yang menatap kepergian suaminya.
...
"Selalu seperti itu, apa perasaanku memang tak ada artinya di mata ayah? Dulu aku mencintai Alea tapi ayah tidak setuju karena dia miskin. Sekarang dihatiku masih ada Keyla, tapi ayah menyuruhku menerima Alea karena tergiur hartanya. Dasar matrealistis!!" Aril marah marah di kamar.
Aril tidak bisa berdiam diri dan meluapkan amarah di kamar. Aril memutuskan untuk pergi sebentar. Disambarnya kunci mobil.
Aril melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menuju tempat yang sering dia kunjungi saat dia banyak pikiran seperti sekarang ini.
Di tempat ini, Aril bisa melepas sedikit bebannya. Melihat indahnya lampu kota dari ketinggian, sedikit membuat hatinya tenang. Apalagi ini sudah malam jalanan juga sepi, menambah ketenangan Aril.
"Kapan ayah bisa berubah?" Aril kecewa dengan sikap ayahnya gila harta.
Setelah lebih tenang, Aril tak ingin pulang bertemu dengan ayahnya. Aril pergi ke hotel yang di kelolanya, dan akan menginap disana saja.
Sampai di kamar khusus yang biasa dipakainya untuk istirahat jika sedang di hotel itu, Aril langsung merebahkan dirinya. Tak butuh waktu lama, mata Aril sudah terpejam.
...
Sinar mentari pagi mengusik seseorang yang masih tidur nyenyak di ranjang. Siapa lagi kalau bukan Aril. Masih mengucek mata, dia melihat jam. Dia langsung melompat dari tempat tidur karena jam sudah menunjukan jam 7.
Dia tak ingin telat ke rapat di kantor pusat, secepat kilat dia langsung mandi. Setelah selesai berpakaian rapi dengan stelan formal, Aril bergegas keluar hotel dan menuju kantor.
Rapat akan dimulai pukul 9, sedang sekarang sudah pukul 8 lewat. Aril mengendarai mobilnya sedikit ngebut agar lebih cepat sampai ke kantor.
"Pagi No." sapa Aril lebih dulu.
"Pagi pak, saya sudah menyiapkan segala berkas yang dibutuhkan untuk rapat nanti."
"Baguslah, ayo ke ruang rapat sekarang."
"Baik."
Aril melangkah lebih dulu keluar dari ruangannya diikuti oleh Nino menuju ruang rapat.
Rapat dimulai dan berjalan sekitar dua jam. Setelah rapat Aril langsung melanjutkan kerjanya di ruangannya.
Masih tiga puluh menit sebelum jam makan siang, namun perut Aril sudah melilit minta diisi. Dia ingat jika tadi pagi dia lupa untuk sarapan. Jadilah Aril keluar lebih awal untuk mencari makanan, dia juga mengajak Nino. Namun Nino menolak dengan alasan kerjaannya yang menumpuk.
Aril menuju cafe dekat kantor. Saat akan masuk ke dalam cafe, perut Aril terasa lebih perih. Dia berhenti sebentar sedikit membungkuk untuk menahan sakitnya.
"Tuan anda baik baik saja?" tanya seorang gadis yang dilihat dari pakaiannya sepertinya adalah pelayan di cafe itu.
"Perut saya sedikit sakit." jawab Aril.
__ADS_1
"Mari tuan saya bantu untuk masuk." Gadis itu memapah Aril masuk dan duduk di kursi terdekat.
"Tuan ingin makan?" tanya gadis itu lagi.
"Iya, berikan makanan apa saja. Yang penting cepat." pinta Aril.
"Iya tuan, sebentar."
Tak berapa lama, gadis pelayan itu sudah kembali membawa nampan berisi makanan dan minuman.
"Ini tuan silahkan dimakan dahulu. Dan ini obat maag, sepertinya tuan terkena maag karena telat makan ya." ucap gadis itu sambil memberikan obat yang diambil dari saku bajunya.
"Terima kasih." Aril menerima obatnya.
Aril memulai makannya sedikit sedikit, kemudian menelan obat yang diberikan gadis tadi. Aril beristirahat sebentar, perutnya mulai terasa membaik.
Aril melambaikan tangannya pada pelayan tadi untuk datang mendekat.
"Tuan masih sakit kah?" tanya gadis itu, karena melihat wajah Aril yang masih pucat.
"Sudah agak baikan, terima kasih atas obatnya. Apa kamu juga sering sakit maag? sampai kamu sedia obatnya."
"Terkadang tuan saat sibuk melayani pelanggan sampai lupa makan. Jadi saya selalu menyiapkan obatnya." gadis itu tersenyum.
Aril terpesona dengan senyuman gadis itu yang terlihat sangat manis. Apalagi saat tersenyum terlihat ada lesung pipinya, menambah keimutannya.
"Tuan." panggil gadis pelayan itu sedikit salah tingkah karena terus ditatap olh Aril.
"Tuan." panghil gadis itu lagi sedikit keras.
"Ah iya, maaf. Saya sudah selesai makan. Berapa semua ini?"
"Seratus dua puluh ribu tuan." jawab gadis itu.
Aril menyerahkan dua lembar uang kertas berwarna merah.
"Kembaliannya tip buat kamu. terima kasih obatnya. Kalau boleh tahu nama kamu siapa?" Aril kembali mengulurkan tangannya mengajak gadis itu berkenalan.
Gadis itu agak ragu ragu menerima uluran tangan Aril.
"Ika, tuan" jawab gadis itu dengan lembut.
☘️☘️☘️☘️
Terima kasih buat yang sudah baca..dan selalu setia menunggu up aku.
__ADS_1
Tinggalkan jejak kalian ya like komen vote juga boleh.
Love you readers..😊😊😊🤗🤗🤗😘😘😘