Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
extra 7


__ADS_3

"Om tante, gimana keadaan Ika?" Tanya Alea pada orang tua Aril saat berada di depan ruang UGD.


"Tidak tahu Al, dari kami sampai disini hingga sekarang masih belum ada kabar dari dokter di dalam." Jawab ibunya Aril.


Alea melihat sekitarnya, Aril terduduk lemas di samping pintu UGD. Yang diyakini Alea sejak datang tadi dia pasti tidak beranjak dari sana. Sedang Tuan Zian dan istrinya duduk di kursi tunggu. Terlihat tante Salsa terus terisak sejak tadi, khawatir akan keadaan putrinya di dalam sana.


Alea melihat ke ujung koridor rumah sakit, tampak suaminya berjalan mendekat. Deni baru saja selesai mengurus administrasi.


"Mas," panggil Alea, Deni mendekat ke Deni.


"Anak anak sama siapa?" Tanya Deni.


"Tadi aku minta papa mama kamu datang, jadi mereka bisa menjaga Myli juga Bima bersama dengan papa mamaku. Tadi keadaan Ika bagaimana mas saat masuk UGD?"


Deni menggelengkan kepalanya. Kemudian berbisik kepada Alea.


"Kondisinya sangat tidak baik tadi, aku lihat darah Ika keluar banyak. Ika juga kehilangan kesadaran. Aku takut bayinya tidak selamat."

__ADS_1


Alea menutup mulutnya tak percaya.


"Ya Tuhan, semoga mereka baik baik saja mas. Kasihan Aril dan Ika sudah sangat menunggu kehadiran anak."


"Ya kamu benar, semoga mereka kuat dan baik baik saja." Deni merangkul Alea, mengajaknya duduk di bangku tak jauh dari pintu UGD.


20 menit berlalu, semua duduk dengan tenang tak ada lagi yang menangis. Raut kecemasan masih terpampang di wajah semuanya yang menunggu.


Seorang dokter keluar dari ruang UGD, langsung diserbu oleh Aril, tuan Zian juga istrinya.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya Aril langsung.


Aril tertegun sesaat, dia harus kehilangan calon anaknya demi istrinya. Dengan mantap juga Aril menjawab dokter.


"Dok, lakukanlah. Saya setuju dengan operasi itu. Selamatkan istri saya."


"Baiklah, saya akan persiapkan semuanya. Suster.." ucap Dokter lalu melihat suster yang ada di samping belakangnya. Suster sudah tahu apa tugasnya.

__ADS_1


Suster itu menyerahkan sebuah pena juga surat pernyataan yang harus ditanda tangani oleh Aril. Semua diterima Aril dengan tangan gemetar, segera dia menanda tangani surat itu, agar Ika segera di beri tindakan.


Selepas itu, dokter kembali masuk ke dalam ruang UGD. Setelah pintu UGD kembali tertutup, Aril langsung luruh. Tubuhnya lemas, dia jatuh terduduk di lantai.


Menyesalkan semua yang telah terjadi. Menyalahkan dirinya sendiri yang tak bisa menjaga istri dan calon anaknya dengan baik. Aril kembali terisak, membayangkan istrinya harus berjuang sendirian di dalam sana. Dan bahkan dia tak bisa menemaninya.


"Sayang bertahanlah. Aku mohon." Gumam Aril sembari mengusap kasar wajahnya. Tak percaya, dia harus kehilangan buah hatinya secepat ini.


Malam tiba, yang menunggu tinggal tuan Zian dan istrinya, Aril juga ayahnya. Deni dan Alea harus pulang, karena Myli juga Bima terus mencari keduanya.


Dokter kekuar, baru selangkah dari pintu sudah diserbu oleh Aril.


"Bagaimana dok?"


"Syukurlah, operasi berhasil. Untunglah keputusan anda tepat. Sekarang nona Ika selamat, walau harus kehilangan bayinya. Bayinya ternyata sudah meninggal sebelum di operasi. Jika anda siang tadi mencoba untuk mempertahankannya, maka istri anda bisa saja tak selamat." Jelas dokter.


"Apa saya bisa masuk sekarang?" Tanya Aril tak sabar ingin melihat kondisi istrinya.

__ADS_1


"Sabarlah. Istri anda juga masih belum sadar karena pengaruh obat bius. Nanti bila sudah dipindahkan ke ruang rawat intensif anda bisa menjenguknya." Jawab dokter.


Aril menghela nafas kecewanya karena tak bisa segera melihat sang istri. Dia bersyukur istrinya selamat. Aril mengintip dari kaca pintu. Kini korden hijau yang tadinya menutupi sudah terbuka. Hati Aril seperti tersayat melihat istrinya terbaring lemah dengan beberapa alat yang menempel ditubuhnya.


__ADS_2