Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
Baik baik saja


__ADS_3

Setelah menunggu beberapa menit, Alea akhirnya keluar dari ruang periksa.


"Bagaimana keadaan bayi kamu?" tanya Aril.


"Baik, semua sehat."


Aril tersenyum mendengarnya.


"Kemarikan." Aril menengadahkan tangannya.


"Apa?" Alea tidak mengerti.


"Resep obatnya, biar aku yang menebusnya di apotik."


Alea kemudian menyerahkan kertas resepnya.


"Kamu tunggulah disini."


Alea setuju, kemudian dia duduk di kursi tunggu di depan ruangan periksa.


"Anakku sayang, sehat sehat ya kamu. Tidak lama lagi, kamu akan lahir ke dunia. Mommy dan daddy sudah tak sabar melihat kehadiranmu." ucap Alea sembari mengusap perutnya.


"Dan om juga tidak sabar menunggu kelahiranmu gadis kecil." ucap Aril dengan mengusap perut Alea namun hanya dengan telunjuknya saja.


"Hei kenapa kau mengelus dengan cara seperti itu?" bentak Alea tidak suka melihat Aril seperti jijik mengelus perutnya.


"Aku masih sayang nyawaku Al, kamu mau aku mengelus dengan seperti ini?" Aril tersenyum sinis sambil mendekatkan kedua tangannya untuk memegang perut Alea.


"Sana menyingkirlah." Alea mengerti maksud Aril, suaminya memang posesif.


"Dan lagi kenapa kau menyebut anakku gadis kecil? Aku saja belum tahu jenis kelaminnya."


"Karena melihatmu yang jadi lebih cerewet setelah hamil. Aku yakin anakmu perempuan."


"Jadi aku cerewet?"


"Iya, sangat. Dan itu sangat mengganggu saat aku sedang bersama Keyla."


"Hissh dasar. Seenaknya bilang aku cerewet, aku kan juga cuma mengingatkan mereka waktu itu. Dasar tidak tahu terima kasih." gerutu Alea sepanjang jalan menuju mobil.


Sedang Aril, sedikit galau lagi. Karena menyebut nama Keyla tadi, dirinya jadi mengingat kematian Keyla lagi.


"Sampai kapan aku terus begini, tidak mungkin aku selalu larut dalam kesedihan. Ini sudah berbulan bulan sejak kejadian itu." ucap Aril dalam hati.


Alea yang melihat Aril sedikit jauh berjalan di belakangnya., segera memanggilnya.


"Aril.!" teriak Alea.


Aril tersadar dari lamunannya,


"Iya." jawab Aril.


"Cepatlah, aku lelah." kata Alea.


"Iya sabar, tunggulah sebentar disini. Aku akan mengambil mobil terlebih dahulu." ucap Aril kemudian bergegas ke parkiran mengambil mobilnya.


Dalam perjalanan pulang, Alea memperhatikan Aril yang terus saja diam.


"Dia kenapa diam begitu. Terlihat kalau ada sesuatu yang dia pikirkan. Apa karena dia tadi menyebut nama Keyla, jadi dia kembali bersedih. Ah tidak, usahaku untuk membuatnya lupa kesedihannya akan sia sia kalau ku biarkan terus seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu." ucap Alea dalam hati.

__ADS_1


"Ril, bisa berhenti di mini market terdekat?" tanya Alea.


"Baiklah." jawab Aril singkat.


Tak lama Aril segera memarkirkan mobilnya di depan sebuah mini market. Aril segera turun untuk membukakan pintu untuk Alea.


"Hati hati," ucap Aril saat melihat Alea turun dengan cepat.


"Ayo masuk." ajak Alea bahkan dia reflek menggandeng tangan Aril dan menyeretnya masukk ke mini market.


Alea melepaskan tangan Aril ketika ingin mengambil troli. Karena sedikit kesusahan akhirnya Aril yang mengambilnya.


"Katakan saja, apa yang ingin kamu beli. Biar aku yang ambil, kamu diam saja disini."


"Tidak perlu begitu, aku tidak akan kelelahan hanya karena berkeliling belanja sebentar." tolak Alea, kemudian mulai berjalan diikuti Aril dibelakangnya mendorong troli.


Alea membeli beberapa cemilan dan sedikit kebutuhan dapur. Setelah membayarnya, Aril segera membawa belanjaan ke mobil.


Namun Alea belum mau pulang, dia malah duduk santai di depan mini market. Menikmati sebuah es krim. Aril kemudian menghampirinya.


"Jangan terlalu banyak makan es krim. Tidak baik untuk kandunganmu." protes Aril karena melihat masih ada beberapa bungkus eskrim di meja.


"Duduklah dulu. Karena tidak boleh, makanlah. Sudah terlanjur aku beli. Kalau dibawa pulang pasti meleleh."


"Masak aku semua Al yang makan?" keluh Aril.


Alea mengangguk tanda mengiyakan.


Dengan sedikit tidak rela dihatinya. Aril mengambil satu eskrim dan mulai memakannya.


"Kata orang makan eskrim bisa mengembalikan mood baik. Aku rasa itu kebohongan." gumam Alea namun masih dapat didengar Aril.


"Entahlah, akhir akhir ini aku merasa tidak tenang. Selalu merasa khawatir, namun juga tak tahu penyebabnya." jawab Alea.


"Tadi sudah tanya ke dokter?"


"Sudah, dan katanya itu biasa di alami oleh ibu hamil yang anak pertama. Tetapi tetap itu tak mampu menghilangkan kegelisahanku."


"Cepat habiskan es krimmu. Aku akan mangajakmu ke suatu tempat."


"Kemana?" tanya Alea antusias.


"Nanti juga akan tahu."


"Baiklah, ayo sekarang. Aku sudah habis." Alea tidak sabar.


Aril dan Alea meninggalkan mini market itu. Di dalam perjalanan, Alea mengirim pesan pada suaminya.


"Bee, aku akan di bawa pergi oleh Aril ke suatu tempat. Tadinya aku ingin menghiburnya, karena membuatnya sedih mengingat akan Keyla. Tapi karena tak tahu caranya, aku yang berpura pura sedih, jadi dia berusaha untuk menghiburku. Dengan begitu dia juga akan melupakan kesedihannya."


Tak lama pesan Akea dibalas.


"Iya honey, kamu hati hati. Buatlah dia senang."


"Iya bee,"


Alea tak tahu akan dibawa kemana, jalanannya asing. Alea tak pernah melewati jalan itu. Tapi dia berfikir positif, Aril pasti akan menjaganya.


Hampir satu jam perjalanan, ternyata Aril membawa Alea ke sebuah dermaga kecil. Tempatnya sepi dan tenang. Sepertinya dermaga itu sudah lama tak digunakan.

__ADS_1


Aril membawa Alea ke ujung dermaga. Duduk dipinggiran dermaga.


"Al, dengan melihat jauh ke laut perasaanmu akan lebih tenang. Hilangkan pikiran pikiran yang membuatmu cemas. Gantikan dengan suara deburan ombak yang datang. Tutuplah matamu." perintah Aril.


Alea menurut saja. Aril juga melakukan hal yang sama.


"Rasakan desiran angin yang menerpamu. Biarkan angin menerbangkan segala kegundahan di hatimu." ucap Aril lagi.


Alea terdiam dan merasakannya. Aril juga mencoba untuk menghilangkan kesedihan hatinya.


Lama lama, Alea malah gemetaran. Alea tak tahan kemudian menyentuh lengan Aril. Aril membuka matanya dan mendapati Alea menggigil dia langsung panik.


"Bodoh, kenapa aku mengajak kamu ke tempat seperti ini. Maaf aku lupa kalau kamu paling tidak tahan dengan angin laut, apalagi di sore hari seperti ini." gerutu Aril.


Aril dengan sigap langsung mengangkat Alea dan menggendongnya menuju mobil.


Karena terlalu kuat menggigil, bibir Alea sampai memucat. Tubuhnya juga terasa dingin.


Aril bingung harus bagaimana membuat Alea menghangat kembali.


"Maaf Al, aku melakukan ini agar kmu tidak kedinginan lagi." Aril mengikis jarak antara dirinya dan Alea. Aril memeluknya dengan erat sambil terus mengusap punggung Alea.


Alea merintih. Dia masih saja merasakan dingin yang menusuk tulang.


Aril panik, dia tak ingin keadaan Alea semakin memburuk.


Tidak bermaksud kurang ajar, Aril murni hanya ingin membantu. Dalam pikirannya, inilah cara tercepat yang bisa dia lakukan.


"Maaf." itulah ucapan Aril sebelum melakukan aksinya.


Aril mencium Alea dengan tiba tiba. Alea membelalakan matanya. Mencoba untuk memberontak namun tenaganya lemah. Aril menekan tengkuk Alea agar ciumannya lebih dalam. Alea pasrah.


Sedikit demi sedikit kehangatan kembali menjalar di tubuh Alea selama ciuman itu. Alea jadi sadar apa yang dilakukan Aril padanya tak lebih untuk menyelamatkannya.


Aril sepertinya malah terbawa nafsu. Sesaat dia melepas ciumannya untuk menghirup udara, dia kembali mencium Alea. Saat tenaga Alea sudah kembali. Alea memukul dada Aril untuk melepaskan ciumannya.


Aril tersadar lalu melepaskan ciumannya. Aril langsung meraih tangan Alea. Wajahnya masih terlihat cemas. Dirasakannya tangan Alea sudah menghangat.


"Syukurlah, aku berhasil. Maaf sudah membawamu ke tempat ini." Aril kembali memeluk Alea dengan bahagia.


Alea melepas pelukan itu.


"Iya terima kasih. Sekarang aku sudah baik baik saja." ucap Alea.


Aril tanpa sadar langsung mengecup kening Alea. Dan langsung pindah tempat duduk di kursi pengemudi. Sedang Alea dibuat terbengong dengan sikap Aril barusan.


"Apa yang ada di otakku ini. tidak mungkin kan dia masih mencintaiku. Dia bahkan sudah jatuh cinta dengan Keyla. Dia mencium bibirku hanya untuk membantuku. Tapi melihat kecemasan yang berlebihan dan apa itu tadi, dia bahkan mengecup keningku. Kenapa aku merasa ada maksud tersembunyi di hatinya." gumam Alea dalam hati.


☘️☘️☘️☘️


huhh, apa ini?? Apa Aril masih punya rasa dengan Alea..


Bagaiman reaksi Deni kalau tahu istrinya dicium oleh pria lain..


Baca yuk di episode selanjutnya... tungguin upnya ya.


jangan lupa tinggalkan jejak kalian di komen. biar aku bisa tahu bagaimana pndapat kalian..


byee..love you readers setiku...😊😊😊🤗🤗🤗😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2