Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
Cerita Kita


__ADS_3

Bimo menepuk sisi ranjang di sampingnya, mengisyaratkan pada Alea untuk duduk disisinya. Alea tanpa bertanya lagi lalu naik ke atas ranjang, dengan masih memegang ujung pakaiannya.


"Mas, kenapa aku tak boleh pulang?" Alea sembari menarik selimut untuk menutupi kaki hingga pahanya yang terbuka.


"Aku masih kangen sama kamu sayang. Apa tidak boleh?"


"Bukan tidak boleh, tapi.." Alea mau melanjutkan kalimatnya namun sudah disela oleh Bimo.


"Sudahlah, aku sudah ijin ke orang tua kita. Semuanya mengerti. Dan juga apa itu masih sakit?" Bimo melihat ke inti tubuh Alea.


"Sedikit," Alea menjawabnya pelan.


"Ya sudah, kamu istirahat saja. Nanti makan malamnya di kamar saja ya." pinta Bimo.


"Apa tidak apa? aku tak enak dengan om dan tante."


"Tidak apa sayang. Mereka tanpa aku jelaskan pun akan mengerti." jawab Bimo lalu menampakan senyum manisnya.


Bimo mengajak Alea berbaring. Lalu membawa tubuh Alea untuk berada dalam dekapannya.


"Sayang bisakah kamu ceritakan kisah kita dulu?"


"Kisah yang mana?"


"Semuanya..Ceritakan bagaimana dulu aku bisa mengenalmu. Sampai kita bisa menikah dan memiliki Myli."


"Baiklah, tapi kamu harus janji sama aku." Alea menatap intens wajah Bimo.


"Apa?"


"Jangan terlalu difikirkan semua ceritaku nanti. Cukup jadikan pengetahuan tentang dirimu saja. Aku tak mau melihatmu kesakitan lagi."


"Iya aku janji. Aku tak akan membuatmu bersedih dengan keadaanku."

__ADS_1


Keduanya saling tersenyum, kemudian Alea memulai ceritanya. Dimulai dari semasa sekolah dulu sampai awal masuk kuliah.


"Apa benar aku sebaik itu?" tanya Bimo tak percaya istrinya itu dri tadi selalu memuji akan kebaikan hatinya.


"Itu kan pendapatku, menurut perhatian dan juga bantuan yang kamu berikan. Aku tidak tahu kalau ad maksud dibalik semua itu atau tidak. Yang aku tahu, kamu tak pernah meminta balasan apapun dariku. Bahkan saat aku tahu akan perasaanmu padaku, kamu meminta untuk tak memikirkannya. Kamu bilang apapun kebahagiannku juga kebahagianku. Walau tak bersama dengan mu." Alea menghentikan bicaranya.


"Lalu.."


"Aku sebenarnya merasa bersalah, dengan semua kebaikanmu dan perasaanmu padaku. Aku mencoba untuk menjodohkan beberapa teman wanita di kampus denganmu. Tapi semua kamu menolaknya, bahkan sikapmu selalu dingin dengan mereka. Sampai kamu menyadarkan aku bahwa dihatimu hanya ada diriku. Aku menghentikan usahaku untuk menjodohkan kamu dan menyadari semua itu adalah kesalahan. Masalah yang kita dapatkan setelah kita bersama, semua berawal dari kesalahanku itu." Alea menyembunyikan wajahnya di dada Bimo sedikit terisak.


"Maaf mas, jika saja dulu aku tak menjodoh jodohkan kamu dengan teman temanku, kita tak akan mengalami kejadian buruk ini. Diana sakit hati denganku hingga tega memisahkan kita berdua. Dia telah dibutakan oleh cintanya padamu."


"Diana? Wanita jahat yang kemarin itu?" Bimo mengusap punggung Alea untuk menenangkannya.


"Iya."


"Sudah, semua sudah berlalu kan. Kita juga sudah bersama kembali."


"Iya, andai Aril tak mengenal Ika pasti aku tak akan bertemu dengan kamu mas. Aku bersyukur akan itu."


"Memang apa yang aku inginkan terjadi saat itu?" tanya Bimo yang sangat ingin tahu.


"Dari pengacara juga surat yang kamu tinggallkan sebelum kamu dianggap meninggal oleh keluarga. Kamu sakit parah, paru paru kamu terinfeksi akibat serpihan peluru yang dulu ditembakan oleh Diana saat berusaha membunuhku. Saat operasi pengeluaran peluru dari dada kamu ternyata, masih tertinggal beberapa serpihan kecil. Dan itu membuatmu divonis dokter tak akan hidup lama. Makanya kamu berusaha mendekatkan aku dengan Aril."


"Ternyata Allah maha adil, saat kamu dianggap meninggal, aku pun koma. Dan saat kamu sudah mulai sembuh, aku pun di bukakan mataku kembali agar aku bisa mencarimu."


"Dan kita bisa bersama lagi."


Keduanya semakin larut dalam kemesraan saat bercerita, hingga suara perut Alea mengonterupsi mereka.


"Hehe, maaf mas. Aku lapar." Alea malu dengan suara perutnya yang lumayan keras.


"Tidak apa sayang, sebentar ya akan aku ambilkan makanan untukmu. Nanti jika Ika sudah pulang, aku akan pinjam bajunya untukmu. Ukuran baju kalian hampir sama sepertinya."

__ADS_1


"Iya mas, maaf ya merepotkanmu."


"Tidak apa, semua sudah menjadi tugasku kan." Bimo kemudian pergi keluar kamar.


Di tempat lain, di sebuah mall.


Aril dan Ika sedang makan di sebuah food court , tentu saja masih bersama dengan Myli. Myli sudah semakin dekat dengan dengan Ika. Permintaan Alea yang mebyuruh Myli memnggil Ika bunda, sudah sering kali Myli lontarkan panggilan itu. Setiap mendengar panggilan Myli terhadapnya, Ika selalu senang mendengarnya. Jadi Ika membiarkan Myli memanggilnya bunda.


Myli dimanjakan oleh Ika juga Aril. Tadi sudah membeli beberapa mainan anak perempuan juga beberapa boneka. Myli sangat bahagia dilimpahi perhatian dari banyak orang.


Ika bahkan dengan telaten menyuapi Myli, sampai makanannya habis, baru setelah itu dia makan sendiri makanannya.


"Mas, habis ini kita pulang ya, kasihan Myli sepertinya capek." Ika masih dengan mengunyah makanannya sambil memperhatikan Myli yang memainkan salah satu boneka barunya.


"Iya, aku juga sudah capek. Oh iya, nanti kamu pulang ke rumah saja kan? Besok biar aku jemput kalau mau ke kantor." ujar Aril.


"Iya mas, terima kasih. Apa tidak merepotkan? Rumah aku dan kantor aku kan lumayan jauh juga berlawanan arah dengan kantor kamu." Ika tak tega dengan Aril.


"Tidak, kalau aku tak melihatmu sebelum bekerja nanti aku tak akan semangat kerja. Jadi aku akan melakukan apapun agar bisa selalu melihatmu."


"Baiklah, terserah padamu saja mas. Asal kamu tak merasa repot."


Ika melanjutkan makannya. Setelah semuanya selesai makan, Aril mengantar Ika pulang terlebih dulu. Karena rumah Ika yang terdekat dari mall itu. Aril tak mampir karena melihat Myli yang sepertinya sudah mengantuk. Aril lalu mengantar pulang Myli.


Ika yang masuk rumah sendirian dikejutkan oleh Bimo yang baru keluar dari ruang makan.


"Dek.!!" panggil Bimo agak keras.


"Kakak, ngagetin aja sih. Kok bawa makanan di nampan. Banyak lagi, buat siapa?" Ika menengok makanan yang dibawa Bimo.


"Untuk aku dan Alea." jawab Bimo singkat.


"Mbak Al memang dimana? Yang kemarin sakit kan kak Bimo, kok malah mbak Alea yang diambillin makanan sih. Apa sekarang mbak Al lagi sakit?

__ADS_1


"Udah sana makan, Alea tidak apa apa. Aku ke kamar dulu." Bimo langsung melanjutkan jalannya ke kamar. Meninggalkan Ika yang bengong.


__ADS_2