
"Key, bagaimana kalau setelah ini kamu meneruskan S2 kamu di Indonesia saja?" tanya Aril.
"Kenapa?"
"Aku ingin tinggal berdekatan dengan orang tuaku Key. Dan lagi aku mau mencari pekerjaan yang sesuai kemampuanku dan usahaku sendiri. Aku tidak ingin bergantung dan selalu merepotkan keluargamu." jelas Aril.
"Kami tidak pernah merasa direpotkan kok. Lagi pula ayah memberi pekerjaan ini ke kamu kan juga melihat kemampuanmu Ril. Tapi ya sudahlah kalau memang itu sudah keputusanmu, aku akan mendukungmu."
"Terima kasih. Lalu bagaimana sekolahmu?"
"Iya aku akan lanjutkan di Indonesia. Lagi pula kalau aku tetap ngotot disini dan kamu pulang. Siapa yang akan menjagaku." ucap Keyla pasrah.
"Tapi tetaplah disini sampai aku wisuda. OK?" lanjut Keyla.
"Baiklah."
Aril dan Keyla melanjutkan makan malamnya. Diselingi canda tawa mereka. Begitulah kehidupan Aril saat ini, selama setahun ini dirinya mencoba untuk membuka hatinya untuk Keyla. Dan selama itu pula status mereka masih pacaran didepan orang tua masing masing. Keduanya mencoba untuk selalu terbuka dengan perasaan satu sama lain, dan selalu berusaha untuk menjadi lebih dekat.
"Oh ya Ril, boleh aku bertanya?"
"Tentu. Tanyalah."
"Kamu masih mencintainya?"
Tanpa mengucap nama pun Aril tahu maksud 'nya' itu ditujukan pada siapa.
"Kenapa?" jawab Aril dengan balik bertanya.
"Aku hanya ingin tahu." jawab Keyla sambil menundukkan wajahnya.
"Entahlah Key. Tapi sudah lama aku tak memikirkannya. Ah karena kamu bicarakan tentang dia, aku jadi ingin tahu kabarnya. Apakah dia tambah cantik sekarang." ucap Aril sembari mengutak atik ponselnya.
Sesekali Aril melirik Keyla yang nampak tidak bersemangat setelah mendapat jawaban tadi dari Aril. Aril pun mengulas senyum dibibirnya.
"Key, apa kamu marah?" tanya Aril.
__ADS_1
"Apa itu penting." jawab Keyla sedikit ketus.
"Harusnya kamu marah, bukan diam saja." Keyla yang mendengar ucapan Aril, mencoba untuk memberanikan diri menatap Aril.
Dilihatnya Aril yang tersenyum ke arahnya, Keyla sungguh tak mengerti dengan tingkah Aril.
"Kamu harusnya marah mendengarku memuji dia. Memang kamu tidak cemburu?" lanjut Aril.
Keyla semakin tidak mengerti semua ucapan Aril. Kalau cemburu tentu saja dirinya cemburu. Tapi haruskah dia mengatakan itu. Apa Keyla berhak melarang Aril untuk tidak mengingat lagi orang yang dicintainya.Keyla merasa bahwa dirinya tidak berhak sama sekali.
"Key, kenapa diam?" pertanyaan Aril membuyarkan lamunan Keyla.
"Aku tak mengerti maksud kamu Ril. Harus marah? Cemburu?"
"Ya sudah kalau kamu tidak marah atau cemburu." Aril kembali asik dengan ponselnya.
"Dia ini makin cantik saja, wah apalagi kalau pakai baju ini dia terlihat lebih cantik dari biasanya. Aku jadi tambah cinta. Kalau dia makin hari makin cantik seperti ini, aku tak kan bisa berpaling. Ck ck ck." gumaman Aril memang pelan tapi masih mampu di dengar oleh Keyla. Keyla yang sudah tak tahan dengan rasa cemburunya kemudian merampas ponsel Aril tanpa meliahat apa yang dilihat Aril tadi.
"Ril, sampai kapan kamu akan mencintainya Ril. Sampai kapan? Dia itu sudah menjadi istri orang.." ucap Keyla sedikit frustasi.
"Kamu kenapa sih Ril? Udah gila ya karena cintamu nggak kesampaian." ucapan Keyla malah membuat Aril makin tertawa kencang.
"Lihatlah fotonya dulu. Aku yakin kalau kamu melihatnya pasti setuju kalau aku tidak salah mencintai."
Keyla pasrah, dia menyalakan ponsel Aril dan mengusap layarnya untuk membuka kuncinya. Yang terlihat pertama kali adalah foto Keyla sendiri, dia mencoba geser geser ke beberapa gambar sebelum dan sesudahnya namun yang terlihat hanya fotonya saja. Tidak dijumpainya foto Alea.
"Mana? Ini foto aku semua." Keyla berucap dengan kesal.
"Memang foto kamu semua." jawab Aril dengan santainya.
"Tadi kamu bilang, suruh aku lihat foto dia." kata Keyla sudah diambang kesabarannya.
"Ya dia itu kamu Key." jawab Aril.
"Maksud kamu gimana sih. Aku maksud foto Alea mana bukan foto aku Ril. Yang mana?" ucap Keyla masih ngotot.
__ADS_1
"Kamu masih nggak ngerti juga sih Key." Keyla hanya menggelengkan kepalanya.
"Dari tadi yang aku lihat memang foto kamu." ucap Aril.
Keyla jadi mengerti, dan mengingat perkataan Aril waktu melihat foto di ponsel tadi yang mengatakan kalau dirinya cantik dan semakin hari makin cantik. Apalagi Keyla juga ingat Aril yang mengatakan mencintainya. Keyla sungguh bahagia, karena dirinya akhirnya berhasil juga masuk ke dalam hati Aril.
Sedang Aril yang melihat tak ada respon atau jawaban dari Keyla jadi kesal. Kemudian meraih ponselnya yang sudah diletakkan Keyla di meja. Aril meninggalkan Keyla yang masih asik dengan pikirannya sendiri di meja makan.
Keyla yang sudah tersadar dari lamunannya, mencari sosok lelaki yang kini sudah menerima dirinya di hati lelaki itu. Namun tak ada sosok lelaki itu didepannya. Keyla dengan terburu buru mencari Aril hingga keluar rumah. Didapati Aril yang sudah memakai helmnya, hendak naik ke atas motornya.
Keyla segera berhambur, memeluk Aril dari belakang.
"Key, kaget aku. Sudah balik tuh nyawa kamu. Sadar juga aku tinggal." ucap Aril sedikit ketus.
"Maaf tadi aku syok. Aku mengerti sekarang terima kasih sudah mau menerima aku dihati kamu. Terima kasih. Aku mencintai kamu." ucap Keyla lirih masih menyembunyikan wajahnya di balik punggung Aril.
Kekesalan Aril menghilang sudah. Dilepasnya helm dikepalanya, kemudian melepas pelukan tangan Keyla dan memutar tubuhnya.
"Key, aku juga mencintaimu. Maaf telah membuatmu menunggu lama. Maka dari itu aku ingin mengajakmu pulang ke Indonesia. Aku tak ingin cintaku yang baru tumbuh ini harus terpisah oleh jarak. Aku ingin selalu berada didekatmu." kata Aril sambil membelai pipi Keyla.
"Ya pasti aku akan ikut, seperti yang sudah aku katakan tadi."
Mereka pun tersenyum bahagia dan kembali berpelukan. Puncak kepala Keyla tak hentinya dihadiahi kecupan oleh Aril. Keyla mengurai pelukannya, kemudian secara cepat mengecup bibir Aril sekilas. Karena Keyla malu, dia ingin langsung melarikan diri. Namun baru selangkah ia ingin berlari, tangannya sudah diraih Aril.
Sekali tarikan saja Keyla sudah kembali ke pelukan Aril.
"Sudah berani menciumku mau melarikan diri, hah?" ucap Aril dengan senyum menyeringai.
Keyla yang terlanjur malu tak berani menatap wajah Aril. Aril kemudian meraih dagunya agar Keyla dapat melihatnya.
Aril juga dengan cepat mencium Keyla. Sekali, dua kali, tiga kali, dan kembali ditatapnya mata Keyla. Kemudian wajah mereka kembali berdekatan, dan berciuman kembali bukan hanya sebuah kecupan. Namun ciuman mesra, berpagut lama. Menyalurkan rasa bahagia mereka. Hingga akhirnya terlepas karena mereka butuh untuk bernafas.
"Aku pulang ya." ucap Aril setelah bisa mengatur nafasnya kembali.
Keyla mengangguk, dan kecupan terakhir Aril sebelum naik ke motornya berlabuh di kening Keyla.
__ADS_1
"Hati hati." ucap Keyla, memperhatikan Aril yang sudah menjalankan motornya.