
Setelah beberapa hari dirawat,. Deni akhirnya diijinkan untuk pulang.
"Bee, kamu jangan kerja atau ke kampus dulu ya. Kamu masih harus istirahat dirumah beberapa hari." Alea tak hentinya menyuruh Deni untuk istirahat.
"Iya honey, bunny, sweety ku. Kamu bawel banget sih."
"Iya belajar bawel, buat bawelin kamu dan anak kamu nanti kalau nakal."
"Halo anak daddy, daddy kangen nih. Gimana kalau hari ini daddy jenguk kamu." Deni mengajak bicara dengan anaknya yang masih di dalam perut ibunya.
"Bee, kamu ih." Alea menepuk pelan bahu Deni.
"Apaan sih honey? Aku sudah lama lho, tidak jenguk anak kita. Aku kangen berat." ucap Deni.
Alea mengerti suaminya walau sakit tak akan menurunkan tingkat kemesumannya.
"Kamu masih sakit bee." protes Alea.
Deni tak menghiraukan ucapan Alea. Dia langsung mendekap Alea dan membenamkan wajahnya di dada Alea yang terlihat semakin berisi dan menawan di mata Deni. Mungkin karena efek hamil.
Alea tak kuasa menolak keinginan suaminya. Dia mulai menikmati setiap sentuhan dari suaminya. Malam pertama Deni pulang dari rumah sakit, dihabiskan dengan berolahraga malam di atas ranjang kesayangan mereka.
Olahraga yang melelahkan namun sangat menyenangkan untuk dilakukan. Setelah olahraga malam, Alea dan Deni kemudian tertidur dengan lelapnya.
Pagi menjelang, Alea masih merasa lelah namun tetap harus bangun pagi. Dia langsung mencuci muka lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
"Sayang, kamu istirahat saja. Perut kamu sudah semakin membesar, pasti cepat merasa lelah bukan? Jadi tidak peelu ikut buat sarapan. Biar mama dan bi Minah yang masak." protes mama Alea.
"Baik ma, aku akan membuat kopi saja kalau begitu buat papa dan suamiku." Alea mengalah dengan membuat kopi. Setelahnya dia membawakan kopi untuk suaminya.
"Bee, bangun. Ini aku sudah buatkan kopi."
Deni menggeliat pelan lalu membuka matanya.
"Morning honey." ucap Deni masih dengan menguap.
"Morning too, bee.Ini kopinya aku taruh sini ya. Aku mau mandi dulu."
Deni mengangguk, Alea kemudian memasuki kamar mandinya.
Tiga puluh menit kemudian, Alea keluar dari kamar mandinya dengan menggunakan baju handuk. Alea mendekat ke lemari pakaian untuk mencari baju ganti.
Deni memeluk Alea dari belakang, sambil mengusap perut Alea.
"Morning kiss." bisik Deni lalu membalikan tubuh Alea dan mencium bibirnya dengan lembut.
"Aku mandi dulu ya," ucap Deni setelah melepas ciumannya.
"Iya bee." Alea kembali mencari baju gantinya juga untuk suaminya.
...
Aril sudah kembali bekerja. Kakinya sudah bisa digunakan untuk berjalan walau masih sedikit nyeri.
Dia tak mungkin meninggalkan pekerjaannya begitu lama. Di tambah lagi, kalau dia terus berdiam diri dirumah malah selalu mengingatkannya pada Keyla.
"Terima kasih No, sudah mengerjakan tugas ku dengan baik. Kata tuan Malik jika kinerjamu selama menggantikan aku dibilang bagus maka akan ada promosi untukmu." ucap Aril.
"Wah benarkah? Beruntungnya aku kalau itu benar." kata Nino dengan senangnya.
__ADS_1
"Sudah sana kembali ke ruanganmu. Sudah mulai jam kerja."
"Siap bos, kalau butuh bantuan panggil saja aku."
"Sip." jawab Aril, kemudian mulai mengerjakan tugasnya kembali.
...
"Bee, kamu kalau dibilangin bandel deh. Kan aku sudah bilang istirahat dulu di rumah." tegur Alea karena Deni bersiap pergi ke kantor.
"Tidak bisa honey, aku sudah sembuh total kok. Aku sudah lama beristirahat di rumah. Aku harus kembali kerja, aku tidak mungkin melepas tanggung jawab yang sudah opa berikan pada ku begitu saja." jelas Deni
"Ya sudah tapi, jangan terlalu capek ya." Alea mengalah.
"Iya honey. cupp." Deni mengecup kening Alea kemudian pergi.
"Hati hati." ucap Alea sebelum Deni masuk ke mobilnya.
Deni mengemudikan mobilnya sendiri. Dengan kecepatan sedang, tiga puluh menit dia sampai di kantor papanya. Memang sedang ada urusan dengan papanya.
Deni ingat dengan Aril, sejak kejadian itu dirinya belum sempat menemui Aril. Deni menuju ruangan Aril berada.
Tokk tokk...
"Masuk." sahut Aril dari dalam ruangannya.
"Pagi." sapa Deni.
"Eh, pagi tuan. Anda sudah mulai bekerja? Anda sudah sehat?"
"Kenapa kau bicara formal begitu? Seperti biasa sajalah." protes Deni.
"Akh kau ini, terserah padamu lah. Aku hanya ingin menyapamu, dan juga aku turut berduka atas kehilanganmu akan Keyla. Terima kasih berkat dirimu dan dia, Alea tidak terluka sedikitpun. Bagaimana aku membalas jasamu?"
"Terima kasih tuan. Ini sudah kewajiban seorang teman untuk saling menolong. Jangan pikirkan untuk balas budi. Suatu hari nanti jika saya butuh pertolongan pun tanpa diminta tuan akan menolong saya kan." jawab Aril dengan tersenyum.
"Ya sudah, lanjutkan kerjamu. Aku ingin menemui papakulpp dulu"
"Baik tuan." jawab Aril dengan hormat.
Baru akan memulai pekerjaannya, sudah terganggu lagi dengan dering ponselnya sendiri.
"Alea, ada apa menghubungiku pagi pagi begini." gumam Aril kemudian menjawab telfonnya.
"Halo Al."
"Aril, sorry pagi pagi ganggu. Minta alamat rumahnya tante Nindi dong, sekalian sama nomor telfonnya."
"Mau apa kamu sama mamanya Keyla."
"Ah cuma mau kirim makanan. Sudah cepat! Aku tunggu."
"Iya, bumil. Nggak sabaran banget. Nih sudah aku smsin alamat sama nomornya."
"Oke, ini baru masuk smsnya. Thanks ya, lanjut kerja. Jangan malas,, hehehe." Alea langsung menutup telfonnya.
"Hish dasar bumil. Pagi pagi udah ngeselin." gerutu Aril karena belum sempat menjawab panggilannya sudah terputus.
...
__ADS_1
Alea menyiapkan rantang makanan yang akan dikirimkan ke rumah orang tua Keyla.
Karena Akea tidak boleh keluar, maka Alea menyuruh sopirnya untuk mengantar makanan itu.
"Pak, anterin makanan ini ke rumah tuan Rezwan ya, ini alamatnya. Ini makanan untuk tante Nindi."
"Baik nona." sopir Alea langsung berangkat ke alamat tujuan sesuai yang diperintahkan Alea.
Sesampainya di kediaman keluarga Rezwan, sopir Alea langsung menekan bel pintu rumah itu.
"Iya cari siapa?" dari penampilannya terlihat kalau dia seorang art.
"Maaf mbak, saya disuruh sama majikan saya nona Alea. Beliau mengirim makanan untuk nyonya Nindi."
"Oh untuk nyonya, mari silahkan masuk. Nyonya ada di dalam." ajak wanita itu.
"Tidak usah mbak, saya titipkan ke mbak saja. Saya harus segera kembali. Takutnya majikan saya membutuhkan saya." tolak sopir Alea.
"Ya sudah, terima kasih ya pak. Saya akan sampaikan ke nyonya."
"Saya permisi mbak." pamit sopir Alea kemudian beranjak ke mobilnya.
Art itu langsung membawa makanannya masuk dan kembali menutup pintu rumah tersebut.
"Siapa mbak?" tanya Nindi yang baru keluar dari kamarnya.
"Ini, nyonya dapat kiriman makanan dari nona Alea kata pengirimnya."
"Benarkah. Coba kamu siapkan di piring, saya ingin langsung mencobanya."
Artnya langsung menyiapkan sedikit di piring. Ternyata yang di berikan Alea adalah kepiting asam manis, makanan favorit Nindi.
"Darimana anak itu tahu makanan kesukaanku." ucap Nindi saat melihat isi piringnya. Dia memulai menikmati makanan itu. Tanpa berkomentar apapun, makanan di priring langsung tandas.
Tepat setelah meminum air putih, sebuah panggilan dari nomor baru masuk ke ponsel Nindi.
"Assalamu alaikum."
"Wa alaikum salam. Siapa ya?" tanya Nindi.
"Ini Alea tante. Bagaimana tante makanan yang aku kirim? Tante suka?"
"Nak Alea, tante suka banget. Kamu masak sendiri?"
"Iya tante, dibantuin juga sama mama. Tante apa kabar?"
"Enak lho masakannya, terima kasih ya. Tante baik. Bagaimana kandungan kamu sayang?"
"Sehat tante, alhamdulillah."
Alea dan mamanya Keyla terus berbincang. Alea mencoba memberi perhatian kepada Nindi, agar tak kesepian setelah ditinggal oleh Keyla.
☘️☘️☘️☘️
Segini dulu ya,, lanjut episode selanjutnya..
jangan bosan nungguin up aku iya...
love you readers setiaku..😘😘😘
__ADS_1