
"Bee,.." ucap Alea lemah sembari mengusap kepala Deni yang direbahkan di samping tangan Alea tadi. Deni masih lemah hingga ketiduran saat menunggu i Alea.
Merasakan usapan di kepalanya, Deni segera mendongakan kepalanya. Matanya langsung berbinar melihat istri kesayangannya telah siuman.
"Apa ada yang sakit?"
Alea menggeleng, tak lupa senyumnya.
"Kamu kenapa disini? Kenapa tidak istirahat? Apa kamu sudah baik baik saja?" Ucap Alea dengan nada khawatir.
"Aku baik, sangat baik. Honey, aku sudah mengingat semuanya. Maaf, aku telah melupakanmu dua tahun terakhir ini." Ucap Deni dengan penuh penyesalan.
"Benarkah? Kamu sudah mengingat semuanya?" Alea menatap tak percaya. Deni mengangguk yakin.
Alea tersenyum bahagia, lalu dia menggeser tidurnya. Alea menepuk kasur sampingnya, meminta Deni untuk ikut berbaring di sampingnya.
Saat Deni sudah berbaring disamping Alea, Alea langsung memeluk suaminya dengan erat.
"Tidak perlu meminta maaf, bukankah walaupun kamu lupa ingatan namun cintamu masih tetaplah untukku? Aku bersyukur saat kamu menghilang, akupun dibuat koma. Kalau aku hidup sehat, entah apa yang akan terjadi kepadaku, bila harus hidup tanpa kamu."
Deni membalas pelukan Alea, juga mengecupi puncak kepala Alea.
"Mungkin bertemunya Aril dan Ika sudah menjadi jalannya agar kita bisa kembali bersama. Aku bahagia, mereka dapat bersatu. Oh iya bee, bicara soal Aril dan Ika. Aku jadi kangen Ika, telfon mereka yuk." Pinta Alea dengan tatapan memohon.
"Honey, kamu tidak ingat tadi siang kamu habis jahilin mereka. Aku yakin kalau kamu telfon lagi pasti tidak akan diangkat."
Alea langsung mengerucutkan bibirnya.
"Terserah bagaimanapun caranya, aku pengen ngobrol sama Ika sekarang juga. Pliss, telfonin kamu ya."
"Ya baiklah, sebentar aku ambil ponselku dulu." Deni bangun lalu mengambil ponselnya yang berada di nakas samping tempat tidurnya yang dipakainya tadi.
Sambil mencari nomor Ika, Deni kemudian duduk di tepi ranjang Alea. Setelah ketemu dia langsung menelfonnya.
Beberapa saat panggilan langsung terhubung dan di jawab oleh Ika.
"Halo kak? Ada apa?" Tanya Ika dari sebrang.
__ADS_1
"Ini Alea ingin bicara." Deni angsung menyerahkan ponselnya pada Alea.
"Ika, aku kangen sama kamu. Kamu baik baik saja kan disana? Bee ubah ke mode video donk."
Deni pun menuruti permintaan Alea segera. Ika juga langsung menerimanya. Terlihat Ika sedang berada di pinggir pantai. Namun tak nampak Aril disisinya.
"Ka, kamu kok sendirian? Jangan bilang Aril ngambek saat kamu angkat telfon."
"Mbak lihat aja sendiri, tuh." Terkekeh Ika lalu mengubah kameranya jadi kamera belakang. Memperlihatkan Aril yang berjalan sambil menendang nendang pasir dan mulutnya terlihat komat kamit nggak jelas.
"Bwaha haha." Alea tertawa lepas, melihat Aril yang tampak frustasi.
Kamera sudah kembali ke Ika.
"Maaf ya, gangguin apa lagi aku?" Tanya Alea tak tahu malu. Ika langsung bersemu merah di pipinya.
"Honey,.." tegur Deni saat melihat Ika yang sepertinya malu. Bahkan tak berani memandang Alea lagi.
"Hei, apa tadi kalian mesra mesraan di pinggir pantai sambil menikmati sunset? Lalu pas mau ciuman ponselmu berdering? Atau malah udah ciuman pas lagi enak enaknya ponsel kamu baru bunyi?" Alea bertanya lagi membuat muka Ika semakin memerah.
"Hon, tidak perlu di perjelas juga kali. Kamu nggak lihat mukanya Ika udah merah gitu. Masih digodain aja." Tegur Deni dengan nada lembut.
"Maaf ya, abis debaynya kangen sama auntynya. Pengen lihat auntynya. Sekarang udah puas kok, kalau mau dilanjutin lagi ciumannya boleh. Lanjutin gih di kamar hotel. Jangan di tempat umum gitu. Entar kalau yang lihat pengen gimana. Enak kalau ada gandengan, nah kalau jomblo kan kasihan. Hehe hehe."
"Udah ya mbak. Bye." Ika langsung memutuskan panggilan video itu.
"Ya ampun honey. Kamu tuh ada ada aja kalau ngomong. Lihat kan, langsung dimatiin telfonnya. Padahal aku mau ngomong tadi." Deni tak habis pikir Alea bisa ngomong ngelantur sampai kemana mana.
"Ya udah sih gampang bee, kamu tinggal telfon lagi aja." Ucap Alea dengan santainya.
Padahal Deni ingin meminta Ika mempercepat acara bulan madunya. Karena Ika yang bisa menyelesaikan masalah perusahaan tuan Zian.
Setelah kunjungan malam, dokter memperbolehkan keduanya untuk pulang. Karena tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Tentu seluruh keluarga sangat senang. Apalagi dengan kejadian ini ada hikmahnya. Deni sudah mengingat semuanya.
Yang menemani keduanya di rumah sakit adalah tuan Zian juga istrinya. Tadi sore semuanya masih di rumah sakit, tapi karena semuanya sudah membaik maka tuan Aran beserta istrinya kembali ke rumah. Untuk mempersiapkan segala hal di rumah.
Tuan Zian yang mengendarai mobil, karena dia tak mengijinkan Deni yang menyetir. Tuan Zian masih khawatir dengan kondisi Deni. Dua tahun hidup bersama Deni yang berwajah mirip dengan mendiang putranya, membuatnya sangat menyayangi Deni. Walau dia tahu betul Deni bukanlah anaknya, tapi dia tetap merawat Deni dengan baik.
__ADS_1
Sesampainya di kediaman Wijaya. Semua orang sudah menyambut kedatangan Deni dan Alea. Semuanya ikut bahagia, ingatan Deni telah kembali sepenuhnya. Bahkan orang tua Deni langsung kembali dari perjalanan bisnisnya ke luar kota yang baru akan selesai dua hari lagi. Namun dipercepatnya karena mendengar ingatan Deni sudah kembali.
Keluarga Wijaya, Sanjaya juga Prayoga berkumpul. Tidak ada lagi kesedihan di hari ini. Dan semuanya berharap, akan bisa selalu dilimpahi kebahagiaan selamanya.
Myli tertawa riang, melihat semuanya senang. Dia terus berlarian berpindah pindah ke pangkuan orang. Semua bahagia melihat keaktifan Myli. Tinggal menunggu beberapa bulan lagi hingga adik Myli lahir. Maka rumah ini akan tambah ramai tahun depan. Apalagi kalau bulan madu Aril dan Ika langsung membuahkan hasil. Maka makin lengkap sudah kebahagiaan keluarga ini.
...
Alea berdiri sendirian di balkon kamarnya. Menatap jauh bintang bintang yang bertaburan di langit malam yang sedang cerah.
"Key, aku harap kamu juga bahagia di atas sana melihat Aril telah menemukan kebahagiaannya. Doakan aku ya, selalu sehat sampai nanti aku lahiran. Aku berharap ini baby boy. Tapi apapun yang Allah berikan padaku. Aku akan tetap mensyukurinya yang terpenting dia sehat dan selamat tidak kurang satu apapun." Alea mengelus perutnya yang buncit.
"Honey, diluar dingin. Ayo masuk." Deni menyampirkan selimut di bahu Alea lalu memluknya dari belakang.
"Sedang apa? Hemm.."
"Sebentar bee, aku sedang memandangi langit yang sedang cerah ini. Hati aku entah kenapa terasa damai saat memandangi bintang bintang itu."
Deni ikut memandang langit.
"Iya, bintang yang bersinar terang itu. Seperti membawa ketenangan pada kita. Sudah ayo masuk. Nanti kamu masuk angin kalau kelamaan di luar." Bujuk Deni.
Alea mengikuti langkah suaminya msuk ke dalam kamar. Lalu keduanya berbaring di ranjang sambill berpelukan.
"Semoga kebahagiaan ini tidak berakhir saat nanti aku membuka mataku esok pagi." Bathin Alea sambil menutup matanya.
"Aku berharap kebahagiaan ini selalu menyertai kita, sepanjang hidup kita Al." Bathin Deni sembari mengecup puncak kepala Alea lalu ikut memejamkan matanya.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
...Terima kasih untuk semuanya yang sudah selalu membaca karyaku ini. Menulis ku bukan untuk mencari uang. Ini hanyalah hobiku saja. Menulis menuruti imajinasiku saja....
...Maaf jika terkadang tidak sesuai ekspektasi kalian saat membaca alurnya. Hanya sampai disini kisah Deni dan Alea....
...^^^Saya ucapkan terima kasih bagi yang selalu memberikan like dan komennya setelah membaca karyaku. ^^^...
...loVe you readers setiaku 😍😍😍😘😘😘😘🤗🤗🤗🤗🤗🤗...
__ADS_1
...🙏🙏🙏🙏🙏...