Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
Pindahan


__ADS_3

"Nak, kamu sudah kemasin semua barang kamu?" tanya Ibu pada Alea.


"Udah kok bu, Ibu gimana udah selesai? kalau belum ayo aku bantuin." tawar Alea.


"Ibu juga sudah kok, barang ibu kan cuma baju aja. Ya sudah kita makan dulu ya, Papa kamu nanti sore datangnya." ucap Ibu Alea.


"Iya bu." jawab Alea.


...


Deni sedang bermain basket dengan Alea di samping rumah, saat ada sebuah mobil datang. Mobil yang sudah tak asing lagi, yaitu mobil Papa Alea.


"Papa kok udah datang aja sih. Katanya sore?" keluh Alea menghampiri Papanya dan mencium tangannya.


"Papa udah gak sabar buat ngajak kamu pindah. Papa juga udah kangen sama kamu." jawab Papa Alea ingin memeluk Alea tapi dihentikan Alea.


"Stop Pa, aku basah keringat bau tau. Aku mandi dulu aja Ok.?" kata Alea.


Papa Alea mengangguk, kemudian Alea segera ke dalam untuk membersihkan diri.


" Om, apa kabar?" tanya Deni menghampiri papa Alea.


"Baik, gimana kuliahmu?" tanya Papa Alea.


"Lancar Om. Mari Om masuk." ajak Deni.


"Iya."


Deni mempersilakan Papa Alea untuk duduk dan pamit untuk membersihkan diri.


"Om silahkan duduk. Saya juga permisi mau bersih bersih dulu."


"Iya silahkan."jawab Papa Alea.


Alea sudah selesai mandi dan berganti pakaian, dia bergegas turun membawa barang barang yang akan dibawanya ke rumah Papanya.


"Papa lihat Deni nggak?" tanya Alea.


"Di kamar kayaknya, tadi pamit mau bersihin diri." jawab Papanya.


"Ohh, aku ke atas dulu ya Pa." ucap Alea melangkah pergi.


Di ketuknya pintu kamar Deni namun si empunya tidak menyahut. Dibukanya pintu karena tidak terkunci, jadi Alea masuk saja. Terdengar suara gemricik air, tanda kalau Deni masih mandi. Alea duduk di pinggiran ranjang Deni, karena sepertinya yang mandi masih lama, Alea merebahkan diri di kasur.

__ADS_1


Alea memejamkan matanya sejenak, mengingat masa lalunya. Dari susahnya hidup ibu, perjuangannya menjadi seorang ibu tunggal, hingga dirinya sendiri yang selalu berusaha belajar giat agar dapat beasiswa. Kenyataannya sekarang dia telah memiliki segalanya, sebagai nona muda Wijaya.


Alea bersyukur di masa tua ibunya, kembali menemukan kebahagiaan. Alea juga bersyukur, kini keluarganya telah lengkap, di tambah lagi ada seseorang yang sangat mencintainya disisinya. Sungguh Alea merasa yang paling beruntung.


Alea hampir berteriak ketika tubuhnya ditimpa beban berat. Alea membelalakan matanya saat dilihatnya Deni yang menimpa tubuhnya.


"Turun Deni, berat tau." ucap Alea sambil melotot.


" One kiss, I'll let you go."


" What?? No.."


" Two kiss, atau mau yang lain." ucap Deni dengan senyum menggoda.


"Arghh, dasar mesum. Apa hanya itu isi otakmu." ujar Alea kesal sambil mendorong tubuh Deni menjauh. Alea segera bangun dan beranjak pergi. Tapi Deni menahannya lagi. Dia memeluk Alea dari belakang.


"Mau kemana sih Al?"ucap Deni lembut di telinga Alea.


" Aduh jantung bekerja samalah, jangan disko kayak gini." batin Alea.


Karena tak mendapat jawaban dari Alea, Deni menciumi leher Alea. Alea hanya memejamkan mata, menikmati sentuhan yang diterimanya. Karena merasa tidak ada penolakan, Deni membalikkan badan Alea kemudian mencium bibirnya lama. Bibir Deni terus menjelajahi bibir dan leher Alea. Alea terlena, sedangkan Deni hasratnya semakin meninggi dia membuka kancing baju Alea, terpampanglah pemandangan yang menggiurkan. Deni menenggelamkan wajahnya di dada Alea. Alea merasakan perasaan yang aneh, ingin dia ikut menikmati aktivitas ini. Tapi pikiran warasnya datang, menyadarkan kalau yang dilakukan ini salah.


"Den, stop. Stop, ini salah. Please." sedikit teriak Alea mencoba melepaskan diri dari Deni.


Deni pun tersadar dan melepaskan Alea. Terlihat rasa bersalah di raut wajahnya. Deni membenahi pakaian Alea.


"Ok, jangan lakukan ini lagi. Sebelum kita resmi menikah nanti." kata Alea.


"Ayo turun, aku akan pergi." lanjut Alea.


Deni mengangguk, dan mengikuti Alea dari belakang.


Deni dan Alea ikut duduk di ruang tamu yang disana juga sudah ada Opa Sanjaya dan ibunya juga.


"Sayang ayo berangkat sekarang." ajak Papa Alea.


Alea dan Ibunya berpamitan pada Deni dan Opanya. Kemudian pergi menaiki mobil bersama Papanya.


Setengah jam perjalanan, mobil telah sampai di sebuah rumah besar dan mewah. Halamannya juga luas, terdapat juga garasi yang terisi beberapa mobil juga.


" Ini rumah siapa pa?" tanya Alea takjub.


" Ini rumah kamu sayang. " jawab Papa Alea.

__ADS_1


"Hah, Papa jangan bercanda." ucap Alea tak percaya.


"Papa nggak bercanda sayang, rumah ini memang atas nama kamu. Sudah ayo masuk." ajak Papa Alea menuntun putrinya untuk masuk ke dalam rumah.


"Ini ruang tamu. Disana ruang keluarga dan disana ruang makan dan dapurnya." kata Papa Alea menjelaskan. "Ayo ke lantai atas, Papa tunjukin kamarmu." lanjut Papanya.


Alea dan ibunya mengikuti dari belakang menuju lantai atas.


"Nah ini kamar Papa dan Mama, sebelah itu ruang kerja Papa. Dan ruang yang paling ujung sana adalh kamarmu. Dan yang diantara kamarmu dan ruang kerja Papa kamu lihatlah sendiri. Papa mau istirahat dulu." setelah bicara Papa Alea menarik ibunya juga masuk ke dalam kamar.


Alea melihat itu, didalam pikirannya sudah pasti Papanya itu sedang bermesra mesraan. Alea tersenyum, berniat ingin menggoda Papanya. Sejenak dia berfikir mencari ide. Setelah dapat dia langsung beraksi.


Alea mengetuk pintu kamar Papanya sambil memanggilnya.


"Pa...papa...pa...papa" ucap Alea dengan nada yang dibuat panik.


Benar saja Papanya langsung membuka pintunya. Alea tak bisa menahan tawanya ketika melihat Papanya yang muncul dengan baju yang sudah berantakan.


"Ada apa sayang?" tak mengerti dengan putrinya yang tadinya terdengar panik, tapi yang dilihatnya kini sedang tertawa.


"Maaf Pa, sengaja hehe." ucap Alea berlari menjauh dari Papanya." Pa, jangan beri aku adik. Malu aku sudah kuliah." lanjut Alea yang sudah jauh.


"Dasar bocah, ternyata niat mengganggu. Awas saja kalau berani mengganggu Papa lagi. Papa akan benar benar berikan adik padamu." gerutu Papa Alea kemudian masuk ke kamar lagi dan melanjutkan kegiatan yang tertunda karena ulah iseng putrinya.


Alea masuk ke kamarnya. Dilihatnya kamarnya luas, diluar kamar juga terdapat balkon. Alea menuju balkon, melihat pemandangan apa yang bisa dilihat dari balkonnya.


Dari tempat Alea berdiri, dia bisa melihat sebagian taman yang ada di belakang rumah dan lagi ada kolam renang besar di bawah. Dilihatnya lagi ada sebuah tangga di balkonnya dan itu menuju kolam renang.


Alea kemudian masuk dan membaringkan diri di kasurnya.


Ting..ting.. suara notif ponsel Alea.


Segera Alea membuka ponselnya. Ada pesan wa masuk.


Deni : Bagaimana rumahmu?


Alea : Bagus, aku suka.


Deni : Apa kamu nyaman?


Alea : Tentu saja.


Deni : huhh

__ADS_1


Alea : Kenapa??


Deni : Kau benar bisa nyaman disana tanpa aku??


__ADS_2