
"Honey, nanti malam bersiaplah, aku ingin mengajakmu makan malam diluar." kata Deni sambil mengenakan baju.
"Acara apa bee? Tumben."
"Hanya makan malam biasa. Sudah lama kan kita tidak pergi keluar bersama."
"Iya juga. Baiklah aku akan bersiap nanti malam."
"Hari ini aku sangat sibuk honey, setelah dari kampus aku harus langsung ke perusahaan papa. Dan aku juga punya sedikit urusan dirumah sakit."
"Wah suamiku jadi super sibuk akhir akhir ini." Alea memanyunkan bibirnya. Deni langsung merespon dengan mencium sekilas bibir Alea.
"Maaf, aku jadi tidak punya banyak waktu bersamamu. Tapi aku akan selalu berusaha untuk memberi yang terbaik untukmu. Ok?"
"Iya iya, ayo sarapan dulu." Alea membawakan jas yang nanti akan di pakai Deni saat akan ke kantor.
Keduanya menuju ruang makan dengan terus berpegangan tangan. Senyum selalu terlukis di bibir keduanya. Setelah insiden penculikan Alea waktu itu, tidak ada lagi hal buruk yang terjadi hidup keduanya selalu diliputi kebahagiaan.
Alea semakin tak sabar ingin segera melengkapi kebahagiaannya. Ingin segera melihat malaikat kecil yang akan segera lahir kurang lebih satu bulan lagi.
...
Deni menghubungi istrinya, menjelaskan bahwa dirinya tak bisa menjemput ke rumah karena urusannya di rumah sakit belum selesai.
"Halo honey,"
"Iya ada apa bee?"
"Ini aku masih di rumah sakit, aku nggak bisa jemput kamu di rumah. Aku akan menyuruh orang untuk menjemputmu ya. Kita ketemu di restoran." Deni menjelaskan dengan pelan.
"Ya sudah bee, tidak apa apa. Aku akan bersiap."
"Kalau begitu, aku lanjutin kerja ku dulu ya honey."
"Sebentar bee, kamu terdengar tidak bersemangat. Apa di rumah sakit terjadi masalah?"
"Ti..tidak honey. Semua baik baik saja. Aku hanya sedikit lelah. Sudah dulu ya." Deni segera menyudahi telfonnya.
"Iya bee. Bye.."
"Bye honey.."
Deni meletakan kembali ponselnya diatas nakas.
"Tuan, saya mohon jangan memaksakan diri. Perhatikan juga kondisi tuan." ucap dokter yang sedari tadi berdiri di samping Deni.
"Aku baik baik saja. Kau tenanglah." ucap Deni santai. Dia mengenakan kembali jas yang tadi dilepasnya.
"Baiklah, aku pergi." ucap Deni kemudian keluar dari ruang perawatan itu.
__ADS_1
"Tapi tuan..." dokter mengkhawatirkan kondisinya, namun Deni melambaikan tangannya. Tanda dia tidak peduli akan kekhawatiran dokternya.
Deni melajukan kendaraannya pelan, menuju restoran D'art tempat janjian dengan istrinya.
Alea juga sedang dalam perjalanan, ternyata yang disuruh untuk menjemput Alea adalah Aril. Aril sempat heran kenapa dia harus menjadi sopir untuk Alea. Seperti tidak ada sopir saja dirumah Alea.
"Ril, sudah tahu ke restoran mana?" tanya Alea.
"Sudah Al, restoran D'art. Sebentar lagi juga sampai."
"Baiklah."
...
Ternyata yang sampai lebih dulu adalah Alea. Alea menyuruh Aril untuk menunggu sebentar, hingga suaminya datang.
"Ril, duduklah dulu."
"Tidak Al, bagaimanapun juga kau adalah istri bos ku. Sangatlah tidak pantass jika aku duduk bersamamu." tolak Aril.
"Ya sudahlah terserah padamu. Berdirilah sampai kakimu lemas." ketus Alea kesal.
Aril mendengus sebal, dia selalu serba salah jika berhadapan dengan bumil satu ini.
"Honey, sudah lama?" Deni langsung menghambur memeluk Alea dan mengecup keningnya.
"Baru juga duduk." Alea menjawab dengan senyum manisnya.
"Tidak tuan lebih baik saya duduk dimeja lain." Aril menolak.
"Tidak terima penolakan, lagi pula ini sedang tidak di kantor jadi jangan memanggilku tuan. Sudah ku katakan berulang kali bukan. Ayolah duduk disini, ikut makan bersama kami."
"Duduklah Ril, sudah ku suruh dari tadi kan tapi kau selalu menolak. Dan sekarang saat Deni yang meminta pun kau menolak."
"Ya baiklah, aku duduk." jawab Aril pasrah. Padahal dia berniat segera pergi agar tak melihat kemesraan keduanya. Namun apa daya bila sudah seperti itu, mana ada kuasa Aril untuk menolak.
Deni segera memanggil pelayan untuk memesan makanan.
Hanya ada obrolan antara Alea dan Deni saja. Aril tak berminat sekali ikut menyahut, dia memainkan ponselnya saja sampai pelayan datang membawa makanan mereka.
Aril langsung menyantap makan malamnya dengan lahap. Serius dengan makannya tidak mau memperhatikan dua sejoli yang ada dihadapannya yang seperti abg baru jatuh cinta. Mesra sekali.
Aril merasa iri dengan kemesraan mereka,
"Andai kamu masih berada disisiku Key," bathin Aril.
"Oh iya Ril, sekaliyan aku ingin mengatakan padamu, mulai besok kau tidak perlu menjadi kepala pemasaran lagi."
"Kenapa Den? Apa aku dipecat? Apa aku melakukan kesalahan." tanya Aril cepat.
__ADS_1
"Tidak, ada pekerjaan baru untukmu." ucap Deni dengan santai.
"Syukurlah, aku pikir aku dipecat. Apa pekerjaan baruku?" tanya Aril dengan semangat.
"Jadi asisten pribadiku. Jadi semua kebutuhanku di kantor kamu yang siapkan. Dan jika aku membutuhkan mu diluar jam kerja pun kau harus siap."
"Baiklah aku siap."
"Oke, besok pagi langsung datang ke rumah dulu. Kita berangkat bersama."
"Baik bos." ucap Aril semangat dengan senyum yang sangat manis.
"Aww.. panas, kamu itu suka sekali sih memukulku." gerutu Aril sembari mengusap bahunya yang terasa panas akibat tepukan keras Alea.
"Aku tidak suka senyumanmu itu. Kau seperti baru mendapat pacar baru."
"Aku masih normal Al." tukas Aril
"Sudah, kenapa sejak kalian berdamai kalau bertemu selalu berdebat? Apa rasa cinta kalian yang dulu sudah benar benar hilang?" tanya Deni dengan curiga.
Aril langsung tersedak mendengar pertanyaan Deni. Sedangkan reaksi Alea langsung tertawa.
"Bee, kamu lucu. Cintaku hanya untukmu. Aku berdebat dengannya karena aku suka melihat wajah kesalnya. Entah kenapa mengganggunya sudah jadi hobiku. Aku mencintaimu." jelas Alea.
"Dan iya, sebenarnya aku ingin bisa mengerjainya setiap hari. Itu akan membuat mood ku bagus." bisik Alea dengan permintaan anehnya.
"Apakah ini permintaan anakku?" balas Deni juga berbisik. Alea mengangguk yakin.
"Apapun untuk kamu honey." jawab Deni.
"Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini." bathin Aril, karena melihat senyuman aneh yang terpampang di wajah Alea.
Setelah selesai makan malam, Alea pulang bersama Deni. Sedangkan Aril juga langsung pergi.
Aril tak ingin pulang terlebih dulu, dia pergi ke suatu tempat. Aril mendatangi sebuah tempat yang sejak dia kehilangan Keyla selalu dia datangi.
Di tempat ini begitu tenang, di tengah jalan melewati perbukitan, ada tempat pemberhentian. Dari tempat itu, di malam hari bisa melihat pemandangan kota. Kelap kelip lampu kota terlihat indah.
Aril menikmati sesaat keindahan itu. Mengingat masa masa indahnya bersama wanita yang dicintai dulu. Bayangan Keyla yang tersenyum bahagia melintas dalam pikiran Aril.
Aril tersenyum, masih bisa mengingat dengan jelas senyuman Keyla. Namun senyuman itu hilang kala Aril kembali teringat kejadian yang merenggut nyawa Keyla sebegitu mudahnya.
"Aaaaa.." teriak Aril mencoba meluapkan kesedihannya. Aril masih belum bisa melupakan rasa kehilangan atas meninggalnya Keyla. Setiap saat dirinya sedang sendiri dan sedang tidak melakukan apapun pasti selalu akan teringat dengan Keyla.
Dalam hati terdalamnya, Aril sangat merindukan Keyla.
☘️☘️☘️☘️
Lanjut kuy ke episode selanjutnya...
__ADS_1
thanks and always love you readers setiaku..😊😊😊😊🤗🤗😘😘