
Hari ini Aril memulai pencariannya. Di mulai dari kampus universitas AS. Tentu saja dengan bantuan dari Fiko.
Aril bertanya pada salah satu mahasiswi.
"Permisi, mau tanya. Kamu kenal gak ya sama mahasiswi sini yang bernama Susan Saraswati. Dia kayaknya baru mau semester 4."
"Dia jurusan apa ya kak?" tanya mahasiswi itu.
" Aku juga nggak tahu. Kalau yang bernama Deni kenal nggak?" tanya Aril lagi.
"Apa mungkin Deni si ganteng itu ya?" tanya mahasiswi itu pada temannya.
"Mungkin aja." jawab temannya.
"Coba aja kakak tanya, beberapa mahasiswa disana kak. Mungkin aja Deni yang kakak maksud adalah Deni teman mereka. Soalnya aku sering lihat mereka bersama." jelas mahasiswi itu sambil menunjuk ke gerombolan mahasiswa yang sedang belajar di taman kampus.
Aril mengucap terima kasih pada mahasiswi tadi dan langsung menghampiri orang yang dimaksud tadi.
"Permisi semuanya." sapa Aril.
Semua mahasiswa di depannya menoleh ke arahnya. Salah satunya menjawab.
"Iya, ada apa ya?"
"Saya mencari seseorang yang bernama Deni, apa ada salah satu dari kalian yang mengenalnya?" tanya Aril.
"Deni? Kita sih punya temen namanya Deni memang tapi nggak tau tuh itu Deni yang lo maksud atau nggak."
"Kalian tahu alamat rumahnya tidak? Kalau iya saya ingin memintanya. Saya teman lamanya dari kampung."
"Oh boleh." salah satu teman Deni menuliskan alamat rumah Deni.
"Nih.." teman Deni itu menyodorkan kertas bertulis alamat.
"Makasih ya, saya permisi." pamit Aril.
"Iya." jawab teman Deni.
Aril dan Fiko keluar area kampus.
"Ril, lo emang nggak punya foto mereka?" tanya Fiko.
"Punya, kenapa emang?" tanya Aril balik.
"Oon sih lo pelihara. Kenapa tadi nyarinya nggak pake foto aja coba."
"Hehe, nggak kepikiran gue. Ya udah lah, sekarang kan udah dapat alamatnya coba lo liat. Kan lo yang tinggal di daerah sini." ucap Aril menyodorkan kertas alamat tadi.
__ADS_1
Fiko membaca alamat itu, kemudian mengernyitkan dahinya. Aril menyadari perubahan raut wajah temannya itu.
"Kenapa?" tanya Aril penasaran.
"Jauh jauh kesini, ujungnya balik ke rah lagi." kata Fiko. Aril semakin tidak mengerti.
"Iya, ni alamat ternyata samping rumah gue." lanjut Fiko.
Aril yang mendengarnya malah tambah semangat, karena tidak perlu muter muter nyari alamat itu.
"Ya udah yok. Pulang." kata Aril dengan semangat.
Fiko menurut saja. Mereka menyetop sebuah taksi dan mengarahkannya ke alamat Fiko.
Tak berapa lama, taksi sudah sampai di depan rumah Fiko. Setelah membayar argonya, mereka segera turun.
"Gimana lo mau langsung samperin sekarang?'' tanya Fiko.
" Maunya sih gitu." jawab Aril.
"Tapi gue nggak ikut ya. Udah laper gue."
"Ok lah, gue kesana dulu." kata Aril.
Aril segera memasuki halaman rumah Deni. Dia merasa gelisah akan kah dia bisa menemukan Susan.
Ting.. tong...
Terderngar suara bel. Yang ada di dalam rumah mendengarnya segera membukakan pintu.
Seorang pemuda yang menampakkan wajahnya yaitu Deni. Deni terkejut bukan main melihat siapa tamu yang datang tak diundang itu. Senyum tampak mengembang di wajah Aril saat tahu kalau benar ini rumah Deni. Tapi tidak dengan Deni, dia sedang menahan amarahnya karena melihat laki laki yang mengkhianati wanita yang sangat dicintainya.
"Den, gue bersyukur bisa nemuin lo. Gue pengen tau dimana Susan. Lo tau dia dimana?" tanya Aril.
"Yang namanya Susan sudah mati sejak dia tahu kalau orang yang selama ini dia tunggu mengkhianatinya." jawab Deni.
"Lo jangan bercanda Den, gue serius. Gue mau ketemu sama Susan. Gue mau jelasin semuanya, itu bukan pengkhianatan tapi hanya keterpaksaan. Gue cinta sama Susan." ucap Aril dengan sedikit penekanan.
"Gue nggak perduli sama lo, yang jelas sudah nggak ada yang namanya Susan lagi. Dan iya kalaupun Susan masih ada, dia nggak akan mau nemuin lo." ujar Deni dengan penuh kemarahan kemudian masuk ke dalam rumah dengan membanting pintu dan menguncinya.
Aril bingung dengan ucapan Deni, seperti mengatakan kalau Susan sudah tiada. Padahal jelas jelas dua minggu yang lalu, deni masih nampak posting fotonya bersama Susan.
Aril yakin kalau ini hanya tipuan Deni agar dia tidak menemui Susan. Padahal yang dikatakan Deni adalah kebenaran, Susan memang sudah tidak ada lagi, yang ada adalah Alea yang kini mencintainya dan akan menikah dengannya.
Deni kesal kenapa Aril datang disaat seperti ini. Kenapa tidak nanti saja kalau dia sudah menikah dengan Alea. Kalau sudah menikah kan Alea tidak akan berpaling darinya.
"Al, orang yang selama ini kamu tunggu telah datang. Akankah kamu akan meninggalkanku untuk dirinya itu. Dia sangat mencintaimu Al." gumam Deni pelan meratapi nasibnya nanti.
__ADS_1
Aril memilih untuk pulang ke rumah Fiko. Dia akan memikirkan bagaimana cara untuk bisa bertemu dengan Susan. Untuk hari ini cukup sampai disini saja pikirnya.
...
Alea baru terbangun dari tidur siangnya namun belum beranjak dari tempat tidunya. Hingga mamanya datang.
"Sayang, ayo ke mall yuk belanja." ajak mamanya.
"Belanja apa sih ma, aku lagi mager nih." jawab Alea malas.
"Duh calon pengantin kok malas begini sih. Ayo kita cari gaun untuk acara lamaran kamu." ucap mama Alea dengan raut muka heran dengan tingkah putrinya itu.
Alea yang mendengarnya jadi bersemu merah pipinya.
"Iya, Alea bangun. Aku mandi dulu ya ma." jawab Alea segera berlari ke kamar mandi.
"Nggak nyangka putri kecilku akan segera menikah. Semoga mereka benar saling mengasihi dan menyayangi agar hidup mereka bahagia selamanya." gumam mama Alea.
"Al, mama tunggu dibawah ya nak?" ucap mama Alea sedikit berteriak.
"Iya ma." jawab Alea juga berteriak dari dalam kamar mandi.
Lima belas menit acara mandi Alea telah selesai. Dia segera memakai baju dan sedikit berdandan.
Beginilah tampilan Alea saat akan pergi bersama mamanya ke mall.
"Ayo ma." ajak Alea dengan senyum manisnya.
"Ayo." mama Alea juga beranjak dari duduknya.
Mereka berdua jalan beriringan dan kemudian masuk mobil yang sudah siap di depan rumahnya. Setelah duduk dengan nyaman, mama Alea meminta sopir untuk segera melajukan mobilnya ke mall. Setengah jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di mall. Mereka turun dari mobil dan segera masuk ke dalam untuk berburu baju yang akan dikenakan nanti acara lamaran Alea.
Mereka sampai di salah satu butik. Mama Alea meminta penjaganya mengambil beberapa baju yang pantas dipakai putrinya itu di acara lamaran.
Penjaga butik dengan ramah melayani mama Alea. Dia segera melakukan yang diminta oleh mama Alea.
Beberapa saat kemudian penjaga butik telah datang dengan membawa beberapa gaun di tangannya. Mama Alea menyuruh Alea mencoba satu per satu gaun itu, agar tahu mana yang cocok.
☘️☘️☘️☘️
tinggalkan jejak kalian ya..like komen. vote pun boleh..aku akan sangat berterima kasih..
Jangan lupakan kelanjutannya..
Love you readers setiaku..😊😊🤗🤗
__ADS_1