
Sampai tengah hari, Alea masih belum melahirkan. Namun kontraksi yang dirasakan intensitasnya semakin sering. Rasa sakitnya semakin menjalar, keringat dingin terus membasahi kening Alea. Deni pun setia menunggu di sampingnya. Sesekali tangannya yang bebas mengelap keringat itu, sedang tangan satunya selaku jadi pelampiasan rematan yang cukup keras saat Alea mengalami kesakitan.
"Bee, sakit sekali. Aww..shhh." rintihan Alea membuat Deni merasa bersalah.
"Sabar honey. Kamu harus kuat ya demi anak kita." Deni mengelus pipi Alea. Alea hanya mengangguk saja, karena menahan sakitnya.
Perlahan wajah Alea terlihat lebih tenang. Kemudian senyum terbit di bibirnya.
"Bee.." panggil Alea manja.
"Ada apa? Butuh sesuatu?" tanya Deni yang peka.
"Hemm, aku lapar. Apapun deh yang penting makan." jawab Alea dengan semangat.
"Ok, mau aku yang carikan?" tanya Deni yang sebenarnya tak ingin meninggalkan Alea. Ya walaupun di luar ada Tuan Aran juga Tuan Malik. Para ibu tidak ikut karena harus menjaga Myli dirumah.
Alea menggeleng.
"Minta tolong papa aja. Mereka masih diluarkan." jawab Alea.
"Baiklah, sebentar." Deni berdiri lalu menuju pintu. Deni mencari papa dan papa mertuanya. Namun tak ada.
"Sebentar sayang, mungkin mereka sedang mekan siang. Aku telfon iya." ucap Deni lalu mulai mengutak atik ponselnya.
Terdengar dari ucapan Deni yang meminta sekakiyan dibawakan makanan, menandakan jika dua papanya sedang makan siang.
"Sebentar lagi mereka datang. Tadi mereka sedang makan siang di kantin Rumah sakit. Tidak apa kan makanan dari kantin? Aku pikir biar cepat saja." jelas Deni.
"Tidak apa bee."
Setelah menunggu beberapa menit, kedua papa mereka datang. Dengan beberapa bungkus makanan.
"Den, kamu makan juga. Biar papa yang suapin Alea." pinta tuan Aran.
"Nggak usah pa, biar Deni aja yang suapi." Deni hendak membuka makanan itu. Namun sudah dihentikan oleh Alea.
__ADS_1
"Mas, kamu makan dulu. Aku pengen disuapi papa." pinta Alea.
Deni mengalah, lalu dia berdiri dari bangku di sebelah ranjang Alea kemudian melangkah ke sofa yang juga berada di ruangan itu. Tuan Aran mulai menyuapi Alea dengan penuh kasih sayang. Deni juga segera memakan makanannya.
Setelah selesai makan, Deni kembali diminta Alea untuk duduk disampingnya. Tuan Aran tersenyum, melihat anaknya itu yang masih manja kepada suaminya. Tidak ingin ditinggallkan barang sebentarpun.
"Papa keluar ya, kalau butuh apa apa cari papa diluar." pamit Tuan Aran.
"Iya pa." jawab Deni.
"Aku ngantuk bee." ucap Alea sambil menguap.
"Tidurlah,"
"Kamu jangan pergi iya. Disini aja." pinta Alea.
"Aku tak akan kemana mana." jawab Deni.
Baru beberapa menit Alea memejamkan mata, Deni sudah mendengar lenguhan dari Alea. Sepertinya kontraksi lagi. Masih dengan memejamkan mata, Alea mengenggam erat jemari Deni.
Tangan Deni yang bebas mengusap perut Alea. Perlahan genggaman tangan Alea mengendur, seiring dengan terbukanya mata Alea.
"Iya bee, semakin sakit saja." keluh Alea.
Deni lalu memencet tombol untuk memanggil dokter di sebelah atas ranjang Alea. Tak sampai lima menit, dokter Karin sudah masuk ke ruang rawat Alea.
"Saya periksa dulu ya nyonya." ucap Dokter Karin mendekat ke ranjang Alea. Kemudian memulai pemeriksaannya setelah diberi anggukan oleh Alea juga Deni.
"Wah ternyata perkiraan saya salah. Pembukaan jalan lahir berjalan singkat, ini sudah pembukaan terakhir. Tinggal menunggu air ketuban pecah."
Dokter Karin berbicara pada suster di sampingnya.
"Nyonya, persiapkan diri anda ya. Jangan gugup, atur pernafasan anda. Selalu ikuti intruksi saya ya."
Alea kembali merasakan sakit di perut bagian bawahnya. Dibarengi dengan sesuatu yang merembes keluar dari bawah tubuhnya. Dan dia tidak dapat mengontrol itu.
__ADS_1
"Nyonya sudah saatnya."
Deni yang mendengar ucapan Dokter Karin langsung mengenggam erat tangan Alea, sesekali mengucap kata cinta di telinga Alea untuk memberinya kekuatan.
"Nyonya saat anda merasa ada yang ingin keluar, tarik nafas dalam dalam lalu mengejan. Usahakan jangan berteriak agar tenaga anda tak terbuang percuma."
Alea mengangguk mendengar instruksi dokter. Lalu Alea merasa inilah waktunya, setelah menarik nafas Alea langsung mengejan dengam kuat.
"Nyonya jangan pejamkan mata anda. Pegang saja pergelangan kaki anda untuk semakin memudahkan persalinan ini."
Alea mengikuti instruksi dokter. Belum ada tanda tanda bayi akan keluar. Belum juga Alea berhasil mengumpulkan tenaganya lagi. Rasa tadi muncul lagi. Alea mengejan lebih kuat lagi.
"Ayo nyonya, lebih kuat. Kepala bayi anda sudah terlihat."
Sakit itu terus menjalar, rasanya Alea ingin berhenti. Namun keinginannya untuk segera melihat sang buah hati juga kuat. Alea terus mengejan sekuat tenaga. Beberapa kali, hingga dia bisa tersenyum lega saat mendengar suara tangisan bayi.
"Selamat nyonya , anak anda laki laki."
Sementara dokter Karin membersihkan bayi mungil itu dari darah persalinan. Seorang suster membersihkan tubuh Alea.
"Selamat sayang, kamu berhasil melahiekan anak kita. Dia sangat tampan, sepertiku." Deni terus menghujami puncak kepala Alea dengan ciuman.
Setelah diyakin bersih, dokter Karin menyerahkan bayi itu kepada Alea untuk melakukan IMD. Secara naluri, bayi itu langsung menghisap asi nya dengan lahap. Awalnya Alea merasa sedikit geli namun kelamaam juga terbiasa.
"Honey jadi mulai sekarang aku harus berbagi benda kesayangannku dengan junior?" ucap Deni sambil berbisik di telinga Alea.
"Mas.." Alea menatapnya horor. Sedang Deni hanya memasang wajah memelasnya. Menatap putranya yang bersemangat sekali menyesap asinya.
"Sekali lagi selamat ya tuan dan nyonya. Saya permisi dulu." ucap dokter Karin yang juga ikut bahagia.
"Terima kasih dokter." ucap Alea.
"Honey, yang sebelah itu menganggur. Bolehkah aku.." Deni tak meneruskan kata katanya karena sudah mendapat pukulan keras di lengannya.
Deni langsung diam, dia hanya bisa menelan ludahnya. Benda itu sangat menggiurkan. Deni sangat berharap bisa menikmati juga seperti putranya.
__ADS_1
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...