Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
Tertunda lagi


__ADS_3

"Kita ke rumah sakit saja ya." tawar Ika.


"Tidak usah Ka, kakak tidak apa apa. Kita pulang saja ya, kakak nggak mau buat mama dan papa khawatir. Nanti panggil dokter saja ke rumah." tolak Bimo.


"Baiklah, ayo aku bantu." Ika segera memapah kakaknya masuk ke dalam mobil. Setelahnya dia segera masuk juga ke mobil dan segera melajukannya. Dia sangat khawatir dengan kondisi kakaknya itu, terlihat sekali kalau kakaknya sedang menahan sakit.


Setelah menghentikan mobilnya di depan pintu rumah, Ika segera membantu kakaknya untuk turun. Karena mendengar suara mobil, pembantu segera membukakan pintu utama. Terkejut melihat tuannya dalam keadaan babak belur. Padahal tadi saat keluar rumah masih baik baik saja.


"Papa, mama.!!" teriak Ika dari ruang tamu.


Teriakan Ika menggema, setelahnya dia menyuruh pembantunya untuk menelfon dokter keluarga.


Orang tuanya yang sedang bersantai di ruang keluarga, langsung berlari ke ruang tamu ketika mendengar teriakan Ika.


"Ya Allah,, Bimo, kamu kenapa nak??" Mama Ika langsung berhambur ke Bimo. Meletakan kepala Bimo dalam dekapannya.


"Sebenarnya apa yang terjadi Ka?" Tanya papanya.


"Aku tidak tahu kejadian ya persis pa, tadi aku hanya melihat kak Bimo sudah berkelahi dengan seorang preman jalanan yang dalam keadaan mabuk. Untunglah aku cepat datang, aku langsung melumpuhkan preman itu, dan segera membawa kakak pulang. Kakak tidak mau aku bawa ke rumah sakit, takut papa dan mama akan khawatir nanti."


"Lihatkan kak!!! Walau kakak langsung pulang pun papa mama tetap saja khawatir. Harusnya tadi kakak menurut saja aku bawa ke rumah sakit. Lihatlah dirimu!! Aku tahu kau sedang menahan sakitmu kan. Bilang saja kalau kau sakit..." Bimo sudah menyumpal mulut Ika dengan tangannya.


"Kau ini cerewet sekali. Kau malah membuatku bertambah pusing karena ocehanmu adik kecil." Ucap Bimo sembari melepas tangannya dari mulut Ika. Ika langsung mengerucutkan bibirnya.


"Sudah sudah..tadi sudah telfon dokter?" Tanya papanya.


"Sudah pa, tadi aku menyuruh bibi." Jawab Ika.


Tak lama, seorang dokter datang. Dokter pria paruh baya itu memang sudah menjadi dokter pribadi kelurga makanya dia akan langsung datang jika ada panggilan dari rumah ini.


"Permisi, lebih baik mas Bimo berbaring terlebih dulu. Saya akan memeriksanya."


Bimo menuruti perintah dokter, kemudian dokter mulai memeriksa seluruh tubuh Bimo. Dokter menekan sedikit area betis Bimo, Bimo langsung tersentak.


"Apa sangat sakit?" Tanya dokter saat melihat reaksi Bimo akibat tekanannya tadi.


"Lumayan dok." Jawab Bimo sambil meringis menahan sakit.


Dokter tampak menghela nafasnya.


"Lebih baik jangan digunakan untuk berjalan dulu. Takutnya tulangnya kembali retak jika dipaksakan untuk berjalan. Karena belum juga kaki mas Bimo benar pulih, sekarang malah kembali terluka lagi. Jadi untuk sementara mas Bimo menggunakan kursi roda dulu." Jelas pak dokter.

__ADS_1


Bimo hanya pasrah, keinginanya untuk bisa segera berjalan normal lagi tanpa alat bantu apapun harus tertunda lagi. Semua karena kecerobohannya sendiri, untuk apa menghiraukan ucapan preman mabuk itu. Karena dia terpancing emosi malah dia yang rugi sekarang.


"Baiklah tuan Zian, saya permisi. Ini obatnya dan nanti saya akan mengirim seseorang untuk mengantarkan kursi roda kemari." Ucap dokter itu, kemudian beranjak pergi dari kediaman tuan Zian.


"Bim, ayo papa gendong. Pindah ke kamar dan beristirahatlah." Papanya sudah berjongkok di depan Bimo dengan posisi membelakangi Bimo.


"Yakin pa kuat?" Bimo meragukan papanya.


"Papa masih kuat. Sudah ayo cepat!!" Titah papanya, Bimo merangkulkan tangannya ke bahu papanya. Perlahan papanya berdiri dan menggendong Bimo.


Tuan Zian berjalan pelan menuju kamar Bimo. Untunglah kamar Bimo berada di lantai satu. Coba kalau di lantai dua, tuan Zian pasti sudah menyerah kalau harus naik tangga.


Ika mengikuti langkah papanya. Berjaga jaga takut papanya tidak sanggup sampai kamar.


"Hahh.." kesah Tuan Zian, saat sudah meletakan Bimo di ranjangnya.


"Istirahatlah, papa juga mau istirahat." Kata papanya kemudian keluar dari kamar Bimo.


"Kak, sebenarnya tadi kenapa sih? Kok sampai berantem gitu," tanya Ika penasaran.


"Tadi tuh, preman itu awalnya mau malak kakak. Tapi nggak kakak kasih uang, karena kakak memang lupa nggak bawa dompet. Kakak terus dipaksa dan dihina jadi kakak malah jadi emosi. Berlanjutlah kakak pukulin dia pakai tongkat kakak, karena itu dia juga balas pukulan kakak. Kaki kakak terluka lagi karena preman itu menendang kaki kakak tadi, sampai kamu datang bantuin kakak." Terang Bimo.


"Bim, minum obatnya dulu ya. Setelah itu langsung tidur." Mamanya datang dengan membawa segelas ira dan obat dari dokter tadi.


"Istirahat ya kak. Aku keluar." Ucap Ika lalu keluar dengan mamanya setelah Bimo meminum obatnya.


"Ka, mama bangga sama kamu. Nggak sia sia kamu belajar beladiri, kamu jadi bisa jaga diri kamu juga kakak kamu." Kata mama Ika sembari berjalan bersama menuju ruang keluarga, menyusul tuan Zian yang sedang santai menonton tv.


"Iya ma." balas Ika.


"Papa.." Ika melompat langsung duduk di samping papanya hingga membuat papanya itu terkejut.


"Kamu tuh kebiasaan kalau lagi di rumah suka sekali mengejutkan papa."keluh tuan Zian sambil mengelus dadanya.


"Hehe, aku kan sayang papa. Nggak apa apa kan kalau sering buat kejutan." jawab Ika tanpa merasa berdosa.


"Gimana calon mantu papa?" goda tuan Zian dengan menaik turunkan alisnya menatap sang putri.


"Iihh,,papa. Calon mantu mulu dari tadi. Teman pa!! TE MAN!!" Tegas Ika.


"Kapan dong lebih dari temannya?" tuan Zian tak henti menggoda putrinya. Sedang mamanya hanya mengamati keduanya.

__ADS_1


"Udah ah,, aku mau makan masakan mama." balas Ika, mau kabur dari godaan papanya yang membuat pipinya semakin merona merah.


Ika menuju ruang makan.


"Ma, ini kari ayamnya aku habisin ya?" teriak Ika dari ruang makan.


"Iya sayang habiskan saja." balas mamanya juga dengan berteriak dari ruang keluarga.


....


Hari minggu yang cerah, Aril berencana untuk mengajak Myli jalan jalan ke taman. Sudah lama dirinya tak mengajak keluar Myli, karena kesibukannya. Dengan mobilnya dia sudah berada di halaman rumah Alea. Terlihat olehnya kalau Myli sedang bermain di taman depan rumah dengan mbak Asih.


Myli yang melihat kedatangan ayahnya segera berlari menghambur ke pelukan Aril yang baru turun dari mobil.


"Selamat pagi..!!" ucap Aril menyambut Myli dalam dekapannya.


"Pagi ayah." balas Myli.


"Myli tambah pintar ya. Myli mau hari ini kita jalan jalan?" Aril telah menggendong Myli dan berjalan ke teras rumah.


"Mau,, mau,," jawab Myli dengan semangat.


"Ok, mari kita minta ijin sama mama juga kakek nenek iya."


Aril menurunkan Myli dan menggandeng tangan mungilnya masuk bersama ke dalam rumah.


"Selamat pagi tuan nyonya." sapa Aril saat menjumpai tuan Aran dan istrinya sedang bersantai di ruang keluarga.


"Pagi Ril." balas keduanya bersamaan.


"Tuan, nyonya. Kalau diijinkan, saya ingin mengajak Myli pergi jalan jalan." Aril meminta ijin pada kakek nenek Myli terlebih dulu.


"Bolehlah..Myli mau jalan jalan sama ayah?" tanya tuan Aran menatap cucunya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sudah dulu iya,, lanjuut besok lagi..


Selalu ku ucapkan banyak banyak terima kasih yang sudah mau membaca karyaku.


Jangan lupakan like jua.. tinggalkan jejak kalian berupa komentar juga👌👌👌

__ADS_1


👏👏👏👏untuk kalian semua, tanpa kalian aku hanya se..se..apa ya aku lupa mau nulis apa, hehehe maaf ya...bye bye semua


love you fuul pokoknya readers setiaku..juga readersku yang sekedar mampir.. aku nggak lupa kok..apa yang aku terima pasti akan aku balas..,,👋👋👋👋


__ADS_2