Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
extra 8


__ADS_3

"Eeeghh.."


Aril mendongak, menatap wajah Ika. Matanya sampai berkaca kaca, melihat mata Ika yang mulai terbuka.


"Mas, ah. Perutku." Ika mengelus perutnya yang terasa sakit.


Ika langsung membulatkan matanya, tak terasa lagi perutnya yang padat mulai membuncit. Dia merasa aneh pada perutnya.


"Mas, anak kita baik baik saja kan?" Tanya Ika mulai panik.


"Sayang.." Aril tercekat. Tak mampu meneruskan kata katanya.


Air mata Aril mengalir begitu saja. Dia tak mampu menjelaskan apa yang terjadi pada calon anak mereka. Aril menciumi punggung tangan Ika yang sejak tadi di pegangnya.


"Mas, kenapa kamu nangis?"


"Maafkan aku sayang. Maafkan aku... Aku tak bisa menjaga kalian dengan baik. Maafkan aku." Akhirnya kata itu yang keluar dari mulut Aril.


"Maaas, jadi aku kehilangan bayi ku?" Ika mengusap perutnya.


"Anak kita kondisinya lemah. Jadi dia tak mampu bertahan."


"Ini semua salahku mas. Aku tidak hati hati berjalan. Kalau saja aku lebih berhati hati, aku tak akan jatuh. Anak kita akan masih ada disini. Maafkan aku. Hiks hiks.." Ika menangis juga.


Aril segera memeluk istrinya yang terus merasa bersalah.

__ADS_1


"Tidak, kamu tidak salah sayang. Aku yang salah. Tidak bisa menjaga kalian dengan baik."


"Aku yang bersalah mas. Aku yang bersalah..hik hiks.."


"Sudah, sudah. Kita berdua memang salah. Mungkin Tuhan masih belum percaya pada kita untuk menjadi orang tua. Sabar ya sayang kamu harus kuat. Anak kita pasti sudah menjadi malaikat yang cantik. Kata dokter, anak kita perempuan. Maaf, aku telah menguburkannya tanpa menunggumu. Kasihan kan kalau dia terlalu lama dibiarkan."


"Apakah dia cantik?" Masih menangis tapi sedikit lebih tenang.


"Iya, dia cantik seperti kamu." Aril mengingat wajah putri kecilnya saat terakhir akan menguburnya.


"Benarkah, aku ingin memeluknya." Luruh sudah tangan Ika yang tadinya membalas pelukan Aril. Membuat Aril terkejut.


Aril langsung melepaskan pelukannya. Ditepuk pelan pipi Ika karena mata Ika terpejam.


"Sayang bangunlah. Sayang.. Ikaa." Aril sampai berteriak. Ika tak bergerak juga. Panik dia langsung berlari keluar memanggil dokter. Ada seorang suster yang mendengar jadi suster itu langsung menghampiri Aril.


"Istriku kenapa?" Aril langsung masuk ke dalam kamar rawat Ika lagi. Diikuti oleh suster tadi. Suster langsung memencet tombol darurat yang ada di samping ranjang Ika. Sungguh karena Aril panik tak sampai ingat dengan tombol darurat itu.


"Apakah tadi nyonya sadar?" Tanya suster saat melihat Aril yang panik melihat Ika yang tak sadarkan diri.


"Iya." Jawab Aril segera.


"Tenang dulu tuan. Sepertinya nyonya pingsan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kita tunggu dokter dulu untuk lebih jelasnya." Jelas suster setelah memeriksa kondisi Ika.


Tak lama kemudian Dokter datang dan langsung memeriksa Ika.

__ADS_1


"Denyut jantungnya sedikit tidak teratur. Apakah tadi saat sadar kalian sempat berbincang?" Tanya dokter untuk memastikan.


"Iya dok. Tadi dia merasa aneh dengan perutnya. Jadi secara spontan saya langsung memberitahukan yang terjadi pada anak kami."


"Baiklah, sepertinya nyonya Ika hanya syok. Sebentar lagi, pasti akan sadar. Nanti bila nyonya bereaksi berlebihan, mohon panggil saya. Bisa berbahaya bila nyonya stres berlebihan, karena kondisinya juga masih lemah paska operasi." Jelas dokter.


Arill mengangguk paham. Dokter lalu meeninggalkan kamar Ika di ikuti suster tadi. Aril kembali duduk di kursi samping ranjang Ika.


"Sayang, bangunlah. Aku tak sanggup jika harus melihatmu lemah seperti ini. Kita harus kuat bersama demi anak kita yang telah di surga." Aril merebahkan kepalanya di samping tangannya yang menggenggam tangan Ika. Sesekali Aril mencium punggung tangan Ika.


Terlalu lelah, mungkin itu yang terjadi pada tubuh Aril. Seketika Aril terlelap karena terlalu lama menunggu Ika yang tak bangun juga. Saat usapan tangannya di kepala Ika berhenti, setetes air mata meleleh dari sudut mata Ika.


Ternyata Ika sudah bangun, namun dia tak ingin membuka matanya. Takut menghadapi kenyataan jika dia telah kehilangan anaknya. Dia tetap menutup matanya, berharap semua ini hanyalah mimpi buruk. Dan esok hari jika dia membuka mata dia masih bersama anaknya.


....


Beberapa hari Ika harus dirawat di rumah sakit. Selama itu pula dia selalu murung. Aril juga bertambah stres memikirkan istrinya itu. Masih sedih karena kehilangan anaknya sekarang harus melihat istrinya selalu murung. Jarang bicara, walaupun Aril sudah berbicara panjang lebar, Ika sama sekali tak berminat untuk menyahut.


"Sayang, makan dulu." Aril menyuapi Ika.


Ika menerimanya, makan dengan pelan dan hening. Tak ada obrolan antara keduanya hingga suapan terakhir. Aril lalu menyodorkan obatnya, Ika meraihnya segera menelannya dan meminum air putih. Aril bersyukur, setidaknya istrinya masih mau makan dan minum obat jadi tak menghambat kesembuhan fisiknya.


Ika memperhatikan pergerakan suaminya di kamar itu.


"Mas,." Panggil Ika pelan.

__ADS_1


"Ya," Aril segera menghampiri Ika yang masih posisi duduk setelah makan tadi.


"Aku mau pulang ke rumah." pinta Ika.


__ADS_2