Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
Kehamilan Alea


__ADS_3

Bimo segera kembali ke kamar, saat mama mertuanya sudah selesai memasak makanan yang Alea inginkan. Bimo mendapati Alea yang tertidur, Bimo berniat untuk membangunkannya. Bimo mendekat ke ranjang lalu duduk di tepiannya.


"Sayang, bangun." Bimo mengusap pipi Alea yang terlihat semakin tembem.


Alea yang merasakan sentuhan di wajahnya lalu mengerjabkan matanya. Senyum mengembang di bibirnya, mendapati sang suami yang telah mengusiknya.


"Iya bee." Sahut Alea membenarkan posisi tidurnya.


"Ayo bangun, yang kamu inginkan tadi sudah siap. Mau makan sekarang?"


"Emm, iya. Ayo turun."


Alea dan Bimo keluar kamar, menuju ruang makan. Bimo menarikan stu kursi untuk Alea duduki.


Alea dengan cekatan juga tak sabaran segera mengambil nasi juga lauk yang diinginkannya tadi. Baru beberapa suap namun Alea sudah merasa tidak enak di dalam mulutnya.


"Bee, aku sudah. Sekarang kamu makan iya??"


"Yakin?" Tanya Bimo memastikan.


Alea mengangguk yakin. Bimo lega, karena Alea tak makan banyak. Karena Bimo pun khawatir dengan kandungan Alea jika banyak memakan makanan yang pedas. Bimo dengan senang hati memakan tumis ikan peda cabai hijau itu. Walau sudah di buat dengan sedikit cabai, tetaplah nikmat di lidah Bimo.


Melihat makan suamminya yang lahap, Alea jadi mengingat masa lalunya, pertama kalinya suaminya sebagai Deni datang ke rumahnya. Dan dengan semangat ikut makan bersama yang berlaukan ikan peda yang katanya sangat spesial. Alea jadi tersenyum mengingat masa itu.


Bimo merasa terus diperhatikan oleh Alea, jadi dia menoleh melihat Alea. Dan terlihat Alea yang senyum senyum sambil menatapnya.


"Kenapa?" Bimo mengeryitkan keningnya.


"Ah tidak. Lanjutkan makanmu. Bee aku cari Myli dulu iya." Alea beranjak dari duduknya.


"Kamu lupa kalau Myli sedang ikut kakek?" Bimo mengingatkan.


"Ah iya, ya sudah aku mau cari papa atau mama. Ingin ngobrol sebentar."


"Hem, hati hati iya." Jawab Bimo, lalu melanjutkan lagi makannya.


Alea menyusuri ruangan di rumahnya itu, mendapati sang papa sedang menonton tv. Alea pun bergabung.


"Pa.." sapa Alea lalu duduk di samping papanya.


"Hai sayang. Suami kamu mana?" Tanya papanya karena biasanya keduanya selalu bersama.


"Makan pa."


"Kamu tidak makan?"


"Sudah. Mama mana?" Tanya Alea kemudian.


"Tadi pamit ke kamar dulu."


"Al bagaimana perkembangan kesehatan calon cucu papa?"


"Sehat kok pa, kemarin periksa ke dokter. Kata dokter, bayiku berkembang dengan baik. Sekarang sudah mulai bergerak gerak." Jelas Alea membuat papanya berbinar.


"Benarkah?" Papanya mengelus perut Alea mencoba merasakan kali aja bayi Alea bergerak.


Tak di sangka bayinya bergerak, membuat tuan Aran kegirangan.


"Al, bayimu bergerak." Teriak tuan Aran saking bahagianya.

__ADS_1


"Iya pa," Alea turut senang.


Bimo ikut duduk di samping Alea setelah makannya selesai. Tersenyum mengamati sang mertua yang gembira karena merasakan pergerakan calon anaknya.


Mereka bertiga berbincang hingga mama Alea menginterubsi agar Alea segera istirahat karena sudah larut. Alea pun menurut, karena dia pun sudah mulai menguap.


....


Hari berganti, Alea pagi pagi sudah bad mood. Gara gara Bimo yang bangun lebih dulu dan meninggalkannya sendirian yang masih terlelap tidur. Tanpa berpamitan padanya, langsung berangkat ke kantor, Perusahaan papa Zian.


Saat sarapan juga hanya ditemani sang mama. Alea jadi tak selera makan kalau sudah bad mood seperti itu.


"Kenapa sih sayang?? Dari tadi mama perhatiin cemberut terus gitu." Tanya mamanya sambil menikmati sarapannya.


"Haah, aku kesel ma sama mas Bimo. Ngapain sih pagi pagi udah ke kantor. Nggak pamitan lagi." Keluh Alea.


"Ya ampun sayang, cuma gitu aja cemberut. Mungkin ada yang darurat, makanya dia pergi pagi pagi sekali. Lagian tadi juga ijin sama mama. Tai gak tadi sampai suamimu lari lari, gak sempet sarapan pula." Jelas mamanya.


Alea hilang sudah kesalnya berubah jadi khawatir, apalagi mamanya bilang kalau suaminya tak sempat sarapan. Apakah se penting itu? Sampai melupakan makannya. Pikir Alea dalam hati.


"Ma, Alea ijin menyusul suamiku iya."


"Nggak usah sayang. Di rumah aja ya." Tolak mamanya.


"Aku khawatir ma, dia belum sarapan. Pasti nanti akan lupa untuk minum obatnya." Alea sungguh khawatir.


"Nggak perlu kesana, telfon saja untuk mengingatkan." Bujuk mamanya.


"Ah iya baiklah." Alea menyetujui ide mamanya.


Alea meraih ponselnya yang diletakan di samping piring makannya. Lalu mencoba untuk menelfon Bimo. Setelah mencoba beberapa kali tetap tak bisa. Ponsel Bimo sedang tidak aktif.


"Diantar supir ya, kamu hati hati." Ucap mamanya kemudian karena tak mubgkin bisa mencegah Alea pergi.


Alea sudah dalam perjalanan ke perusahaan. Di jalan pun, Alea tak berhenti menghubungi Bimo. Namun hasilnya tetap sama.


"Bee, kamu sesibuk apa sih. Sampai ponselmu kamu matikan." Gerutu Alea.


Sesampainya di kantor, Alea langsung ke resepsionis.


"Selamat pagi Nona." Sapa si resepsionis sopan yang memang sudah mengetahui bahwa Alea adalah menantu si pemilik perusahaan tempatnya bekerja.


"Pagi, suamiku ada di sini?" Tanya Alea to the point."


"Sebentar nona akan saya pastikan pada sekertaris tuan Zian."


Alea mengangguk saja.


Si resepsionis menghubungi seseorang dan menanyakan keberadaan si anak sulung tuan Zian. Dan setelah mendapat jawaban, lalu menutup telfonnya.


"Nona, tuan Bimo memang berada disini. Sedang mengikuti meeting dengan tuan Zian. Nona langsung saja ke lantai paling atas. Nanti akan ada salah satu sekertaris tuan Zian yang menyambut anda. Maaf tidak sopan, tidak bisa mengantarkan Nona. Karena disini hanya ada saya sendiri." Resepsionis menunduk meminta maaf.


"Ah tidak apa apa. Lakukanlah pekerjaanmu. Aku ke atas sekarang." Alea berlalu menuju lift. Alea menekan lantai paling atas.


Ting..


Lift yang Alea naiki sudah terbuka pintunya. Lantai teratas kantor ini.


"Selamat pagi nona." Sapa sekertaris tuan Zian.

__ADS_1


"Pagi." Jawab Alea.


"Mari saya antar ke ruangan tuan Zian." Sekertaris itu sudah melangkah terlebih dulu.


Setelah membukakan pintu, sang sekertaris mempersilakan Alea masuk lebih dahulu.


"Nona, silahkan tunggu disini. Mungkin meetingnya masih satu jam lagi. Jika Nona membutuhkan sesuatu, silahkan panggil saya saja." Ucap sekertaris itu sopan.


"Baiklah. Terima kasih iya. Oh iya aku minta tolong jika nanti meetingnya hampir selesai tolong buatkan teh hangat ya." Ucap Alea kemudian.


"Iya Nona akan saya lakukan. Kalau begiu saya permisi unuk kembali ke tempat saya." Pamit sekertaris itu.


"Iya silahkan."


Alea menunggu sambil membuka ponselnya. Lihat halaman sosmednya, main game, baca cerita. Apapun sudah dilakukan namun tetap saja. Berdiam di tempat dalam waktu yang lama membuatnya sangat bosan.


Alea beranjak dari duduknya, berjalan mengitari ruangan itu. Melihat lihat rak buku. Alea tertarik pada sebuah buku di rak bagian paling atas. Ingin Alea menggapainya namun tak sampai. Alea melihat kanan kiri, ada tidak yang bisa dia gunakan untuk mengganjal dirinya agar bisa mencapai buku itu.


Alea melihat ada kotak kecil sepertinya memang disediakkan untuk dinaiki saat akan mengambil buku di rak paling atas. Karena letaknya pun di dekat rak buku.


Alea mengambil kotak itu, ringan. Lalu di letakkan lurus dengan buku yang ingin dia ambil. Alea naik ke atas kotak itu dan mengambil buku yang diinginkan. Tanpa turun dari kotak itu, Alea langsung membuka buku yang ingin dibacanya itu.


Karena sedang asik membaca buku, Alea lupa kalau dia masuh di atas kotak. Langkahnya tidak hati hati membuat dia jatuh.


"Aaakhh..." Teriak Alea saat dirasakan tubuhnya akan jatuh karena hilang keseimbangan.


Untunglah di saat yang tepat Bimo datang dan menangkap tubuh Alea. Jantung Alea berdegub kencang. Tak tahu akan apa jadinya bila dia terjatuh.


"Sayang, apa kamu tidak bisa hati hati." Ucap Bimo pelan namun penuh penekanan. Terlihat sekalu raut wajah khawatirnya.


"Maaf, aku lupa kalau aku masih di atas kotak ini." Alea sudah berkaca kaca. Sadar kalau dirinya telah lalai.


Bimo menghela nafasnya pelan, mencoba menetralkan emosinya. Lalu menuntun Alea untuk duduk di sofa.


"Ya sudah. Yang penting kamu nggak apa apa. Lain kali lebih hati hati ya." Bimo mengecup kening Alea.


Alea mengangguk saja. Lalu datang sekertaris tuan Zian yang membawakan segelas teh hangat sesuai permintaan Alea.


"Kau dari mana? Kenapa tidak menemani istriku disini? Dia hampir celaka tadi karena sendirian disini." Tegas Bimo membuat si sekertaris langsung terkejut dan menunduk takut.


"Maafkan saya tuan."


"Bee, kan aku memang yang tidak hati hati. Jangan menyalahkan dia. Dia kan disini juga kerja. Masa iya harus meninghalkan pekerjaannya hanya untuk menungguiku disini. Jangan marah ya sama dia." Ucap Alea menenangkan.


"Ya sudah sana pergi." Titah Bimo kemudian. Setelah meletakan teh hangat itu di meja. Sekertaris itu langsung pamit untuk kembali ke mejanya.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


jangan lupa like komen nya ya.... ya..


mampir jg lah ke novelku yg satunya


"JODOHKU"



favoritkan juga ya... selalu ditunggu dukungan kalian.. terima kasih yang selalu setia baca novelku ini.


love you readers setiaku..😘😘😘😘🤗🤗🤗😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2