Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
Flash back


__ADS_3

"Apa kau benar menilaiku seburuk itu? Hingga kau memperlakukan aku seperti ini." Aril menatap Bimo sinis.


"Jadi katakan semuanya agar aku bisa menilai seberapa baiknya dirimu." Bimo tak kalah sinis mengucapkannya.


"Tak terjadi apapun antara aku dan Alea. Percayalah Alea dan aku telah dijebak."


Bimo tak menanggapi ucapannya, kemudian Aril menghela nafas panjang.


"Baiklah, aku akan menceritakan dari awal yang membuatku pergi ke kamar itu semuanya."


flashback Aril.


"Tuan, nyonya Alea meminta anda untuk menemani nona Myli. Nona tidak berhenti merengek dari tadi tuan." ucap seorang pelayan kepadaku. Aku langsung mengangguk dan meninggalkan Ika dan mengatakan alasannya.


Dan saat aku melihat ke sekeliling aula tak nampak Myli dan juga Alea maka aku tanya pada pelayan tadi yang mengikuti aku dari belakang.


"Dimana mereka?" tanyaku.


"Nyonya Alea membawa nona Myli ke kamar no 25, sengaja agak jauh dari aula agar tak mengganggu para tamu." jawab pelayan itu.


Tanpa pikir panjang lagi aku melangkahkan kakiku ke arah kamar no 25. Aku masuk tanpa mengetuk pintu. Namun yang ku dapati hanya kesunyian. Tak ada suara rengekan anak kecil.


"Apa Myli sudah bisa ditenangkan." gumamku sambil terus melangkah masuk.


Aku mengernyitkan dahiku, saat malah terdapat Alea yang tidur di ranjang tanpa seorang pun menemaninya. Lalu aku mencoba untuk membangunkannya. Tak lama, Alea mulai membuka matanya dan mengeluh pusing.


Aku berbincang sebentar padanya tentang Myli, namun tanggapannya tak begitu jelas. Dia malah semakin mengeluh pusing dan juga panas.


"Apa kamu sakit?" tanyaku sembari memegang tangan juga memeriksa dahinya. Bahkan terlihat peluh mulai menetes dari pelipis dahinya.


"Aku nggak tahu Ril, bantu aku. Aku meeasa seluruh tubuhku memanas." jawab Alea yang semakin membuatku bingung. Padahal aku merasakan udara ac yang keluar terasa dingin.


Alea terus meracau kepanasan bahkan dengan sadar atau tidak dia nampak inhin membuka gaun pestanya. Aku segera menghentikan peegerakan tangannya.


"Apa yang akan kamu lakukan Al?" tanyaku dengan sedikit bentakan. Alea menatapku dengan sayu. Matanya nampak tak berkabut. Tanganku dengan cepat diraihnya lalu langsung menarikku dalam pelukannya yang sangat erat.


"Ya seperti ini, lebih nyaman Ril. Tolong bantu aku." ucap Alea lirih. Aku tak mengerti maksudnya sampai dia mulai meraba tubuhku bahkan menciumi leherku. Aku tersadar ada yang tidak beres pada tubuh Alea.


Alea tak pernah berbuat yang seperti ini. Ini seperti bukan dirinya. Aku yakin ada yang membuatnya seperti ini. Apa ada orang yang sengaja memberinya obat perangsang agar bisa menjebaknya dengan ku.


"Alea hentikan.!!" Aku segera menghempaskan tubuh Alea hingga terbaring kembali ke ranjang. Aku berfikir untuk segera keluar dari kamar itu dan meminta Bimo untuk menghadapi Alea.

__ADS_1


Namun ternyata kamar pun terkunci. Aku menendang pintu itu dengan kesal. Aku berbalik ke Alea lagi.


"Aku mohon Ril bantu aku, aku sudah tidak tahan lagi. Aku butuh kamu Ril." racau Alea saat menghampiriku.


Aku tak sempat berfikir bagaimana cara menghentikan Alea, dia sudah kembali mendekatiku. Aku memegang bahunya kuat dan mengguncangnya.


"Alea sadarlah.!!" bentakku lagi, namun tak mendapat respon apapun dari Alea.


Alea malah langsung memelukku lagi dan mendorong tubuhku pelan hingga menempel pada tembok. Aku sungguh bingung, aku tak ingin berbuat kasar padanya.


Bohong jika aku tak bergairah saat ada wanita cantik dengan membabi buta memberikan sentuhan dan ciuman. Apalagi wanita itu pernah singgah di hatiku dan aku pernah sangat mencintainya.


Bahkan setan di hatiku sempat mengajakku untuk memanfaatkan kesempatan itu untuk mendapatkan kenikmatan tubuh itu. Namun seketika bayangan wajah Myli juga keyla muncul dalam otakku. Aku segera menghentikan Alea.


"Alea stop..!!" bentak Aril sekali lagi.


Alea menitikan air matanya.


"Aku tidak kuat Ril. Pliss aku mohon bantu aku. Aku tak bisa mengontrol tubuhku." ucap Alea dengan bergetar.


Aril langsung membopong Alea, namun tak ke ranjang ya..


Aril membopong tubuh Alea ke kamar mandi. Menurunkan Alea di bath up. Lalu dengan segera Aril mengisi bath up itu dengan air dingin.


Cukup lama aku menahan tubuh Alea agar tak berontak di dalam bath up. Setelah aku merasa Alea tak meracau kepanasan lagi baru aku membantunya keluar dari bath up.


"Syukurlah, ayo keluar." ajakku.


"Dingiin." keluh Alea yang tubuhnya mulai bergetar karena kedinginan.


"Lepaskan bajumu.!!" titahku.


"Riill." Alea menatapku sayu.


"Aku tak akan melihatnya." aku berbalik badan membelakanginya. Untuk lebih memastikan aku tak melihatnya aku pun memejamkan mataku.


Aku melepas jasku juga kemejaku. Untung kemeja yang aku pakai tidak bentuk slim fit, jadi aku bisa meminjamkan kemejaku pada Alea.


"Pakailah ini.." aku menyerahkan kemejaku dengan masih posisi tadi. Aku merasa kemejaku sudah diterimanya.


"Sudah." ucap Alea kemudian setelah memakai kemejaku.

__ADS_1


Aku lalu mengajak Alea keluar. Namun saat keluar dari kamar mandi ada benda keras yang menghantam belakang kepalaku. Dan aku tidak tahu apa apa lagi setelahnya.


flash back end..


"Sudah itu saja yang terjadi kepadaku. Setelah aku sadar kau sudah ada disana dan seenaknya kau meninjuku." Aril mengucapnya dengan sedikit meninggi.


"Kau pikir aku meninjumu tanpa sebab. Aku menemukanmu sedang tidur sambil memeluk istrimu. Apa kau tidak akan marah jika sebagai aku??" Bimo mendekat lalu menarih kerah baju Aril.


"Apalagi tadi kau cerita berniat hati ingin memanfaatkan kesempatan. Aku merasa ingin meninjumu lagi saat ini" Bimo tak kalah meninggikan suaranya.


"Maaf, aku minta maaf. Oke aku memang salah dalam hal itu. Tapi aku tersadar juga kan dan aku tak melakukan itu!! Bagaimana pun aku lelaki normal."


"Ciih.." Bimo menghempaskan kerah Aril begitu keras.


Bimo lalu meninggalkan Aril sendirian lagi di kamar itu.


"Hei tuan muda, lepaskan aku dulu!!"


"Itu hukumanmu, karena kesalahanmu tadi. Aku akan memberikan kamu waktu untuk merenungkan kesalahanmu. Tetaplah disana sampai besok."


"Apaa!! Tuan muda, apa kau ingin membunuhku..??" teriak Aril lagi karena Bimo sudah keluar dari kamar itu.


Tak ada lagi sahutan dari Bimo. Aril akhirnya hanya bisa berpasrah.


"Nasib..terimalah nasibmu. Salah sendiri kemarin kau berniat ingin mengambil kesempatan." Aril benar benar merenungi kesalahannya.


...


Bimo mendapat kabar dari dokter yang semalam memeriksa Alea. Bimo segera meluncur ke rumah sakit untuk mengetahui hasilnya.


Tiba di rumah sakit, Bimo langsung menuju ke ruangan dokter.


"Bagaimana dok hasilnya.?" tanya Bimo langaung pada intinya saat sudah duduk di depan dokter.


"Begini tuan, menurut hasil uji lab. Nyonya Alea diberikan obat perangsang juga obat tidur. Untunglah dosisnya tak terlalu tinggi hingga tak begitu membahayakan kesehatan nyonya." jelas dokter itu.


"Apa memang yang dilakukannya saat reaksi obat itu bekerja dia tak akan mengingat apapun setelah sadar?"


"Iya tuan, itu memang benar. Apakah nyonya ada keluhan saat ini?"


"Tidak tahu dokter, aku belum sempat bicara dengannya hari ini. Sejak pagi saya sudah diluar." Bimo sedikit berbohong, karena nyatanya tadi pagi dieinya malah mengabaikan Alea.

__ADS_1


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


__ADS_2