
"Ika masih sibuk dengan pekerjaannya om. Katanya di bagian keuangan ada yang tidak beres. Nanti setelah masalahnya selesai, rencananya Ika dan aku akan mengungkap identitas kami. Kami akan muncul sebagai pemimpin perusahaan." jelas Bimo.
"Semoga masalahnya segera selesai." sahut papanya Alea.
"Makasih om." jawab Bimo.
"Bim, mau makan apa? Biar aku ambilkan." tawar Alea, karena Myli masih saja anteng di pangkuan Bimo.
"Ah tidak usah, nanti saja biar aku yang ambil sendiri." tolak Bimo secara halus.
"Tidak apa apa, kamu tidak lihat kalau Myli masih nyaman di pankuan kamu. Sudah biar aku ambilkan saja." Alea langsung berdiri dan menghampiri meja makanan yang memang ditata secara prasmanan sehingga terserah tamu mau mengambil makanan apa saja.
Alea mengambil beberapa makanan yang dia ingat sekali adalah kesukaan Deni. Setelahnya Alea kembali ke mejanya.
"Ayo makan dulu, Myli sini ikut mommy biar om Bimonya makan." ucap Alea namun Myli menolak.
"No mom. Ili duduk sini aja sama om Bimo." tegas Myli."
"Sudah nggak apa apa, aku bisa makan sambil memangku Myli." jawab Bimo pada Alea.
Bimo meraih piring makannya dan menggeser sedikit mendekat ke arahnya. Bimo juga menawari Myli untuk ikut makan. Dengan senang hati Myli menerima suapan Bimo. Alea sangat senang melihatnya. Melihat anaknya bisa seakrab itu dengan daddynya, walau belum tahu bahwa Bimo adalah benar daddynya.
"Al, kamu kok bisa pas sih ngambil makanannya?" ucap Bimo yang membuat Alea tidak mengerti.
"Pas apanya? maksudnya kurang banyak gitu." jawab Alea.
"Ihh kamu nih, ini saja makannya sudah sama Myli. Bukan begitu maksudku, kamu kok bisa pas gitu ngambilnya makanan kesukaan aku. Aku kan nggak pernah cerita ke kamu." jelas Bimo.
"Emm.."
"Gimana nih, masak iya aku bilang itu makanan kesukaan suamiku. Nanti malah dia salah paham." gumam Alea dalam hati.
"Itu aku asal mengambil saja." Alea beralasan.
"Memang kamu suka dengan udang?" tanya Alea kemudian.
"Iya aku suka," jawab Bimo.
"Myli juga favoritnya udang. Jadi aku sering masak udang, lain waktu coba kamu main ke rumah. Cobain udang masakan aku." Alea mencoba cara agar Bimo mau main ke rumah.
"Boleh juga," jawab Bimo, senang hatinya Alea mengundangnya ke rumah.
"Aku senang Al, jika diberi kesempatan untuk selalu berada di dekatmu. Aku tak akan melewatkan kesempatan itu." ucap Bimo dalam hati.
Acara demi acara berjalan lancar, sesuai dengan yang diinginkan.
Semua tamu undangan membubarkan diri seusai acara. Termasuk juga Keluarga Wijaya dan Sanjaya. Mereka sudah pulang ke rumah masing masing.
__ADS_1
Aril tentu saja tidak akan membiarkan Ika dan Bimo pulang sendiri. Aril mengantarkan menggunakan mobilnya.
Aril kembali menurunkan Bimo dan Ika di halte bis karena permintaan Ika. Aril ingin mampkr, namun Ika menolaknya dengan berbagai alasan. Jadi Aril juga tak mau memaksa. Sebelum benar benar pergi, Aril kembali memanggil Ika.
"Ada apa mas??" tanya Ika setelah mendekat ke Aril lagi.
"Em, besok hari libur kan. Aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat. Mau?" tanya Aril.
"Nanti aku kabarin ya mas, aku harus ijin dulu sama orang tuaku." jawab Ika.
"Baiklah, aku tunggu kabarmu." Ika mengangguk kemudian Aril masuk dan menutup pintu mobilnya setelah sebelumnya melambaikan tangannya ke arah Ika. Ika membalas lambaian tangannya.
Aril melajukan mobilnya kembali untuk pulang. Ika menyusul kakaknya yang sudah jalan terlebih dahulu.
"Kak, tungguin dong." teriak Ika sambil berlari kecil menyusul Bimo.
"Kak, Aril ajak aku pergi besok, boleh tidak?" tanya Ika kemudian saat sudah berjalan disamping Bimo.
"Boleh, memang mau pergi kemana?" tanya Bimo kepo.
"Nggak tahu." jawab Ika santai.
"Nggak tahu mau di ajak kemana aja udah seneng banget. Nggak takut kamu kalau di ajak ke hotel." Bimo menakut nakuti Ika.
"Ihh kakak, mas Aril nggak gitu tau orangnya. Mas Aril tuh baik, jadi nggak akan berfikiran seperti itu." Ika cemberut.
"Beneran tahu, mas Aril nggak akan kayak gitu." Ika sedikit berteriak karena Bimo sudah jauh di depan.
"Kaak." Teriak Ika lebih kencang.
"Apa.." sahut Bimo namun tak menghentikan langkah kakinya yang panjang.
"Tungguin kenapa sih. Aku jalannya nggak bisa cepat karena pakai gaun dan heels ini." keluh Ika.
"Iya iya." jawab Bimo sembari berbalik dan melihat adik kesayangannya itu sedikit terseok untuk berjalan lebih cepat. Bimo menahan tawanya.
"Kenapa?" tanya Ika ketus, ketika menyadari kakaknya itu membuat ekspresi yang menurutnya aneh. Bimo tak dapat lagi menahan tawanya.
"Ha ha ha, kau itu lucu sekali. Sudah ayo pulang. Nanti ijin sama papa dan mama." ucap Bimo kemudian merangkul bahu Ika, mengajaknya berjalan bersama.
"Dek, menurut kamu Alea itu seperti apa?"
"Emm.. mbak Al itu orangnya baik, pintar, cantik juga. Kenapa?"
"Kalau aku suka sama dia, salah nggak sih dek?"
"Kakak cinta sama mbak Al?" Ika menatap Bimo serius.
__ADS_1
"Iya, sejak pertama bertemu ditaman waktu itu. Hati kakak langsung terpaut sama dia. Sebenarnya kakak juga sadar kalau Alea sudah bersuami kan."
Ika yang sudah pernah diceritakan Alea tentang diri Bimo sebenarnya, tersenyum dalam hatinya.
"Kak Alea pernah cerita, sebelum kejadian naas itu, kondisi suaminya sedang sakit parah. Jadi mbak Al sudah pasrah karena selama dua tahun sudah suaminya tidak kembali. Mbak Alea tidak yakin jika suaminya akan kembali. Jadi kalau memang kak Bimo mencintai mbak Alea, perjuangkanlah. Jika kalian berjodoh pasti akan dimudahkan oleh Allah." Ika mendukung Bimo.
"Menurutmu seperti itu?"
Ika mengangguk yakin. Bimo memikirkan pendapat adiknya.
Akhirnya sampai juga dirumah besar mereka. Ika mengesah lelah, dia bahkan duduk santai dulu di teras. Sedang Bimo langsung masuk ke dalam rumah.
"Bim, Ikanya mana?" tanya mamanya yang baru keluar dari arah dapur.
"Diluar tuh ma, kecapekan karena tadi jalan kaki dari depan komplek." jawab Bimo.
"Kalian ini seperti tidak punya uang saja. Ngapain jalan kaki, taksinya kan bisa sampai depan rumah." keluh mamanya.
"Ya ampun mama, tanyakan saja pada putri kesayangan mama itu, kenapa harus jalan kaki. Sudah ya ma, aku capek juga mau istirahat."
"Ya sudah sana." usir mamanya. Bimo melangkahkan kakinya lagi menuju kamarnya.
"Kamu kayak habis marathon aja sih Ka." ucap mamanya saat sudah ikut duduk di kursi di samping Ika.
"Eh mama, hehe. Sudah lama nggak olahraga jadi baru jalan sebentar saja sudah capek." jawab Ika sambil nyengir.
"Memang kenapa sih kok jalan kaki?" tanya mamanya kepo.
"Tadi di antar mas Aril ma, makanya jadi turun di halte depan komplek." keluh Ika
"Lagian kamu juga, salah sendiri pakai nyamar nyamar segala. Jadi susah kan sekarang. Mama sama papa pengen kenal Aril secara langsung sebagai orang tua kamu saja nggak bisa." gantian mamanya yang mengeluh. Ika hanya tersenyum kecut mendengar perkataan mamanya.
"Kapan kamu bilang ke Aril yang sebenarnya?"
"Nanti lah ma, setelah masalah perusahaan selesai. Sudah ya ma, aku mau istirahat di kamar, capek." Ika beralasan untuk menghindar lebih dulu, kalau tetap disitu bersama mamanya tidak akan selesai selesai ngobrolnya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Besok lanjut lagi ya..authornya lagi sibuk dulu dengan kerjaan di dunia nyatanya..
👌👌👌jangan lupa, tinggalkan jejak kalian..like komen, vote dan tips apalagi..mau banget..
yang mau komen jangan takut, sebisa mungkin akan aku balas. kalau ada yang perlu balasan..😁😁😁
love you readers setiaku...
Bye bye semua..lannjuuut👋👋👋
__ADS_1