Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
Extra 1


__ADS_3

Deni memutuskan untuk mengubah wajahnya kembali seperti yang dulu. Dengan berat hati, tuan Zian dan istrinya merelakan wajah sang putra menghilang untuk selamanya.


Deni tak ingin hidup dalam bayang bayang Bimo. Dulu dia menerima keadaannya karena hilang ingatan. Tapi skarang berbeda kan. Ingatan Deni sudah kembali sepenuhnya. Dia ingin hidup selayaknya seorang Deni.


Sedikit menimbulkan masalah memang, karena perihal pernikahan keduanya dengan Alea dia sebagai Bimo. Namun tak jadi masalah besar karena seluruh keluarga membantu untuk menyelesaikannya.


Deni dan Alea menjalani hari hari bahagia bersama. Menunggu kelahiran anak kedua mereka.


Aril dan Ika juga sudah kembali ke aktivitas masing masing. Keduanya memutuskan untuk tinggal bersama orang tua Ika. Karena Ika menyadari sang mama yang kembali bersedih karena harus kehilangan wajah putra yang sangat disayangi.


Walau Deni sudah berjanji akan tetap menganggap orang tua Ika sebagai orang tuanya. Tapi tetap saja berbeda, karena wajahnya telah berubah.


"Sayang, " tegur Aril karena mendapati Ika yang termenung.


"Eh, iya mas. Ada apa?" Ika sadar dari lamunannya, ketika mendengar suara sang suami.


Aril ikut duduk di tepian ranjang disampig Ika.


"Kamu kenapa?" Tanya Aril kemudian.


"Aku hanya memikirkan mama mas. Mama masih sedih saja tak bisa melihat wajah kak Bimo lagi pada mas Deni." Terdengar helaan nafas dari Ika.


"Kamu jangan terlalu stres, nggak baik buat kesehatan kamu. Aku lihat akhir akhir ini makan kamu juga sedikit. Aku nggak mau kamu sakit sayang." Pinta Aril sambil mengusap kedua tangan Ika yang digenggamnya.

__ADS_1


"Maaf iya mas, membuat kamu khawatir. Tapi memang aku sedikit kurang fit, mungkin memang karena aku terlalu stres memikirkan mama."


"Udah nggak apa apa. Yang penting sekarang kamu harus lebih perhatikan lagi kesehatan kamu."


"Iya mas. Ya sudah, ayo tidur. Sudah malam." Ajak Ika.


Aril mengangguk lalu merangkak ke atas tempat tidur dan ikut berbaring di samping Ika. Membawa Ika ke dalam pelukannya. Dan keduanya segera masuk ke dalam alam mimpi.


....


"Good morning honey." Sapa Deni saat melihat Alea mulai membuka matanya.


"Morning bee." Jawab Alea masih dengan mengucek matanya untuk memperjelas pandangan matanya.


"Mau langsung mandi?" Tanya Deni.


Belum juga sampai ke depan kamar mandi, Alea sudah berhenti melangkah. Sambil memegangi perut besarnya, Alea mencoba menarik nafas dalam dalam dan perlahan mengeluarkannya.


"Kamu kenapa? Sakit?" Deni yang memang sedari tadi memperhatikan Alea langsung beranjak mendekati Alea.


"Sedikit mas. Sudah tidak apa apa kok. Aku mandi dulu iya." Ucap Alea menenangkan suaminya. Deni menghela nafas lega. Lalu membiarkan Alea masuk ke kamar mandi.


"Jangan di kunci pintunya." Titah Deni. Memang selalu itu yang dikatakan Deni jika Alea memasuki kamar mandi. Bukan tanpa alasan, Deni menyuruh Alea untuk tak mengunci pintu kamar mandi. Itu untuk mengantisipasi kalau Alea butuh bantuan darurat, jadi Deni tak perlu repot repot merusak pintu. Ataupun menunggu Alea membuka pintunya.

__ADS_1


"Iya mas." Teriak Alea dari dalam kamar mandi.


Setelah menunggu lima belas menit, akhirnya Alea sudah keluar dari kamar mandi. Deni selalu siaga menjadi seorang suami. Apalagi ini sudah bulan ke sembillan kehamilan Alea.


Deni bahkan sudah menyiapkan baju ganti untuk Alea.


"Terima kasih mas." Ucap Alea sambil mengenakan baju yang telah disiapkan suaminya itu. Setelahnya Alea duduk di depan meja riasnya untuk sedikit memoleskan alat make up ke wajahnya.


"Aku mandi dulu iya."


"Hem." Alea mengangguk sambil menatap Deni dari pantulan cermin.


"Aduh, kenapa sakit lagi ya." Alea merasakan sakit lagi pada perutnya. Alea mengingat jika hari perkiraan lahir anaknya masih dua pekn lagi. Jadi apa mungkin dia mengalami kontraksi.


Alea memilih duduk di ranjang. Menyenderkan kepalanya di sandaran ranjang dengan kakinya yang dia selonjorkan. Alea memejamkan matanya, sambil terus mengusap perutnya. Alea melantunkan doa dalam hatinya. Meminta kesehatan juga keselamatan saat melahirkan anaknya nanti. Dan juga memohon agar anaknya lahir dengan selamat sehat dan sempurna.


Suara pintu terbuka membuat Alea harus membuka matanya.


"Apa sakit lagi?" Deni memang selalu peka.


"Iya tadi. Sekarang sudah tidak lagi."


"Ayo turun, kita sarapan dulu. Sebaiknya kita ke dokter ya untukk memastikan kondisi kehamilan kamu." Pinta Deni.

__ADS_1


"Iya mas, walau sudah dua kali hamil. Tapi kan waktu melahirkan Myli tidak sampai melahirkan normal. Jadi aku jyga tak tahu bagaimana sebenarnya tanda tanda akan melahirkan." Alea pun menyetujui pendapat Deni.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


__ADS_2