
Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya mobil Bimo dan Alea bisa melewati kemacetan itu. Saat melintas di bekas kecelakaan, terlihat sekali mobil ringsek berat di bagian depan dan atap. Mobil terbalik, pecahan kaca dan bagian mobil berserakan di sektarnya.
Ceceran darah yang masih segar di aspal membuat bau anyir tercium. Bimo menjalankan mobilnya perlahan. Bergantian mengalihkan pandanganannya ke tempat kecelakaan dan jalanan. Sekilas Bimo melihat kejadian yang sama, dia melihat Alea yang merintih kesakitan. Dan dia juga tak mampu melakukan apapun untuk menelamatkannya.
Seketika kepala Bimo berdenyut, segera memilih menepikan mobilnya. Bimo menyenderkann kepalanya pada stir mobil sambil menahan sakit. Alea yang melihatnya jadi khawatir.
"Bee, kamu kenapa?" Alea mengelus bahu Bimo, kecemasannya tadi sudah hilang.
"Kepala aku sakit,.."
Alea dengan sigap keluar dari mobil. Ingin menggantikan posisi Bimo lau membawanya ke rumah sakit.
"Bee, keluar ya. Aku gantiin." Titah Alea kala membuka pintu kemudi.
"Nggak usah sayang. Sebentar juga baikan." Tolak Bimo.
"No, kamu sakit. Aku nggak mau terjadi yang buruk sama kamu. Ayo cepat. Dekat sini ada rumah sakit." Alea menarik paksa tubuh Bimo untuk keluar. Bimo menurut juga. Dia langsung pindah ke kursi belakang.
Setelah memastikan Bimo memakai sabuk pengaman, Alea masuk ke mobil. Memposisikan dirinya di kursi keemudi. Alea menjalankan mobilnya dengan segera menuju rumah sakit.
Bimo di belakang, masih merasa kesakitan, apalagi bayangan bayangan masa lalu yang hadir mengacaukan pikirannya. Bimo melihat tawa Alea saat bersamanya dulu. Masa sekolah, kuliah hingga momen momen pernikahan terlihat jelas. Ya Bimo mengingat semuanya, saat ini bayangan Alea yang kesakitan saat kecelakaan terlintas lagi.
Sakit di kepala Bimo makin tak tertahan, Bimo terkulai lemas. Hillang sudah kesadarannya. Alea yang terus memperhatikan dari kaca spion sontak berteriak saat melihat suaminya terkulai.
"Bee, kamu kenapa?" Alea menghentikan mobilnya. Melepas sabuk pengaman yang dipakainya lalu membalikan badannya ke belakang.
__ADS_1
Alea sudah menangis, saat mencoba memanggil Bimo namun tak ada respon. Alea segera kembali duduk. Dengan segala kekhawatirannya Alea kembali melajukan mobilnya. Bahkan lupa untuk mengenakan kembali sabuk pengamannya. Berharap saja tidak terjadi apapun.
"Deni, aku sayang sama kamu. Kamu harus selalu ada buat aku. Aku akan membencimu bila terjadi sesuatu sama kamu. Biar saja aku egois. Aku benar benar akan membencimu jika kebahagiaan kita kemarin itu hanya sesaat. Hiks hiks. Bangun lah bee.!!" Alea berteriak di akhir kalimatnya.
Mobil sudah sampai di pelataran rumah sakit. Alea bergegas keluar dan memanggil petugas untuk membantunya.
Dua orang perawat laki laki sudah datang dengan mendorong brangkar. Perawat itu mengangkat tubuh Bimo dengan hati hati dan meletakannya di atas brangkar.
Perawat lalu mendorong brangkar itu ke dalam ruang UGD. Alea mengikutinya dengan langkah yang tergesa. Lalu saat sampai di depan ruangan UGD, Alea di tahan dan tak boleh masuk.
Alea ingin protes tapi nyatanya perutnya malah yang terasa sakit.
"Aww,,sakit. Suster tolong, perut saya sakit." Alea hampir saja limbung, namun perawat itu dengan sigap menahan berat badan Alea. Perawat yang lain segera membantu dan juga membawa Alea masuk ke dalam UGD.
Alea ditempatkan di brangkar di bantu oleh dua perawat itu. Alea berada di samping tempat Bimo, namun tertutupi oleh tirai.
"Sus, saya mohon. Buka tirainya, saya ingin melihat kondisi suami saya. Saya mohon." Pinta Alea dengan menangis dan merintih.
Suster itupun iba, kemudian dia menghampiri dokter yang menangani Bimo untuk meminta ijin. Dokter pun mengijinkan juga karena merasa kasihan.
Biarpun juga merasakan kesakitan, Alea tak begitu merasakannya matanya tak lepas dari tubuh Bimo. Sampai penglihatannya mulai buram sampai kegelapan datang. Ya Alea kehilangan kesadarannya.
Dokter segera memberi tindakan yang dibutuhkan. Setelahnya, keduanya di pindahkan ke ruang perawatan. Alea dan Bimo ditempatkan di ruangan yang sama atas permintaan keluarga. Tadi saat keduanya di tangani dokter seorang suster menghubungi pihak keluarga melalui ponsel Alea.
....
__ADS_1
Sebuah tangan menggenggam erat tangan Alea yang terbaring di brangkar. Alea masih belum sadar.
"Honey, cepat sadarlah. Aku merindukanmu."
Ya Bimo, sudah sadar. Dia sudah tak merasakan sakit kepalanya lagi. Seluruh ingatannya sudah kembali. Namun dia merasa sedih. Kala dia sadar harus mendapati istri tercintanya sedang terbaring lemah.
Menurut penjelasan dokter yang tadi datang. Alea mengalami syok hingga membuatnya kontraksi palsu. Untunglah tidak terjadi hal yang buruk.
"Maafkan aku, saat kelahiran Myli aku tak ada disampingmu. Aku janji akan selalu disimu. Tak akan aku biarkan orang jahat mengusik kita lagi. Alea cepatlah sadar, Denimu selalu mencintaimu dan akan selalu bersamamu setelah ini."
Deni menciumi punggung tangan Alea. Tangannya yang lain meraba perut Alea.
"Sayang, anak daddy. Sehat sehat ya di dalam sana. Jadi anak yang kuat. Jagain mommy ya." Tangan Deni tak henti mengusap perut Alea, hingga sebuah senyuman terbit kala tangannya merasakan pergerakan pada perut Alea.
"Kamu tahu ya, kalau daddy sudah kembali dan menyapamu." Ucap Deni lalu berdiri dari duduknya dan mencium perut Alea.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
Maaf ya, aku lama up nya...
kalian tahu, hidup nyata itu lebih rumit dihadapi ketimbang di dnia halu. padahal masalahnya tak seberapa ketimbang di dunia pernovelan.
mencoba untuk mengatur hidupku sendiri sesuai keinginanku, namun nyatanya malah berantakan. sekarang aku mulai pasrahkan hidupku pada yang membuat hidup. terserah Dia mau hidupku akan seperti apa nantinya. ku jalani semuanya mengalir seperti air.
huftt, maaf ya sedikit curhat. habis nggak ada temen curhat. punya keluarga tapi aku merasa sendiri. tempat curhatku hanya Sang Pembuat Kehidupan.
__ADS_1
jangan lupa like dan komennya ya..
love you readers setiaku.😘😘😘😘😍😍😍🤗🤗🤗🤗