
"baik kak.." ucap Dian pelan dan berusaha menutupi bagian payudaranya yang terlihat dengan rambut panjangnya karena sepertinya wanita ini tahu kalau mataku tertuju ke arah sana.
Sial!!
Mengapa Dian jadi seseksi ini??
Dan mataku tidak bisa beralih dari gundukan payudaranya yang terlihat.
Ya ampun!!
Apakah aku kembali menjadi Tomy yang mesum?
Apakah aku terlihat semesum ini?
"Oh iya kak maaf Dian ada urusan dan harus pergi. Permisi Kak Tomy" ucapnya cepat tanpa membiarkan aku kembali bersuara.
Ketika Dian ingin berbalik, dia menghentikan gerakannya dan setelahnya melangkahkan kakinya menuju kearahku, tepatnya kearah belakangku.
"oh.. Ternyata disini kamu?" tanya Dian berkacak pinggang pada anak kecil yang bersembunyi di belakangku ini.
Ricky..
Hampir saja aku lupa pada anak kecil dibelakangku ini.
Aku melihat Ricky nyengir tanpa dosa pada Dian
"dia adik kamu ?" tanyaku.
Kulihat Desi menegang karena pertanyaanku.
"dia.."
"mama.." ucap Ricky sambil memeluk kaki jenjang Dian.
Deg..
Ricky memanggil Dian mama?
Tidak mungkin!!
Usia Desi sekarang baru 21th kan?
Tidak mungkin dia punya anak usia yang aku rasa sekitar 4 atau 5 tahunan.
Apakah dia mengadopsi anak?
Atau..
Apa dia menikah ketika SMA?
Atau..
Atau..
Ricky..
Aku memperhatikan wajah Ricky dengan seksama. Mata, hidung serta bibirnya.
Dia..
__ADS_1
"Ricky kita pulang sekarang ya.." Ucapan Dian membuyarkan lamunanku yang masih memperhatikan wajah Ricky
"tapi becok plomice tita te temjone ya mama?" tanya Ricky lucu sambil mendongakkan wajahnya kearah Dian yang masih memasang wajah kaku.
"mama~" rengek Ricky karena tidak mendapat jawaban dari Dian yang masih terpaku.
Entah apa yang di fikirkan wanita ini.
Apakah sama dengan yang aku fikirkan?
"i-i-i-iya sayang, besok kita ke time zone. Sekarang ki-ki-kita pulang ya sayang. Opa udah telpon mama, katanya Ricky udah di beliin bis tayo.." ucap Dian yang benar-benar terlihat gugup dan semakin membuatku curiga akan sesuatu.
"benelan??? aciiiik..yaudah ayo mama.. tita pulang cetalang Juda! Ayo.. Ayo.." ucap Ricky sumringah sambil menarik-narik jemari lentik Dian
Aku melihat Dian tersenyum lembut pada Ricky sambil mengusap sayang rambut tebal anak laki-laki itu. Senyumnya masih sama, senyum yang menenangkan.
"iya ayo.. Ehm.. Kak Tomy, Dian permisi ya"
Dian menatapku sebentar lalu menggandeng tangan Ricky menjauh dariku.
Namun sebelum dia benar-benar pergi, aku menahan lengannya yang satu lagi sehingga Dia menatap ku bingung.
"kamu sudah menikah?"
Aku melihat matanya yang melebar karena pertanyaan spontan yang keluar dari mulutku.
Diam membuka dan mengatupkan bibirnya bingung.
"Dian, Ricky beneran anak kamu?" tuntutku karena belum mendapatkan jawaban dari wanita ayu ini yang semakin membuat wajahnya menegang.
"k-kak.. Dian.. Dian beneran harus pulang se-sekarang. Permisi"
Setelah mengucapkan hal itu, Dian membebaskan lengannya yang aku tahan tadi dan langsung menggendong Ricky.
Apa ini yang dibilang 'the power of emak-emak'?
Dia menggendong Ricky dengan berjalan tergesa-gesa menggunakan high heels??
Dan aku rasa ukuran high heels itu tak kurang dari 10cm tingginya.
Yang benar saja Dian??!!
Bagaimana kalau mereka terjatuh??!
Sial!!
Aku harus menyusulnya.
Akhirnya aku berlari kecil menyusul Dian yang sudah hampir mencapai eskalator turun.
Tanpa aba-aba aku mengambil Ricky dalam gendongannya yang membuatnya terkesiap namun setelahnya berdiri kaku karena melihat aku menggendong Ricky.
"kamu bawa mobil?" tanyaku.
"i-iya..kak.."
"aku antar kalian sampai parkiran."
Ucapku tanpa ingin dibantah.
__ADS_1
Akupun menggendong Ricky dengan sebelah tangan dan sebelahnya lagi menggenggam tangan Dian yang dingin dan berkeringat.
Ada apa denganmu Desi?
"om.. tok.. Dendong Ricky?" tanya Ricky lucu.
"mamanya Ricky lagi pakai sepatu tinggi. Om takut nanti kalian jatuh." jawabku sambil menampilkan senyum lembut kearah bocah tampan ini.
"ka-kalau gitu Ricky bisa jalan sendiri kok Kak" ucap Diam yang aku balas tatapan tajam yang sepertinya langsung membuat nyalinya ciut lalu menundukkan kepala sambil mengikuti langkahku menuju parkiran mobil.
"om.. Wangi deh.." ucap Ricky tiba-tiba dalam keheningan kami-aku dan Dian-.
"Ricky juga wangi.. Wangi sabun baby.. Om suka. Apalagi kalau wangi bunga Lily" ucapku ambigu yang membuat tangan dingin dalam genggamanku menegang.
Kami berjalan menuju basement diiringi celotehan bocah tampan ini dalam gendonganku.
Ricky memeluk leherku erat dengan tangan kecilnya yang mampu membuat jantungku berdetak tak menentu.
Perasaan apa ini Ya Allah?
Mengapa rasanya benar ketika bocah laki-laki ini memeluk leherku?
Tak terasa kami sampai di tempat parkiran.
Dian menunjukkan mobil Mini Coopernya yang berwarna biru muda lalu kami berjalan kearah mobil itu.
Setelah Dian membuka pintu penumpang di samping kursi kemudi, aku mendudukkan Ricky disana dan aku memakaikannya sabuk pengaman.
"hati-hati ya, Boy." aku mengacak rambut tebal Ricky yang dibalas cengir menggemaskan anak itu.
"matacih ya om.. Udah bolein Ricky ngumpet. Hihihi.." ucap Ricky cekikikan yang membuatku semakin gemas karena tingkah bocah ini.
Kulihat Gara segera sibuk dengan mainan robot-robotannya yang berada di samping anak itu.
Aku melihat sekilas isi mobil Dian.
Ternyata mobil Dian penuh dengan mainan berbau khas bocah laki-laki yang aku yakin milik Ricky.
"ehm.. Kak.. Makasih udah anterin sampai sini" ucap Dian yang berdiri di sampingku.
Akupun menegakkan tubuh dan berbalik untuk menghadap kearah Dian. Aku menatap Dian dalam yang membuatnya mengeluarkan rona merah dipipinya yang penuh dengan make up itu. Aku menyentuh dan menarik lembut ujung rambut panjangannya menuju indera penciumanku.
"wanginya masih sama.." bisik ku yang hanya dapat di dengar olehnya yang menegang karena perbuatanku.
"Ricky.. Dia.. Anakku kan?" tembakku yang membuat wajahnya pias.
Dian lalu menarik gugup ujung rambutnya yang masih berada di genggamanku. Aku melihat tangannya bergetar.
"ha..ha..ha..bercandanya.. Gak lucu Kak.. Ki-kita lagi gak main.. Te-tebak-tebakan loh.. Ricky itu anakku, Bukan anak kakak. Sudah ya kak, Dian harus pulang. Permisi"
Aku melihatnya terburu-buru masuk kedalam mobil.
Aku mengikutinya dari belakang, setelah dia berhasil duduk dan hendak menutup pintu mobil, aku menahannya dan aku membungkuk untuk berbisik di telinganya.
"Ricky.. Dia anak kita kan? Kalau kamu tidak mau mengatakannya, aku akan membuktikannya sendiri, Sayang."
Kulihat Dian menegang dan menatapku tajam.
Aku memakaikannya sabuk pengaman karena sepertinya dia lupa memakainya karena terburu-buru menghindari ku.
__ADS_1
Aku yakin itu!
Aku tersenyum manis kearahnya dan sengaja menyentuhkan bibirku kesudut bibirnya seringan bulu lalu aku menegakkan tubuhku kembali.