
Alea menuruti saran mamanya. Dia mencoba semua gaunnya. Sampai pada satu gaun yang membuat senyum mama Alea mengembang.
"Bagaimana dengan yang ini ma?" tanya Alea saat melihat mamanya tersenyum melihatnya.
"Bagus, kamu pakai ini aja ya." ucap mamanya. Aleapun setuju. Dan tak lupa Alea berselfi ria menggunakan baju itu dan dikirimkannya ke Deni.
Deni yang tadinya masih kesal dengan pertemuan tidak terduganya tadi langsung hilang kesalnya saat melihat potret yang dia dapat dari Alea. Senyum terukir jelas dibibirnya.
"Kamu cantik sekali pakai gaun itu. Aku jadi nggak sabar ingin melihat langsung kamu memakai gaun itu." isi pesan Deni yang dikirim pada Alea.
Alea melihat ponselnya karena ada notif pesan masuk. Dia membalasnya.
"Tunggulah minggu depan, di acara lamaran kita." balas Alea.
Membaca pesan dari Alea, Deni jadi ingat acara itu. Dia juga belum mempersiapkan apapun. Deni bergegas mencari opanya untuk bertanya apa saja yang harus dia beli.
"Opa." panggil Deni yang melihat opanya sedang bersantai di ruang keluarga.
"Ada apa?" tanya opa.
"Apa yang harus aku beli opa untuk acara lamaran minggu depan?" Deni balik bertanya.
"Kamu hanya perlu membeli bajumu sendiri dan belilah cincin bersama Alea. Yang lainnya sudah papa kamu siapkan." jawab opa Deni yang sedikit membuatnya sedikit lega.
"Ya sudah, aku akan menghubungi Alea. Permisi dulu opa." kata Deni beranjak ke kamarnya lagi karena ponselnya ada dikamar.
Deni langsung menelfon Alea.
Tuuttt...tuuuttt.. panggilan belum tersambung.
Kemudian terdengar jawaban dari sebrang telfon.
"Halo. Ada apa Den?"
"Aku ingin mengajak kamu membeli cincin, kapan kamu bisa luangkan waktu?"
"Terserah kamu aja mau kapan, kan jadwal kuliah kita juga sama."
"Oh iya, lupa aku. Kebanyakan mikirin kamu, akunya jadi pelupa."
"Kok aku sih."
__ADS_1
"Terus mau mikirin siapa? Emang boleh aku mikirin cewek lain?"
"Iya nggak boleh lah."
"Iya nggak usah pakai otot juga jawabnya. Aku nggak akan mikirin cewek lain selain calon istriku ini kok. Tenang saja honey, cintaku hanya untuk kamu."
"Harus itu, awas aja kalau berani."
"Iya. Besok aku jemput ya kuliah bareng."
"Emang selama ini pernah nggak kuliah bareng."
"Iya sudah ya, nyonya Deni Angga Sanjaya jangan emosi gitu ah. Nanti aku tambah cinta loo."
Mendengar ucapan Deni yang terakhir membuat Alea malu dan langsung menutup telfonnya sepihak.
Deni yang mendengar panggilannya terputus, mengira kalau Alea marah padanya. Apalagi kala Deni mencoba menelfon lagi Alea tidak menjawabnya.
Deni menghempaskan badannya ke kasur empuk miliknya. Dia mengingat masa masa saat masih tinggal bersama Alea. Mereka sering bercanda dikamarnya ini. Bahkan pernah secara tidak sengaja tidur bersama tidak terjadi apapun ya. Dia juga kembali mengingat ciuman pertamanya dengan Alea. Deni jadi membayangkan bibir manis Alea. Nanti kalau sudah sah, tidak akan dibiarkannya bibir itu kering pikirnya.
Deni malah menghayal yang aneh aneh tentang nanti saat dirinya dan Alea sudah menikah. Untuk menghentikan pikirannya yang sudah menjurus ke hal mesum, dia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
...
Ternyata dari kejauhan terlihat ada seorang yang mengawasi Deni dan Alea. Yang tak lain adalah Aril. Tetapi Aril tak mengenali siapa wanita yang dijemput Deni.
Aril masih terus mengawasi Deni dari jauh. Sampai juga di area kampus. Aril terpaksa harus menunggui Deni, karena ini jalan satu satunya untuk dirinya agar bisa bertemu dengan Susan pikirnya.
Tak sampai tengah hari Aril melihat Deni keluar bersama wanita yang sama dengan tadi pagi. Aril kembali mengikuti Deni dari kejauhan.
Deni mengajak Alea pergi ke mall. Setelah sampai ke parkiran mall, Deni mengajak Alea untuk makan siang dulu.
"Al, kita makan dulu yuk." ajak Deni.
"Baik, mau makan apa?" tanya Alea.
"Seadanya nanti lah di dalam yang keliatan duluan mana yang enak." ucap Deni masuk ke mall dengan menggandeng tangan Alea.
"Ok." jawab Alea. Alea juga mulai merasa nyaman dengan genggaman tangan Deni.
Aril masih saja mengikuti mereka berdua. Samar samar juga terdengar Deni yang memanggil wanita itu Al. Tapi saat melihat wanita itu, Aril seperti familiar. Namun seingatnya dia tidak mengenal wanita dengan panggilan Al.
__ADS_1
Begitulah penampilan Alea saat sedang di mall bersama Deni. Penampilannya memang sekarang lebih modis. Apalagi setelah tinggal bersama papanya.
"Makan mie aja yuk. Aku udah pernah nyobain enak kok." ajak Alea.
"Ya udah ayo." jawab Deni semangat.
"Kamu duduk aja, aku yang pesen." kata Alea menuju penjual mienya untuk memesan lalu kembali. Deni duduk di kursi yang sudah disediakan penjual. Sebentar saja pesanan Alea sudah datang. Deni dan Alea langsung menyantapnya.
"Nanti temenin aku beli baju dulu ya Al, abis itu baru beli cincin." kata Deni.
"Iya." jawab singkat Alea masih sibuk dengan makanannya.
"Al, aku mau nanya serius sama kamu." ucap Deni.
"Apa?"
"Apa kamu mencintaiku saat ini?"
"Untuk apa kamu menanyakan itu sekarang?" Alea balik tanya.
"Aku hanya ingin memastikan kalau sudah tidak ada bagian hati kamu untuk Aril."ucap Deni sambil menggenggam jemari tangan Alea.
"Jangan pernah sebut nama itu lagi Den, kamu tahu kan betapa sakitnya aku waktu itu. Pengkhiatannya sungguh menyakitkan, sampai aku ingin rasanya amnesia saja agar tak pernah mengingat dirinya. Dan lagi, saat aku memutuskan untuk menikah denganmu. Apa kamu pikir aku akan setuju menikah kalau aku tidak mencintaimu.'' ucap Alea sedikit kesal karena Deni meragukan perasaannya saat ini.
" Maaf aku meragukanmu, mulai sekarang aku akan selalu berusaha membuatmu selalu dikelilingi kebahagian." ucap Deni dengan menggenggam erat jemari Alea.
"Kamu dari dulu tidak pernah sekalipun membiarkan aku sedih. Aku percaya kita nanti akan hidup bahagia." ucap Alea mengeratkan gengaman tangannya yang saling mengenggam dengan Deni. Mereka menghabiskan makanannya, setelah itu mereka menuju salah satu butik.
"Al, aku coba bajunya dulu. Nanti kalau kamu rasa cocok kamu bilang ya."
Alea hanya mengangguk saja dan seutas senyum terlihat.
Deni mencoba beberapa baju, celana, tuksedo hingga jasnya. Satu yang membuat Alea tak dapat memungkiri kalau calon tunangannya itu sangat tampan.
Penampilan formal lengkap yang sedang ditunjukan oleh Deni ke Alea, membuat Alea terpesona sesaat. Sebelum akhirnya tersadar dan mengatakan kalau Deni sangat cocok memakai stelan itu.
☘️☘️☘️☘️
tinggalkan jejak ya...like komen vote juga boleh..
aku sangat berterima kasih jika ada yang menambahkan juga ke rak buku favoritnya..
pokoknya the best for you.. the readers setiaku..😊😊🤗🤗🤗
__ADS_1