Cintaku Kembali

Cintaku Kembali
Meminta


__ADS_3

Perlahan mata Bimo terbuka, Alea yang terus memperhatikan pun terlihat sangat senang. Dia segera memanggil dokter. Saat mata Bimo membuka sempurna, pandangannya langsung tertuju pada wanita cantik yang duduk di sampingnya.


"Alea.." ucap Bimo lemah.


"Ya, aku disini." sahut Alea cepat tanpa melepas genggaman tangannya pada Bimo.


Bimo hanya tersenyum saja, dia masih merasa lemas juga kepalanya masih sakit. Bimo masih ingat jelas apa yang dikatakan Alea pada dirinya. Bimo membalas genggaman tangan Alea dengan erat.


Tak lama kemudian dokter datang.


"Selamat malam," sapa dokter tersebut.


"Malam dokter." jawab Alea. Alea ingin beranjak dari duduknya agar dokter bisa segera memeriksa Bimo, namun tangan Bimo enggan melepasnya. Si dokter melihatnya lalu tersenyum.


"Tidak apa nyonya, anda disini saja." ucap dokter kemudian.


Dokter memeriksa Bimo dengan teliti.


"Tuan Bimo, keadaan anda sudah membaik. Namun masih butuh perawatan intensif untuk sakit kepala anda. Mohon jangan terlalu banyak fikiran dulu." jelas dokter tersebut.


"Baik dokter." jawab Bimo.


"Baiklah, segeralah makan lalu meminum obtanya dan kembali bristirahatlah. Kalau begitu saya kembali ke ruangan saya. Jika membutuhkan saya segera tekan tombol itu, nyonya." Kalimat terakhirnya ditujukan pada Alea.


"Baik dokter, terima kasih." jawab Alea.


Dokter itu mengulas senyumnya lalu pergi keluar dari kamar. Alea tidak kembali duduk, tangannya yang bebas meraih piring makanan yang berada di atas nakas samping ranjang.


"Kamu makan dulu ya, mau aku suapi?" tanya Alea. Bimo mengangguk pelan. Alea duduk di pinggiran ranjang, ingin segera menyuapi namun tangan Bimo tak melepas genggamannya.


"Lepas dulu, bagaimana aku nyuapinnya?" Alea memperlihatkan genggaman tangan mereka. Bimo menggeleng.


Alea menarik nafas pelan, untung saja yang dipegang adalah tangan kiri. Alea meletakan kembali piring makanan itu ke atas nakas, lalu dia duduknya lebih mendekat ke nakas. Dengan perlahan, Alea mulai menyuapi Bimo.


Bimo selalu menatap manik mata Alea, membuat Alea salah tingkah sendiri. Sudah lama mata itu tak menatapnya begitu intens, membuat hati Alea bergetar. Sampai akhirnya makanannya habis. Alea segera mengambilkan obat untuk diminum oleh Bimo.


Setelah semuanya selesai, Alea ingin duduk kembali ke kursi namun tangan Bimo menahannya. Alea menatap Bimo seolah bertanya kenapa.


"Apa yang kamu ucapkan tadi itu benar?" tanya Bimo.


Alea yang takut salah persepsi langsung balik bertanya.

__ADS_1


"Tentang.?"


"Kamu yang sangat mencintaiku." jawab Bimo tenang. Alea mengangguk.


Alea pasrah kali ini dia akan ceritakan semuanya jika Bimo bertanya.


"Dan apa yang dikatakan wanita jahat itu tentang diriku juga semuanya benar?"


"Iya, semuaanya benar. Tapi aku mohon kamu jangan memikirkan semua itu terlalu keras ya. Aku tidak ingin kamu kesakitan lagi." Mata Alea sudah berkaca kaca, mengingat Bimo yang tadi siang kesakitan dan dia tak mampu melakukan apapun.


Bimo langsung menarik tubuh Alea untuk dipeluknya. Bimo sadar cintanya memang sudah berada dihatinya sejak dulu.


"Aku sangat mencintaimu, sejak awal kita bertemu aku langsung jatuh cinta padamu. Aku pikir aku gila, karena sudah lancang mencintai wanita bersuami. Sekarang aku lega, karena ternyata kau istriku, berarti perasaanku tidak salah kan. Hatiku memang selalu untuk dirimu." jelas Bimo. Alea yang mendengarnya, lalu membalas pelukan Bimo. Pelukan yang sangat dia rindukan.


"Berbaringlah disampingku. Kamu akan menginap kan?"


"Iya, aku akan menemanimu." Alea kemudian bangun melepas sepatunya lalu berbaring di samping Bimo. Karena ruangan ini VIP maka ranjangnya juga agak besar jadi muat untuk tidur dua orang.


Keduanya tidur dengan posisi miring saling menghadap. Alea kembali memeluk tubuh Bimo, menyembunyikan wajahnya di dada bidabg Bimo. Menghirup wangi tubuh yang selama ini dia rindukan.


Alea tak sengaja mengeluarkan air matanya karena terlalu bahagia. Bimo yang merasa bajunya basah, dengan yakin tahu kalau Alea tengah menangis. Bimo menjauhkan tubuh Alea dan memandang wajahnya.


"Kenapa menangis?" tanya Bimo kemudian.


Bimo mengusap sisa air mata yang ada di wajah Alea, keduanya saling menatap dengan berbagai perasaan dalam hati keduanya. Bahagia, rindu, dan kasih sayang.


Perlahan wajah Bimo mendekat menatap Alea intens seperti meminta persetujuan Alea. Alea mengerti Bimo mau apa. Kemudian Alea menutup matanya, dirasakannya bibir Bimo menempel pada bibirnya. Awalnya hanya menempel, lalu Bimo mulai memagut mesra bibir Alea. Alea tak mampu menolaknya, memang tak dipungkiri dirinya merindukan sentuhan dari suaminya.


Lama keduanya terlarut dalam gairah, walau hanya ciuman. Karena sadar ini sedang ada di rumah sakit.


Kegiatan itu terhenti kala suara melengking merusak suasana.


"Ya ampun kakaak!!" siapa lagi kalau bukan Ika.


Alea yang malu bukan main langsung menyembunyikan wajahnya di dada Bimo. Bimo memelototkan matanya pada adik kesayangannya itu yang merusak moment bahagianya bersama Alea. Dengan isyarat tangan, Bimo mengusir Ika untuk keluar dulu. Ika menuruti kemauan Bimo.


"Sudah, Ika sudah keluar." kata Bimo kemudian.


"Malunya aku, pasti nanti aku diledekin nih sama mereka berdua." gumam Alea pelan agar tidak terdengar oleh Bimo.


Alea kemudian duduk di sofa di ruangan itu.

__ADS_1


"Masuklah.!" titah Bimo, karena tahu adiknya pasti masih dibalik pintu.


Ika masuk dengan cengengesan memandaang Bimo dan Alea bergantian. Alea yang melihat itu langsung menundukan wajahnya malu. Bimo kembali memelototkan matanya untuk memperingati Ika.


"Makanya kalau mau bermesraan kunci pintunya biar nggak ada yang ganggu." oceh Ika tanpa dosa.


"Kamu yang salah. Kalau masuk kamar orang itu ketuk pintu dulu." sanggah Bimo.


"Ah suka suka kakak saja lah. Bagaimana keadaan kakak? Sudah baikan?"


"Sudah.."jawab Bimo jutek.


"Ih jawabnya kok jutek sih." keluh Ika.


"Bodo."


"Kenapa sih yang?" ucap Aril tiba tiba ikut nimbrung.


"Kak Bimo tadi ketahuan sama aku lagi ciuman sama mbak Al. Eh jadi marah marah gitu deh." ucap Ika tanpa mengindahkan tatapan tajam dari Bimo.


"Ciee, udah ada kemajuan nih pedekatenya. Gebut terus bang.." Aril malah bersemangat.


Alea yang mendengar celotehan Aril dan Ika sudah tidak bisa menunjukan wajahnya laagi saking malunya. Alea memilih keluar dari pada jadi bahan ejekan di sana.


"Kalian berdua, bener bener ya. Lihatlah Alea jadi kabur kan gara gara ocehan kalian. Awas saja kalau Alea nggak mau balik sini gara gara kalian. Aku tidak jadi memberikan restuku pada kalian." ancam Bimo dengan kesal.


"Yah kakak, tega banget sih. Gitu aja ngambek. Iya iya nih aku langaung keuar nih nyariin mbak Al. Aku ajak kesini lagi." Ika buru buru keluar kamar dan mencari Alea.


Aril tersenyum melihat tingkah calon istrinya itu. Bimo yang lagi kesal, melihat Aril senyum senyum saat melihat tingkah Ika makin kesal.


"Ngapain lo senyam senyum gitu. Kayak orang gila." ketus Bimo..


"Ampun mas, lagi puber yak." jawab Aril kemudian juga ikut kabur keluar dari kamar rawat itu. Takut singa jantannya bertambah ngamuk.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


Maaf ya, baru bisa up..


Terima kasih yang selalu setia sama cerita aku dan nungguin up aku.


Tinggalkan jejak kalian ya,like komen vote tips atau rate.

__ADS_1


love you readers setiaku...😘😘😘😘🤗🤗🤗🤗


__ADS_2