
"Terima kasih Ril, kamu sudah mau menjaga Myli selama ini. Terima kasih." Alea kembali menangis. Aril mendekatinya dan duduk disamping Alea. Dirangkulnya bahu Alea, diusapnya. Aril mencoba menenangkan Alea.
"Aku akan selalu sayang sama Myli, walaupun sekarang kamu sudah terbangun dari koma kamu. Oh iya, aku ingin minta ijin kamu. Ijinkan aku tetap memberi kasih sayangku pada Myli. Aku mohon. Aku sudah menganggapnya seperti anakku sendiri. Aku sangat menyayanginya."
Alea menghela nafasnya pelan. Ditatapnya Aril dengan serius, sejurus kemudian Alea tersenyum.
"Tentu saja, aku tak berhak melarang siapapun untuk menyayangi putriku itu."
"Tapi, berfikirlah juga untuk mencari pasangan." lanjut Alea sambil senyum meledek.
"Aiihh... baru berapa hari sih kamu bangun. Sudah bisa bawel sekarang." Aril jengah dengan ekspresi Alea.
"Aku bukannya bawel, aku hanya ingin kau tidak hanya fokus untuk menyayangi putriku saja. Tapi kau juga membutuhkan wanita yang juga menyayangimu." sergah Alea.
"Iya, masih dalam proses." ucap Aril santai lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Maksudmu sudah ada wanita yang sedang kau dekati??" tanya Alea penasaran.
"Tidak ada."
"Tadi bilang ada." bentak Alea karena kesal.
"Siapa yang bilang ada, aku kan hanya bilang kalau masih dalam proses."
"Menyebalkan." Alea berdecak kesal.
"Sudah, aku ingin mulai tugas yang diberikan Tuan padaku. Aku pergi dulu." Aril berdiri meninggalkan Alea ingin mencari Myli untuk berpamitan.
Aril kembali menghampiri Alea dengan Myli di gendongannya.
"Sayang ikut mommy ya, ayah mau pulang." ucap Aril sembari menurunkan Myli dari dekapannya.
"Hati hati ayah." Myli sudah duduk di pangkuan Alea.
"Iya, da da sayang." Aril melambaikan tangannya saat sudah mencapai pintu keluar.
Aril segera pergi mengurus semua hal yang diperlukan untuk uji DNA. Pertama dia pergi ke rumah sakit milik keluarga Sanjaya untuk mencari tahu bagaimana prisedurnya.
....
__ADS_1
"Ika..!!" Aril meneriakan nama itu saat sekilas melihat seseorang yang mirip dengan Ika.
Wanita yang dipanggil itupun menoleh. Saat melihat jelas wajahnya Aril langsung sumringah ternyata benar itu adalah Ika. Aril segera berlari mendekati Ika.
"Mas Aril." Ika pun terlihat terkejut melihat Aril, karena sudah lama sekali mereka tak bertemu.
"Sekarang kamu kerja disini?" tanya Aril.
"Iya mas," jawab Ika dengan senyuman manisnya.
Aril senang sekali bisa bertemu dengan Ika. Sudah putus kontak sejak setahun yang lalu. Malah sekarang dipertemukan di perusahan yang akan bekerja sama dengan perusahaan Sanjaya.
"Ini jam istirahat makan siang kan. Mari makan bersama.." ajak Aril.
"Emm boleh mas, di cafe depan itu saja."
Keduanya bergegas ke cafe yang dimaksud. Aril begitu semangat mengajak bicara Ika, tidak lupa juga meminta kontak dari Ika. Aril tak ingin kehilangan kontak dengan Ika lagi.
"Kamu kerja disana sejak kapan?" tanya Aril disela makannya.
"Baru dua bulan mas."
"Ehemm..Sibuk skripsi mas." jawab Ika sedikit gugup.
"Oh berarti kamu waktu itu kerja sambil kuliah?"
"Iya mas, sekarang sudah lulus. Dan syukur bisa diterima diperusahaan ini."
"Kamu kerja di bagian apa?"
"Di bagian keuangan mas. Sudah mas, kayak wartawan saja dari tadi tanya terus. Makanannya tuh dihabisin dulu."
"Hehe, maaf. Ya habis penasaran sama kamu, kan sudah lama nggak ketemu." sambung Aril kemudian melanjutkan makannya.
"Oh iya, waktu ganti nomor kenapa tidak kabarin aku?"
"Bukannya nggak mau kabarin mas, tapi aku ganti nomor juga karena ponselku hilang. Aku juga nggak ada catatan kontakku." jelas Ika.
"Mas aku sudah selesai nih makannya, aku harus balik ke kantor. Jam istirahatnya mau habis." ucap Ika terburu buru, sambil mengeluarkan dompetnya.
__ADS_1
"Kamu mau apa?" tanya Aril tidak suka menghentikan tangan Ika yang akan mengeluarkan uang dari sarangnya.
"Mau bayar makanan lah mas."
"Kamu pikir aku nggak punya uang." tukas Aril sedikit kesal.
"Bukan gitu maksud aku." Ika nampak bersalah.
"Aku traktir. Lain kali kita makan bareng lagi kamu yang traktir." ucap Aril melepas tangan Ika.
"Eh..Ya sudah kalau gitu. Aku balik ke kantor dulu ya mas."
Aril hanya mengangguk, Ika kemudian meninggalkan Aril yang masih menikmati minumannya. Setelah Ika tidak lagi terlihat, tampak senyum bahagia terlukis jelas di bibir Aril.
"Akhir kita ketemu lagi Ka, aku sangat merindukan senyumanmu itu." gumam Aril.
....
Semua proses untuk pengujian DNA sudah dilakukan, tinggal menunggu waktu kira kira satu minggu baru hasilnya keluar.
Karena waktu kecelakaan yang tidak ada saksi mata, maka waktu itu kejadian itu hanya dianggap kecelakaan biasa. Dan sekarang kecelakaan itu diselidiki kembali, karena Alea memberi keterangan ada yang sengaja mencelakai mereka waktu itu.
Mobil yang menyalip dan tiba tiba memotong jalur dirasa disengaja, karena jalanan saat itu sedang sepi. Tidak seharusnya langsung memotong jalan kendaraannya kalau jalur satunya sedang tidak ada kendaraan lain dari arah sebaliknya.
Orang orang kepercayaan Tuan Malik dan Tuan Aran ikut andil menyelidiki kasus ini. Karena kalau memang ini disengaja, maka pihak yang menginginkan Deni dan Alea celaka ada kemungkinan adalah saingan bisnis mereka.
"Tuan, saya tidak menemukan ada rekaman cctv di jalanan tersebut. Namun di rekaman cctv di jalan lain saya menemukan satu petunjuk." ucap Revan asisten Tuan Aran.
"Apa itu?" Tuan Aran sudah sangat penasaran.
"Lihatlah rekaman ini Tuan." Revan memperlihatkan rekaman cctv yang mengarah ke jalanan sebelum mobil yang Deni tumpangi masuk ke jalan yang menjadi tempat kecelakaan itu.
"Lihat Tuan, itu telihat mobil Tuan Deni yang melintas, beberapa detik kemudian ada mobil lagi. Dan ini cctv dari salah satu rumah yang juga ada dijalanan itu yang jaraknya sekitar dua ratus meter dari pertigaan jalan yang menuju salah satunya jalan tempat kejadian. Dengan jarak dua ratus meter da kecepatan mobil tadi harusnya setelah lima belas detik mobil yang dibelakang mobil Tuan Deni sudah melintas. Namun ini tidak ada. Jadi kemungkinan mobil itu ikut jalur yang dilewati Tuan Deni."
"Dan kembali ke rekaman yang pertama. Setelah mobil asing itu melintas, mobil Tuan Aril juga melintas. Seharusnya dengan jarak itu, Tuan Aril dapat melihat kecelakaan itu." Revan sekarang menatap Aril seperti butuh penjelasan.
"Iya waktu itu memang saya melihat Tuan Deni saat berhenti di toko buah. Saya ingin menghampirinya, karena memang saya ada perlu dengan Tuan Deni. Namun belum sempat saya keluar dari mobil, Tuan Deni sudah masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraannya. Kemudian saya mengikutinya, dan juga ikut berbelok ke arah jalan itu. Tapi saya berhenti karena mendapat telfon dari bunda saya. Setelah selesai bicara, saya melajukan mobil saya kembali. Dan di jalan itu saya sudah melihat mobil yang ditumpangi Tuan Deni dalam keadaan ringsek. Dan tidak ada mobil lain yang melewati jalan itu selama saya ada disana." jelas Aril.
"Tuan berarti tidak salah lagi, mobil yang dibelakang mobil Tuan Deni itu adalah penyebab kecelakaan itu. Sesuai dengan keterangan dari Nona Alea." sahut Revan.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang selidiki mobil itu. Cari informasi sedetail mungkin, jangan sampai ada yang terlewat." perintah Tuan Malik.