
Happy reading..!!!!
☘️☘️☘️☘️
"Baiklah, sekarang selidiki mobil itu. Cari informasi sedetail mungkin, jangan sampai ada yang terlewat." perintah Tuan Malik.
"Baik Tuan." ucap Revan dan segera pamit undur diri untuk melakukan tugasnya.
"Apa selama ini kalian ada musuh?" kali ini Opa yang berbicara. Melayangkan tatapannya kepada Tuan Aran dan Tuan Malik bergantian.
"Tidak Pak, saya tidak merasa ada musuh." jawab Tuan Aran.
"Apalagi aku Pa, selama ini juga kita nggak pernah dapat serangan apapun. Kecuali teman sekampus mereka dulu." jawab Tuan Malik.
"Oh iya, Diana. Bagaimana dia sekarang? Apa masih dipenjara?" Tuan Malik bertanya pada Tuan Aran karena waktu itu yang mengurus adalah dia.
"Aku dengar dulu putusan hakim akan memenjarakan dia selama 10 tahun." jawab Tuan Aran.
"Tuan, dulu saya sempat dengar kalau wanita gila itu berkata dia rela jadi wanitanya seorang penjahat agar bisa balas dendam. Apa mungkin penjahat itu yang mencoba mencelakai Deni dan Alea?" sela Aril.
"Mungkin saja, jadi balas dendam karena kita mssukin Diana ke penjara. Coba kamu cari tahu perihal Diana Ril, mungkin saja ada petunjuk." titah Tuan Malik.
"Siap Tuan, selagi ini juga masih siang. Saya akan langsung ke penjara sekarang." pamit Aril.
Ketiganya yang masih duduk hanya mengangguk saja, mengijinkan Aril untuk pergi.
....
Di penjara, Aril segera menemui sipir untuk meminta bertemu dengan Diana.
Selang beberapa menit, sipir itu kembali namun sendirian.
"Maaf Tuan, ternyata napi yang bernama Diana sudah tidak berada disini lagi. Dia dipindahkan ke penjara kota S sebulan paska putusan hakim." jelas sipir penjara itu.
"Benarkah, ya sudah terima kasih pak atas informasinya. Saya permisi."
Aril pun meninggalkan kantor polisi, karena letak kota S lumayan jauh. Pasti kalau berangkat sekarang pun percuma keburu jam besuknya lewat. Maka Aril memutuskan untuk kembali ke kantor, setelah mengirim pesan pada Tuan Malik tentang kepindahan Diana ke penjara kota S itu.
....
Sampai di kantor, Aril langsung mengerjakan beberapa tugas yang tertunda.
Tokk..tokk.
"Masuk." jawab Aril.
Nino masuk ke dalam ruangan Aril, dengan membawa berkas berkas yang membutuhkan tanda tangan Aril.
"Ini tuan, berkas berkas ini perlu tanda tangan anda. Dan juga anda ada jadwal meeting ulang dengan Pak Zian nanti setelah jam pulang kantor."
__ADS_1
Aril mengerutkan dahinya, bukankah meeting beberapa hari lalu sudah mencapai kesepakatan.
"Kenapa harus meeting ulang??"
"Begini tuan, Pak Zian ingin sedikit mengubah detail desainnya." jawab Nino.
"Ya baiklah. Dimana kita akan bertemu?" tanya Aril sembari membuka berkas berkas dan membubuhkan tanda tangannya.
"Di cafe dekat perusahaan Pak Zian tuan."
Aril menumpuk kembali berkas yang sudah selesai dan diberikan pada Nino. Nino kembali ke ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya.
Aril teringat dengan Ika, karena sibuk ikut mengurus kasus kecelakaan Deni jadi jarang menghubungi Ika.
Aril segera meraih ponselnya, niat hati ingin mengajaknya makan setelah meeting dengan Pak Zian.
"Ka, nanti sore makan bareng yuk, sepulang kantor." isi pesan yang dikirim oleh Aril untuk Ika.
Tak berapa lama ada balasan dari Ika.
"*Boleh mas, dimana?"
"Di cafe dekat kantor kamu saja*." balas Aril.
"Oke mas. sampai jumpa nanti. Aku mau lanjut kerja dulu." balasan Ika.
"Iya, yang semangat kalau kerja.😉😉" pesan terakhir Aril yang sudah tak dibalas oleh Ika.
....
Pukul 15.30 Aril dan Nino sudah keluar kantor menuju cafe dekat kantor Pak Zian yang juga tempat Ika bekerja itu. Tiga puluh menit kemudian Aril dan Nino sudah sampai di depan cafe.
Setelah memarkirkan mobil, keduanya langsung masuk ke dalam cafe. Nino mengirim pesan pada sekertaris Pak Zian, memberitahukan bahwa mereka sudah sampai di cafe.
"Ika.!!" teriak Aril saat melihat Ika masuk ke cafe tersebut. Ika mendengarnya dan langsung menghampirinya.
"Eh mas Aril sudah lama?" tanya Ika saat sudah berdiri di samping Aril.
"Baru saja masuk. Kita duduk saja disana." Aril langsung berdiri dan pindah tempat duduk yang kursinya hanya dua.
"Woy, ketemu cewek gue langsung ditinggalin nih. Nggak dikenalin lagi." tegur Nino yang sedikit kesal yang seperti tidak dianggap.
"Ehehe sorry bro. Ka kenalin ini temen aku sekaligus asisten di kantor."
"Nino." ucap Nino sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum manis.
"Ika mas." jawab Ika dengan menyambut uluran tangan dari Nino.
Nino terpesona dengan senyuman Ika hingga lupa untuk melepas jabatan tangannya.
__ADS_1
"No, tuh tangan mau lepas sendiri atau gue yang lepas." geram Aril melihat kelakuan sahabatnya itu.
Nino tersadar akan kelakuannya, dan buru-buru melepas tangannya.
"Sorry," ucap Nino sambil cengengesan.
"Sudah Ka , ayo duduk disana." ajak Aril.
Ika mengikuti Aril untuk memilih tempat duduk yang cuma dua kursi saja, letaknyaa agak jauh dari Nino.
"Mas Aril, kok nggak gabung saja sih sama mas Nino??" tanya Ika saat sudah duduk.
"Aku kesini mau meeting sama klien. Makanya perginya sama Nino. Biarlah dia duduk disana, sambil tunggu klien juga."
"Kalau mas mau meeting, nanti aku ganggu dong. Mending aku pulang saja ya..." Ika merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa Ka, meetingnya hanya mengubah sedikit desin pasti tidak akan lama. Lagian yang mengajak kamu makan kan aku. Aku sama sekali tidak merasa terganggu, malahan senang aku bisa makan berdua denganmu." jelas Aril.
"Kamu pesanlah dulu, aku nanti saja setelh ketemu kliennya." pinta Aril.
Ika pun setuju, lalu memanggil pelayan untuk memesan.
"Mas jus jeruk satu ya." ucap Ika, setelah pelayan berdiri disampingnya.
"Iya, apa lagi mbak?" tanya pelayan itu.
"Itu saja dulu mas." jawab Ika.
"Baik, tunggu sebentar ya mbak." balas pelayan itu kemudian pergi segera membuatkan pesanan Ika.
"Kok cuma minuman, nggak makan?" tanya Aril.
"Nanti saja bareng mas Aril." Ika menjawab sambil tersenyum.
Keduanya dikejutkan dengan kedatangan Pak Zian.
"Mas Aril, sudah lama?" Pak Zian sudah berdiri di samping Aril dan belum melihat orang duduk didepan Aril.
"Baru saja pak, mari duduk disana saja. Bersama dengan asisten saja. Ka aku tinggal dulu ya." ucap Aril yang menyadarkan Pak Zian untuk melihat teman duduk Aril.
Pak Zian nampak terkejut dengan adanya Ika disitu. Sedangkan Ika nampak salah tingkah.
"Sore Tuan Zian.." ucap Ika sambil berdiri dan membungkukan badan sedikit untuk memberi hormat pada atasannya tersebut.
"Sore.." jawab Pak Zian yang masih merasa sedikit bingung. Sedang Aril tak merasa ada yang aneh. Wajar saja jika Ika mengenal Pak Zian, karena Pak Zian adalah atasannya.
"Mari Pak." ajak Aril untuk duduk bersama dengan Nino. Pak Zian mengikuti arahan Aril.
"Sebentar ya Ka, aku meeting sebentar." Aril meninggalkan Ika. Ika hanya mengangguk saja.
__ADS_1
☘️☘️☘️☘️☘️