Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
Masih menunggu


__ADS_3

Aril kembali ke kantor. Terlihat meja kerja Nino kosong. Aril lalu melihat jam tangannya, ternyata masih jam makan siang. Aril kemudian berlalu ke ruangannya.


"Mumpung masih jam istirahat, iseng ah telfon Fiko. Sudah lama juga nggak ngobrol sama dia."


Aril segera mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya. Dan langsung menelfon teman lamanya itu. Setelah menunggu beberapa detik panggilan sudah tersambung.


"Halo Ko,"


"Hei Ril, apa kabar lo? Tumben telfon gue, kenapa?"


"Baik, nggak ada apa apa. Gimana kabar dan kerjaan lo?"


"Baik juga, kerjaan lancar banget Ril. Ini gue malah mau di promosiin jadi kepala divisi rekruitment model."


"Wah tiap hari cuci mata dong lo. Lihat yang bening bening mulu."


Fiko tergelak mendengar ucapan Aril.


"Yoi dong bro, lumayan kali aja ada satu yang nyangkut di hati gue. Ha ha ha..Oh iya, ngomong ngomong gimana tuh kabarnya si Alea sepeninggal Deni?"


"Lo tahu dari mana kabar itu? Perasaan gue nggak peenah cerita sama lo."


"Lo lupa kalau nyokap tetanggaan sama opanya Deni."


"Oh iya, lupa gue. Alea sejak kecelakan yang menimpanya dan merenggut nyawa Deni itu, dia sampai sekarang masih koma. Sama sekali tak ada perkembangan padahal ini sudah beberapa bulan." Aril tampak lesu membicarakan kondisi Alea.


"Kasihan, lalu gimana anaknya?"


"Anaknya selamat dan sehat. Di asuh oleh orang tua Alea. Oke gue mau lanjut kerja nih. Kapan kapan kita sambung lagi."


"Oke oke, gue juga masih banyak kerjaan."


Aril kembali melanjutkan pekerjaan yang dia tinggalkan tadi. Lagi pula sakit pada perutnya juga sudah tak terasa lagi.


...


Hampir setiap hari Aril makan siang di cafe dekat kantornya itu. Setelah pertemuannya dengan Ika, membuatnya selalu ingin melihat senyum Ika. Senyuman itu membuat hati Aril damai. Entah perasaan apa itu.


Semakin hari juga Aril dan Ika semakin akrab, apalagi Aril menjadi langganan di cafe itu. Bahkan keduanya juga sudah bertukar nomor ponsel.


"Mas Aril, mau makan siang ya?" tanya Ika saat melihat Aril yang sudah duduk di dalam cafe.


"Iya nih, Seperti. biasa ya Ka." ucap Aril, karena seringnya Aril makan siang disana dan menunya selalu sama makanIka jadi sudah hafal apa yang dimau Aril.


"Tunggu sebentar ya mas," Ika tersenyum kemudian segera ke dapur.

__ADS_1


Tak berapa lama Ika sudah kembali membawa makanan pesanan Aril.


"Ini mas, silakan menikmati." ucap Ika lalu ingin beranjak pergi.


"Ka, tunggu. Temani aku makan. Sambil mengobrol sebentar." Ika diam tak merespon.


"Aku traktir makan siang deh." tawar Aril, agar Ika mau tinggal.


"Nggak usah mas, nggak perlu. Nanti saya bisa ditegur sama manager cafe kalau mengobrol di jam kerja." Ika beralasan.


"Sudah duduk saja. Nggak akan di marahi. Aku kenal yang punya cafe malah." Aril menarik tangan Ika dan memaksanya duduk di depannya.


"Ingin makan apa?" tanya Aril kemudian.


"Tidak perlu mas, saya tadi sudah makan siang dengan bekal saya."


"Setiap hari kamu bawa bekal?" tanya Aril disela makannya.


"Iya mas, lumayan kan mengirit pengeluaran juga."


Keduanya terus mengobrol sampai makanan Aril habis. Aril sebenarnya masih ingin mengobrol, namun karena sama sama kerja jadi Aril harus segera kembali ke kantor. Sedangkan Ika juga harus kembali bekerja.


...


"Ada apa? Sampai beliau yang datang mencariku?"


"Tidak tahu Tuan, beliau tidak mengatakan apapun."


"Lalu beliau sekarang ada dimana?"tanya Aril sebelum masuk ke ruangannya.


"Ada di dalam."


Aril segera masuk.


"Tuan Malik." Aril membungkukan badan memberi hormat pada tuannya itu.


"Duduklah." Aril kemudian duduk di depannya.


"Ada keperluan apa Tuan? Hingga Tuan datang kesini. Harusnya saya lah yang mendatangi tuan."


"Tidak ada apa apa. Aku hanya ingin mengobrol sebentar denganmu."


"Bagaimana perkembangan Myli? Kau masih mengunjunginya setiap hari?" tanya Tuan Malik.


"Iya Tuan. Sekarang dia semakin lucu saja. Dia sudah pintar berguling guling saat diletakan di kasur atau di karpet. Dia tak bisa diam sama sekali, dia akan berhenti hanya ketika tidur saja. Myli juga sudah mulai makan bubur sekarang, membuat tubuh anak itu semakin gembul saja." Aril dengan senyum bahagia menceritakan Myli.

__ADS_1


"Aku jadi merindukan cucuku. Sudah dua minggu ini aku tidak mengunjunginya, karena sibuk dengan perjalanan bisnis keluar kota." Tuan Malik juga tersenyum membayangkan kelucuan cucu satu satunya itu.


"Aku sangat berharap sekali Alea segera bangun dari tidur panjangnya. Dan mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepada anaknya." lanjut Tuan Malik.


"Saya pun demikian Tuan. Aku sudah menyayangi Alea seperti adikku sendiri. Walau kasih sayang yang di dapat Myli dari orang sekitarnya sangat cukup. Tetap saja dia membutuhkan ibunya." ujar Aril.


"Aku masih berharap kau mengubah keputusanmu Ril. Penuhilah permintaan terakhir Deni. Terimalah semuanya, aku ingin putraku tenang di alam sana karena peemintaannya terpenuhi."


"Maafkan saya Tuan, saya tetap pada keputusan awal saya. Saya akan menunggu hingga Alea sadar dan memutuskan semuanya. Karena ini menyangkut hidupnya kelak." jawab Aril dengan hormat.


"Saya tidak ingin menyakiti perasaan Alea untuk yang kedua kalinya Tuan. Saya mohon jangan mempertanyakan keputusan saya lagi."


"Ya baiklah. Semoga ini yang terbaik. Aku pergi dulu, lanjutkan kerjamu." Tuan Malik beranjak dari duduknya.


"Iya Tuan, terima kasih sudah menyempatkan diri untuk datang kemari." Aril kemudian menunduk hormat. Setelahnya, Tuan malik keluar dari ruangan Aril.


"Baiklah, mari mulai bekerja. Myli, doakan ayah. Supaya pekerjaan semua cepat selesai. Biar ayah bisa pulang lebih cepat dan lebih lama bermain denganmu." ucap Aril dan memulai pekerjaannya.


....


Sudah waktunya pulang kerja, Aril segera melajukan mobilnya menuju rumah Alea.


Setengah jam kemudian Aril sudah memarkirkan mobilnya di halaman rumah Alea.


Setelah masuk ke dalam rumah, Aril yang melihat Myli sedang disuapi oleh mbak Asih di ruang keluarga segera di hampiri oleh Aril.


"Myli sayang, ayah datang." teriak Aril saat sudah mendekai Myli.


Myli sangat senang melihat kedatangan Aril. Tangannya terus meronta ke atas seakan meminta di gendong oleh Aril.


"Sini mbak biar saya saja yang menyuapi."


Mbak Asih menyerahkan mangkok bubur itu ke tangan Aril. Aril segera menyuapi Myli dengan sangat telaten.


"Wah, Myli semakin banyak ya kalau makan." ucap Aril disela menyuapi Myli.


Setelah habis buburnya, Aril menyuruh mbak Asih untuk memandikan Myli. Myli sangat penurut jika Aril sedang bersamanya. Seakan bocah itu mengerti apapun yang dikatakan oleh ayahhnya itu. Mungkin memang kedekatannya yang semenjak bayi diurus Aril sendiri ketika sedang berkunjung ke rumah Alea.


☘️☘️☘️☘️


Udahan dulu ya..Coz othornya mw tmenin Alea bobok cantik dulu. 🤣🤣🤣..


tpi besok othor bangun lg kok. tenang aja..Akn terus up buat kalian pembaca setiaku..


love you readers setiaku. 😘😘😘😘😊😊😊🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2