
Setelah pernikahan, Deni di sibukkan dengan pekerjaan kantornya. Karena opanya memutuskan untuk segera pensiun. Sehingga Deni belajar untuk mengurus perusahaan perusahaan opanya. Dan tentunya juga dia ingin segera lulus kuliah. Agar bisa fokus ke perusahaan. Melihat suaminya bekerja keras untuk mempercepat kuliahnya, Alea pun juga ingin segera menyandang gelar sarjananya.
Hari hari keduanya dilalui dengan penuh kesibukan, walau begitu komunikasi dan quality time selalu terjaga. Makanya hubungan keduanya selalu mesra saat bersama. Mereka juga sepakat untuk menunda kehamilan selama masih kuliah. Dengan alasan ingin fokus belajar agar cepat kelar kuliah. Dan nanti jika punya anak bisa fokus untuk mengurus anak.
Tak terasa sudah satu tahun pernikahan mereka. Deni masih sibuk dengan perusahaan dan kuliah yang nyatanya masih belum bisa dirinya percepat. Karena konsentrasinya yang terpecah antara kuliah dan pekerjaan. Sedangkan Alea berhasil mempercepat kuliahnya. Kini dirinya tinggal menyelesaikan sidang skripsinya.
Kini keduanya sedang bersantai di kamar. Melepas penat sambil menceritakan kegiatan masing masing hari ini.
"Honey, gimana skripsi kamu?" tanya Deni.
"Minggu depan bee, semoga jadi sidang terakhir. Kamu temenin ya bee.." jawab Alea.
"Iya, aku akan kosongin jadwalku."
"Makasih bee. Tidur yuk."
"Hm, honey..." panggil Deni.
"Hemm." Alea mendongakkan wajahnya melihat sang suami. Dan cup... Deni mencium bibir Alea sekilas. Alea pun tersenyum kemudian membalas mencium bibir Deni juga sekilas.
Deni yang awalnya hanya ingin memberi ciuman selamat tidur, malah jadi menginginkan lebih karena mendapat balasan dari istrinya.
Alea pun juga tak menolak keinginan suaminya itu. Kapanpun suaminya menginginkan dirinya, maka dengan senang hati dia akan melayani suaminya.
Malam ini pun dihabiskan dengan penuh gairah dan cinta.
__ADS_1
☘️☘️☘️
Seminggu kemudian.
"Bee, aku gugup nih. Bagaimana kalau nggak lulus?" ucap Alea yang tak hentinya meremas kedua tangan Deni.
Kini mereka berada di depan ruangan yang digunakan untuk sidang skripsi.
"Udah kamu tenang. Skripsi kamu kan udah kamu siapkan dengan baik. Pasti lulus percaya deh." Deni mengelap keringat dingin yang meleleh di pelipis istrinya.
Tak kunjung bisa menenangkan istrinya. Deni menarik istrinya menuju ke salah satu ruang yang sudah setahun ini juga jadi ruangan Deni bekerja untuk mengurus kampus dan juga perusahaan opa.
Deni segera mengunci pintu setelah keduanya masuk.
"Honey, kalau kamu tetap disana. Aku takut kamu akan gagal karena kamu gugupnya akut sayang. Lihatlah keringatmu sudah seperti habis olahraga bareng aku." kata Deni sambil menggoda Alea.
Alea sejenak melupakan kegugupannya. Dan segera menyeka keringatnya.
"Bener bee, baju aku basah. Aku ganti dulu deh bee." segera Alea ke ruang khusus yang hanya boleh dimasuki Deni dan dirinya. Disana juga ada beberapa pakaian dirinya. Alea cepat mengganti bajunya.
Setelah sekitar sepuluh menit, Alea keluar dan terlihat sedikit lebih segar walau masih gugup. Deni mendekat, kemudian mencium bibir Alea. Bukan hanya sekilas, ciuman mereka berlangsung lama. Deni melakukan itu untuk menyalurkan ketenangan pada Alea. Dan triknya lumayan berhasil.
Setelah ciuman itu Alea sudah bisa mengatasi kegugupannya. Kemudian mereka kembali ke ruang sidang.
Dan tepat saat itu juga giliran Alea untuk masuk.
__ADS_1
Alea menggenggam tangan Deni erat, untuk meminta semangat.
"Ayo honey semangat, kamu pasti bisa.." ucap Deni, kemudian mengecup kening Alea. Alea tersenyum kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan sidang.
Sekitar satu jam lamanya, Deni menunggu di luar ruangan sidang. Akhirnya Alea keluar juga. Namun Deni melihat Alea yang menundukan wajahnya. Deni mengerti, pasti skripsi Alea harus revisi lagi. Ini sudah yang ketiga kalinya. Deni memeluk Alea erat.
"Jangan sedih honey, sidang selanjutnya kamu pasti lulus." kata Deni mencoba menenangkan Alea dalam pelukannya.
"Bee, jadi kamu anggap aku bodoh sampai harus revisi lagi." ucap Alea masih dalam pelukan Deni. Deni yang tak mengerti dengan ucapan Alea langsung melepas pelukannya. Dilihatnya wajah Alea lekat lekat, Alea tersenyum manis.
"Jadi kamu lulus??" tanya Deni tak percaya.
Alea hanya mengangguk saja, Deni kembali memeluk erat tubuh Alea. Sambil menghujani Alea ciuman di pucuk kepalanya.
"Selamat honey, selamat. Kamu memang selalu jadi yang terbaik. Setahun lebih cepat dari yang seharusnya. Aku bahkan belum sampai skripsi. Selamat ya sayang."
Alea melepas pelukan suaminya. Kedua tangannya memegang wajah suaminya.
"Bee, biarpun aku lulus lebih dulu, bukan berarti aku yang terbaik. Kamu tetap yang terbaik bagiku. Selama ini kamu yang selalu ada disampingku, berusaha melakukan yang terbaik untuk aku. Secara tidak langsung kebahagiaan keluargaku juga semuanya berkat kamu. Kalau kamu nggak ngajak aku kesini pasti aku juga nggak akan ketemu papa bee." Alea mengecup kedua pipi suaminya. Deni tersenyum.
"Terima kasih bee, I love you." lanjut Alea.
"I love you too honey." jawab Deni kemudian sekilas mencium bibir Alea.
Keduanya kemudian meninggalkan kampus. Di perjalanan, tautan tangan keduanya tidak peenah terlepas. Senyuman juga tak memudar dari wajah keduanya sampai mobil yang mereka tumpangi memasuki rumah.
__ADS_1