Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
Mengenal kakakmu


__ADS_3

"Kenapa tadi tidak menunggu di rumah kamu saja?" tanya Aril.


"Emm, jalan ke rumah aku nggak cukup buat masuk mobil kak. Maklum gang sempit." Ika menjelaskannya agak gugup.


"Owh gitu. Tapi kamu minta ijin sama keluarga kamu kan?" tatapan Aril penuh selidik.


"Ehh memang kenapa?"


"Ya aku nggak mau aja nanti dituduh bawa kabur anak gadis orang." canda Aril.


"Haha bisa aja mas Aril. Ya iyalah aku ijin tadi."


"Malahan tadi pada semangat banget ngijinin aku pergi sama kamu mas." tambah Ika dalam hati.


Sesampainya di cafe, Ika langsung turun bersama Aril.


"Mas, kali ini aku yang traktir ya." pinta Ika.


"Boleh." jawab Aril sembari menggandeng tangan Ika memasuki cafe tersebut.


Ika memperhatikan tangannya yang digenggam erat oleh Aril. Sampai tidak merasa kalau sudah dilepas karena sudah sampai ke tempat duduk. Aril menarikan sebuah kursi untuk Ika duduki. Ika dengan senang hati langsung menduduki kursi tersebut.


Aril pun duduk dihadapan Ika. Seorang pelayan mendatangi mereka, menanyakan apa yang ingin dipesan.


"Saya mie goreng seafood saja dan lemon tea, kamu mau apa Ka?" Aril menatap Ika.


"Emm, aku pesan roti bakar, chiken finger, dan jus jeruk." jawab Ika.


"Sudah mas mbak?" tanya si pelayan itu.


"Sudah mbak."


"Tunggu sebentar ya mas mbak." pelayan itu kemudian pergi untuk membuatkan pesanan Aril dan Ika.


"Kamu di rumah tinggal sama siapa saja?" tanya Aril memulai obrolan.


"Kedua orang tua aku, sama kakakku mas."


"Kakak kamu laki laki atau perempuan?" tanya Aril lagi.


"Laki laki mas, namanya Bimo."


"Bekerja dimana?" Aril tambah penasaran.


"Owh itu, kakakku tidak bekerja karena masih dalam masa pemulihan."


Aril mengernyit tak mengerti maksud masa pemulihan yang disebutkan Ika. Ika mengerti arti raut wajah Aril.

__ADS_1


"Kakakku dua tahun yang lalu hilang, setelah beberapa bulan tak ada kabar sama sekali. Aku menemukannya dalam keadaan memprihatinkan. Kondisinya sama sekali tak terawat, pakaian yang lusuh. Tubuh pun penuh luka. Bahkan saat aku temukan dia tak mengenaliku dan keluargaku. Aku sedih namun juga sangat bahagia saat sudah bisa berkumpul lagi dengan kakak tersayangku."


"Sekarang keadaannya sudah membaik, tinggal menunggu cidera kakinya sembuh total. Kak Bimo juga sudah kembali ceria, dan kembali sayang pada kami." lanjut Ika diiringi senyuman diwajahnya.


Aril terharu mendengar cerita Ika. Sungguh malang nasib kak Bimo, pikir Aril dalam hati.


"Kapan kapan boleh donk aku main ke rumahmu? Aku ingin berkenalan dengan kakakmu." ucap Aril.


"Emm, kapan kapan ya kak." jawab Ika sedikit ragu, bingung juga. Mau pakai rumah siapa untuk meyakinkan Aril kalau dirinya hanyalah seorang biasa.


"Permisi, ini pesanannya." ucap seorang pelayan yang sudah membawa senampan penuh makanan. Kemudian si pelayan meletakkan makanannya di meja.


"Selamat menikmati." ucap si pelayan itu saat sudah selesai.


"Terima kasih." ucap Aril dan Ika bersamaan.


"Ayo makan dulu, aku sudah sangat lapar." kata Aril memulai menyantap mie goreng seafoodnya.


Ika juga ikut mulai makanannya.


Keduanya menikmati makanan mereka sambil sesekali melempar senyum satu sama lain saat saling bertatapan.


Jarum jam sudah menunjuk ke angka delapan dan dua belas, makanan dimeja sudah tandas sedari tadi. Ika dan Aril larut dalam obrolan mereka. Saling menceritakan kehidupan masing masing. Tentu saja dengan Ika yang masih menutupi identitasnya sebagai anak dari Pak Zian.


"Mas, pulang yuk. Aku takut ibuku khawatir." ajak Ika


Mereka pun beranjak setelah Ika membayar makanan mereka. Aril membiarkan Ika yang membayar agar Ika tak merengek lagi meminta untuk mentraktirnya, karena janji traktiran saat pertemuan kembalinya waktu itu.


Aril mengantar lagi di halte tempat tadi Ika menunggunya. Aril memaksa untuk menemani Ika hingga kak Bimo menjemputnya. Alhasil, Bimo harus kesulitan sendiri karena harus mengambil jalan memutar untuk menyembunyikan mobilnya. Kemudian baru berjalan menghampiri Ika.


"Kak Bimo, kenalkan ini mas Aril."


Aril segera mengulurkan tangannya ke depan Bimo. Bimo belum juga menerima uluran tangan Aril, dia sibuk menelisik wajah Aril yang seperti tak asing untuknya. Ahh, mungkin pernah bertemu di jalan pikirnya.


"Kak.." panggil Ika sambil menggoyangkan satu tangan Bimo, menyadarkan Bimo dari pikirannya sendiri.


"Ah iya, salam kenal aku Bimo. Kakaknya Ika."


"Iya kak, saya Aril." Aril dan Bimo melepas jabatan tangan mereka.


"Terima kasih ya kau sudah mengantar adikku."


"Kan saya yang mengajaknya pergi, tentu saya harus mengantarnya." jawab Aril.


"Jangan terlalu formal begitu, kau aku saja bicaranya. Biar lebih akrab, kan sebentar lagi jadi ca.." Ika langsung membekap mulut kakaknya yang ember itu. Ika tahu apa yang akan di ucapkan kakaknya itu. Sebelum Ika malu dengan ucapan kakaknya itu, lebih baik dia mencegahnya.


"Apa sih dek.?" tanya Bimo kesal, saat tangan Ika sudah lepas dari mulutnya. Ika hanya melototi kakaknya. Bimo hanya cengengesan saja menganggapinya.

__ADS_1


"Ya sudah aku permisi dulu kak. Selamat malam." ucap Aril kemudian.


"Hati hati mas Aril." sahut Ika. Aril mengulas senyumnya, dan berlalu masuk ke mobilnya.


Setelah mobil Aril sudah melaju dan menjauh dari pandangan Ika dan Bimo. Bimo segera menggoda adiknya itu.


"Ciiee calon pacar, lihatin terus tuh jalannya. Mobilnya saja sudah tak terlihat." goda Bimo.


"Kakak.. apa sih dari tadi calon calon terus." gerutu Ika sambil mengikuti Bimo yang sudah lebih dulu berjalan.


"Kakak setuju kok, kalau kamu sama dia. Orangnya sopan, juga tampangnya lumayan tampan. Tapi tetap tak mengalahkan ketampananku." sombong Bimo.


"Iya, kakakku memang paling tampaan." Ika senang kakaknya itu bisa menjunjung dirinya sendiri lagi. Karena sebelumnya, dia sering minder jika keluar rumah karena merasa tidak sempurna saat kakinya tidak bisa digunakan untuk berjalan normal.


"Dek, aku pegal. Aku tunggu disini saja ya. Tuh mobil kakak ada di ujung jalan itu. Ini kuncinya." Bimo menyerah, kakinya memang belum bisa digunakan untuk berjalan jauh.


"Baiklah, kakak duduk disini saja dulu." Ika segera bergegas menuju mobil kakaknya.


Sampai di mobil, Ika langsung mengendarainya. Membawa mobil Bimo menuju tempat istirahat Bimo tadi. Ika melihat kakaknya sedang berkelahi dengan seseorang. Ika tidak diam saja, dia segera turun dari mobil dan membantu kakaknya.


Buugh buugh bugh,, Ika melayangkan pukulan tangannya ke orang asing itu. Karena sepertinya orang itu mabuk berat jadi tak bisa mengimbangi Ika. Alhasil orang itu langsung terkapar. Terlihat dari penampilan orang asing itu seperti preman jalanan, jadi Ika memutuskan untuk meninggalkannya saja.


Ika melihat kondisi kakaknya, yang terduduk di jalanan.


"Kakak tidak apa apa.?" tanya Ika khawatir.


"Kita ke rumah sakit saja ya." tawar Ika.


"Tidak usah Ka, kakak tidak apa apa. Kita pulang saja ya, kakak nggak mau buat mama dan papa khawatir. Nanti panggil dokter saja ke rumah." tolak Bimo.


"Baiklah, ayo aku bantu." Ika segera memapah kakaknya masuk ke dalam mobil. Setelahnya dia segera masuk juga ke mobil dan segera melajukannya. Dia sangat khawatir dengan kondisi kakaknya itu, terlihat sekali kalau kakaknya sedang menahan sakit.


Setelah menghentikan mobilnya di depan pintu rumah, Ika segera membantu kakaknya untuk turun. Karena mendengar suara mobil, pembantu segera membukakan pintu utama. Terkejut melihat tuannya dalam keadaan babak belur. Padahal tadi saat keluar rumah masih baik baik saja.


"Papa, mama.!!" teriak Ika dari ruang tamu.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sudah dulu iya,, lanjuut besok lagi..


Selalu ku ucapkan banyak banyak terima kasih yang sudah mau membaca karyaku.


Jangan lupakan like jua.. tinggalkan jejak kalian berupa komentar juga👌👌👌


👏👏👏👏untuk kalian semua, tanpa kalian aku hanya se..se..apa ya aku lupa mau nulis apa, hehehe maaf ya...bye bye semua


love you fuul pokoknya readers setiaku..juga readersku yang sekedar mampir.. aku nggak lupa kok..apa yang aku terima pasti akan aku balas..,,👋👋👋👋

__ADS_1


__ADS_2