Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
Menahan


__ADS_3

"Istrimu tak sebaik yang kamu pikirkan." itulah isi pesannya juga terdapat satu video.


Bimo langsung membulatkan matanya saat memutar video itu. Video berdurasi dua puluh detik itu mampu membuat Bimo kembali emosi, dia langsung membanting ponselnya dan berlalu pergi.


Ika sampai terkejut di buatnya. Mau bertanya ada apa pun tak sempat karena Bimo sudah pergi meninggalkannya.


Untung berada di luar aula, jadi suara ponsel yang hancur itu pun tak menarik peehatian para tamu. Ika segera mengikuti langkah kaki Bimo, yang tampak tergesa gesa.


"Kak, sebenarnya ada apa sih?" tanya Ika yang masih belum tahu apa apa.


Namun Bimo tak menjawab apapun, terlihat wajahnya penuh amarah, rahangnya mengeras dan kedua tangannya mengepal. Menandakan dirinya sedang menahan emosi.


Langkah kaki Bimo berhenti pada depan pintu sebuah kamar hotel. Terletak jauh di belakang bagian hotel ini. Bimo menggebrak pintu kamar itu, namun tak ada jawaban dari dalam.


"Kak, ngapain kesini?" tanya Ika saat sudah berhasil menyusul langkah Bimo.


Bimo tetap diam, menatap tajam ke arah pintu. Tak ada cara lain yang ada dalam pikirannya untuk membuka pintu itu. Bimo mengambil ancang ancang agak menjauh dari pintu lalu berlari cepat dan mendobrak pintu itu.


Ika menutup mulutnya tak percaya apa yang terjadi dengan kakaknya itu, sehingga berbuat anarkis.


Tiga kali percobaan, akhirnya pintu terbuka. Tanpa menunggu waktu lama, Bimo langsung menerobos masuk ke kamar itu. Terlihat pemandangan yang sangat membuatnya marah. Sebuah tangan seorang pria yang memeluk perut istri tercintanya. Pria itu bahkan setengah telanjang.


Tampak belakang Bimo seperti mengenali sosok pria itu. Dengan gerakan kasar, Bimo membalik tubuh pria itu sampai jatuh dengan kasar ke lantai. Dan iya, Bimo sangat mengenal pria itu. Bimo menggeram kesal, ingin sekali dia menghajar pria itu, namun percuma pikirnya.


Tatapan matanya tertuju pada sosok yang sangat dicintainya. Alea tampak tertidur hanya dengan memakai kemeja kebesaran yang diyakini Bimo adalah milik pria yang masih tergeletak di lantai. Bimo tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dengan melihat beberapa bekas kemerahan di dada pria itu, Bimo menatap nanar ke arah Alea.


Bimo akan mengangkat tubuh Alea namun sebuah suara menghentikannya.


"Bim, tadi aku..." pria itu sudah tersadar dan berusaha bangun dari lantai. Namun kembali terjatuh kala kepalan tangan Bimo mendarat di pipi pria itu.

__ADS_1


"Bim, aku bisa jelaskan." ucap pria itu, namun Bimo tak menggubrisnya. Bimo melanjutkan yang tadi. Niat ingin segera membawa Alea pergi dari tempat itu.


Bimo menyambar sebuah selimut dan di lilitkan ke tubuh Alea. Bimo lalu menggendongnya.


Ika yang tak ingin mencampuri urusan kakaknya, hanya berdiri diam di luar kamar. Apalagi dia melihat Bimo yang sangat emosi.


Ika kembali dikejutkan dengan Bimo yang menggendong Alea yang tidak sadar. Entah itu tidur atau pingsan. Ika ingin sekali ingin tahu apa yang terjadi, Ika memutuskan untuk masuk ke dalam kamar hotel itu.


Ika merasa hari ini penuh dengan kejutan. Matanya sampai berkaca kaca melihat sosok di depannya yang bertelanjang dada, ranjang berantakan, tadi Alea keluar juga sudah tak memakai baju pengantin. Dan itu, Ika melihat dengan jelas beberapa bekas kemerahan di dada polos pria itu.


"Mas Aril." panggil Ika lirih, dengan tubuh yang bergetar mencoba tak memikirkan semua yang terjadi mengarah ke satu pemikiran buruk tentang Aril juga Alea.


"Ika.." Aril terkejut tadi dia tak menyadari ada seorang lagi yang masuk. Dia fokus menetralkan pusing yang da di kepalanya.


"Apa mas Aril dan mbak Alea.." Ika tak mampu untuk melanjutkan ucapannya. Ika yang tak tahan akan menangis, langsung berlari keluar tanpa menghiraukan panggilan dari Aril.


Arill berusaha mengejarnya, namun jalannya yang sempoyongan karena merasa sakit pada kepala juga tengkuknya membuatnya jatuh tersungkur.


Bimo membawa Alea ke kamar mereka. Dengan perlahan, Bimo meletakkan Alea di ranjang. Sungguh Bimo binggung harus berbuat apa. Dia hanya memandangi Alea yang belum juga bangun.


Bimo menepuk pelan pipi Alea untuk membangunkannya. Bimo merasa ada yang tidak beres, kalaupun tertidur harusnya Alea terbangun. Tapi Alea tak bergerak sedikitpun.


Bimo menggunakan telfon kamar untuk memanggil seseorang. Setelahnya, dia mengganti pakaian Alea dengan piyama tidur.


Tak butuh waktu lama, datang orang yang dicari Bimo. Bimo bicara dengan orang itu di luar kamar.


"Tuan memanggil saya?" Revan menghadap ke Bimo.


"Iya, tolong cari kan rekaman cctv hotel ini di lorong dari aula hingga ke kamar no 25. Dan carikan aku ponsel baru segera. Kirimkan rekaman itu ke ponsel baru itu.Aku akan mengeceknya sendiri. Panggilkan dokter pribadi keluarga Sanjaya kesini sekarang juga. Dan pastikan tidak ada yang mengetahui ini." Bimo mengucap panjang perintahnya.

__ADS_1


"Baik." Revan bergegas melakukan perintah Bimo. Sebenarnya Revan juga penasaran dengan apa yang terjadi. Namun rasa penasarannya itu di buangnya jauh jauh.


Bimo kembali masuk ke dalam kamar. Alea masih dalam posisi yang sama. Bimo mencoba menenangkan diri dengan membersihkan dirinya. Dia ingin sejenak mendinginkan kepalanya yang terasa mau pecah.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Bimo langsung meminum obat sakit kepalanya. Padahal sudah beberapa hari ini dia tidak mengonsumsi obat, dia kembali meminum itu karena pusing dngan masalah yang rumit itu.


Bimo mendudukkan tubuhnya di sofa panjang, di dalam kamar itu. Mengingat video yang dikirimkan oleh orang tak di kenal itu.


Bimo bisa melihat dengan jelas kalau Alea yang menggoda Aril, meraba memeluk tubuh Aril dengan ganasnya. Bahkan dengan tidak sabar membuka kemeja Aril, dan menghadiahi dada polos Aril dengan beberapa ciuman. Kemudian video berakhir.


Bimo menutup matanya mencoba untuk meredam amarahnya yang kembali menyeruak. Bimo tak ingin mengambil keputusan dalam emosi. Bimo akan mencoba mencari tahu terlebih dahulu.


Suara ketukan pintu menyadarkan Bimo dari lamunannya. Seorang wanita paruh baya berjas putih memberi hormat.


"Malam tuan, anda membutuhkan saya?" tanya wanita itu.


"Iya dok, silakan masuk." Bimo memepersilahkan dokter itu masuk.


"Tolong periksa istri saya, apa yang terjadi padanya hingga membuatnya tidak bangun." ucap Bimo.


"Baik tuan," dokter itu segera mengeluarkan peralatannya. Mengecek apapun yang dibutuhkannya. Bimo hanya mengamati.


"Begini tuan, sepertinya nona Alea sedang tidak sadarkan dari karena pengaruh obat tidur Tapi saya juga tidak bisa memastikan kapan akan bangunnya. Saya akan membawa sample darah ini ke laboratorium untuk di uji. Secepatnya saya akan melaporkan pada anda apa hasilnya nanti. Untuk saat ini yang bisa dilakukan hanya menunggu hingga nona Alea sadar sendiri." jelas dokter wanita itu.


"Baiklah, terima kasih dok. Berikan hasil tes darah itu secepatnya kepadaku."


"Tentu tuan, saya permisi. Saya akan segera ke laboratorium sekarang." dokter itu kembali memberi hormat sebelum beranjak pergi.


"Al, aku harap hal itu tak terjadi antara kamu dan Aril." Bimo kembali megesah kasar.

__ADS_1


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


__ADS_2