Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
Hasil DNA


__ADS_3

Alea sampai gemetar tangannya saat menerima amplop itu. Perlahan tangannya bergerak untuk membuka amplop itu. Setelah suratnya sudah berada dalam genggaman, Alea menarik nafas dalam dalam. Mempersiapkan diri untuk mulai membaca isi surat itu.


Mata Alea bergerak ke kanan dan ke kiri, membaca setiap kata yang ada di surat itu. Dan mulai menetes air mata, kala membaca kata yang berada di akhir surat itu. Yang menyatakan bahwa hasil tes DNA 99% TIDAK COCOK.


Alea semakin terisak dalam tangisnya. Keyakinannya akan suaminya yang masih hidup bertambah dengan hasil tes DNA yang menunjukan bahwa jenazah yang dikuburkan itu bukanlah suaminya.


Aril yang melihat Alea menangis, tangannya tergerak untuk meraih kertas surat hasil DNA itu.


"Tidak cocok, berarti yang dikuburkan itu bukan jenazah Deni." ucap Aril.


"Pa, ada kemungkinan kan kalau anak kita masih hidup?" Tuan Malik yang ditanya istrinya juga berharap demikian. Tuan Malik memeluk istrinya untuk menenangkannya yang mulai terisak.


Aril meraih bahu Alea, mencoba menenangkan dalam dekapannya. Sesekali diusapnya punggung Alea.


"Suamiku masih hidup. Hiks hiks.." ucap Alea masih dalam dekapan Aril.


"Iya, dan kita harus segera mencarinya bukan. Maka berhentilah menangis." jawab Aril.


Tuan Malik berbicara denan Tuan Aran.


"Ar, kita harus segera melaporkan ini pada pihak polisi. Dengan semua hasil penyelidikan kita sendiri dapat dipastika kalau kecelakaan itu disengaja. Dan dengan jenazah pengganti juga bisa diperkirakan kalau Deni diculik."


"Iya, kita sebaiknya langsung ke kantor polisi saja. Dengan bantuan polisi, kita akan lebih mudah mencari keberadaan Deni." jawab Tuan Aran.


"Aran, Malik." panggil Opa Sanjaya.


"Ada apa Pa?" Tuan Malik yang menyahut.


"Kalian harus berhati hati dalam bertindak. Bisa jadi selama ini kita diawasi kan. Kalian jangan bepergian sendiri, hanya untuk jaga jaga saja." Opa Sanjaya mengkhawatirkan keselamatan keluarganya. Tidak ingin kecolongan lagi seperti yang menimpa Deni dan Alea.


"Iya Pa. Aku akan perketat keamanan kita."


"Iya, aku juga akan memberi penjagaan yang lebih untuk cucu dan anakku kemanapun mereka pergi." sahut Tuan Aran.

__ADS_1


"Dokter, kalau begitu kami semua permisi." ucap Tuan Malik berdiri dari tempat duduknya.


"Iya tuan. Silakan." Dokter pun ikut berdiri.


Seluruh keluarga menjabat tangan dokter itu dan keluar dari ruangan itu.


Sampai di pelataran rumah sakit. Alea meminta ijin untuk pergi ke suatu tempat.


"Papa, Mama, Opa, aku tidak ikut langsung pulang ya. Aku ingin pergi ke suatu tempat dulu." ijin Alea dengan nada lemah dan menundukkan wajahnya.


"Mau kemana sayang?" Mamanya khawatir. Tuan Aran memegang tangan istrinya dan menggelengkan kepalanya saat sang istri sudah melihatnya.


"Iya sayang boleh. Tapi jangan pergi sendiri ya, biar diantar oleh Aril." jawab Tuan Aran kemudian menatap Aril. Aril menganngukan kepalanya saja menyetujui peemintaan Tuan Aran. Tentu dengan senang hati dia mengantar kemanapun Alea mau. Karena tahu kini Alea sedang butuh waktu sendiri.


Alea setuju, dengan langkah gontai dia menuju mobil Aril. Aril dengan segera mengikutinya dan membukakan pintu mobilnya untuk Alea. Setelahnya Aril duduk di kursi kemudi. Aril mulai melajukan mobilnya ke jalan raya.


"Mau kemana Al?" tanya Aril, karena tak tahu tujuan Alea pergi.


"Ke tempat kecelakaan itu Ril." jawab Alea, setelahnya dia kemballi termenung. Hanya menatap ke arah luar mobil.


Aril mematikan mobilnya. Alea dengan perlahan turun dari mobil. Seketika air matanya lolos dari pelupuk matanya begitu saja. Alea sampai sesenggukan, mengingat kejadian yang sudah dua tahun berlalu.


Aril mendekati Alea, meraih bahunya dan menyandarkan kepala Alea pada bahunya.


"Sudah jangan menangis lagi. Harusnya kamu bahagia kan setelah mengetahui kalau tubuh yang telah dikubur itu bukan Deni."


"Iya aku tahu harusnya aku bahagia. Namun bila mengingat selama dua tahun ini dia tidak pulang aku jadi sedih. Dimana sekarang suamiku berada? Apakah dia tidak merindukan aku? Apakah aku sudah tak berarti di hidupnya?" Alea semakin terisak.


"Ssttt, jangan bicara seperti itu. Dimana pun dia, dia pasti akan selalu merjndukanmu. Dia juga sangat mencintaimu Al. Dia akan segera kembali ke dalam pelukanmu." Aril terus mengusap rambut Alea, berharap segera berhenti menangis.


Setelah beberapa menit berdiri di dekat pembatas jalan itu, Aril membujuk Alea untuk pulang.


"Al, pulang yuk. Myli pasti mencarimu, ini sudah lama." perkataan Aril menyadarkan Alea dari lamunannya.

__ADS_1


"Iya, ayo kita pulang." Alea langsung berbalik dan segera masuk ke dalam mobil. Aril juga segera duduk di bagku kemudi dan menjalankan mobilnya menuju rumah Alea.


Dalam perjalanan, Alea kembali termenung. Aril mencoba memecah keheningan dalam mobilnya.


"Al,." panggil Aril.


"Hm." sahut Alea, namun pandangannya tak teralihkan tetap memandang keluar mobil.


"Aku ingin kamu tahu tentang Deni. Mungkin kamu belum diberitahu oleh keluargamu tentang keadaan terakhir Deni."


"Maksud kamu apa?" Alea menatap tajam Aril.


"Maaf aku harus mengatakan ini. Deni mengalami kerusakan pada organ paru parunya. Itu dikarenakan tembakan yang diterimanya waktu penculikan kamu waktu itu. Keadaannya sudah terbilang parah, tidak bisa disembuhkan hanya dengan obat. Satu satunya jalan adalah donor organ, namun tentunya mencari donor sangatlah sulit. Aku bisa menyimpulkan perubahan sikapnya waktu itu, memang sengaja ingin mendekatkan kita. Karena dia sudah putus asa dengan kondisi tubuhnya. Makanya sampai dia membuat surat yang ditujukan padaku yang aku perlihatkan padamu waktu itu."


Alea kembali terisak mendengar penjelasan Aril. Tak menyangka suaminya memang begitu mencintainya. Bahkan dalam kondisi berjuang sendiri melawan penyakitnya, Deni selalu berusaha memberi yang terbaik untuknya.


Alea meratapi kebodohannya sendiri yang tidak mengetahui kondisi kesehatan suaminya. Aril menghentikan mobilnya sejenak. Dia menyesal telah mengatakan semua itu pada Alea.


"Al, jangan menangis lagi. Aku minta maaf ya."


Alea menghentikan tangisannya, dan menghapus jejak air mata di pipinya.


"Tidak, kamu tidak salah. Aku memang bodoh, membiarkan suamiku berjuang sendirian. Sekarang giliranku untuk berjuang, aku harus kuat kan. Untuknya juga Myli. Terima kasih, kamu selalu berada disisiku." Alea berusaha mengulas senyum tipis di bibirnya.


"Aku akan selalu ada kapanpun kamu butuh Al, aku janji."


"Ril, jangan berjanji apapun. Aku takut kamu akan terbebani akan janjimu itu suatu saat nanti." tolak Alea.


"Nggak Al, aku sudah menganggap kamu seperti adikku sendiri. Aku tetap berjanji akan selalu berada disampingmu dimanapun dan kapanpun kamu membutuhkan aku." Aril meyakinkan Alea.


Aril dan Alea saling menatap dan tersenyum bersama. Kemudian Aril kembali menjalankan mobilnya.


☘️☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


Well, kita cari yuk si Deni di umpetin dimana😁😁😁


lanjut kuy..👌👌👌


__ADS_2