Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
Istri dan anakku lebih penting.


__ADS_3

Perjalanan pulang terasa sangat menyenangkan. Alea menyalakan radio untuk mengiringi perjalanan mereka. Tak di sangka lagu favorit mereka di putar. Deni dan Alea menyanyi bersama.


Aku yang tak akan melepaskan


Kamu yang mengenggam hatiku


Kita tak kan mungkin terpisahkan


Biarlah terjadi apapun yang terjadi


Aku yang tak bisa melepaskan


Kamu yang miliki hatiku


Walau mungkin terlalu cepat


Bagi kita berdua


Untuk mengatakan


Selamanya kita akan bersama


Melewati segalanya


Yang dapat pisahkan kita berdua


Selamanya kita akan bersama


Tak kan ada keraguan


Kini dan nanti


Percayalah


Aku yang tak bisa melepaskan


Kamu yang mengenggam hatiku


Walau mungkin terlalu cepat


Bagi kita berdua


Untuk mengatakan


Selamanya kita akan bersama


Melewati segalanya


Yang dapat pisahkan kita berdua


Selamanya kita akan bersama


Tak kan ada keraguan


Kini dan nanti


Percayalah


Hanya dirimu satu-satunya


Tercipta untukku


Selamanya kita akan bersama


Tak kan ada keraguan

__ADS_1


Kini dan nanti


Percayalah


Tak kan ada keraguan


Kini dan nanti


Tak kan ada keraguan


Kini dan nanti


Percayalah


Lagu dari penyanyi wanita kesukaan Alea, yang lagunya tentang janji bersama mereka. Alea berharap cintanya akan bersama selamanya.


"Aku sayang kamu Alea." ucap Deni setelah lagu itu selesai.


"Aku juga sayang kamu mas Deni."


"Mas?" tanya Deni memastikan dia tidak salah dengar kalau Alea memanggilnya mas.


"Iya, mas Deni. Tidak sopan jika aku terus memanggil kamu hanya nama. Karena kamu adalah suamiku, jadi aku harus lebih menghargaimu. Tidak apa kan kalau aku panggil mas?"


"Aku senang malah dengarnya." Deni terus mengulas senyum sejak mendengar panggilan barunya.


Alea ikut tersenyum.


"Mas, aku sangat berharap kebahagiaan selalu menyertai kita."


"Semoga ya Al, aku akan selalu berusaha membuat kamu bahagia." ucap Deni sambil menatap istri tercantiknya.


"Di sisa hidupku." lanjut Deni dalam hati.


Saat Deni kembali fokus ke jalanan, tiba tiba ada mobil yang menyalip mobilnya dengan cepat dan memotong jalur mobil Deni.


Deni yang tak sempat untuk mengerem malah membanting setir ke kiri. Mobil jadi tak terkendali dan menabrak pembatas jalan.


Mobil sampai terguling beberapa kali dan masuk ke dalam parit di sisi jalan yang lumayan dalam.


Mobil yang ditumpangi Deni dan Alea rusak parah. Kondisi Deni dan Alea juga memprihatinkan. Apalagi jalanan sedang sepi tak tahu apa akan ada yang menolong mereka.


"Bee, sakit." lirih Alea. Merasakan sekujur tubuhnya yang sakit semua akibat benturan juga terkena pecahan kaca. Bahkan terlihat darah mengucur dari dahi Alea.


"Alea, bertahanlah aku mohon. Toloong." Deni mencoba berteriak sekuatnya. Mencoba untuk keluar dari mobil namun kakinya tak dapat dia gerakan.


"Akhh." jerit Deni yang kesakitan. Deni meraih tangan Alea yang terkulai lemas karena Alea sudah pingsan.


Deni terus berdoa dalam hati semoga ada yang menolongnya.


"Tuan,!!"


Deni bersyukur doanya terkabul, ada yang datang menolong.


"Deni, kau baik baik saja? Alea..!!" tanya seorang yang datang juga terkejut dengan kondisi Alea. Ternyata adalah Aril.


Aril yang berada di samping pintu kemudi mencoba untuk membukanya. Agar bisa mengeluarkan Deni. Namun pintunya macet.


"Ril, tolong Alea. Cepat keluarkan dia dulu. Segera bawa dia ke rumah sakit." pinta Deni masih dengan menahan sakitnya.


Aril segera berpindah ke samping pintu dekat Alea. Coba dibukanya pintu itu namun sama macet juga. Aril memberi isyarat pada Deni untuk menarik tubuh Alea agar mendekat ke Deni. Aril ingin memecahkan kacanya. Karena kaca sudah retak jadi dengan sekali pukul sudah bisa menghancurkannya.


Aril membersihkan sisa kaca yang masih menempel di pintu agar tak melukai Alea. Selanjutnya Alea langsung mengeluarkan tubuh Alea.


Setelah berhasil dengan Alea, Aril mencoba untuk mengeluarkan Deni. Namun tak bisa sepertinya karena Deni tak bisa pindah tempat duduk ke kursi Alea. Kakinya yang tidak bisa digerakan menghambatnya.

__ADS_1


"Ril, sudah tidak apa apa, cepat selamatkan Alea. Anak dan istriku lebih penting saat ini. Aku bisa menunggu. Cepatlah aku mohon pergilah." ucap Deni.


"Tapi Den,.."


"Aku mohon Ril, cepat."


Aril melihat keadaan Alea yang parah selain luka luka, dia juga mengalami pendarahan di bagian bawahnya.


"Baik, sebelum turun kesini aku sudah menelfon bantuan. Sebentar lagi mereka akan datang kesini. Aku akan membawa Alea segera ke rumah sakit."


"Terima kasih Ril, tolong jaga Alea untukku." ujar Deni lirih sambil menatap tubuh istrinya yang sudah tak berdaya.


Aril mengangguk dan segera menggendong Alea menuju mobilnya. Dengan susah payah, Aril dapat sampai di mobilnya, karena tanah di pinggiran jalan itu lumayan curam kemiringannya. Berjalan sendiri saya bisa terjatuh apalagi dengan Aril yang masih harus menggendong Alea.


Setelah sampai di mobilnya, Aril segera meletakan Alea dengan hati hati. Dia melihat jalanan ke kanan dan ke kiri, namun tak ada satupun kendaraan yang lewat.


"Kenapa disaat genting seperti ini tidak ada mobil lain yang lewat." gerutu Aril. Aril mencoba menghubungi polisi yang tadi dimintai bantuan. Dan kata orang itu sepuluh menit lagi akan sampai di lokasi.


Aril melihat Alea, dengan segala pertimbangan keselamatan Alea dan bayinya. Aril terpaksa tidak menunggu bantuan datang. Dia harus secepatnya membawa Alea ke rumah sakit.


Aril segera melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat dengan kecepatan tinggi. Lima belas menit Aril sudah memarkirkan mobilnya di depan ruang UGD rumah sakit.


Dengan segera Aril turun dan kembali menggendong Alea masuk ke ruang UGD.


"Tolong siapapun. Tolong, cepatlah." teriak Aril sambil meletakan Alea di brangkar.


Dengan berlari tergopoh gopoh seorang dokter jaga dan dua perawat menghampiri Aril.


"Cepat dokter tangani dia." seru Aril.


"Iya serahkan kepada kami. Kami akan melakukan semampu kami. Anda silahkan tunggu diluar dulu." jawab dokter itu. Aril menurutinya.


Dokter segera melihat keadaan Alea. Melihat pendarahan hebat, dokter ingin melakukan tindakan operasi sesar untuk mengeluarkan si bayi. Dokter segera keluar menemui Aril.


"Tuan, pasien harus segera di operasi. Untuk menyelamatkan nyawa si bayi juga ibunya. Karena kandungannya belum genap sembilan bulan, bayi akan beresiko lahir prematur jadi saya butuh persetujuan dari pihak keluarga dahulu." terang dokter itu.


"Iya dokter, lakukan operasinya. Selamatkan ibu juga bayinya." ucap Aril panik.


"Baiklah, silahkan anda ke bagian administrasi untuk tanda tangan berkas berkas yang dibutuhkan. Saya akan segera bawa pasien ke ruang operasi." kata dokter itu, kembali masuk lagi ke dalam UGD.


Aril segera menyelesaikan urusan di bagian admin. Setelahnya pergi menyusul ke ruang operasi.


Karena panik Aril jadi lupa menghubungi keluarga Alea. Aril mencari ponsel di saku celananya dan segera menghubungi tuan Aran juga tuan Malik.


Aril jadi ingat juga pada Deni, Aril segera menelfon polisi untuk menanyakan bagaimana evakuasi Deni.


"Halo pak." ucap Aril saat panggilannya terjawab.


"Bagaimana keadaan penumpang mobil tadi? Apakah sudah dalam perjalanan ke rumah sakit?" tanya Aril.


"...."


"Apaa!!??" Aril sampai berteriak.


☘️☘️☘️☘️


Deni gimana ya...


Terus Alea dan bayinya apakah bisa selamat???


Lanjutin ke episode selanjutnya ya.. tunggu up aku..


Terimakasih semuanya yang mau membaca kryaku ini.. tanpa kalian aku bukan apa apa.


love you readers setiaku..😊😊😊🤗🤗🤗😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2