Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
Suka


__ADS_3

"Bim, aku merindukanmu." terdengar sebuah suara yang jelas adalah seorang wanita.


Dengan gerakan cepat Deni mnghempaskan tangan yang melingkar di perutnya. Dan segera membalikkan badannya ingin tahu siapa yang berani memeluknya tanpa ijin.


"Dokter Tya!! Untuk apa anda memeluk saya?" tanya Deni dengan kagetnya namun mencoba untuk tetap tenang.


"Aku merindukanmu Bim. Sudah beberapa minggu ini aku tak melihatmu setelah tidak lagi terapi padaku bahkan pesanku tidak pernah juga kamu balas. Dan aku mendengar jika kemarin kamu masuk rumah sakit. Aku sungguh mengkhawatirkan kamu." terang dokter Tya sambil meraih tangan Deni.


"Maaf dokter Tya, tolong jaga sikap anda." Denj langsung melepas pegangan tangan dokter Tya.


"Apa kamu tidak bisa merasakan kalau aku mencintaimu Bim? Aku ingin kita lebih dekat."


"Maaf dokter Tya, selamanya saya hanya menganggap anda sebagai dokter saya tidak lebih. Dan tolong sekali lagi saya katakan, jaga sikap anda. Saya tidak ingin jika wanita yang saya cintai menjadi salah paham melihat sikap anda yang seperti tadi."


"Apa? Wanita yang kamu cintai? Sejak kapan Bim? Aku tidak percaya. Aku lihat selama ini kamu tidak pernah dekat dengan wanita lain juga kamu tidak punya kekasih."


Bimo menghela nafasnya kasar.


"Terserah anda percaya atau tidak. Saya memang tidak punya kekasih. Namun wanita yang saya cintai akan jadi pasangan saya satu satunya seumur hidup. Jika mau, saya akan perkenalkan anda dengan dia." ucap Bimo kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.


Tya mengikuti langkah Bimo. Dia penasaran juga seperti apa wanita beruntung itu yang bisa mendapatkan hati Bimo, pikirnya.


Bimo langsung meraih pinggang Alea yang berdiri membelakanginya.


"Sayang." ucap Bimo lalu mengecup pipi Alea cepat.


"Kamu ih,, malu tahu dilihatin yang lain. Dari dulu nggak pernah berubah ya." sahut Alea, namun Bimo hanya tersenyum saja.


"Ngapain sih berdiri, tuh sofa juga masih ada yang kosong."


"Tadi aku mau ke dapur, tapi aku belum tahu kan dimana dapurnya. Mau tanya tante Salma, malah keduluan kamu datang. Kamu tadi lama banget diluar kenapa?"


"Oh iya aku sampai lupa, itu dokter Tya yang selama ini bantu aku terapi kakiku datang." ucap Bimo kemudian.


"Mana?" Alea langsung membalikan badan.

__ADS_1


"Loh kok nggak ada, tadi dia ikut masuk. Kenapa sekarang tidak ada." Bimo heran, Tya sudah menghilang.


"Ya sudahlah, namanya juga dokter. Mungkin ada panggilan darurat." ucap Bimo tak mau ambil pusing.


"Padahal aku ingin kenal dia, sayang sekali dia sudah pergi." Alea menyayangkan kepergian Tya.


"Mas dimana dapurnya?" tanya Alea.


"Tuh kamu lihat lorong yang itu, kamu ikutin aja terus belok kanan disana ruang makan. Nanti juga akan kelihatan dapurnya. Memang mau ambil apa sih?" Bimo tak rela Alea pergi dari siainya walau sejenak.


"Mas, aku mau ambilin kamu buah. Mending kamu istirahat sekarang di kamar. Nanti aku bawa buahnya kesana."


"Nggak usah sayang. Kita ngobrol disini saja dengan keluarga kita."


"Jangan, nanti kita digodain sama mereka. Kamu tahu kalau orang tua aku dan kamu sudah kumpul pasti kerjaannya buat kita malu. Aku nggak mau jadi bahan godaan mereka apa lagi di depan Om Zian juga tante Salma." jelas Alea.


"Emang iya seperti itu. Aku jadi pengen ngrasain."


Alea langsung menepuk pelan bahu Bimo.


Bimo memang dari tadi tak melihat adiknya itu. Bimo ingin sekali tertawa melihat ekspresi Aril juga Ika.


"Iya kamu benar. Aku ke kamar deh. Pintu besar warna putih itu pintu kamar aku."


"Iya, aku ke dapur dulu iya." jawab Alea kemudian pergi duluan dri ruang tamu.


Bimo juga pamit ke seluruh keluarga untuk beristirahat di kamar.


Alea mencari dapurnya, setelah ketemu dia langsung membuka lemari pendingin dan mencari buah. Alea mengambil beberapa buah apel dan menaruhnya di piring. Alea membuat teh hangat untuk suaminya juga.


Setelah selesai, Alea membawanya ke kamar Bimo. Sebelum masuk, Alea mengetuk pintu dahulu. Tidak ada jawaban tapi juga karena pintunya tidak dikunci, Alea kemudian masuk.


Ternyata Bimo sedang di kamar mandi karena terdengar gemericik air dari kamar mandi. Alea meletakan buah dan minuman yang tadi dibawanya, di meja dekat ranjang.


Alea lalu melihat lihat suasana kamar Bimo. Terlihat kamar yang tertata rapi juga ada beberapa foto foto Bimo bersama Ika dan keluarganya.

__ADS_1


Alea lalu pergi ke arah jendela, dibukanya jendela itu agar udara luar bisa masuk. Tepat di depan jendela kamar Bimo terdapat yaman kecil yang asri, penuh dengan bunga bermekaran. Sangat sejuk dipandang mata.


Alea bersandar di jendela memejamkan matanya menikmati desiran angin yang masuk ke dalam kamar. Terasa sebuah tangan melingkar ke perut Alea. Alea juga mencium bau shampo yang wangi. Alea membuka matanya.


"Mas, rambut kamu masih basah." keluh Alea saat merasakan tetesan air jatuh di bahunya.


Bimo mencium leher Alea, menghirup aroma tubuh Alea.


"Tolong keringkan," Bimo menyerahkan handuk kecil yang digenggamnya tadi. Alea menerimanya lalu berbalik badan. Alea spontan berteriak dan menutup kedua matanya saat mendapati tubuh Bimo yang setengah telanjang. Dada bidangnya yang putih mulus dan sedikit sekali bulunya terekspos sangat jelas.


"Kenapa?" tanya Bimo sambil terkekeh melihat Alea yang malu.


"Mas kenapa tidak pakai baju?" tanya Alea masih menutup kedua matanya.


"Rambutku masih basah. Nanti bajuku ikut basah." elak Bimo, sebenarnya ingin menggoda Alea.


"Sudah buka matanya?" suruh Bimo. Alea menggeleng.


"Kenapa harus malu? bukankah aku suamimu." Bimo menurunkan tangan Alea yang menutupi matanya.


Perlahan Alea membuka matanya.


"Iya juga, kenapa aku harus malu. Kamu kan suamiku. Ah pasti karena sudah lama tak melihat tubuhmu jadi aku malah salah tingkah begini." ungkap Alea dalam hati.


Mata Alea langsung terbelalak ketika melihat bekas luka di tubuh Bimo. Tangan Alea meraba bekas luka itu, air matanya sudah penuh dipelupuk mata.


"Luka luka ini pasti kamu dapatkan saat disiksa oleh Diana. Bee, aku bersyukur bisa kembali bersamamu saat ini. Walau ingatanmu hilang, namun hatimu masih tetap untukku." ucap Alea di hati, tanpa memikirkan akibatnya tangan Alea terus menyusuri area perut juga dada Bimo yang terdapat bekas luka.


"Sshh...Sayaang.. Kamu mau menggodaku ya." Bimo mengucapkan itu dengan memejamkan mata merasakan belaian tanggan Alea ditubuhnya. Alea langsung mendongak menatap wajah Bimo. Lalu Alea menunduk, melihat ke bagian bawah Bimo. Terlihat sekali di balik celana pendek Bimo si junior sudah menegang.


Alea langsung menepuk pelan dada Bimo.


"Dasar mesum..! Ayo duduk aku keringkan rambutmu." Alea kesal langsung meyeret Bimo untuk duduk di pinggiran ranjang.


Alea berdiri di depan Bimo dan mulai mengeringkan rambut Bimo dengan handuk kecil yang tadi diberikan Bimo.

__ADS_1


"Sayang, kenapa tidak dilanjutkan saja yang tadi. Aku suka loh kamu raba raba aku begitu." ucap Bimo jujur.


__ADS_2