
Susan bersantai duduk di balkon kamarnya. Kemudian datang Deni yang nyelonong saja masuk ikut duduk di samping Susan.
"Den, kaget akunya, main masuk saja." ucap Susan sambil mengelus dada karena terkejut.
"Sorry." ucapnya sambil menyandarkan diri ke Susan.
"Kenapa? Kok lemes gitu." tanya Susan.
"Aku bakal kesepian nih, kalau kamu pindah."
"Aku kan nggak pindah jauh, lagian kamu bisa main ke rumah papaku." ujar Susan. Sebenarnya dia juga merasa akan kesepian kalau tidak ada Deni. Mungkin hidup serumah satu setangah tahun ini membuatnya jadi terbiasa ada di samping Deni.
"Sering seringlah kesini nanti, jenguk Opa ku."
"Jenguk Opa apa jenguk kamu?" ucap Susan dengan nada menggoda.
"Dua duanya. Jangan menggodaku," ucap Deni sambil mencebikkan bibirnya.
Susan berdiri, melangkah mendekati pagar balkon dan bersandar disana. Menatap wajah Deni dengan seksama. Denipun juga menatapnya.
"Kenapa? Ada yang aneh diwajahku?" tanya Deni.
Susan tak merespon pertanyaan Deni, dia masih tetap menatap wajah Deni. Saat tersadar, Deni tengah berjalan mendekat ke arah Susan. Susan kemudian membalikkan badannya dan menatap taman kecil yang ada di depan rumah Deni.
Deni memeluk Susan dari belakang. Susan yang merasa tidak nyaman berusaha melepaskan dirinya.
"Tetaplah begini, sebentar saja." ucap Deni sambil menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Susan. Susan tak bisa menolak keinginan sahabatnya ini, yang mungkin sudah mulai ada tempat dihatinya kini untuk sahabatnya kini. Karena perlakuan lembut Deni selama ini, membuat Susan sedikit membuka hatinya untuk Deni. Karena mulai merasa nyaman, mereka bertahan dengan posisi itu dalam waktu yang lama.
"Den,." panggil Susan.
"Hmmm.." jawab Deni.
"Sampai kapan?" tanya Susan.
"Apanya??" Deni tak mengerti.
"Aku pegal berdiri dari tadi."
"Kau ini merusak suasana saja." gerutu Deni kemudian duduk di kursi lagi.
Susan juga ikut duduk.
"Hahh." gumam Susan pelan, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Deni. Deni kemudian merangkul Susan.
__ADS_1
"Susan..?" panggil Deni.
"Ya.." jawab nya pelan.
"Sekarang bolehkah aku mengisi hatimu menggantikan dia? Aku berjanji tidak akan membuatmu bersedih. Aku akan melakukan apapun demi kebahagianmu."
Susan tak merespon perkataan Deni, Deni berfikir mungkin saja Susan belum yakin pada dirinya.
"Aku akan berusaha membuatmu selalu tersenyum, kau tahu senyumanmu itu sangat manis dan menambah kecantikanmu. Sampai aku merasa hariku akan terasa kurang kalau belum melihat senyumanmu itu. Bisakah kau tidak pergi, dan tinggallah disini saja. Aku tidak bisa jauh darimu barang sehari pun. Aku sangat mencintaimu Susan." ujar Deni dengan penuh keyakinan, tapi yang diajak bicara tetap diam saja.
"Susan, kenapa diam? Apa kau masih belum yakin denganku?" tanya Deni namun Susan masih diam. Deni penasaran lalu mendongakkan wajah Susan. Deni langsung menepuk dahinya.
"Aku sudah susah payah mengumpulkan keberanian untuk mengatakan semuanya, dia malah tidur. Kenapa kejadian beberapa tahun lalu terulang lagi. Bedanya dia dulu dia tidak pedulikanku yang dianggap bercanda, sekarang ditinggal tidur." gerutu Deni. Deni memutuskan ikut memejamkan matanya dan ikut masuk ke alam mimpinya.
...
Tuan Aran datang mengunjungi putrinya tentu bersama sang istri tercintanya yaitu ibu Susan. Susan yang mengetahui kedatangan mereka langsung menyambutnya dengan gembira.
"Ibu, kau melupakanku sampai beberapa hari tidak kesini untuk melihatku." ucap Susan sambil memeluk ibunya.
"Hei nak, mengertilah. Ibu juga ingin menghabiskan waktu berdua dengan ayahmu. Kau kan juga butuh waktu berdua." goda ibu Susan. Namun Susan tidak mengerti maksud ibunya.
"Maksud ibu apa?" tanya Susan. Ibunya hanya memberi isyarat mata yang menunjuk ke arah Deni. Seketika pipi Susan merona mengerti masud ibunya, tak ingin di goda ibunya lagi dia segera beralih ke ayahnya.
"Benarkah?" tanya ayahnya memastikan. Susan mengangguk membenarkan.
"Papa juga merindukanmu, tapi setelah kita pindah rindumu bukan buat Papa lagi." lanjut ayah Susan.
"Lalu siapa lagi?" Susan mengernyitkan dahinya. Lagi lagi Susan digoda oleh orangtua nya, ayahnya menunjuk ke arah Deni.
"Hahh." Susan mendengus kesal karena bukannya dilimpahi sayang malah terus saja digoda.
"Sudah, jangan jadi horor gitu mukanya. Ayo kita masuk dan mengobrol di dalam." ajak ibu Susan.
Di dalam rumah, tak ingin menyia nyiakan kesempatan. Susan bermanja manja pada ayahnya.
"Pa, kapan kita akan tinggal bersama?" tanya Susan yang tidur di pangkuan ayahnya.
"Sebentar lagi sayang. Oh iya, mulai hari ini biasakan dirimu dengan panggilan Alea ya."
"Kenapa begitu Pa, bukankah nama Susan juga bagus."kilah Susan.
"Karena di kartu keluarga kita, kamu itu putri papa dengan nama Alea Putri Wijaya. Jadi sejak lahir namamu memang Alea sayang."
__ADS_1
"Baiklah, kalau memang itu keputusan papa, aku menurut saja. Tapi kalau ada teman lama memanggilku dengan nama Susan tetap boleh dong pa?"
"Iya sayang. Tentu saja."
Mereka terus mengobrol hingga sore menjelang. Ayah Alea berpamitan karena ada sebuah pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Dan dia harus meninggalkan istri dan anaknya yang sebenarnya masih sangat dia rindukan.
"Papa pergi dulu ya nak, jaga Mamamu."
"Iya Pa, hati hati di jalan ya Pa." ujar Susan.
"Besok siang bersiaplah, Papa akan membawamu ke kantor. Setelah makan siang akan ada orang yang menjemputmu."
"Untuk apa Pa?" tanya Alea pada Papanya.
"Besok juga kamu tahu nak. Jangan lupa ya." ucap Papanya.
Susan mengangguk saja, kemudian ayahnya pergi menuju kantornya.
"Ibu istirahat saja, biar aku saja yang menyiapkan makan malam. Ok." kata Alea pada ibunya yang menurutinya saja kemudian pergi ke kamar untuk membersihkan diri lalu beristirahat. Sedang Alea pergi ke dapur untuk memasak.
Saat sedang memotong bawang merah tak terasa air mata Alea menetes hingga membuat hidungnya juga mulai berair. Tiba tiba ada seseorang memeluknya dari belakang. Susan terkejut namun saat mendengar suaranya, hilanglah terkejutnya.
"Kenapa nangis? Tidak relakah kamu pindah dan hidup jauh dariku?" tanya Deni.
"Tidak lihat aku sedang mengiris bawang, siapa dirimu hingga kamu berharap aku akan menangisimu." ujar Alea masih membiarka Deni memeluknya.
"Alea Putri Wijaya." ucap Deni sedikit keras terdengar di telinga Alea.
"Pendengaranku tidak terganggu, tidak perlu kamu berteriak di telingaku. Dan lagi pula aku juga tahu nama lengkapku tidak perlu kamu dikte aku juga tahu." ucap Alea sedikit kesal.
"Tenanglah, aku ingin mengajakmu sedikit romantis jangan merusak suasana dengan marahmu itu." kata Deni.
Susan hanya mendengus kesal. Deni kembali berkata.
"Bolehkah aku egois Al? Aku ingin kamu tetap disini bersamaku. Jangan pindah aku tidak tahu apa jadinya aku kalau hidup jauh darimu. Aku sangat mencintaimu, kamu mau jadi kekasihku."
"Entah aku sudah mencintaimu atau belum. Tapi yang pasti aku juga merasa kalau aku tidak bisa jauh darimu. Aku tidak ingin berpacaran Den, kalau memang nanti kita saling mencintai dan kita berjodoh, kita akan disatukan dalam ikatan pernikahan. Tapi untuk saat ini aku ingin menyelesaikan dulu S1."
"Baiklah aku akan menunggumu, Aku sudah menunggumu bertahun tahun jadi tidak masalah jika harus menunggu lagi. Aku akan menjaga hatiku untukmu."
"Akupun akan melakukan hal yang sama. Semoga takdir akan menyatukan kita."sahut Alea. Deni pun akhirnya melepas pelukannya.
" Sekarang biarkan aku membantu calon makmumku ini. Apa yang bisa aku lakukan." kata Deni. Alea yang mendengarkan jadi tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah calon imam yang tampan, bantulah aku memotong sayuran ini." Alea menyerahkan beberapa sayuran. Alea dan Deni pun menghabiskan waktu berdua memasak di dapur dengan di selingi canda dan tawa dari mereka berdua.