Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
Kenyataan


__ADS_3

"Pa, Myli bilang kalau dadnya sudah di surga. Apa maksudnya? Suamiku masih hidup kan??" teriak Alea menuntut penjelasan.


"Ma, bawa Myli keluar dulu." perintah Tuan Aran pada istrinya.


Mama Alea langsung meraih tubuh Myli dan digendongnya keluar dari kamar.


Tuan Aran mendekati putri satu satunya itu.


"Sayang dengarkan Papa. Maafkan Papa, semua yang dikatakan Myli memang benar. Deni sudah meninggal."


"Tidak pa, suamiku belum meninggal. Itu tidak benar kan." Alea semakin terisak. Tangisannya begitu memilukan. Tuan Aran juga tak dapat menahan air matanya melihat sang putri begitu terpukul mendengar kenyataan.


"Sayang kamu harus terima kenyataan ini ya. Jangan terlarut dalam kesedihan ini. Deni pasti ikut sedih jika kamu bersedih terus. Ingat Myli juga."


Alea masih menangis. Tak kuasa menahan kesedihannya. Tuan Aran mencoba menenangkan Alea, memeluknya dengan penuh kasih. Hingga Alea lebih tenang, bahkan terlalu tenang menurutnya.


Tuan Aran mencoba melepas pelukannya, Alea ternyata tenang karena pingsan. Dengan perlahan Tuan Aran membaringkan tubuh Alea kembali. Segera Tuan Aran menghubungi dokter.


Setelah menunggu beberapa menit, dokter pun datang.


"Apa yang terjadi Tuan?" tanya sang dokter.


"Alea pingsan, dia syok mendengar kematian suaminya." jawab Tuan Aran.


"Baiklah akan saya periksa lebih dahulu." Dokter mulai memeriksa tubuh Alea.


"Semua terlihat normal Tuan, tinggal menunggu saja nanti saat siuman. Kalau Nyonya histeris lebih baik Tuan menghubungi saya lagi."


"Baiklah Dok, terima kasih."


"Saya permisi dulu Tuan."


"Iya Dok."


Dokter itu kemudian pulang. Tuan Aran kembali ke kamar putrinya, untuk menjaganya.


Tuan Aran mencoba untuk membangunkan Alea, dengan cara memberinya minyak kayu putih di ujung hidungnya. Setelah beberapa saat Alea mulai menggerakan kelopak matanya.


"Pa." panggil Alea lemah.


"Iya sayang."


"Suamiku meninggal karena apa?" tanya Alea yang penasaran.

__ADS_1


"Deni meninggal pada kecelakaan yang mengakibatkan kamu koma."


"Maksud papa bagaimana? Bahkan waktu di mobil itu, aku malahan yang merasa akan mati. Keadaan suamiku lebih baik dari pada aku pa." jelas Alea.


"Iya papa tahu kondisinya. Namun saat kamu sudah dibawa Aril ke rumah sakit, ternyata mobil itu terbakar bersama dengan suamimu." jelas Tuan Aran cemas, takut Alea tambah syok.


"Itu tidak mungkin pa, suamiku selamat waktu itu. Dia berhasil keluar dari mobil itu. Jadi mana mungkin dia ikut terbakar waktu itu." teriak Alea.


"Sayang tenanglah dulu."


"Pa, bagaimana aku bisa tenang? Kalian mengira suamiku sudah tiada, dan tidak mencarinya. Aku yakin suamiku masih hidup Pa."


Tuan Aran bingung, harus percaya atau tidak dengan ucapan putrinya itu. Sempat terlintas dipikirannya mungkin Alea seperti itu akibat syok mendengar kematian suaminya.


Tuan Aran mencoba membujuk Alea untuk makan agar bisa meminum obatnya. Setelah mengiyakan ucapan Alea kalau Deni masih hidup akhirnya Alea mau makan.


....


"Bagaimana kondisi Alea Tuan?" Aril tak dapat menahan dirinya untuk tidak mencari tahu kabar Alea.


"Alea tidak terima kalau suaminya sudah tiada Ril. Saat ini saya hanya mengiyakan saja perkataannya, agar dia mau cepat sembuh." jawab Tuan Aran. Terlihat Tuan Aran pusing memikirkan keadaan Alea karena sejak tadi tak berhenti memijat pelipisnya.


"Apa saya boleh menemuinya Tuan.?"


Aril pergi ke kamar Alea.


Tokk tokk


"Masuklah." terdengar jawaban dari dalam. Perlahan Aril masuk ke kamar Alea. Dibiarkan pintu kamar tetap terbuka.


Alea duduk termenung di sofa, melihat keluar jendela. Aril mendekat berdiri di sampingnya.


"Bagaimana keadaanmu?"


"Baik." Alea hanya melirik sekilas dan melihat keluar lagi.


"Apa kau juga tidak percaya kalau suamiku masih hidup?" tanya Alea kemudian.


"Aku tidak tahu Al. Lagi pula apa yang membuatmu yakin kalau Deni masih hidup?" Aril sungguh penasaran.


"Saat kau menyelamatkanku, aku tidak pingsan. Aku dengar apa saja yang kalian bicarakan, namun aku tak kuat untuk membuka mataku karena terlalu sakit. Sesaat setelah kau meletakan aku di mobilmu, aku berusaha membuka mataku. Aku mencari keberadaan mobil yang terdapat suamiku. Baru aku melihat posisinya, kau sudah masuk ke dalam mobil dan menyalakannya. Saat mobilmu mulai bergerak, aku lega karena melihat suamiku berhasil keluar dari mobil naas itu." jelas Alea.


Aril tentu saja terkejut. Pasalnya saat identifikasi mayat yang terbakar itu menyatakan kalau memang mayat itu adalah Deni.

__ADS_1


"Apa kamu yakin Al? Kalau Deni berhasil keluar dari mobil itu.."


"Apa kau tidak percaya?" mata Alea mulai berkaca kaca.


"Kalau memang Deni masih hidup, kenapa dia tidak kembali? Dan juga siapa yang kami kuburkan atas nama Deni?"


Alea mulai menangis sesenggukan. Aril tak tega dia pun mendekap Alea dan membelai punggungnya.


"Aku juga tidak tahu Ril, aku mohon percaya padaku. Cari kebenarannya. Aku yakin waktu itu dia berhasil keluar jadi tidak mungkin ikut terbakar kan? Kalau pun suamiku tiada harusnya tidak terbakar." Alea bicara dengan terisak pelan dalam pelukan Aril.


"Baiklah, tapi ku mohon kau harus cepat sembuh, dan ceria lagi. Kau tahu orang tuamu sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Setelah kau benar benar pulih, mari kita sama sama cari kebenarannya." bujuk Aril.


"Benar? Kau tidak bohong kan?" Alea melepas pelukan Aril, menatap mata Aril dengan berbinar.


"Tidak, aku serius. Maka cepatlah sembuh. Kau lihatlah penampilanmu saat ini, kusut, bau, jelek." ejek Aril. Alea memanyunkan mulutnya.


"Sana mandi. Setelah itu kita makan bersama." lanjut Aril.


Alea seperti mendapat semangat baru setelah mendengar Aril akan membantunya mencari suaminya. Karena saat papanya yang hanya mengiyakan ucapannya saja tanpa usaha untuk mencari kebenarannya membuat Alea kecewa.


Saat Alea mandi, Aril kemudian keluar dari kamar Alea sebentar lalu kembali. Menunggu beberapa menit, Alea sudah keluar dari kamar mandi, terlihat lebih segar. Diperhatikan Alea yang menyisir rambutnya perlahan, tanpa memoles make up sedikitpun.


"Ayo makan." ajak Aril. Alea mengangguk dengan senang.


Di ruang makan hanya ada mereka berdua. Alea terlihat mencari sesuatu.


"Ada apa?" tanya Aril pelan.


"Yang lain kemana?" Alea berballik bertanya.


"Tidak tahu, aku kan dari tadi juga bersamamu." jawab Aril santai.


"Tuan, saya bisa membujuk Alea. Tapi agar dia tidak kembali berfikir keras, jangan biarkan Myli menemui saya disaat ada Alea. Takutnya pertanyaan yang kemarin ia sempat lontarkan ia tanyakan lagi. Saya tidak ingin Alea mengetahui tentang alasan kedekatan saya dan Myli. Ini belum saatnya. Tunggulah sampai keadaan Alea mampu untuk menerimma semua kenyataannya."


Itulah yang dikatakan Aril saat tadi keluar dari kamar Alea sebentar. Dan sekarang entah kemana mereka pergi membawa Myli.


"Sudah cepat makan." titah Aril. Alea langsung menurutinya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Yang benar mana nih.. Deni masih hidup atau tidak??? Maunya gimana readers ku???


Jangan bosan nunggu up aku ya...!!!

__ADS_1


Love you readers setiaku..🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2