
Deni dan Alea menuju kamar pengantin mereka untuk mengistirahatkan tubuh mereka.
"Honey, mandilah dulu. Setelahnya langsung istirahat saja. Karena acara nanti malam akan menguras banyak tenaga." ucap Deni.
Alea pun tersenyum, segera mengikuti perkataan suaminya itu. Tak berselang lama, Alea keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk kimono. Dengan sebuah handuk kecil ditangannya yang dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
Pemandangan yang sungguh membuat Deni tak ingin mengalihkan pandangannya. Bertahun tahun dia menyimpan perasaan cintanya, dan kini cintanya telah berhasil membuat Alea menjadi istrinya.
"Kenapa sayang? Jangan lihatin aku kayak gitu ah malu." ucap Alea karena sadar sedari tadi dipandangi terus oleh Deni.
"Kenapa harus malu honey? Sekarang kan kamu sudah jadi istriku." Deni mendekat dan meraih handuk di tangan Alea dan mengambil alih untuk mengeringkan rambut Alea.
"Terima kasih sudah mau jadi suami aku."
"Terima kasih juga kamu mau jadi istri aku."
Mereka berdua saling menatap melalui ceemin dihadapannya. Deni meraih tubuh Alea agar berdiri, dan membalikkan tubuhnya menghadap dirinya. Deni menatap lekat wajah Alea. Alea yang merasa malu karena diperhatikan terus kemudian menunudukkan wajahnya.
Deni tersenyum melihat istrinya yang malu. Kemudian dikecupnya kening istrinya.
"Aku mandi dulu honey, kamu istirahatlah." Alea mengangguk saja. Setelah Deni memasuki kamar mandi, Alea kemudian merebahkan dirinya di ranjang. Tak butuh waktu lama karena lelah, Alea sebentar saja sudah terlelap.
Deni yang sudah selesai mandi, segera keluar dan ikut merebahkan diri di ranjang bersama dengan Alea. Dikecupnya kening Alea, kemudian dirinya juga ikut terlelap dalam tidur dengan memeluk istrinya itu.
Tok...tok..tok..
Suara pintu diketuk membangunkan sepasang pengantin baru yang tadinya terlelap tidur.
Alea yang bangun terlebih dulu, segera membukakan pintu. Yang ternyata adalah perias yang akan merias dirinya untuk acara malam nanti.
__ADS_1
"Maaf nona, mengganggu istirahat anda." ucap perias itu sopan.
"Ah tidak apa, apakah sudah waktunya?" tanya Alea.
"Benar nona. Tiga jam lagi acaranya akan dimulai, jadi harus dimulai dari sekarang."
"Baiklah, mari masuk."
Perias itupun masuk ke dalam kamar. Ternyata Deni juga sudah bangun. Mungkin sudah tahu kalau yang datang adalah perias jadi dia segera memakai baju santai karena saat tidur bersama Alea tadi dirinya juga hanya memakai handuk kimono.
"Honey, apa kamu lapar? Jika iya aku akan pesankan makanan dari restoran hotel."
"Iya, pesanlah." jawab Alea.
Perias itu sudah memulai aksinya. Memoleskan berbagai alat make up ke wajah Alea. Deni menyibukan diri dengan ponselnya agar tidak terlalu jenuh.
Tak sampai setengah jam, makanan telah diantar ke kamar. Acara merias pun dihentikan sesaat, Alea dan Deni juga perias itu melahap makanan yang telah dipesan Deni tadi. Setelah selesai makan, Alea kembali dirias.
Alea tampak anggun dan sangat cantik. Deni sampai tak berkedip memandangi wanita yang baru beberapa jam lalu menyandang status sebagai istrinya itu.
"Saya undur diri dulu nona." ucap perias itu setelah mengemasi alat alat yang tadi dibawanya.
Setelah perias itu keluar dari ruangan itu, Deni mendekati Alea.
"Honey, kamu cantik." tiga kata yang membuat rona pipi Alea semakin memerah.
"Makasih bee." ucap Alea.
"Bee?" Deni mengulang panggilan Alea padanya.
__ADS_1
"Iya bee, kalau aku madu kamu lebahnya." jawab Alea dengan senyum lebarnya.
"I love you honey." ucap Deni kemudian memeluk Alea erat.
"I love you more bee." jawab Alea.
☘️☘️☘️☘️
Di aula hotel sudah mulai terlihat ramai. Keluarga besar Sanjaya dan Wijaya sudah sibuk memberi salam ke para tamu. Yang sebagian besar tamu adalah rekan kerja dari perusahaan Wijaya dan Sanjaya.
Kini tibalah saatnya pengantin memasuki aula. Saat Deni dan Alea mulai melangkahkan kakinya memasuki aula. Semua mata tertuju kepada mereka berdua. Alea yang berbalut gaun putih yang mewah terlihat sangat cantik dan anggun. Sedangkan Deni juga terlihat tampan dan menawan dengan balutan jas yang serasi dengan Alea.
Mereka berdua berjalan menuju pelaminan. Kemudian satu per satu tamu menyalaminya.
Setelah tidak ada yang naik ke atas panggung, Deni dan Alea ikut berbaur dengan keluarga lainnya.
Setidaknya pesta ini berlangsung sampai tengah malam, namun Deni yang melihat Alea sudah terlihat lelah memutuskan untuk mengajak Alea istirahat. Deni meminta ijin kepada kedua orang tuanya dan orang tua Alea untuk meninggalkan tempat pesta karena sudah lelah. Tentu saja mereka mengerti dan mengijinkannya.
☘️☘️☘️
"Bee, bantuin aku dong susah nih nglepasinnya." pinta Alea sambil menunjuk resleting gaunnya yang berada di punggung.
"Iya, sini." Deni meraih kepala resletingnya dan mulai menurunkannya perlahan. Dia meneguk salivanya kasar karena pemandangan didepan matanya. Terlihat punggung putih Alea yang terekspos.
"Udah belum bee?" pertanyaan Alea menyadarkan Deni dari pikiran kotornya.
"Udah honey." setelah mendapat jawaban dari suaminya, dia segera mengenakan handuk kimono dan melepas gaunnya.
Deni sampai heran dengan istrinya, kok kepikiran buat pakai handuknya dulu sebelum melepas gaunnya. Kalau seperti ini kan Deni jadi tidak bisa melihat tubuh istrinya. Deni segera menepis pikiran mesumnya lagi. Saat melihat istrinya sudah masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Deni melepas jasnya dan merebahkan dirinya yang juga lelah ke atas kasur.