
Ika menunggu kepulangan Aril, dia berbaring di kamar sembari terus menatap hasil foto usgnya. Terdengar suara mobil memasuki halaman rumahnya. Ika menyimpan lagi foto usg itu ke dalam amplop yang juga berisi surat hasil pemeriksaan pada dokter kandungan. Lalu menyimpannya kembali ke dalam laci.
Ika segera keluar kamar, untuk menyambut kedatangan suaminya.
"Sini tasnya." Ika meraih tas kerja Aril.
"Bagaimana keadaan kamu? Sudah membaik memang?" Tanya Aril sembari memeluk pinggang Ika dan melangkah bersama ke kamar.
"Sudah mas. Nggak perlu khawatir. Aku siapkan air mandinya dulu ya." Jawab Ika, meletakan tas Aril ke sofa lalu akan berjalan ke kamar mandi.
Aril menahan lengan Ika lalu menariknya lagi ke dalam pelukannya. Ditatapnya mata istrinya.
"Ada apa mas?" Tanya Ika, merasa aneh saja Aril, karena Aril terus menatapnya.
Aril mengecup singkat bibir Ika, yang selalu terasa manis.
"Tidak, hanya merindukan kamu." Aril kembali mencium Ika, bahkan lebih lama dan dalam.
Ika terbuai, suasana kamar itu berubah jadi panas. Ada yang berbeda saat keduanya bercumbu. Biasanya Aril yang selalu memimpin permainan ranjang itu. Namun kali ini Ika yang meminta untuk memimpin.
Ika tidak ingin jika Aril yang memimpin nantinya akan terlalu keras, karena dia belum tahu jika Ika sedang mengandung. Jadi Ika yang berininsiatif untuk mengatur temponya agar tubuhnya nyaman.
Setelah sama sama merasakan pelepasan. Ika berbaring di samping Aril. Rasanya tubuhnya sangat lelah.
"Sayang, aku suka jika kamu yang memimpin. Terima kasih." Ucap Aril lalu memeluk tubuh Ika.
"Sama sama mas." Ika merasakan hangatnya pelukan suaminya. Lama lama matanya tertutup. Ya dia tertidur.
Aril yang melihat istrinya tertidur lelap, lalu bangun. Dia segera mandi, setelah berpakaian dia ikut berbaring lagi di samping Ika.
...
Beberapa hari kemudian, Ika di ajak makan malam romantis oleh Aril. Karena ini hari spesialnya. Ika ulang tahun yang ke 22.
Aril sudah menyiapkan kado yang indah di dalam kotak kecil yang masih di simpan. Ika, walau pun dia yang ulang tahu juga menyiapkan kejutan untuk suaminya itu.
"Indah sekali mas, kenapa mas memilih tempat ini?" Ika melihat keadaan sekitar, ini berada di sebuah atap bangunan. Ini pertama kalinya Ika datang ke tempat ini.
"Kamu tidak mengenali tempat ini?" Tanya Aril.
Ika lalu mengamati lagi kondisi sekitar, dia melihat gedung di sebrang jalan. Dia sepertinya tahu. Iak lalu berjalan ke tepian bangunan untuk memastikan.
"Ya ampun mas, ternyata ini di atap cafe favorit kita." Ika memegang pagar besi pembatas.
Aril memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Kamu suka?"
"Suka sekali. Terima kasih mas." Jawab Ika dengan senyum mengembang.
Aril kemudian menuntun kembali Ika untuk duduk di kursi yang telah disiapkan. Aril mengeluarkan kotak kado kecil dari dalam saku jas nya.
"Ini hadiah untukmu. Selamat ulang tahun sayang." Aril menyerahkan kado itu lalu mengecup kening Ika.
"Aku buka ya." Aril mengangguk, Ika lalu membukanya.
Terlihat sebuah kotak panjang. Ika sudah dapat menebak isinya. Pasti perhiasan. Dan saat dibuka, Ika melihat kalung indah.
"Indah sekali mas. Terima kasih ya."
"Hem, sini aku pakaikan." Aril meraih kalung itu lalu memasangkannya. Setelahnya Aril mengecup bahu Ika yang terbuka.
"Terima kasihnya nanti ya di kamar." Bisik Aril dengan nada menggoda. Ika langsung membulatkan matanya.
Aril lalu duduk dihadapan Ika, terus tersenyum menatap istri cantiknya.
"Mas, aku juga punya hadiah buat kamu." Ika mengambil kotak yang telah disiapkannya di dalam tas kecilnya.
"Ini apa sayang?" Tanya Arim saat menerimanya.
Aril kemudian membukanya. Matanya terbelalak tak percaya, niatnya malam ini yang memberi kejutan untuk sang istri justru dia sendiri juga dikejutkan. Kotak itu berisi foto usg, alat tes kehamilan yang bergaris dua.
"Sayang, apa ini artinya kamu hamil?" Tanya Aril yang tak percaya.
Ika mengangguk sembari mengullum senyim bahagianya, berhasil mengejutkan suaminya.
"Sebentar lagi aku akan menjadi ayah. Yes..akhirnya aku akan menjadi ayah." Aril menghampiri Ika lalu menariknya dalam pelukannya.
Aril mengangkat tubuh Ika lalu berputar putar. Keduanya tertawa bahagia.
"Mas, sudah turunkan aku. Kasihan dedeknya." Ucapan Ika menyadarkan Aril.
Aril segera berhenti lalu menurunkan Ika. Aril berlutut di hadapan Ika. Mengusap perur Ika yang masih rata.
"Anak ayah, sehat sehat ya didalam sini. Emm tidak tidak. Jangan ayah. Nanti sama dengan Myli. Panggil papa dan mama saja. Iya betul, papa saja. Papa akan selalu menjaga kamu juga mamamu." Aril mengajak bicara calon anaknya. Lalu mengecup perut Ika.
"Terima kasih papa." Jawab Ika menirukan suara anak kecil.
"Aku yang harusnya terima kasih. Karena kamu telah mau menjadi istri juga mengandung anakku. Aku mencintaimu." Aril berdiri lalu mencium bibir Ika.
"Aku juga mencintaimu mas." Ika juga membalas ciuman sekilas Aril.
__ADS_1
Keduanya larut dalam kebahagiaan malam ini.
....
Tak terasa umur kandungan Ika sudah 4 bulan. Kebiasaan setiap pagi, Aril akan mengajak bicara calon anaknya sebelum beranjak dari tempat tidur.
"Selamat pagi, anak papa. Sehat sehat ya di dalam sana. Papa sudah tidak sabar melihat kamu lahir. Tapi masih lama sekali. Masih butuh 5 bulan kamu untuk tumbuh." Aril mengusap usap perut Ika yang sudah membuncit.
Hari ini hari minggu jadi Ika dan Aril agak bermalas malasan di pagi hari ini.
Agak siang keduanya sedang mengahabiskan waktunya di taman belakang. Niat hati ingin bermalas malasan. Ternyata pagi pagi Deni sekeluarga datang.
Myli yang paling cerewet dan berisik. Bima yang belajar merangkak sesekali jatuh terlihat lucu membuat yang melihatmya tertawa.
Aril dan Deni sibuk bermain bola. Myli yang jadi sporternya. Akan berteriak kegirangan siapapun yang mencetak gol. Karena Myli selalu mendukung ayah juga daddynya.
Taman belakang suasana semakin riuh. Dengan bergabungnya papa dan mama Ika. Saat semuanya asik menonton Aril dan Deni yang main bola, dikejutkan dengan teriakan Ika.
Aril langsung berhenti. Mencari sumber suara. Aril sampai membulatkan matanya, melihat Ika yang terjatuh. Aril segera menghampiri Ika.
"Mas, sakit." Rintih Ika sambil memegangi perutnya.
Aril segera menggendong Ika, dan membawanya keluar. Di ikuti Deni juga Alea yang menggendong Bima.
"Ril, pakai mobilku saja." Deni segera membukakan pintu belakang.
Setelah Aril dan Ika masuk, Deni menutup pintunya.
"Bee, kamu hati hati ya." Alea memperingati.
Deni mengangguk saja lalu duduk di kursi kemudi dan mulai menjalankan mobilnya.
"Pa, anak kita." isak tante Salsa yang berada di belakang Alea.
Alea langsung berbalik.
"Tante yang tenang ya, Ika pasti akan baik baik saja. Kita menyusul kesana sekarang ya. Pasti suamiku membawa Ika ke rumah sakitnya. Karena letaknya yang tedekat dari sini." ucap Alea.
"Iya ma, ayo kita berangkat sekarang."
Alea sebenarnya ingin juga segera ke rumah sakit. Tapi dia tidak mungkin membawa anak anaknya ke rumah sakit. Jadi dia memilih pulang lebih dulu. Alea diantarkan oleh sopir tuan Zian.
Di dalam perjalanan, Alea menghubungi seluruh keluarga, termasuk dengan orang tua Aril.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
__ADS_1