
"Baiklah, terima kasih dok. Berikan hasil tes darah itu secepatnya kepadaku."
"Tentu tuan, saya permisi. Saya akan segera ke laboratorium sekarang." dokter itu kembali memberi hormat sebelum beranjak pergi.
"Al, aku harap hal itu tak terjadi antara kamu dan Aril." Bimo kembali mengesah kasar.
Bimo ingin segera mengistirahatkan tubuhnya, dia berbaring di sofa. Namun suara ketukan pintu membuatnya bangun kembali. Bimo segera membuka pintu kamar itu.
"Tuan, ini ponsel yang anda butuhkan. Tetapi maaf tuan, rekaman cctvnya tidak ada." jelas Revan.
"Tidak ada??" bentak Bimo.
"Iya tuan, saya sudah mengeceknya. Cctv itu rusak tuan, setelah saya pastikan cctv itu memang sengaja di rusak."
"Baiklah kau boleh pergi." usir Bimo kemudian. Dirinya merasa sangat lelah. Dia butuh istirahat.
Bimo membaringkan tubuhnya di sofa, Bimo melihat ponsel barunya. Terlihat kalau semua isi ponsel baru ini seperti ponselnya yang hancur. Dia teringat pada Ika, yang dia tinggalkan sendiri di depan kamar tadi. Bimo langsung mencoba menghubungi nomor Ika namun tak tersambung.
Bimo jadi khawatir, tidak biasanya ponsel Ika mati. Bimo mencari tahu pada semua keluarga. juga beberapa orang kepercayaan keluarganya. Untunglah salah satu dari mereka mengetahui keberadaan Ika yang sedang istirahat di salah satu kamar hotel ini juga.
Bimo lega, dia meletakan ponselnya kemudian memulai untuk memejamkan matanya.
....
Alea pov.
"Kepalaku rasanya pusing sekali. Ada dimana aku ini." gumamku sambil melihat ke seluruh penjuru kamar.
Aku melihat suamiku yang tidur di sofa. Aku sedikit bingung juga melihatnya tidur terlelap disana. Tapi yang ada dalam pikiranku mungkin dia terlalu lelah hingga bisa terlelap disana.
"Bagaimana bisa aku di kamar ini? Seingatku semalam setelah muntah di toilet, aku hendak kembali ke aula. Tapi tiba tiba aku sakit kepala dan tidak ingat apa apa lagi setelah itu.
__ADS_1
"Mas bangun, sudah pagi." ucapku sembari berjongkok di depan wajah tampan suamiku dan sedikit membelai pipinya.
Dia nampak menggeliat merasa terganggu.
"Ya ampun, apa kamu benar benar lelah." aku kembali mengusap pipi juga rahangnya yang tegas.
Aku sampai terkaget saat dia tiba tiba membuka mata. Ekspresinya tak seperti biasanya menatapku dengan penuh cinta. Wajahnya dingin, tanpa bicara dia beranjak dari sofa lalu pergi ke kamar mandi.
Aku merasa ada yang aneh, tidak biasanya dia sedingin itu denganku. Apa terjadi sesuatu semalam saat aku tidak sadar. "Ya Allah, semoga engkau selalu melindungi hambamu dari semua hal yang buruk." Doa ku panjatkan dalam hati.
Bimo ternyata langsung mandi, dia sudah memakai baju santai dengan bercelana pendek. Aku hanya mengamati pergerakannya. Tak ada morning kiss ataupun sekedar sapaan selamat pagi.
Aku dengar jika Bimo menghubungi pihak hotel untuk mengirimkan sarapan ke kamar.
"Aku ingin keluar, kamu istirahatlah. Sarapanmu juga akan segera datang." ucapnya bahkan tidak sambil menatapku.
Tak perlu mendengar jawabanku, dia langsung keluar begitu saja.
Setelah mencari beberapa saat, ponselku tidak ada.
"Kemana ponselku, seingatku aku simpan disini kemarin sore sebelum acara dimulai." aku menatap laci nakas di samping ranjang yang kosong.
Apa yang sebenarnya terjadi?? pikirku. Aku masih sedikit pusing, aku putuskan untuk kembali berbaring lagi.
....
Bimo pergi keluar dari kamar hotel yang kemarin disulap menjadi kamar pengantin. Kamar pengantin yang seharunya jadi kamar penuh kebahagiaan, namun semalam hanya ada kesuraman.
Bimo menuju sebuah kamar, kamar yang semalam dia sudah dobrak pintunya. Bimo semalam juga sudah menyuruh orang untuk menjaga kamar ini agar tak ada satupun orang yang masuk tanpa seijinnya.
Bimo mengamati seluruh kondisi kamar yang berantakan seperti semalam. Bimo mengedarkan pandangannya, melihat pintu kamar mandi yang terbuka lebar. Bmo melangkah perlahan memasuki kamar mandi itu.
__ADS_1
Sebuah gaun cantik, yang semalam melekat pada tubuh istrinya teronggok begitu saja di lantai. Bimo meraih gaun itu.
"Apa yang terjadi, kenapa ini basah?" Bimo merasakan gaun itu yang masih sangat basah.
Bimo menghubungi seseorang.
"Bagaimana perintahku? Sudah kau lakukan?"
"...."
"Bagus, aku akan segera kesana."
"..."
Bimo langsung mengakhiri telfonya. Lalu dia segera pergi dari kamr itu, menuju ke sebuah tempat.
Bimo mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Selang beberapa menit, Bimo menghentikan mobilnya di sebuah rumah besar yang terlihat kalau tidak begitu terawat. Bimo memasuki rumah itu.
"Dimana dia?" tanya Bimo pada salah seorang penjaga rumah itu.
"Di kamar sebelah sana tuan." tunjuk penjaga tadi ke sebuah pintu.
Bimo melangkahkan kakinya pelan, sambil berfikir. Bagaimana caranya mengungkap kebenaran. Walau tak ingin percaya, tapi pun tak ada bukti bahwa mereka tak melakukan apapun.
"Bimo.." lirih Aril yang diikat seperti tawanan saat melihat Bimo masuk ke ruangan itu.
"Cobalah jelaskan.!!" ucap Bimo tegas.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
maafkan diriku ya, tiba tiba ngeblank gara gara ngantuk..aku lanjutkan besok lagi iya..
__ADS_1
✌️✌️✌️love you readers setiaku